ASI Tingkatkan Kualitas SDM

Pemberian air susu ibu (ASI) pada bayi merupakan cara terbaik bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak dini yang akan menjadi penerus bangsa. Hal itu diungkap Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) dr Tonang Dwi Ardianto Phd di Kentingan, Solo, Rabu (5/8).

 

Pasalnya, ASI merupakan makanan paling sempurna bagi bayi. Pemberian ASI berarti memberikan zat-zat bernilai tinggi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan saraf dan otak, memberikan zat kekebalan terhadap beberapa penyakit dan mewujudkan ikatan emosional antara ibu dan bayinya. Mengingat pentingnya pemberian ASI bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasannya, maka perlu perhatian agar dapat terlaksana dengan benar. Faktor keberhasilan dalam menyusui adalah dengan menyusui secara dini dengan posisi yang benar, teratur dan eksklusif. Salah satu yang perlu mendapat perhatian, lanjut Tonang, adalah bagaimana ibu yang bekerja dapat tetap memberikan ASI kepada bayinya secara eksklusif sampai enam bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak umur dua tahun. Pemberian ASI di Indonesia belum dilaksanakan sepenuhnya. Upaya meningkatkan perilaku menyusui pada ibu yang memiliki bayi khususnya ASI eksklusif masih dirasa kurang. Permasalahan utamanya adalah faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung Peraturan Pemerintah (PP) ASI, gencarnya promosi susu formula dan ibu bekerja.

 

Data survai dasar kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 cakupan ASI eksklusif masih 52 persen, pemberian ASI satu jam pasca persalinan delapan persen, pemberian hari pertama 52,7 persen. Rendahnya pemberian ASI eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition dan Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di empat perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang dan Makasar) dan delapan perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB,Sulsel) menunjukkan, cakupan ASI eksklusif empat sampai lima bulan di perkotaan antara empat persen sampai 12 persen, sedangkan di pedesaan empat persen sampai 25 persen. Pencapaian ASI eksklusif lima sampai enam bulan di perkotaan berkisar antara satu persen sampai 13 persen,  sedangkan di pedesaan dua persen sampai 13 persen. Dari penelitian terhadap 900 ibu di sekitar Jabotabek (1995) diperoleh fakta bahwa yang dapat memberikan ASI eksklusif selama empat bulan hanya sekitar lima persen, padahal 98 persen ibu tersebut menyusui. “Untuk ibu yang bekerja, dengan singkatnya masa cuti hamil/melahirkan mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir sudah harus kembali kerja. Hal seperti ini jelas mengganggu upaya pemberian ASI eksklusif,” paparnya.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: