Eden In The East: Benua yang Hilang di Asia Tenggara

Judul : Eden in the East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara
Penulis : Stephen Oppenheimer
Editor: Ahmad Y. Samantho, dkk.
Penerbit : Ufuk Press
Tahun : I, 2010
Tebal : 860 halaman

Indonesia kembali disebut sebagai pusat dunia. Terlepas dari segala kontroversi dan perdebatan ilmiah tentang sebuah pulau yang tenggelam. Keberagaman budaya yang ada di Asia Tenggara sangat luar biasa. Asia Tenggara merupakan daerah yang paling beragam, paling tua, dan paling kaya di bumi.

Jika bebarapa waktu lalu kita dihebohkan dengan buku berjudul ‘Atlantis: The Lost Continent’ karya Arysio Santos. Dalam bukunya disebutkan bahwa Indonesia adalah Atlantis yang hilang. Sekarang untuk melengkapi dan menyakinkan kebenaran tersebut  penerbit Ufuk Press telah menerbitkan ‘Eden In The East’: Benua yang Tenggelam ddi Asia Tenggara.

Buku yang ditulis Stephen Oppenheimer, seorang dokter dan peneliti dari Universitas Oxford, London, Inggris. Ada kesamaan antara Oppenheimer dan Santos mereka sama-sama mencari asal peradaban di akhir Zaman Es. Namun Oppenheimer sama sekali berangkat dari titik yang berbeda dengan Santos dalam menyusun bukunya.
Jika Santos membedah legenda Atlantis, maka Oppenheimer meneliti dari sudut pandang kedokteran, geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, linguistik, dan folklore. Selain itu Oppenheimer juga mengembangkan teori asal muasal penyebaran DNA manusia karena dirinya adalah seorang dokter di sejumlah negara Asia Tenggara.

Penelitian dan kontak langsung dengan sejumlah suku mulai dari Dayak di Kalimantan, sampai sejumlah suku di Papua, meyakinkan dia kalau pusat peradaban dunia pada akhir Zaman Es ada di Indonesia dialami secara langsung.

Yang menarik dari buku ini adalah ada kumpulaan kisah dan legenda bertema banjir dari berbagai belahan dunia. Mulai dari banjir Nabi Nuh sampai dongeng banjir bangsa-bangsa Polinesia.

Oppenheimer dalam buku itu yakin bahwa banjir Nabi Nuh bukan sekadar kisah kenabian, melainkan sebuah fakta sejarah. Banjir ini menenggelamkan sebuah benua yang dia sebut Sundaland. Tenggelamnya Sundaland dengan anggapan bahwa negara asal bahasa-bahasa Austronesia ada di suatu tempat di pantai timur sundaland Zamman Es (hal. 206)

Sundaland menurut Oppenheimer adalah Indonesia, ditambah Semenanjung Malaysia dan Laut China Selatan yang dahulu adalah daratan. Oppenheimer dengan jelas menceritakan asal mula manusia dan juga peradabannya. Dalam buku tersebut ditunjukaan bahwa beberapaa arkeolog menyatakan adanya sebuah masukan awal timur dalam Mesir pradinasti sebelum 3.000 SM. Dengan bukti gaya-gaya seni dalam relief pendek, arsitektur, dan lukosan kapal-kapal besar yang dibuat dari kayu dengan tiang-tiang yang tinggi tembikar.

Banyak dongeng yang menceritakan bahwa manusia pertama turun di Jawa atau Sulawesi dinyatakan benar di dalam buku ini. Bahkan kisah Jaka Tarub yang saya anggap hanya mitos di suatu daerah namun setelah membaca buku ini saya terkejut bahkan sekarang mempercayainya. Cerita tersebut bersinggungan dengan cerita geologis yang menguak bahwa banjir terjadi pada tiga tahapan dan terjadi di antara 14.000 dan 7.000 tahun yang lalu.

Pada puncak Zaman Es sekira 20.000 sampai 18.000 tahun yang lalu, Asia Tenggara adalah merupakan sebuah benua yang besar dengan ukuran dua kali India. Meliputi yanag sekarang kita sebut Indo-Cina, Malaysia, dan Indonesia. Laut jawa, laut China Selatan, Teluk Tailand dulu merupakan tanah kering yang menghubungkan benua tersebut.

Secara singkat buku ini menceritakan keadaan pada akhir Zaman Es sekira 20.000 hingga 18.000 tahun yang lalu. Asia Tenggara merupakan sebuah pulau yang besarnya dua kali lipat dari

Oppenheimer dalam buku tersebut memperlihatkan bahwa di berbagai penjuru dunia terdapat mitos tentang banjir dan migrasi besar. Di antara orang Yahudi, berkembang cerita tentang Nabi Nuh yang membangun bahtera untuk menghindari banjir murka Tuhan yang membenamkan seluruh Bumi.

Selain itu buku ini juga menunjukkan asal mula manusia, adam dan eva versi yang aslinya dari masyarakat Asia Tenggara. Tentang bagaimana persaingan dua bersaudara kubil dan habil di Maluku. Tentang Bagaimana cerita rakyat Bawang merah dan bawang putih menjadi cerita cinderella di barat.

Penulis mempunyai simpati pada orang-orang Asia Tenggara. Sejak tahun 1970-an, ia bekerja sebagai dokter di sejumlah rumah sakit di wilayah kepulauan ini. Persentuhannya dengan keanekaragaman budaya serta manusia di periode ini membuatnya takjub dan mulai bertanya-tanya.

Oppenheimer memperlihatkan bahwa Asia Tenggara lebih dari sekadar pasar produk-produk China. Ada kemungkinan, kepulauan dipandang remeh dalam peta geopolitik dunia sekarang ini merupakan benih-benih sejarah manusia.

Oppenheimer sendiri menegaskan Sundaland bukanlah Atlantis seperti yang dikemukakan Santos dalam buku Atlantis: The Lost Continent. la menilai bukti-bukti yang dikemukakan Santos tidaklah cukup kuat untuk mengatakan Sundaland adalah Atlantis.

Ada sumber sejarah kuno lainya yang lebih kontroversial, yang bisa menjelajah waktu yang lebih lama. Inti dari buku ini terdapat pada Bab 6 dan 7 yang menempatkan Asia Tenggara sebagai pusat migrasi pada Zaman Es terlihat dari beragamnya budayanya. Asia Tenggra merupakan awal dari peradaban dunia. Semoga bermanfaat.

Imam Khanafi
Penulis adalah Peneliti muda di Muria Research Center (MRC) Indonesia

 

 

Sumber: http://ahmadsamantho.wordpress.com/2011/08/04/asia-tenggara-awal-peradaban-yang-hilang/#more-5817

Diakses pada tanggal 29 November 2011 pukul 19.33 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: