Cermati dan Jauhkan Anak Dari Stress

   
Cermati dan Jauhkan Anak Dari Stress

Sebagai orang tua, pernahkan memperhatikan buah hati terlihat gelisah, tidak punya nafsu makan atau kurang konsentrasi? Kondisi itu terjadi karena anak mengalami stres. Stres tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak pun sangat mungkin terkena stress atau tekanan mental lain
Pencetus stres pada anak bisa jadi ada pada orang tua. Orang tua sering kali tidak mengerti akan keinginan buah hatinya. Hal itu lah yang kerap membuat anak-anak menjadi stres karena si bocah merasakan ada singgungan dengan orang tua. Tentunya kondisi ini bisa berbahaya bagi pertumbuhan mereka.

Reaksi seseorang terhadap stres berbeda-beda. Namun ada beberapa yang bisa diamati, seperti yang telah diungkapkan di atas. Tapi orang tua juga harus lebih cermat ketika anak menjadi cengeng dan mudah marah. Bahkan, bayi yang mengalami stres dapat meninggal dunia.

Pengamat anak Seto Mulyadi mengatakan anak lebih rentan mengalami stres dibandingkan orang dewasa. ”Justru anak-anak lebih rentan terhadap stres karena mereka masih belum bisa menangani perasaan tertekan. Tidak seperti orang dewasa,” ucap lelaki yang akrab disapa Kak Seto saat menghadiri diskusi kesehatan di Jakarta, pekan lalu.

Anak-anak, menurut dia, bisa mengalami stres dari kegiatan sehari-harinya. Banyaknya tugas yang harus dikerjakan setelah pulang sekolah, atau beratnya beban yang diberikan pihak sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar anak bisa jadi salah satu faktor pencetus stres pada anak. Selain itu tuntutan orangtua untuk selalu jadi nomor satu di kelas juga bisa membuat anak merasa tertekan.

”Zaman sekarang, anak sekolah tidak lagi membawa tas, tetapi membawa ’koper’. Pulang banyak PR (pekerjaan rumah),akhirnya anak teler,” ujar pria kelahiran 28 Agustus 1951 ini.

Kak Seto menyebutkan, pihak sekolah boleh saja memberikan tugas, tapi tidak dalam porsi berlebihan. Sarannya untuk para guru yang ingin menjadikan anak muridnya berprestasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi anak. Jangan dipaksakan, tegas Kak Seto.

”Mungkin saja prestasi mereka bagus, tetapi belum tentu dengan moralnya,” imbuhnya.

Itu belum termasuk kondisi lingkungan sekolah. Kak Seto memaparkan hasil penelitian di Indonesia yang menunjukan di lingkungan sekolah sekitar 60% anak murid pernah dibentak tenaga pengajarnya. Padahal, lanjut dia, proses pembelajaran yang efektif adalah belajar dengan cara menyenangkan. Tidak dengan cara membentak yang justru bisa membuat anak makin tertekan.

“Yang perlu diimbau di sini ialah para tenaga pengajar. Guru diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan kurikulum yang dibuat Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tanpa membebani anak didik.Tentunya dengan ide yang kreatif dan menyenangkan,” bebernya.

Intinya, ditegaskan Kak Seto, adalah kurikulum harus menyesuaikan kondisi anak atau kurikulum untuk anak, bukan anak untuk kurikulum. Banyak paradigma keliru beredar di masyarakat tentang bagaimana mendidik anak.

Begitu juga tentang disiplin, ketika orang tua mendidik anak dengan disiplin tinggi masih saja banyak yang keliru. Banyak disiplin berada ‘di ujung rotan’. Padahal, mendidik anak tidak dengan mulut dan tangan, tapi dengan hati.

”Stres juga sangat mungkin ditimbulkan dari keluarga yang tidak harmonis. Kondisi tak harmonis ini bisa diakibatkan dari adanya komunikasi yang sangat tidak baik di dalamnya,” kata Kak Seto. Anak memikirkan bagaimana keadaan keluarganya atau bisa saja diledek teman sepermainnya. Rasa tertekan jelas menimbulkan dampak negatif pada anak, baik secara fisik maupun psikis.

Kak Seto meminta para orangtua supaya segera mengubah pola asuhnya apabila anak sudah terlihat stres dalam menjalani rutinitas kesehariannya. Atau bisa juga dengan mengubah suasana lingkungan anak.

”Segera ubah keadaan. Contohnya, jika keadaan rumah sedang dalam kondisi kurang kondusif dan membuat anak makin pusing berada di rumah, karena ribut misalnya, yang sebaiknya dilakukan adalah coba ajak anak pindah ke tempat lain untuk sementara waktu. Di rumah neneknya mungkin,”saran Kak Seto.

Dengan kata lain, ciptakan suasana yang mendukung dan menyenangkan untuk menghindari stres. Jika anak terlihat senang dengan kegiatan mereka, maka orangtua berkewajiban mengembangkannya. Bisa jadi hal tersebut menjadi alternatif mereka untuk menghilangkan stres.

Stres yang dikelola dengan baik akan membuat anak terpacu atau tertantang untuk menghadapinya. Kak Seto mencontohkan saat menghadapi ujian. Jika orangtua dan orang sekelilingnya membantu dan menjelaskan kepada anak bahwa kegiatan belajar mampu mendongkrak prestasi, mereka aka berusaha mencapai hasil lebih baik lagi.

”Stres yang baik adalah stres yang ’sehat’,dan itu bisa dilakukan anak apabila kita mengajarkan mereka bagaimana cara mengelola stres yang baik,” pungkas Kak Seto.

Sumber

2 Tanggapan

  1. Pembaca setia republika ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: