Hadits-Hadits Populer, Namun Bermasalah

1. أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللهِ الطَّلاَقِ

“Barang halal yang peling dibenci Allah adalah talaq (perceraian).”

Hadis ini dla’if (lemah), al-Ilal al-Mutanahiyah.

... Ibnu al-Jauzi, 2:1056; adz-Dzakhirah,1:23

============

 

اتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللهِ  .2

Berhati-hatilah terhadap firasat orang mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah.”

Hadis ini dla’if.

Tanzih asy-Syari’ah, al-Kanani, 2:305; al-Maudlu’at, ash-Shaghani, 74

============

 

3.  اخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ

“Perbedaan pendapat di kalangan ummatku adalah rahmat.”

Hadis ini Maudlu’.

Al-Asrar al-Marfu’ah, 506; Tanzih asy-Syari’ah, 2:402. Al-Albani mengatakan; hadis ini tidak ada asalnya, adl-Dla’ifah, 57

============

 

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّفِّ وَقَدْ تَمَّ فَلْيَجْبِذْ إِلَيْهِ رَجُلاً يُقِيْمُهُ إِلَى جَنْبِهِ   .4

“Apabila salah seorang diantara kalian sampai ke suatu shaf yang telah penuh maka hendaklah menarik seorang dari shaf itu untuk berdiri di sampingnya.”

Hadis ini dla’if.

Hadis ini terdapat di dalam kitab Mu’jam al-Ausath karya at-Thabrani, 7:314, dengan sanad dari Muhammad bin Ya’qub, dari hafsh bin Amr ar-Rabbali, dari Bisyr bin Ibrahim, dari al-Hajjaj bin Hassan, dari ikrimah dari Ibnu Abbas. Al-Haitsami di dalam Majma’ az-Zawaid disebutkan bahwa hadis ini hanya diriwayatkan melalui jalur ini, kemudian al-Haitsami menyatakan bahwa Bisyr sangat dla’if.

Majma’ az-Zawa’id, 2:96; adl-Dla’ifah, 921

============

 

اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ  .5

“Carilah ilmu meskipun sampai di negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap orang muslim.”

Hadis ini palsu.

Al-Maudlu’at, Ibnu al-Jauzi, 1:215; Tartib al-Maudlu’at, adz-Dzahabi, 111; al-Fawaid al-Majmu’ah, 852; Kasyful Khafa’, al-Ajluni, 1:139

============

 

اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَداً، وَاعْمَلْ لآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَداً  .6

“Beramalah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok.”

al-Albani mengatakan; …

Tidak benar kalau hadis ini marfu’, maksudnya tidak benar kalau hadis ini berasa dari Nabi saw.

adl-Dla’ifah:8

============

 

اْلأَذَانُ وَاْلإِقَامَةُ فِي أُذُنِ الْمَوْلُوْدِ   .7

“Adzan dan iqamahlah di telinga anak yang baru lahir.”

Hadis ini dla’if sekali.

Bayan al-Wahm, Ibnu al-Qaththan, 4:594; al-Majruhin, Ibnu Hibban, 2:128; adl-Dla’ifah, 1:494

============

 

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدِ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ   .8

“Hati-hatilah kalian terhadap iri (hasad), karena iri itu akan dapat memakan kebaikan seperti api memakan (membakar) kayu.”

Hadis dla’if.

At-Tarikh al-Kabir, 1:272; Mukhtashar Sunan Abi Dawud, al-Mundziri,7:226

============

 

اْلإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ   .9

“Iman itu bisa bertambah dan berkurang.”

Bukan hadis Rasululah, tetapi kata-kata yang disepakati (ijma’) oleh ulama’ salaf.

al-Manar al-Munif, 119; Kasyf al-Khafa’, 25; Mizan al-I’tidal, 6:304

============

 

تَوَسَّلُوْا بِجَاهِيْ ، فَإِنَّ جَاهِي عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ   .10

“Berperantaralah (bertawassul) kalian dengan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangat agung.”

Ibnu Taimiyah dan al-Albani mengatakan, hadis ini tidak ada asalnya.

Iqtidla’ ash-Shirat al-Mustaqim, Ibnu Taimiyah, 2:415;

adl-Dla’ifah, 22

============

 

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ  . 11

“Cinta tanah air sebagian dari iman.”

Hadis ini tidak ada asalnya,

adl-Dla’ifah, 36; Kasyf al-Khafa’, 1102; al-Mashnu’, Ali al-Qari, 1:91

============

12.

رَجَعْناَ مِنَ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ قَالُوْا وَمَا الْجِهَادُ اْلأَكْبَرُ قَالَ جِهَادُ الْقَلْبِ

“Kami pulang dari jihad ashghar (jihad kecil) menuju jihad akbar (jihad besar). Para sahabat bertanya, apakah jihad akbar itu? Rasul saw bersabda; Jihad hati.”

Hadis ini tidak ada asalnya,

al-Asrar al-Marfu’ah, 211; Tadzkiratu al-Maudlu’at, al-Futni, 191, Kasyf al-Khafa’, 1:511

============

13.

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي إِذَا صَلُحَا صَلُحَ النَّاسُ اْلأُمَرَاءُ وَالْفُقَهَاءُ (وفي لفظ) صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي إِذَا صَلُحَا، صَلُحَ النَّاسُ: اْلأُمَرَاءُ وَالْعَلَمَاءُ 

“Ada dua golongan diantara ummatku, apabila keduanya baik maka semua manusia akan baik; yaitu pemerintah dan ahli fiqh, dalam riwayat yang lain diungkapkan dengan teks, Ada dua golongan diantara ummatku, apabila keduanya baik maka semua manusia akan baik; yaitu pemerintah dan ulama’.”

Imam Ahmad mengatakan, salah seorang rawi hadis ini pendusta dan tukang memalsukan hadis. Ibnu Ma’in dan ad-Daruquthni mengatakan serupa dengan Imam Ahmad. Al-Albani mengatakan, hadis ini palsu.

Takhrij al-Ihya’, 1:6; adl-Dlu’afa’, 16

============

 

لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ جَعَلَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ وَالْوَلاَئِدُ يَقُوْلُوْنَ  :طَـلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنـَا مِنْ ثَنِيـَّاتِ الْوَدَاعْ

وَجَبَ الشُّـكْرُ عَلَيْنَا مَـا دَعَـا للهِ … دَاعْ

أَيـُّهَا الْمَبْـعُوْثُ فِيْنَا جِئْتَ بِاْلأَمْرِ الْمُطَاعْ

فَقَالَ لَهُنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَزُّوْا غَرَابِيْلَكُمْ بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

“Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah para perempuan dan anak-anak mengalunkan syair;

thola’albadru ‘alaina (Telah terbit rembulan bagi kami),

min tsaniya til wada’(dari bukit al-Wada’)

wajaba syukru ‘alayna (Kita semua harus bersyukur),

maa da’a lillahi daa’a (atas seruan kepada Allah oleh sang penyeru)

ayyuhal mab’rteu fiynaa (Wahai Nabi yang diutus kepada kita),

ji’ta bil amri almutho’(Engkau datang membawa perintah untuk ditaati)

Lalu Rasulullah saw bersabda kepada mereka, “Goyang-goyangkanlah rebana kalian, semoga Allah memberkahi kalian.”

Hadis ini dla’if.

Ibnu Taymiyah berkata tentang hal ini;Hadis perempuan dan menabuh rebana di saat bergembira adalah sahih. Memang di masa Rasulullah hal itu terjadi. Tetapi tentang sabda beliau, “goyang-goyangkanlah rebana kalian” tidak dikenal adanya riwayat dari beliau.

Ahadits al-Qashash, Ibnu Taimiyah, 17. Tadzkiratu al-Maudlu’at, 196

============

 

لَوْلاَكَ مَا خَلَقْتُ الدُّنْيَا   .15

“Kalau bukan karena kamu (Nabi Muhammad saw) niscaya idak aku ciptakan dunia.”

Hadis maudlu’.

Al-Lu’lu’ al-Marshu’, al-Musyaisyi, 454; Tartib al-Maudlu’at, 196; adl-Dla’ifah, 282

============

 

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ  .16

“Barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia telah mengenal tuhannya.”

Hadis ini maudlu’,

al-Asrar al-Marfu’ah, 506. Tanzih asy-Syari’ah, 2:402; Tadzkirat al-Maudlu’at,11

============

 

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةً أَبَداً . 17

“Barangsiapa yang membaca surat al-Waqi’ah setiap malam, ia tidak akan tertimpa kefakiran selama-lamanya.”

Hadis dla’if.

Al-‘Ilal al-Mutanahiyah, 1:151; Tanzih asy-Syari’ah, 1:301; al-Fawaid al-Majmu’ah, 972

============

18.

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْداً (وفي لفظ) مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ، فَلاَ صَلاَةَ لَهُ 

“Barang siapa yang shalatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan fakhsya’ dan munkar maka ia tidak akan mendapatkan tambahan dari Allah melainkan kejauhan (dari Allah). Dalam riwayat lain dinyatakan, barang siapa yang shalatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan fakhsya’ dan mungkar maka tidak ada shalat baginya (belum melaksanakan shalat).”

Adz-Dzahabi berkata Ibnu Junaid adalah pendusta dan pembohong. Al-Hafidz al-Iraqi berkata; Sanad hadis ini lemah.

Al-Albani mengatakan; Hadis ini bathil, tidak dapat diterima dari segi sanadnya dan juga dari matannya.

Mizan al-I’idal (3:293), Takhrij al-Ihya’ (1:143),

as-Silsilah adl-Dla’ifah (2,985

============

19.

مَنْ وَلَدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ فَأَذِنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرُّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

Barangsiapa yang mendapatkan seorang anak, kemudian ia adzankan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, mak…a kelak anak itu tidak akan diganggu oleh jin

Hadis Maudlu’.

Al-Mizan, adz-Dzahabi, 4:397; Majma’ az-Zawa’id, al-Haitsami. Takhrij al-Ihya’, 2:61

_________

Sumber: http://jihadsabili.wordpress.com/category/uncategorized/page/5/

Diakses pada tanggal 7 Januari 2012 pukul 15.47 WIB

Satu Tanggapan

  1. masykuur jiddan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: