Puasa Menjadikan Penderita Sakit Mag Membaik

Saya menganggap berpuasa akan memperparah penderita penyakit mag ternyata keliru. Meskipun lambung kosong selama 14 jam ketika berpuasa, ternyata justru membuat penderita mag membaik.

Menurut Dr. Achmad Nurman SpPD, EhC, spesialis pencernaan dari RS Pantai Indah Kapuk, kondisi pasien penderita mag yang selama ini menjalankan ibadah puasa jauh membaik daripada tidak puasa. “Selama 14 jam kosong asam lambung memang meningkat, tetapi kondisi penderita tetap stabil. Tidak ada keluhan nyeri, seperti yang mereka rasakan sebelum puasa, “jelasnya. Oleh sebab itu, katanya, pendapat bahwa puasa itu menyehatkan sangat benar. “Kita ambil logika di luar ilmu kedokteran saja. Ibaratnya lambung dan pencernaan manusia ini adalah mesin. Jika setiap hari dipakai tanpa berhenti atau istirahat, akan terjadi kerusakan. Demikian juga dengan lambung yang kita pakai setiap hari selama 12 bulan tanpa istirahat. Dengan adanya puasa, lambung dan organ lainnya dapat istirahat selama satu bulan kecuali jantung. Organ-organ tubuh ini akan semakin baik kondisinya pada bulan berikutnya.

“Untuk itu, masih menurut Achmad, tidak pernah ada kasus penderita mag meninggal dunia atau pingsan karena menjalankan ibadah puasa. Sebab, mag ditimbulkan oleh makanan yang terlalu sensitif atau adanya kuman dan kondisi psikologis seseorang.”

Sementara itu, menurut Dr. Ari Fahrial Syam SpPD, MMB dari Subbagian Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, sakit mag secara medis dikelompokkan kedalam penyakit yang disebut dengan sindrom dispepsia. Dispepsia adalah rasa tidak nyaman atau sakit didaerah ulu hati disertai rasa mual, kembung, cepat kenyang, dan kurang nafsu makan.

Dikatakan dr Ari, “pada saat berpuasa, terutama setelah 6-8 jam perut kosong memang akan terjadi peningkatan asam lambung dan dapat menyebabkan gejala sakit mag. Pada orang sehat keadaan itu dapat diatasi dengan pilihan makanan yang tepat saat berbuka puasa dan sahur, serta kegiatan yang tidak menyebabkan terjadinya peningkatan udara di dalam lambung.”

Sementara bagi yang berpuasa, jelas Achmad, “jangan lupa minum obat secara teratur saat sahur dan berbuka puasa agar menjaga asam lambung tidak meningkat. Selain itu, bila kondisinya dianggap terlalu parah, perlu juga keterangan dokter apakah boleh berpuasa atau tidak.

Pada penderita dengan gangguan dispepsia biasanya sudah berlangsung kronis sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut dengan endoskopi. Adapun penderita dispepsia fungsional dapat berpuasa karena gangguan asam lambung bisa diobati dengan obat antiasam lambung yang dapat memberikan pada saat sahur dan berbuka untuk mengontrol asam lambung selama berpuasa.

Achmad mengatakan ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya sakit mag atau dispepsia ini. Pertama adalah bersifat fisik, misalnya berupa telat makan, makan tidak teratur, terlalu banyak makan yang mengandung asam atau pedas. “Minum kopi, merokok, makan goreng-gorengan, juga bisa memicu terjadinya sakit mag. Minuman beralkohol juga terbukti berperan dalam meningkatkan asam lambung, “kata Achmad. Faktor kedua adalah psikologis. Ini yang justru sering menjadi pemicu timbulnya keluhan mag. “keadaan psikologis orang memang berbeda-beda. Ada yang bagus dan ada pula sangat sensitif. Masalah kecil menjadi besar karena dipikir terlalu rumit. Orang-orang yang memiliki gangguan psikologis akan rentan pula terhadap pencernaannya.”

Pada bulan Ramadhan, lanjut Ari, sering kali ketika berbuka puasa, para penderita mag mengonsumsi camilan berlemak, seperti goreng-gorengan yang mudah ditemukan di pinggir jalan. “Padahal dalam kondisi demikian perut membutuhkan kalori, bukan lemak. Jika hal ini terus-menerus dilakukan, akan mempercepat terjadinya sakit mag atau dispepsia ini.”

Hasil penelitian membuktikan pada keadaan tukak usus 12 jari dapat tetap berpuasa tanpa komplikasi dengan mengonsumsi obat antiasam kuat setiap hari selama berpuasa. Obat antiasam umumnya mempunyai lama kerja panjang 12-24 jam sehingga obat ini dapat tetap mengontrol asam lambung selama pasien berpuasa. Tetapi, terlebih penting adalah menghindari gangguan pemicu bersifat psikologis tadi.

 

Sumber: http://saipuddin.wordpress.com/2010/08/14/puasa-membuat-penderita-mag-membaik/

Diakses pada tanggal 23 November 2011 pukul 17.44 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: