Captain Abu Raed

JUDUL: CAPTAIN ABU RAED

 

SUTRADARA: AMIN MATALQA

 

TAHUN: 2007

 

DURASI: 105 menit
Captain Abu Raed adalah salah satu film JIFFEST 2008 yang paling banyak ditonton. Bahkan tiket pemutaran perdananya sudah habis pada penjualan hari ke-3. Film asal Jordania ini pantas menjadi salah satu best seller karena sudah mendapat sangat banyak penghargaan di berbagai festival film manca negara.

 

Alkisah Abu Raed (Nadim Sawalha) seorang pria sepuh bekerja sebagai pegawai kebersihan (janitor) di bandara internasional Amman, ibu kota Jordania. Ia hidup sebatang kara setelah 5 tahun sebelumnya istrinya wafat, menyusul kepergian anaknya, Raed, yang wafat ketika kanak-kanak karena kecelakaan. Abu Raed (tak diketahui nama aslinya, karena ‘Abu Raed’ berarti ‘ayah Raed’dan ‘Ummi Raed’ berarti ‘ibu Raed’) menemukan sebuah topi pilot di tempat sampah bandara. Ia memungut dan mengenakannya. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan beberapa anak-anak yang mengiranya sebagai pilot dan memaksanya untuk bercerita tentang pengalamannya sebagai pilot. Abu Raed tak dapat mengecewakan anak-anak itu. Kebetulan ia pembaca banyak buku pengetahuan, sehingga dapat bercerita banyak hal tentang dunia ini. Suatu dunia yang tak dikenal anak-anak. Maklum mereka banyak keterbatasan, terutama akses informasi melalui TV, radio, koran, majalah, internet, dll.

 

Abu Raed juga berkawan baik dengan Nour (Rana Sultan), seorang gadis cantik berusia 30-an yang berprofesi sebagai pilot. Mereka berkenalan di bandara. Acapkali Nour menawarkan Abu Raed tumpangan pulang ke Amman. Nour juga kadang keluh kesahnya ketika ayahnya yang kaya raya ingin Nour segera menikah. Sementara Nour ingin berkeluarga, namun tidak ingin hidupnya terkekang. Nour mengagumi Abu Raed yang memiliki semangat juang dan motivasi hidup yang tinggi. Tidak banyak orang tua seperti Abu Raed yang memiliki pandangan luas dan terbuka, mengingat mereka hidup di tengah masyarakat yang kadang melihat nilai-nilai Islam secara konservatif.

 

Murad mengetahui pekerjaan Abu Raed yang sebenarnya, dan tak suka ia mengarang cerita serta menipu anak-anak. Murad (Hussein Al-Sous) dan keluarganya tinggal tak jauh dari kediaman Abu Raed. Ayah Murad seorang pedagang pakaian yang sering frustasi dan mabuk-mabukan. Nyaris setiap malam sepulang kerja, ia menyakiti istri dan anak-anaknya. Bahkan sekali waktu tangan Murad dicelakai dengan sendok panas, ketika ketahuan mencuri model pesawat terbang. Murad sebenarnya terinspirasi dengan dongeng Abu Raed dan bercita-cita ingin menjadi pilot pesawat terbang.

 

Abu Raed mengetahui KDRT dalam keluarga Murad dan mencari akal untuk menolong mereka. Ia juga sering terpaksa membeli wafer dagangan Tareq (Udey Al-Qiddissi), yang disuruh ayahnya berjualan dan meninggalkan bangku sekolah. Itu dilakukan agar Tareq dapat pergi bersekolah tanpa harus memikirkan penjualan wafernya.

 

Keadaan semakin genting ketika Abu Raed dan Nour membawa kabur Ummi Murad, Murad, dan adiknya ke rumah Murad. Bagaimana Abu Raed dapat menghadapi ayah Murad? Mampukah ia menyadarkannya?

 

Film karya Amin Matalqa ini luar biasa bagus. Tidak hanya karena naskah yang bagus, tapi juga pengarahan kepada para aktor/ aktris, sinematografi yang bagus, pengambilan kamera yang bagus, editing yang bagus, musik score yang indah, dan lain sebagainya. Captain Abu Raed dapat menyampaikan aneka pesan: keindahan kota Amman, kehidupan masyarakat Jordania, strata sosial, pandangan dan aktualisasi masyarakat akan ajaran Islam, impian anak-anak untuk meraih cita-cita, kemandirian kaum perempuan, kepahlawanan, pengorbanan, dan lainnya.
Amin Matalqa menempuh pendidikan dan profesi sutradara di Amerika Serikat, dan sangat terpengaruh film-film Amerika, Eropa, Jepang, Cina, dan lainnya. Semua menambah wawasannya untuk mampu membuat film yang bermutu. Nadim Sawalha sendiri lebih sering berkarir di London dan bermain di dua film James Bond (The Spy Who Loved Me & Living Daylights). Rana Sultan lebih dikenal sebagai reporter dan pembaca acara TV terkenal di Jordania. Musik score ditulis oleh Austin Wintory, yang ketika remaja sudah menjadi konduktor Utah Symphony.

 

Film Captain Abu Raed membuktikan bahwa sebuah film dapat menyampaikan nilai-nilai Islami dengan sempurna.

_________

Sumber: http://cakrawala-senja.blogspot.com/2008/12/captain-abu-raed.html

Diakses pada tanggal 5 Januari 2012 pukul 15.45 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: