Sosialisasi Anak Didik dalam Pendidikan

Makalah

 

Sosialisasi Anak Didik dalam Pendidikan

Disusun oleh:

Nama: Firmansyah

NIM: 2120104081

untuk memenuhi tugas pada mata kuliah

Sosiologi Pendidikan

Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Abdullah Idi, M.Ed.


 

Program Studi Ilmu Pendidikan Islam

Konsentrasi Pendidikan Agama Islam

Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN)

Raden Fatah Palembang

 

Nopember 2012

A.   Pendahuluan

Sebagai makhluk hidup, manusia adalah makhluk individu sekaligus juga sebagai makhluk sosial. Makhluk individu berarti makhluk yang tidak dapat dibagi-bagi, tidak dapat dipisah-pisahkan antara jiwa dan raganya. Para ahli psikologi modern menegaskan bahwa manusia itu merupakan suatu kesatuan jiwa raga yang kegiatannya sebagai keseluruhan, sebagai kesatuan. Kegiatan manusia sehari-hari merupakan kegiatan keseluruhan jiwa raganya. Bukan hanya kegiatan alat-alat tubuh saja, atau bukan hanya aktivitas dari kemampuan-kemampuan jiwa satu persatu terlepas daripada yang lain.[1]

Sedangkan sebagai makhluk sosial, seorang manusia membutuhkan manusia yang lain untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya. Baik pemenuhan kebutuhan dalam bentuk jasmani maupun rohani sebagai suatu kesatuan yang utuh. Ketidakmampuan manusia dalam memenuhi kebutuhan sosial ini akan membuat manusia terasing dalam kehidupannya dan bahkan tidak dapat hidup sebagai manusia seutuhnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, Kimball Young dan Raymond dalam Soerjono Soekanto berpendapat bahwa interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama.[2]

Manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial dalam kehidupan masyarakat tidak dapat terlepas dari pendidikan, termasuk di dalamnya adalah belajar. Hasan Langgulung berpendapat bahwa, pendidikan dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang individu dan sudut pandang masyarakat. Dari sudut pandang pertama, pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan potensi individu. Sedangkan menurut pandangan kedua, pendidikan adalah usha untuk mewariskan nilai-nilai budaya oleh generasi tua kepada generasi muda, agar nilai-nilai budaya tersebut terus hidup dan berlanjut di masyarakat.[3]

Selanjutnya, proses membimbing individu ke dalam dunia sosial disebut sosialisasi.[4] Dengan proses sosialisasi, individu berkembang menjadi suatu pribadi atau makhluk sosial. Pribadi atau makhluk sosial ini merupakan kesatuan integral dari sifat-sifat individu yang berkembang melalui proses sosialisasi, suatu sifat yang mana mempengaruhi hubungannya dengan orang lain dalam masyarakat.[5]

Sementara itu, usaha pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tertuju kepada satu tujuan umum, yaitu untuk membentuk peserta didik untuk mencapai kedewasaannya, sehingga ia mampu berdiri sendiri di dalam masyarakat sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.[6]

B.   Pengertian Sosialisasi

Sosialisasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya. Di samping itu, juga diartikan sebagai upaya memasyarakatkan sesuatu sehingga menjadi dikenal, dipahami, diahayati oleh masyarakat (pemasyarakatan).[7]

Charlotte Buehler mendefinisikan sosialisasi sebagai proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. Sedangkan Peter Berger, mendefinisikan sosialisasi sebagai suatu proses dimana anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.[8]

Menurut Kimball Young, sosialisasi merupakan hubungan interaktif dimana seorang dapat mempelajari kebutuhan sosial dan kultural yang menjadikan sebagai anggota masyarakat.[9] Sementara Thomas Ford Hoult mendefinisikan  sosialisasi sebagai proses belajar individu untuk bertingkah laku sesuai dengan standar yang terdapat dalam kebudayaan masyarakatnya.[10]

Adapun S. Nasution berpendapat, bahwa sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial. Sosialisasi dilakukan dengan mendidik individu tentang kebudayaan yang harus dimiliki dan diikutinya, agar ia menjadi anggota yang baik dalam masyarakat dan dalam berbagai kelompok khusus.[11]

Dalam proses sosialisasi sebagaimana dinyatakan G.H. Mead, individu mengadopsi kebiasaan, sikap, dan idea-idea dari orang lain, dan menyusunnya kembali sebagai suatu sistem dalam diri pribadinya.[12]

Menurut Damsar, sosialisasi mempunyai 2 (dua) makna, makna menurut proses dan makna menurut tujuannya. Menurut prosesnya, sosialisasi adalah suatu transmisi pengetahuan, sikap, nilai, norma, dan perilaku esensial. Sedangkan menurut tujuannya adalah sesuatu yang diperlukan agar mampu berpartisipasi efektif dalam masyarakat.[13]

Berdasarkan pendapat di atas, dapatlah disimpulkan bahwa sosialisasi adalah suatu proses sosial yang ditempuh oleh seorang individu melalui proses pendidikan dalam upaya pembentukan sikap yang sesuai dengan nilai sosial dan kultural masyarakat dimana individu tersebut hidup bersamanya.

Berkaitan dengan pengertian sosialisasi tersebut, terdapat beberapa kegiatan yang tercakup dalam sosialisasi, yaitu:

1. Belajar

Proses sosialisasi adalah suatu proses belajar, bagaimana seorang individu harus berbuat dan bertingkah laku di tengah masyarakatnya. Dalam sosialisasi juga seorang individu akan belajar tentang kebudayaan yang harus dimiliki dan diikutinya agar ia dapat hidup, diterima dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.

Segala sesuatu yang dipelajari individu mula-mula dipelajari dari orang lain di sekitarnya terutama dari anggota keluarganya. Individu belajar secara sadar dan tak sadar. Secara sadar individu menerima apa yang diajarkan oleh orang di sekitarnya, misalnya seorang ibu mengajarkan anaknya berbahasa dan bagaimana cara makan yang benar. Sedangkan secara tidak sadar, individu belajar dari mendapatkan informasi dalam berbagai situasi dengan memperhatikan tingkah laku orang lain, menonton televisi, membaca koran, mendengar percakapan orang lain, dan lain sebagainya.

2. Penyesuaian diri

Sosialisasi terjadi melalui kondisi lingkungan yang menyebabkan individu mempelajari pola kebudayaan fundamental, seperti berbahasa, cara berjalan, duduk, makan, berekalkuan sopan, dan sebagainya.[14]

Dalam persepektif Abu Ahmadi, tingkah laku manusia itu dapat diterangkan sebagai reaksi-reaksi terhadap tuntutan atau tekanan dari lingkungannya. Di daerah dingin manusia harus berpakaian yang tebal untuk mengatasi tuntutan iklim. Hal ini berarti bahwa tingkah laku manusia merupakan penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan lingkungan fisik, disebut juga sebagai adaptasi. Di samping itu, tingkah laku manusia juga merupakan penyesuaian diri terhadap tuntutan dan tekanan sosial orang lain. Hal ini juga disebut dengan istilah adjusment.[15]

Selanjutnya, tuntutan dalam proses sosialisasi tersebut dapat diklasifikasi menjadi tuntutan internal dan eksternal. Tuntutan internal adalah tuntutan yang berupa dorongan atau kebutuhan yang timbul dari dalam, baik yang bersifat fisik maupun sosial.[16] Sebaliknya tuntutan eksternal adalah tuntutan atau dorongan yang timbul dari luar dirinya sebagai seorang individu, misalnya penyesuaian diri akibat tuntutan dari orang tua, istri/suami, guru, anak, masyarakat, dan lain sebagainya, sehingga tingkah laku yang timbul setelah itu merupakan cerminan dari tuntutan tersebut.

Adanya sejumlah tuntutan ini, kerapkali menimbulkan konflik. Ada tiga pola konflik, yaitu: pertama konflik antara tuntutan internal yang satu dengan tuntutan internal yang lain, misalnya untuk mendapatkan status atau prestige sosial seseorang harus bersaing atau bertentangan dengan teman-teman sendiri. Kedua, konflik antara tuntutan eksternal yang satu dengan tuntutan eksternal yang lain, mislanya seorang anak laki-laki mendapat tuntutan dari ayahnya agar dia meiliki sifat kelakian dan menjadi olahragawan, sedangkan ibunya menuntut agar dia memiliki sifat-sifat yang halus sebagai seniman. Ketiga, konflik antara tuntutan internal dengan tuntutan eksternal, mislanya konflik antara dorongan seksual di satu pihak dengan tuntutan masyarakat agar dorongan itu disalurkan dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat (misalnya melalui perkawinan). Dari ketiga macam pola konflik tersebut, pola konflik yang ketiga adalah yang paling sering kita jumpai dan rasakan dalam masyarakat.[17]

3. Pengalaman mental

Pengalaman seseorang akan membentuk suatu sikap pada diri seseorang dimana didahului oleh sikap terbentuknya suatu kebiasaan yang menimbulkan reaksi yang sama terhadap masalah yang sama yang ia dapatkan melalui proses sosialisasi. Seorang anak yang sejak kecil terbiasa dengan bantuan orang lain untuk setiap pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan sendiri, setelah dewasa nanti akan selalu tergantung dengan orang lain. Hal ini merupakan hasil pengalaman mental yang didapat sebelumya.

Menurut Bruce J. Cohen sebagaimana dikutip dalam Elly M. Setiadi[18],  sosialisasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:

  1. Memberikan bekal keterampilan yang dibutuhkan bagi individu pada masa kehidupannya kelak.
  2. Memberikan bekal kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya untuk membaca, menulis, dan berbicara.
  3. Mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
  4. Membiasakan diri individu dengan nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat.
  5. Membentuk sistem perilaku melalui pengalaman yang dipengaruhi oleh watak pribadinya, yaitu bagaimana ia memberikan reaksi terhadap suatu pengalaman menuju proses pendewasaan.

C.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sosialisasi

Dengan proses sosialisasi, individu akan berkembang menjadi makhluk sosial. Proses perkembangan manusia sebagai makhluk sosial atau kepribadian itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut F.G. Robbins dalam Abu Ahmadi[19], ada lima faktor yang menjadi dasar perkembangan kepribadian. Kelima faktor tersebut ialah:

  1. Sifat dasar, yaitu merupakan keseluruhan potensi-potensi yang diwarisi oleh seseorang dari ayah dan ibunya. Sifat dasar ini terbentuk pada saat konsepsi, yaitu momen bertemunya sel betina pada saat pembuahan.
  2. Lingkungan prenatal, yaitu lingkungan dalam kandungan ibu. Sel telur yang sudah dibuahi pada saat konsepsi itu berkembang sebagai embrio dan fetus dalam lingkungan prenatal itu. Dalam periode ini individu mendapatkan pengaruh-pengaruh tidak langsung dari ibu, misalnya beberapa jenis penyakit (diabetes, kanker, siphilis), gangguan endoktrin, dan lain sebagainya yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan mental, penglihatan, dan pendengaran anak dalam kandungan.
  3. Perbedaan individual, meliputi perbedaan dalam ciri-ciri fisik (bentuk badan, warna kulit, warna mata, dan lain-lain), ciri-ciri fisiologis (berfungsinya sistem endokrin), ciri-ciri mental dan emosional, ciri personal dan sosial. Hal ini menyiratkan bahwa setiap manusia adalah individu yang unik dan berbeda dengan individu yang lainnya.
  4. Lingkungan, meliputi lingkungan alam (keadaan tanah, iklim, flora dan fauna), kebudayaan, manusia lain dan masyarakat di sekitar individu. Dalam hal ini peranan kondisi lingkungan itu tidak menentukan, melainkan sekedar membatasi dan mempengaruhi proses sosialisasi manusia.
  5. Motivasi, yaitu kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat. Motivasi ini dibedakan menjadi dorongan dan kebutuhan.  Dorongan adalah keadaan ke-tidakseimbangan dalam diri individu, karena pengaruh dari dalam atau dari luar dirinya, yang mempengaruhi dan mengarahkan perbuatan individu dalam rangka mencapai keseimbangan kembali atau adaptasi, pada manusia terdapat dorongan makan, minum, menghindari diri dari bahaya, dan sebagainya. Sedangkan kebutuhan adalah dorongan yang telah ditentukan secara personal, sosial, dan kultural.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses sosialisasi tersebut berasal dari luar dan dalam diri individu. Faktor yang berasal dari dalam diri individu yaitu sifat dasar, perbedaan individual, dan motivasi. Sedangkan faktor yang berasal dari luar individu yaitu lingkungan prenatal, dan lingkungan sekitar.

D.    Kendala dan Pendukung Sosialisasi

Proses sosialisasi tidak selalu berjalan lancar karena adanya sejumlah kendala sehingga sosialisasi sulit untuk dilakukan beberapa kendala tersebut menurut S. Nasution[20] yaitu: pertama, ada kesulitan komunikasi, ini terjadi bila anak tidak mengerti apa yang diharapkan darinya atau tidak tahu apa yang diinginkan oleh masyarakat atau tuntutan kebudayaan tentang kelakuannya. Hal yang demikian akan terjadi bila anak itu tidak memahami lambing-lambang seperti bahasa, isyarat, dan sebagainya.

Kedua, adanya pola kelakuan yang berbeda-beda atau yang bertentangan. Ketiga, perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat sebagai akibat modernisasi, industrialisasi, dan urbanisasi.

Proses sosialisasi selain memiliki kendala juga memiliki pendukung. Sosialisasi akan sukses bila disertai dengan toleransi yang tulus, disiplin dan patuh terhadap norma-norma dalam masyarakat, saling hormat-menghormati, dan saling menghargai. Dengan pendukung tersebut, proses sosialisasi dapat berjalan dengan baik.[21]

F.     Sosialisasi Anak Didik dalam Pendidikan

Menurut Ibnu Khaldun, pendidikan adalah suatu proses, dimana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman.[22] Hal ini dapatlah dimaklumi bersama bahwa manusia dalam hidupnya akan terus melakukan kegiatan pendidikan, termasuk dalam pengertian ini  adalah belajar.

Dimana kualitas hasil proses perkembangan manusia itu banyak terpulang pada apa dan bagaimana ia belajar. Selanjutnya, tinggi rendahnya kualitas perkembangan (yang pada umumnya merupakan hasil belajar) akan menentukan masa depan peradaban manusia itu sendiri. E.L. Torndike seorang pakar teori S-R Bond meramalkan, jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang ini tak akan berguna bagi generasi mendatang. Bahkan, mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan zaman.[23]

Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Disebabkan oleh kemampuan berubah karena belajar, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk-makhluk lainnya, sehingga ia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.boleh jadi, karena kemampuan berkembang melalui belajar itu pula manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya.[24]

Dalam Islam, pendidikan adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Pendidikan diarahkan untuk mencapai suatu keseimbangan dalam kebahagiaan, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Konsep ini adalah pengembangan dari manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Sebagai hamba, manusia wajib beribadah kepada Allah, sedangkan sebagai khalifah-Nya manusia wajib melestarikan alam seisinya ini. Kedua tugas dan kewajiban tersebut bisa dijalankan dengan baik dan benar sebagai hasil dari proses pendidikan.

Dalam pendidikan juga terdapat pengajaran. Pengajaran berintikan interaksi antara guru dengan siswa. Dalam interaksi ini, guru melakukan kegiatan mengajar dan siswa belajar. Kegiatan mengajar dan belajar ini bukan merupakan dua hal yang terpisah tetapi bersatu, dua yang menyatukannya adalah interaksi tersebut. Dalam interaksi belajar-mengajar terjadi proses pengaruh-mempengaruhi. Bukan hanya guru yang mempengaruhi siswa, tetapi siswa juga dapat mempengaruhi guru. Perilaku guru akan berbeda, apabila menghadapi kelas yang aktif dengan yang pasif, kelas yang berdisiplin dengan yang kurang berdisiplin.[25]

Selanjutnya, dalam interaksinya sosialisasi anak didik berkaitan dengan trinitas pendidikan, yaitu keluarga (pendidikan informal), sekolah (pendidikan formal), dan masyarakat (pendidikan non-formal).

Di lingkungan keluarga, anak berinteraksi dengan ayah, ibu, dan anggota keluarga lain, dimana anak memperoleh pendidikan informal berupa kebiasaan. Kebiasaan tersebut bermacam-macam, misalnya kebiasaan tentang cara makan, bertutur kata, bangun pagi dan shalat subuh, kebiasaan berpuasa, kebiasaan bersedekah, kebiasaan salam sebelum berangkat ke sekolah, gosok gigi, berdoa sebelum tidur, berdoa sebelum makan, berdoa sebelum berpergian, dan lain-lain. Pendidikan informal dalam keluarga.[26] Dalam interaksi edukatif antara orang tua dan anak dalam kapasitasnya sebagai anak didik, orang tua sebagai pendidik harus sedapat mungkin memahami anaknya sebagai oek pendidikan. Kesalahan dalam pemahaman hakikat anak sebagai anak didik akan menjadi kegagalan total.[27]

Sebagai fungsi sosial, selain fungsi biologis, ekonomi dan agama, keluarga memiliki peran yang sangat krusial dalam proses sosialisasi. Orang hendaknya memberi teladan yang terbaik bagi anak-anak tentang banyak hal dalam konteks sosialisasi. Sosialisasi anak diharapkan sebagai bekal ke depan agar anak dapat beradaptasi dan berkiprah secara positif di tengah masyarakat. Bila orang tua mengharapkan anaknya berakhlak sesuai dengan tuntutan agamanya, misalnya akhlak Islami, anak perlu diberi contoh oleh orang tua tentang beragam akhlak mulia dan Islami. Keluarga sebagai salah satu dari pusat pendidikan bertugas membentuk kebiasaan-kebiasaan positif sebagai pondasi yang kuat dalam pendidikan informal. Anak akan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orang tua, baik positif maupun negatif.[28]

Selain itu, fungsi keluarga ialah memelihara, merawat, dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial. Fungsi pengawasan sosial, pendidikan keagamaan, dan rekreasi juga dilakukan oleh keluarga untuk anggota-anggotanya.[29]

Selanjutnya, anak akan bersosialisasi dalam interaksi sosial pada pendidikan formal berupa sekolah sebagai tempat anak untuk menuntut ilmu pengetahuan. Bagi siswa di kelas, konsep interaksi sosial merupakan konsep penting untuk dipahami, karena sesungguhnya tidak ada orang hidup dalam keterisolasian dan keterasingan yang terus menerus. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu mengembangkan interaksi sosialnya sebagai manifestasi interdependensi antarsesamanya. Begitupun siswa yang berada di sekolah, pada dasarnya merupakan pola miniatur masyarakat, aktivitas sehari-harinya tidak lepas dari inteaksi sosial, baik interaksi dengan guru, petugas perpustakaan, maupun sesama teman.[30]

Menurut Abu Ahmadi, fungsi pendidikan sekolah adalah memberantas kebodohan dan memberantas salah pengertian.[31] Sedangkan menurut Abdullah Idi, sekolah memiliki peranan sebagai: (a) transmisi kebudayaan, termasuk norma-norma, nilai-nilai dan informasi melalui pengajaran secara langsung, misalnya dengan sifat-sifat warga negara yang baik; (b) mengadakan kumpulan sosial, seperti perkumpulan sekolah, pramuka, olah raga dan sebagainya yang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mempelajari dan mempraktikan berbagai keterampilan sosial; (c) memperkenalkan anak dengan toko teladan, dalam hal ini pendidik (guru) dan pemimpin sekolah memegang peranan yang penting; dan (d) menggunakan tindakan positif, seperti pujian, hadiah, dan sebagainya. Tindakan negatif seperti hukuman, celaan, dan lain-lain. untuk mengharuskan murid mengikuti kelakuan yang layak dalam bimbingan sosial.[32]

Kendatipun demikian, ketika anak sudah masuk sekolah bukan berarti tugas orang tua sudah berakhir membimbing dan mendidik anaknya. Sekolah pada dasarnya lebih banyak berfokus pada aspek pengembangan pengetahuan dan keterampilan. Untuk aspek kejiwaan atau afektif tidak menjadi fokus utama di sekolah. Ahmad Tafsir mengatakan bahwa kurangnya perhatian sekolah terhadap aspek afektif dikarenakan memang sekolah tidak memungkinkan dapat melakukannya, kendatipun tugas pendidik tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik.[33]

Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam proses sosialisasi sesuai keberadaannya. Lingkungan masyarakat memberikan sumbangan yang berarti dalam diri anak didik, karena tidak semua pengetahuan, sikap, keterampilan, dapat dikembangkan oleh sekolah ataupun keluarga. Seorang anak akan bergaul di lingkungan masyarakatnya, dalam pergaulan ini seorang anak akan dipengaruhi oleh orang lain atau sebaliknya akan dipengaruhi oleh orang lain.

Masyarakat menjadi wahana sosialisasi sekaligus pendidikan yang berfungsi sebagai pelengkap, pengganti, dan tambahan. Dapat dijelaskan sebagai pelengkap perkembangan dalam sosialisasi anak didik dengan masyarakat atau kelompok lainnya ialah berorientasi melengkapi kemampuan, keterampilan, kognitif, afektif, maupun performance yang mencakup berkomunikasi dengan orang lain, kerja sama dengan anggota masyarakat, dan mengasah keahlian di dalam masyarakat. Sebagai penganti, keluarga dan sekolah memiliki keterbatasan kemampuan melayani semua lapisan dari anggota masyarakat. Sedangkan sebagai tambahan, masyarakat mampu menyediakan tambahan dalam terlaksanannya peningkatan kepribadian. Misalnya jika di sekolah hanya tahu ini mesin bubut (karena keterbatasan waktu), maka di masyarakat anak didik bukan hanya melihat dan memegang, tapi anak didik mampu menggunakannya dan memanfaatkannya untuk diri dan masyarakat di lingkungannya.[34]

Dalam kaitannya, semua anggota masyarakat memiliki tanggung jawab membina, memakmurkan, memperbaiki, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf, melarang yang munkar dimana tanggung jawab manusia melebihi perbuatan-perbuatannya yang khas, perasaannya, pikiran-pikirannya, keputusan-keputusannya, dan maksud-maksudnya, sehingga mencakup masyarakat tempat ia hidup dan alam sekitar yang mengelilinginya.[35]

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa lingkungan pendidikan dalam kaitannya dengan sosialisasi anak didik memegang peranan yang sangat penting, sehingga anak didik adalah bentukan dari lingkungan pendidikan sendiri. Orang tua di lingkungan keluarga sebagai lingkungan yang pertama dan utama dalam pembentukan anak adalah peletak dasar dalam pendidikan anak. Selanjutnya lingkungan sekolah sebagai perpanjangan tangan orang tua, membantu orang tua dan masyarakat dalam upaya memberikan pengetahuan, keterampilan dan kecakapan untuk anak didik sebagai bagian dari masyarakat. Selanjutnya anak didik akan berinteraksi dalam hubungan sosialisasi dengan lingkungan masyarakat sebagai bagian yang tidak terlepas dari masyarakat itu sendiri.

Pertumbuhan dan perkembangan anak didik adalah sinergi yang baik antara ketiga unsur lingkungan pendidikan tersebut yang diharapkan mampu menciptakan suatu sumber daya manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai (agama, adat istiadat, dan ideologi) dalam kehidupan pribadi dan masyarakatnya.

Kesimpulan

Sosialisasi adalah suatu proses sosial yang ditempuh oleh seorang individu melalui proses pendidikan dalam upaya pembentukan sikap yang sesuai dengan nilai sosial dan kultural masyarakat dimana individu tersebut hidup bersamanya.

Dalam kaitannya, sosialisasi dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu: sifat dasar, lingkungan prenatal, perbedaan individu, lingkungan, dan motivasi. Dalam sosialisasi terdapat beberapa unsur penghambat sosialisasi, yaitu: adanya kesulitan komunikasi, adanya pola kelakuan yang berbeda-beda atau yang bertentangan, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat sebagai akibat modernisasi, industrialisasi, dan urbanisasi. Selain selain itu, proses sosialisasi akan sukses bila disertai dengan toleransi yang tulus, disiplin dan patuh terhadap norma-norma dalam masyarakat, saling hormat-menghormati, dan saling menghargai.

Sosialisasi anak didik tidak terlepas dari trinitas lingkungan pendidikan, yaitu: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Anak didik akan “ditempa” dalam suasana trinitas lingkungan pendidikan tersebut, sehingga anak didik sebagai individu yang utuh adalah bentukan darinya. Oleh karena itu, sinergi yang baik antara ketiga unsur ini sangat berpengaruh terhadap kesuksesan pendidikan dalam sosialisasi anak didik.

Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu. 2003. Ilmu Sosial Dasar, cet.4. Jakarta: Rineka Cipta.

 ————–. 2007. Sosiologi Pendidikan, cet.2. Jakarta: Rineka Cipta.

Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun. 2011. Mukaddimah Ibnu Khaldun, diterjemahkan oleh Masturi Irham, dkk. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Daradjat, Zakiah, dkk. 2012. Ilmu Pendidikan Islam, ed.I, cet.10. Jakarta: Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed. 3 – cet. 3. Jakarta: Balai Pustaka.

Ibrahim, R. dan Nana Syaodih S. 2003. Perencanaan Pengajaran, cet.2. Jakarta: Rineka Cipta.

Idi, Abdullah. 2011. Sosiologi Pendidikan Individu, Masyarakat, dan Pendidikan, editor Safarina HD, cet.2. Jakarta: Rajawali Pers.

Ihsan, Fuad. 2008. Dasar-dasar Kependidikan: Komponen MKDK, cet.5. Jakarta: Rineka Cipta.

Jalaluddin. 2001. Teologi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

M. Setiadi, Elly dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya, ed.I, cet.1. Jakarta: Kencana.

Nasution, S.  2011. Sosiologi Pendidikan, cet.6. Jakarta: Bumi Aksara.

Salahudin, Anas. 2011. Filsafat Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Soekanto, Soerjono. 2010. Sosiologi Suatu Pengantar, ed.I, cet.43. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Supardan, Dadang. 2008. Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan Struktural, ed.I, cet.1. Jakarta: Bumi Aksara.

Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar, ed. revisi, cet.4. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Sumber lain:

Cimeissa03, “Proses Sosialisasi Peerta Didik di Sekolah,” http://cimeissa03. wordpress.com/2011/12/14/proses-sosialisasi-peserta-didik-di-sekolah/, diakses tanggal 9 Nopember 2012 pukul 15.18 WIB.

Nuruddin01assabab, “Sosialisasi Anak Didik,” http://assabbab.wordpress.com/2011/04/16/sosialisasi-anak-didik/, diakses tanggal 9 Nopember 2012 pukul 18.38 WIB.


[1] Lihat: (Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, cet.4, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, h. 102).

[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (ed.I, cet.43; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010), h. 54.

[3] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2001), h. 67.

[4] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (cet.6; Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 126.

[5] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (cet.2; Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 158.

[6] Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan: Komponen MKDK, (cet.5; Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 77-78.

[7] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (ed.III, cet. ke-3; Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 1085.

[8] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya, (ed.I, cet.1; Jakarta: Kencana, 2011), h. 155.

[9] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan Individu, Masyarakat, dan Pendidikan, editor Safarina HD, (cet.2; Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 99.

[10] Abu Ahmadi, op. cit., h. 153-154.

[11] S. Nasution, loc. cit.

[12] Abu Ahmadi, op. cit., h. 154.

[13] Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2011), h. 66.

[14] Abdullah Idi, op. cit., h. 101.

[15] Lihat: Abu Ahmadi, op. cit., h. 155.

[16] Ibid., h. 156.

[17] Abu Ahmadi, loc. cit.

[18] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, op. cit., h. 157.

[19] Abu Ahmadi, op. cit., h. 158-160.

[20] S. Nasution, op. cit., h. 127-128.

[21] Cimeissa03, “Proses Sosialisasi Peerta Didik di Sekolah,” http://cimeissa03.wordpress.com /2011/12/14/proses-sosialisasi-peserta-didik-di-sekolah/, diakses tanggal 9 Nopember 2012 pukul 15.18 WIB.

[22] Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, Mukaddimah Ibnu Khaldun, diterjemahkan oleh Masturi Irham, dkk, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011), h. xi.

[23] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (ed. revisi, cet.4; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), h. 61.

[24] Ibid., h. 59-60.

[25] R. Ibrahim dan Nana Syaodih S., Perencanaan Pengajaran, (cet.2; Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 31.

[26] Abdullah Idi, op. cit., h. 105.

[27] Anas Salahudin, Filsafat Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), h. 215.

[28] Abdullah idi, loc. cit.

[29] Abu Ahmadi, op. cit., h. 167-169.

[30] Dadang Supardan, Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan Struktural, (ed.I, cet.1; Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 140.

[31] Abu Ahmadi, op. cit., h. 181.

[32] Abdullah Idi, op. cit., h. 107.

[33] Ibid., h. 106.

[34] Nuruddin01assabab, “Sosialisasi Anak Didik,” http://assabbab.wordpress. com/2011/04/16/sosialisasi-anak-didik/, diakses tanggal 9 Nopember 2012 pukul 18.38 WIB.

[35] Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (ed.I, cet.10; Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 46.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: