Ibu, Aku Butuh Bermain

Oleh: Icha Nors

Untuk kesekian kali mendapat pertanyaan dari wali murid tentang  masalah yang sama, memaksaku menulis lagi tentang kurikulum pembelajaran PAUD. Harus bagaimana lagi aku menjelaskan dan meredam ‘kegalauan’ mereka? Apa lagi ditambahi dengan kata pembanding seperti ini: “Bu, di TK/PAUD Anu yang berada di pelosok terpencil saja setiap hari murid-muridnya diajari membaca buku setingkat SD lho bu, koq di sini yang sudah dibilang sekolah unggulan malah nggak ada pelajaran khusus membaca?

Wah, agak keterlaluan ini, masak sih kami dibilang nggak ngajari baca tulis? Ya tak apalah karena yang nampak oleh mereka (orang tua) sepanjang hari Cuma bermain melulu. Ha..ha…

Mengapa harus bermain?

Bermain bagi anak itu mutlak untuk mengembangkan  daya cipta, imajinasi, perasaan, kemauan, motivasi dalam suasana riang gembira.  Kalau ada anak yang berdiam diri, termenung, tidak senang, tidak bergerak perlu ditelusuri, diteliti bahkan dicurigai, sebab kemungkinan ia sakit (baik fisik atau psikis), misalnya kecewa, tersinggung sehingga ia mogok bermain.

Menurut Slamet Suyanto bermain memiliki peran penting dalam perkembangan anak.Peranan bermain dalam perkembangan anak antara lain: Bermain mengembangkan kemampuan motorik, bermain mengembangkan kemampuan kognitif, bermain mengembangkan kemampuan afektif, bermain mengembangkan kemampuan bahasa, bermain mengembangkan kemampuan sosial.

Tuntutan Yang Tidak Relevan

Selama ini wali murid lebih sering henya  mengkhawatirkan kemajuan perkembangan kognitif anaknya. Bisa dipastikan jarang dan malah mungkin tidak pernah ada pertanyaan begini: “Bu, sudah hampir setahun anakku sekolah di sini koq belum bisa melempar bola dari jarak sekian ke arah yang tepat, atau anakku koq belum bisa membedakan mana ciptaan Tuhan dan manusia, atau anakku koq belum bisa mengungkapkan pendapatnya dengan bahasa yang santun?” Sungguh ini sebuah pertanyaan yang sangat dirindukan oleh tutor atau pengasuh di PAUD (TK/RA, TPA, KB,SPS).

Kehidupan anak mengalami proses tumbuh kembang yang berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan. Perkembangan berproses dengan melalui faktor bawaan, kematangan, kondisi lingkungan dan proses belajar yang berlangsung. Walaupun urutan perkembangan setiap anak sama, tetapi iramanya berbeda. Oleh karena itu, bisa terjadi anak dengan umur yang sama tetapi tingkat kematangannya berbeda.

Tuntutan orang tua seperti di atas mungkin disebabkan karena ada beberapa SD yang menerapkan tes masuk yang berupa tes membaca dan menulis. Begitu naïf…Anak TK/RA dan sejenisnya itu belum bisa (menurut permendiknas) pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Tetapi yang benar adalah mengenalkan huruf-huruf dan angka supaya ketika masuk ke jenjang SD/MI anak tidak mengalami kesulitan belajar. Sayangnya banyak guru SD yang suka mematahkan karakter anak dengan kalimat mematikan: “ Sudah lulus TK/RA koq belum bisa membaca buku?” Kalau ini berlangsung terus menerus, membudaya maka jangan harap seluruh anak bisa menjadi manusia seutuhnya. Mereka akan tumbuh dan besar menjadi “robot,” manusia tanpa jiwa, bergerak bukan atas dasar hati nurani yang sewaktu-waktu siap menghancurkan peradaban manusia. Wuih…ngeri.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: