Keharaman Riba’

Artikel ini membahas tentang keharaman riba’, karena besarnya bahaya riba, bencananya terhadap kaum muslimin dan banyaknya orang yang bermu’amalah dengannya, khususnya di zaman ini yang ketamakan dan kepentingan materi telah manjangkiti kedalam hati banyak manusia sehingga wajib atas orang yang berilmu untuk mengarahkan pena dan perhatiannya dalam menyingkap bahaya dan kerusakan riba.

Dalil-dalil tentang haramnya riba:
Pengharaman riba sudah semenjak dahulu, karena Allah ‘Azza wa Jalla telah mencela orang-orang Yahudi yang bermu’amalah dengannya dan memakan riba.
Allah ‘Azzat ‘Azhomatuhu berfirman:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيراً. وَأَخْذِهِمُ الرِّبا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) telah dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan juga disebabkan karena mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”. (QS. An-Nisa` : 160-161).
Dan riba’ sudah ada di zaman Jahiliyah, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan dalam surah Ar-Rum celaan tentang riba dan memuji zakat, padahal surah Ar-Rum adalah surah Makkiyah. Allah berfirman:

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِباً لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu harapkan wajah Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”. (QS. Ar-Rum : 39)
Dan dalam surah Ali ‘Imran, Allah ‘Azza wa Jalla menyatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبا أَضْعَافاً مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Ali ‘Imran : 130).
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبا لا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah : 275).
Lihat bagaimana jeleknya perumpamaan orang yang makan riba di awal ayat :
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”.
Dan lihat ancaman yang sangat keras terhadap orang yang makan riba setelah mengetahui haramnya pada akhir ayat : “Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Yaitu ia kekal di dalam Neraka kalau memang ia meyakini halalnya riba itu. Sebab siapa yang meyakini halalnya riba berarti ia telah menghalalkan sesuatu yang sangat jelas dan dimaklumi keharamannya dalam syari’at Islam dan itu berarti dia kafir keluar dari Islam.

Dan Allah Jalla Jalaluhu berfirman:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah : 276).
Perhatikan firman-Nya diawal ayat: “Allah memusnahkan riba” yaitu Allah mencabut berkah dari riba itu. Kemudian renungkan dua pensifatan yang sangat jelek di akhir ayat : “Orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. Pelaku riba disebut sebagai orang kafir, maknanya bahwa dosanya sangatlah besar atau bermakna kafir keluar dari Islam bila ia meyakini halalnya riba tersebut.
Dan juga disifatkan sebagai orang yang sangat berdosa, karena bahaya riba itu pada jiwa, harta dan pada yang lainnya.

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. Al-Baqarah : 278-279)
Perhatikan awal ayat : “Hai orang-orang yang beriman“, seruan dengan panggilan keimanan supaya meninggalkan riba. Kemudian ancaman yang sangat keras terhadap orang yang tidak mau meninggalkan riba berupa peperangan dari Allah dan Rasul-Nya. Karena siapa yang tidak mau meninggalkan riba berarti dia adalah musuh Allah dan Rasul-Nya.
Dan perhatikan di akhir ayat, pensifatan pelaku riba dengan bentuk kezholiman yang sangat tercela dalam setiap syari’at.

Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

اِجْتَنِبُوْا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ … فَذَكَرَ مِنْهَا : أَكْلُ الرِّبَا

“Jauhilah tujuh (dosa) yang menghancurkan… lalu beliau menyebutkan diantaranya : makan riba”.
Dan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuma riwayat Muslim:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَال :َ وَهُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan dua saksinya. Dan beliau berkata : mereka semua sama”.
Dalil-dalil di atas sangatlah jelas menunjukkan haramnya riba, karena itu para ulama sepakat tanpa ada perselisihan tentang haramnya riba secara garis besar walaupun dalam sebagian rincian pembagiannya terdapat perselisihan sebagaimana yang akan datang penjelasannya.

Definisi Riba dan Pembagiannya:
Riba secara bahasa adalah bermakna bertambah atau berkembang.
Adapun secara istilah, riba menjadi jelas dan terperinci dengan mengetahui pembagian riba itu sendiri.
Riba dalam rincian secara mendetailnya terbagi dua:
1.    Riba jual beli.
2.    Riba hutang.

Pembagian Riba Jual Beli:
Riba dalam jual beli terbagi dua :
1.    Riba Fadhl.
2.    Riba Nasi`ah.

Riba Fadhl:
Fadhl secara bahasa bermakna tambahan.
Para ulama tidak terlalu berbeda dalam mendefinisikan riba Fadhl. Yang mungkin bisa disimpulkan bahwa riba Fadhl adalah : Penambahan pada salah satu dari dua barang ribawy yang sejenis pada saat transaksi itu juga (kontan).

Penjelasan Definisi:
Barang ribawy maknanya adalah barang yang berlaku padanya hukum riba. Perlu diketahui oleh para pembaca bahwa barang dalam pembahasan riba terbagi menjadi dua :

  • Barang ribawy. Jenis barang yang telah disepakati oleh para ulama tentang berlakunya hukum riba padanya yaitu : emas, perak, gandum, korma, sya’ir (jewawut yaitu sejenis gandum) dan garam. Adapun selain dari enam ini, apakah ada barang yang tergolong barang ribawy, akan datang penjelasannya secara terperinci.
  • Barang ghairu ribawy (selain ribawy), yaitu yang tidak berlaku padanya hukum riba. Seperti : kain, baju, batu dan lainnya.

Contoh riba Fadhl :
Seperti emas 2 gr ditukar dengan emas 3 gr, korma 2 kg ditukar dengan korma 3 kg.
Contoh di atas terhitung riba Fadhl sebab ada penambahan pada salah satu dari dua barang yang sejenis. Sedangkan emas dan korma termasuk barang ribawy.
Adapun kalau emas ditukar dengan korma maka boleh ada penambahan karena emas tidak sejenis dengan korma walaupun keduanya tergolong barang ribawy.
Dan demikian pula bila sebuah baju ditukar dengan tiga baju, walaupun sejenis namun tidaklah terhitung riba Fadhl karena baju bukan barang ribawy.

Dalil-dalil pengharaman riba Fadhl:
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

لاَ تَبِيْعُوْا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ وَلاَ تُشِفُّوْا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ. وَلاَ تَبِيْعُوْا الورق بالورق إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ وَلاَ تُشِفُّوْا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلاَ تَبِيْعُوْا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali semisal dengan semisal dan jangan kalian lebihkan sebagiannya di atas sebagian yang lain. Janganlah kalian menjual perak dengan perak kecuali semisal dengan semisal dan jangan kalian lebihkan sebagiannya di atas sebagian yang lain. Dan jangan kalian menjual yang tidak ada dengan (sesuatu) yang telah siap”.

Dan dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ, وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ, وَالْبرُ ُّبِالْبرُ,ِّ وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ, وَالتَّمَرُ بِالتَّمَرِ, وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ, مِثْلاً بِمِثْلٍ, سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ, يَدًا بِيَدٍ, فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيْعُوْا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ.

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, korma dengan korma dan garam dengan garam. Semisal dengan semisal, sama dengan sama, tangan dengan tangan. Kalau jenis-jenis ini berbeda maka juallah sesuka kalian kalau tangan dengan tangan (maksudnya langsung dipegang/kontan, pen)”.

Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ, مِثْلاً بِمِثْلٍ. وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلاً بِمِثْلٍ. فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبَا.

“Emas dengan emas setimbang dengan setimbang, semisal dengan semisal. Perak dengan perak setimbang dengan setimbang, semisal dengan semisal. Maka siapa yang menambah atau minta tambah maka itu adalah riba”.

Tiga hadits di atas dan banyak lagi hadits lainnya tegas menunjukkan haramnya riba fadhl, secara khusus pada enam jenis barang ribawy yang tersebut dalam hadits. Karena itu telah terjalin kesepakatan di kalangan para ulama tentang haramnya memberi tambahan pada salah satu dari dua barang ribawy yang sejenis dari enam jenis barang di atas.

Tapi di sini ada dua syubhat (kerancuan) yang dijadikan pegangan oleh sebagian orang dari kalangan orang yang datang belakangan guna menghalalkan riba Fadhl :
Syubhat Pertama: Dalam Shahih Muslim dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

لاَ رِبَا إِلاَّ النَّسِيْئَةَ

“Tidak ada riba kecuali dalam Nasi`ah”.
Kata mereka: “Ini menunjukkan bahwa tergolong riba yang haram hanyalah riba nasi`ah, berarti riba Fadhl itu halal”.

Syubhat Kedua: Ada riwayat dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, bahwa keduanya berpendapat akan bolehnya riba Fadhl.

Sebenarnya berpegang dengan dua syubhat diatas bagaikan bergantung pada sesuatu yang lebih lemah dari sarang laba-laba. Namun untuk rincinya, dua syubhat ini akan dibantah sebagai berikut:
Syubhat pertama dijawab dengan enam jawaban:
Jawaban Pertama: Hadits Usamah adalah hadits yang Mansukh (terhapus hukumya) oleh hadits-hadits yang menunjukkan haramnya riba Fadhl. Dan diantara perkara yang menunjukkan mansukhnya adalah kesepakatan para ulama untuk tidak beramal dengan hadits tersebut.

Jawaban Kedua: Pernyataan “Tidak ada riba kecuali dalam Nasi`ah”, ini berlaku apabila barangnya berbeda jenis. Misalnya : emas ditukar dengan perak, korma ditukar dengan gandum dan seterusnya. Dalam keadaan ini memang boleh melebihkan jenis barang bila ditukar dengan jenis lainnya, seperti emas 1 gr ditukar dengan perak 10 gr dan seterusnya. Dan yang terlarang dalam keadaan ini hanyalah riba nasi`ah.
Hadits Usamah diarahkan kepada pengertian ini sebab hadits Usamah adalah umum dan ada hadits secara khusus melarang riba Fadhl, sedangkan kaidah di kalangan para ulama’: “yang khusus lebih didahulukan dari yang umum”.

Jawaban Ketiga: Keterangan dalam hadits Usamah adalah global (tidak terperinci), sedang hadits-hadits tentang haramnya riba Fadhl datang secara terperinci. Maka kaidahnya, “yang dipakai beramal adalah keterangan terperinci dan yang global dibawa pengertiannya kepada yang terperinci”.

Jawaban Keempat: Hadits Usamah dari riwayat satu orang shahabat saja sedang hadits tentang haramnya riba Fadhl dari banyak shahabat. Maka yang banyak lebih kuat dari riwayat satu orang saja.

Jawaban Kelima:  Makna “Tidak ada riba kecuali dalam Nasi`ah”, yaitu tidak ada riba yang lebih besar dosa dan bahayanya dari riba nasi`ah. Bukanlah pembatasan bahwa riba itu hanya dalam hal nasi`ah. Dan makna yang seperti ini dikenal di kalangan orang Arab. Seperti orang Arab berkata : “Tidak ada alim di negeri itu kecuali Zaid”. Padahal ada orang-orang alim selain Zaid. Yang mereka inginkan bahwa tidak ada yang keilmuannya menandingi Zaid.

Jawaban Keenam: Mengatakan bolehnya riba Fadhl dari hadits Usamah diambil dari dalalatul mafhum (pemahaman kebalikan dari hadits/pemahaman tersirat). Sedang pernyataan haramnya riba Fadhl dalam hadits-hadits selain hadits Usamah diambil dari dalalatul manthuq (Pemahaman dari konteks hadits/pemahaman tersurat). Dan kaidah berbunyi bahwa “Dalalathul manthuq lebih didahulukan dari dalalathul mafhum”.

Adapun syubhat kedua, jawabannya bahwa pendapat tentang boleh riba Fadhl dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas adalah dari ijtihad beliau berdua. Karena itu, ketika sampai kepada beliau berdua hadits Rasululullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tentang haramnya riba Fadhl maka beliau berdua ruju’ (kembali) dari pendapatnya.

Maka dengan ini rontoklah setiap syubhat yang dipakai untuk membolehkan riba Fadhl dan telah jelas syahnya kesepakatan para ulama tentang haramnya riba Fadhl.

Hukum penambahan dalam transaksi dua barang ribawy sejenis namun berbeda mutu.
Misal: 1 gr emas 23 karat ditukar dengan 2 gr emas 21 karat.
Nampak dari uraian tentang haramnya riba fadhl bahwa tidak boleh melebihkan sesuatu apapun kalau barangnya sejenis, apakah mutunya sama atau berbeda.
Dan ini lebih dipertegas lagi dalam Hadits Abu Sa’id dan Abu Hurairah riwayat Al-Bukhary dan Muslim:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَهُ بِتَمْرٍ جَنِيْبٍ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ : (( أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا ؟ )) قَالَ : لَا, وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّا لَنَأْخَذُ الصَّاعَ مِنْ هَذَا بِالصَّاعَيْنِ وَالصَّاعَيْنِ بِالثَّلَاثَةِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ : (( لَا تَفْعَلْ, بِعْ الْجَمْعَ بِالدَّرَاهِمِ ثُمَّ ابْتَعْ بِالدَّرَاهِمِ جَنِيْبًا )).

“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mempekerjakan seorang di Khaibar. Maka datanglah dia kepada beliau membawa korma Janib (korma dengan mutu sangat baik) maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bertanya : “Apakah semua korma Khaibar seperti ini ? ia menjawab : “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, kami mengganti satu sho’ dari (korma Janib) ini dengan dua sho’ (dari korma jenis lain) dan dua sho’nya dengan tiga sho’. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : Jangan kamu lakukan seperti itu, juallah semua dengan dirham (mata uang perak) lalu dengan dirham itu belilah korma Janib.”

Berkata Imam Asy-Syaukany : “Dan hadits (ini) menunjukan bahwa tidak boleh menjual (barter) jenis yang jelek dengan yang baik dalam bentuk ada penambahan, dan ini adalah perkara yang disepakati, tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama tentangnya”.
Dan di akhir hadits di atas, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memberikan jalan keluar yang bersih dan bebas dari riba untuk segala bentuk tukar menukar yang semisal dengan masalah penukaran korma di atas.
Demikian pula misalnya emas 1 gr 23 karat ditukar dengan 2 gr 21 karat, setelah mengetahui tidak bolehnya penukaran seperti ini, maka jalan keluarnya emas 23 karat ditukar dengan uang dahulu atau selain jenis emas kemudian dengan uang itu ia membeli emas 21 karat dan begitu seterusnya. Wallahul Muwaffiq.

Barang-barang yang tergolong ribawy:
Para ulama sepakat bahwa emas, perak, gandum, korma, sya’ir dan garam adalah barang ribawy berlaku padanya hukum-hukum riba.

Maka apakah ada barang ribawy selain emas jenis di atas?
Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang hal ini:
Pertama : Pengharaman riba hanya terbatas pada enam jenis ini. Ini pendapat Thawus, ‘Utsman Al-Butti, Qotadah, Abu Sulaiman, Ibnu Hazm Azh-Zhohiry dan Ibnu ‘Aqil Al-Hanbaly serta dikuatkan oleh Ash-Shon’any dalam Subulus Salam.
Kedua : Pengharaman riba tidak terbatas pada enam ini saja, tapi juga pada jenis-jenis barang lain yang semakna dalam ‘illatnya (sebabnya). Dan ini adalah pendapat jumhur ulama termasuk didalamnya Imam empat.

Tarjih:
Tiada keraguan bahwa yang kuat adalah pendapat yang kedua sebagaimana yang dikuatkan oleh ulama terkenal dari dulu sampai sekarang. Ada beberapa dalil yang menguatkan pendapat ini.
1.    Hadits Ma’mar bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ

“Makanan dengan makanan, semisal dengan semisal.”
Maksudnya : Kalau menukar makanan dengan makanan maka harus harus semisal tidak boleh melebihkan.
Sisi pendalilan : Konteks hadits dengan lafazh “makanan” dan kalimat “makanan” adalah umum sehingga tercakup didalamnya makanan selain dari yang terhitung pada enam jenis di atas.

2.    Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمُزَابَنَةِ, أَنْ يَبِيْعَ تَمْرَ حَائِطِهِ إِنْ كَانَ نَخْلًا بِتَمْرٍ كَيْلًا وَإِنْ كَانَ كَرْمًا أَنْ يَبِيْعَهُ بِزَبِيْبٍ كَيْلًا وَإِنْ كَانَ زَرْعًا أَنْ يَبِيْعَهُ بِكَيْلِ طَعَامٍ, نَهَى عَنْ ذَلِكَ كِلِّهِ

“Rasulullah melarang dari al-Muzabanah (yaitu) seseorang menjual buah kebunnya, apabila pohon korma (maksudnya Ruthob yaitu korma yang belum matang) untuk (dijual/ditukar) dengan korma (matang) setakaran, apabila anggur untuk dijual dengan kismis setakaran dan apabila tanaman untuk dijual dengan setakar makanan, (Nabi) melarang dari hal itu semua.”
Sisi pendalilan : Hadits ini menunjukan bahwa hukum riba juga berjalan pada karam (anggur) dan kismis (anggur yang di keringkan) dan keduanya tidak termasuk dari enam jenis.

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa barang ribawy tidak terbatas pada enam jenis barang saja tapi juga pada barang lainnya yang mempunyai ‘illat yang semakna dengannya.

Tapi apakah ‘illat (sebab) yang menjadikan barang ribawy di atas dianggap sebagai barang yang berlaku padanya hukum riba ?.
Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, kami ringkas dengan kesimpulan sebagai berikut:

‘Illat barang ribawy yang telah berlalu penyebutannya terbagi dua :
Pertama : ‘Illat pada emas, perak dan yang sejenisnya.
Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang ‘illat emas dan perak ini.
Satu : ‘Illatnya adalah karena ditimbang. Ini pendapat Abu Hanifah dan Ahmad dalam satu riwayat.
Jadi menurut pendapat ini emas dan perak itu termasuk barang ribawy karena emas dan perak masuk dalam katagori barang yang ditimbang dalam transaksi jual beli. Berati menurut pendapat ini hukum riba juga berlaku pada logam, besi dan lain-lainnya karena ‘illatnya sama yaitu ditimbang. Dan juga menurut pendapat ini uang kertas yang dipakai di zaman ini tidak berlaku padanya hukum riba karena kertas tidaklah ditimbang.
Dua: ‘Illatnya adalah karena Muthlaquts Tsamaniyah yaitu mempunyai nilai tukar dalam transaksi jual-beli. Pendapat ini adalah salah satu riwayat dari Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim dan ini yang dipegang oleh banyak ulama di zaman ini seperti dalam keputusan Hai`ah Kibar Ulama` Saudi Arabiah pimpinan Syaikh Ibnu Bazz dan juga keputusan beberapa Majma’ Fiqh (kumpulan/persatuan fiqh) tingkat Internasional dan ini pendapat yang kuat dalam masalah ini.
Maka menurut pendapat ini uang kertas, uang logam dan lainnya termasuk barang ribawy karena semakna dengan emas dan perak dalam ‘illat sebagai barang yang punya nilai tukar dalam transaksi jual-beli. Dan menurut pendapat ini besi, logam, kuningan dan lainnya, tidaklah termasuk barang ribawy karena bukan sebagai barang yang mempunyai nilai tukar dalam transaksi jual-beli.

Kedua : ‘Illat gandum, sya’ir, korma, garam dan yang sejenisnya.
Ada beberapa pendapat di kalangan para ulama dalam menentukan ‘illat yang menyebabkannya termasuk barang ribawy.
Dan pendapat yang paling kuat bahwa ‘illatnya adalah karena bisa dimakan dan ditakar atau bisa dimakan dan ditimbang. Ini adalah pendapat lama dari Imam Asy-Syafi’iy dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Dan ini yang di kuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan beberapa ulama di zaman ini.
Jadi menurut pendapat ini, ‘illat gandum, sya’ir, korma, garam dan yang sejenisnya adalah kadang karena bisa dimakan dan ditakar dan kadang karena bisa dimakan dan ditimbang. Perbedaan antara takaran dan timbangan, takaran adalah penentuan kadar sesuatu dengan ukuran isinya seperti Sho’ (ukuran empat Mud), Mud (ukuran senilai dua telapak tangan sedang tidak kecil tidak pula lebar), liter dan lain-lainnya sedang timbangan adalah penentuan kadar sesuatu dengan ukuran berat atau ringannya seperti kilo dan sejenisnya.
Contoh : Daging. Barang ribawy karena bisa dimakan dan ditimbang (dikilo).
Contoh lain : Gula. Barang ribawy karena bisa dimakan dan ditakar (diliter).
Contoh lain : Durian. Bukan barang ribawy. Walaupun durian itu dimakan namun ia tidaklah ditimbang dan tidak pula ditakar melainkan dijual secara hitungan.

Riba Nasi’ah.

Nasi’ah secara bahasa bermakna mengakhirkan. Seperti dalam firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan-bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang kafir dengan mengundur-undurkan itu.” (QS. At-Taubah : 37)
Dan secara istilah, riba Nasi`ah adalah menjual dua jenis barang yang sama dalam ‘illat riba fadhl dengan tidak secara kontan.

Contoh : seseorang membeli emas dengan harga 2 juta. Satu juta telah dibayar langsung dan satu juta lain pada bulan depan.
Ini termasuk riba Nasi`ah karena emas dan uang keduanya satu ‘Illat yaitu sama-sama memiliki nilai tukar. Maka transaksi harus secara kontan selesai dalam majelis itu.

Contoh lain : 1 kg beras ditukar dengan 2 kg garam. Satu kilo garam telah diserahkan dan satu kilo lagi di waktu lain.
Ini juga termasuk riba Nasi`ah karena pembayaran tidak kontan, padahal beras dan garam semakna dalam ‘illat yaitu kerena ditimbang atau dikilo dan bisa dimakan.

Adapun kalau ‘illatnya berbeda maka tidak harus kontan.
Contoh : Seseorang membeli korma 100 kg dengan harga Rp. 300.000,-, Rp. 200.000,- telah dibayar dan Rp. 100.000,- lagi dilunasi bulan depan. Contoh ini tidak termasuk riba sebab korma dan uang berbeda ‘illatnya.

Dalil Tentang Haramnya Riba Nasi`ah:
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

لاَ رِبَا إِلاَّ النَّسِيْئَةَ

“Tidak ada riba kecuali dalam Nasi`ah”. (HR. Muslim)

Dan dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيْعُوْا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Kalau jenis-jenis ini berbeda maka juallah sesuka kalian kalau tangan dengan tangan (maksudnya langsung dipegang/kontan, pen)”.

Kesimpulan Dari Riba Jual Beli:
Dari pembahasan riba Fadhl dan riba Nasi`ah mungkin bisa ditarik beberapa kesimpulan sebagai pijakan dan patokan dalam riba jual beli :

1.    Apabila ada dua barang ribawy sama dalam jenis dan ‘illatnya maka ketika terjadi penukaran antara satu jenis dengan yang lainnya maka disyaratkan padanya dua perkara ; Harus semisal dan sama dan harus saling pegang dan saat itu juga (kontan). Kapan tidak semisal dan sama maka itu terhitung riba Fadhl dan kapan tidak lansung pegang dan tidak kontan maka itu terhitung riba Nasi`ah.
Contoh : Mengganti emas dengan emas. Disyaratkan harus semisal dan sama dan harus kontan ketika terjadi penukaran.
Contoh lain : Menukar beras dengan beras. Disyaratkan harus semisal dan sama dan harus kontan ketika terjadi penukaran. Kapan dilebihkan maka terhitung riba Fadhl dan kapan ada pengunduran waktu dalam penyerahan maka itu terhitung riba Nasi`ah

2.    Dua barang ribawy yang sama dalam ‘illatnya namun berbeda jenisnya, maka dalam penukaran antara satu jenis dengan yang lainnya disyaratkan harus saling pegang dan saat itu juga (kontan) saja.
Contoh : Beras dan gula. Keduanya adalah barang ribawy dan ‘illatnya sama yaitu bisa dimakan dan ditakar (diliter) namun keduanya berbeda jenis. Apabila beras 20 liter ditukar dengan gula 30 liter maka itu hukumnya boleh tapi dengan syarat harus saling pegang dan saat itu juga (kontan).
Contoh lain : Penukaran Riyal (mata uang Arab Saudi) dengan Rupiah. Keduanya adalah barang ribawy dan ‘illatnya sama yaitu mempunyai nilai tukar (Muthlaquts Tsamaniyah) namun Riyal adalah satu jenis mata uang dan Rupiah adalah jenis mata uang lain. Andaikata Rs 1000,- di tukar dengan Rp 2.500.000,- maka hukumnya boleh. Tapi tidak boleh dikatakan –misalnya- : “Berikan Rs 1000,- sekarang dan tiga hari lagi Rp 2.500.000,- saya akan serahkan”, sebab itu artinya tidak harus saling pegang dan tidak saat itu juga (kontan) dan secara otomatis terhitung riba Nasi`ah.

3.    Apabila ada dua barang ribawy berbeda ‘illatnya maka tidak disyaratkan apa-apa ; boleh ada tambahan dan boleh tidak kontan.
Contoh : Korma ditukar dengan gula. Keduanya adalah barang ribawy namun ‘illatnya berbeda, korma ‘illatnya adalah dimakan dan ditakar sedang gula ‘illatnya adalah dimakan dan ditimbang.
Contoh lain : Membeli beras dengan uang rupiah. Keduanya adalah barang ribawy namun ‘illatnya berbeda, beras ‘illatnya adalah dimakan dan ditimbang (diliter) sedang uang rupiah ‘illatnya adalah mempunyai nilai tukar (Muthlaquts Tsamaniyah).
Maka dua contoh diatas, boleh ada pelebihan dan boleh tidak kontan.

4.    Apabila ada dua barang bukan ribawy maka boleh semuanya ; Boleh adanya pelebihan dan boleh tidak saling pegang dan dan saat itu juga (kontan).

Riba Hutang Dan Pembagiannya

Riba dalam hutang terbagi dua :
1.    Riba Jahiliyah
2.    Riba Hutang
Sebagian ulama menghitung riba jahiliyah masuk dalam bagian riba Nasi`ah. Dan Riba hutang juga oleh sebagian ulama dimasukkan ke dalam bagian riba Fadhl dan sebagian ulama lainnya menjadikannya sebagai bagian dari jenis riba yang tiga bersama riba Nasi`ah dan riba Fadhl. Namun pembagian-pembagian ini tidaklah merubah hakikat dan pengertian dari setiap dari jenis riba tersebut.

Riba Jahiliyah
Disebut sebagian riba jahiliyah karena ini yang merupakan asal riba pada jahiliah. Bentuknya : Apabila ada yang berhutang pada seseorang sampai waktu tertentu, pada saat tiba waktunya, datanglah pemilik hutang lalu berkata kepada orang yang berhutang kepadanya : “Kamu lunasi atau riba (yaitu kamu memberi tambahan karena kelonggaran waktu yang diberikan padamu)”.

Dan riba seperti ini adalah haram menurut kesepakatan ulama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ

“Dan jika (oerang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah penangguhan sampai dia berkelapangan.”

Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala mendustakan orang-orang musyrikin ketika mereka mengatakan bahwa jual beli itu sama dengan riba dalam Tanzil-Nya:

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Riba Hutang
Bentuknya : Seseorang meminjamkan sesuatu dan mensyaratkan agar dikembalikan lebih baik darinya atau mensyaratkan mengambil manfaat karenanya. Riba hutang ini disebut oleh para ulama dalam satu kaidah yang berbunyi:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا

“Setiap pinjaman yang menyebabkan manfaat maka itu adalah riba.”
Contoh : Seseorang meminjam uang sebanyak 1 juta tapi dengan syarat dikembalikan 1,5 juta.
Cotoh lain : seseorang meminjam pinjaman tapi pemilik pinjaman mensyaratkan agar ia dipinjami mobil atau dikontrakkan untuknya atau ia dinikahkan dengan putrinya dan seterusnya.
Riba Hutang hukumnya adalah haram menurut kesepakatan para ulama, dalil-dalil yang telah berlalu penyebutannya tentang haramnya riba juga mencakup riba hutang ini.
Dan telah dinukil dari beberapa orang sahabat mengenai pengharaman riba hutang ini, para sahabat itu adalah : ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin Salam, Ubay bin Ka’ab, Ibnu ‘Abbas dan Fudholah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhum.

Dari uraian di atas mungkin muncul satu pertanyaan : “Kalau peminjam memberi hadiah/manfaat kepada pemilik pinjaman, apakah itu termasuk riba?”
Jawab:
Kalau pemilik pinjaman mensyaratkan adanya hadiah itu maka hal tersebut termasuk riba hutang sebagaimana yang telah dijelaskan. Adapun kalau pemilik pinjaman tidak mesyaratkan dan tidak pula meminta lalu peminjam memberikan padanya hadiah/manfaat, maka tidak lepas dari dua keadaan :
Pertama : Pemberian hadiah/manfaat tersebut setelah pinjaman lunas atau saat melunasi. Bentuk seperti ini hukumnya adalah boleh berdasarkan hadits Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Yang paling baik diantara kalian adalah yang terbaik dalam membayar (hutang).”

Dan dalam Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ لِيْ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَقَضَانِيْ وَزَادَنِيْ

“Saya datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan beliau ada berhutang kepadaku. Maka beliau melunasinya kepadaku dan menambah untukku.”

Kedua: Pemberian hadiah/manfaat sebelum pinjaman lunas.
Hukumnya tidak boleh dan tergolong ke dalam pinjaman yang menyebabkan datangnya manfaat (riba hutang) kecuali kalau sebelumnya memang antara pemilik pinjaman dan si peminjam ada kebiasaan saling memberi hadiah.

Demikian kesimpulan masalah ini, kami sarikan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Ibnul Qayyim, Syaikh Sholeh Al-Fauzan dan lain-lainnya.

Wallahu A’lam

_________

Sumber: http://jihadsabili.wordpress.com/category/uncategorized/

Diakses pada tanggal 7 Januari 2012 pukul 16.26 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: