Nutrisi dan Stimulus, Optimalkan Pertumbuhan Anak

Nutrisi dan Stimulus, Optimalkan Pertumbuhan Anak

Anak-anak disetiap tahapan usia membutuhkan penanganan berbeda seiring dengan pertumbuhannya. Pasalnya, pada setiap tahapan pertumbuhan, karakter anak begitu berbeda. Sehingga, sangat penting penyesuaian kebutuhan anak di setiap tahapan usia sangat penting guna menghadirkan pertumbuhan optimal.

Demikian kesimpulan talkshow bertajuk “Kandungan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat Optimalkan Pertumbuhan Anak”, yang digagas PT. Sari Husada, Produsen susu SGM di Jakarta, akhir pekan lalu. Turut Hadir sebagai pembicara dokter Spesialis gizi anak, Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, Jakarta, dr M.F Conny Tanjung dan pakar tumbuh kembang anak dan pola asuh, Hanny Muchtar Darta.

Conny menjelaskan tahapan perkembangan anak pada umumnya dipengaruhi tiga faktor, yaitu faktor genetik, nutrisi dan stimulus. Faktor genetik merupakan hal alamiah yang tak mungkin bisa diubah. Sementara dua faktor lainnya mutlak perlu perhatian orang tua.

Faktor nutrisi misalnya, anak-anak di setiap tahapan perkembangan membutuhkan nutrisi guna menunjang pertumbuhannya. Mengapa nutrisi diperlukan? ini karena nutrisi memicu pembentukan enzim yang diperlukan tubuh, dan nutrisi diperlukan otak guna menunjang segenap aktifitas. “Faktanya, kebutuhan nutrisi di setiap tahapan perkembangan anak berbeda, tapi yang pasti kebutuhan nutrisi harian mutlak diperlukan,” tegasnya.

Conny mengungkapkan, perbedaan masalah kebutuhan nutrisi sebenarnya membutuhkan kreatifitas dan perhatian orang tua secara utuh. Ia mencontohkan, persoalan obesitas yang terjadi pada anak merupakan bentuk longgarnya pengawasan orang tua pada anak terhadap asupan yang masuk.

“Umumnya, anak-anak membutuhkan 1000 kalori perhari, mengkonsumsi susu tiga hari sekali memenuhi kebutuhan kalori mencapai 300 kalori, sisanya dipenuhi oleh tiga makanan pokok dan dua makanan tambahan,” paparnya.

Guna memenuhi kalori perharinya, Conny menyarankan kepada orang tua untuk memberikan pola makan baku yang harus diterapkan pada anak. Ihwal pola, ia tetap merujuk pada perbedaan tahapan perkembangan. Conny menggarisbawahi, yang mutlak diperhatikan orang tua adalah penuhi kebutuhan kalsium anak harian (500 gram kalsium), berikan asupan whole milk, dan seimbangkan pemberian makanan dengan kasih sayang, serta tampilan yang menarik si kecil untuk makan.

Pentingya Stimulus

Menyambung bahasan pentingnya kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan tahapan perkembangan, pakar tumbuh kembang anak dan pola asuh, Hanny Muchtar Darta menyatakan, selain pemenuhan nutrisi secara seimbang, pola stimulus merupakan bagian pelengkap nan vital. Pasalnya, pemberian stimulus pada anak membantu si kecil memasuki tahapan tumbuh kembang secara optimal.

“Seperti halnya pemenuhan nutrisi yang berbeda di setiap tahapan usia, pemenuhan stimulus pada anak juga berbeda dan tidak bisa disamaratakan pada setiap tahapan usia,” tutur Hanny.

Ia memaparkan, anak membutuhkan pola stimulus tumbuh kembang secara holistik atau terpadu. Pemberian pola stimulus dan didukung lingkungan yang sehat berpengaruh terhadap optimalnya pertumbuhan empat hal yaitu motorik, kordinasi tangan dan mata, kecerdasan intelektual dan emosi.

Berdasarkan penelitian, kata Hanny, ketika anak memasuki usia antara 1-3 tahun, mereka sudah memahami tentang apa yang ia inginkan. “Orang tua sebaiknya mencintai dan memperhatikan anak secara optimal. Hindari penggunaan kata “jangan” dalam keseharian atau ketika anak mulai menyatakan keinginannya,” terang Hanny.

Ia menjelaskan, pada usia 1-3 tahun, saat anak menyatakan keinginannya, diiringi pula dengan pembentukan kepercayaan diri. Itu sebabnya, ketika anak dihalangi ibu dengan seringnya penggunaan kata “Jangan” di setiap kesempatan, membuat anak saat memasuki usia remaja beresiko menjadi minder dan tidak percaya diri. Biarkan anak menumbuhkan kepercayaan dirinya, buat ia nyaman hingga akhirnya kepercayaan dirinya terbentuk. Saat anak-anak mengalami kegagalan, jangan pula menyalahkan dirinya, berikan kesempatan dan pengertian bahwa kegagalan merupakan hal biasa dan lumrah,” jelasnya.

Berbeda dengan usia 1-3 tahun, anak-anak yang berusia antara 3-6 tahun jauh membutuhkan stimulus yang demikian komplek. Ini disebabkan, anak-anak pada usia itu telah memasuki pemikiran yang rumit.

“Pada usia ini, anak mulai belajar memilih. Berikan atau ajarkan anak memilih. Dari situ, anak akan belajar bertanggung jawab atas pilihannya. Dengan sendirinya anak-anak akan malu bila tanggung jawabnya tidak dijalankan,” paparnya. Hanny menambahkan, pada usia 3-6 tahun, ajari pula anak dengan stimulus yang mengarah pada kejujuran.

Stimulus itu bisa diaplikasikan dengan penciptaan kebiasaan pada anak untuk bercerita kepada orang tua apapun hal yang dilakukan. Termasuk didalamnya, saat anak menceritakan kenakalannya.”Hindari rasa marah, biarkan anak cerita tentang hal-hal yang dia alami,” tegasnya.

Terakhir, Hanny menyarankan kepada para Ibu dengan anak yang berbeda tahapan perkembangan untuk menerapkan 4B. B pertama adalah Belailah, peluklah buah hati 12 kali sehari supaya dia dapat merasakan kedekatan, kehangatan dan membangun ikatan emosional yang baik sehingga buah hati merasa diterima dan didukung oleh orang tuanya.

B kedua, Bicara atau bacakan, ajaklah buah hati untuk berkomunikasi dengan cara berbicara dan membacakan buku setiap hari. B ketiga, bermain dengan melibatkan aktifitas fisik dan B terakhir, bermain dengan permainan yang melibatkan pikiran.

Redaktur: Ririn Sjafriani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: