Rasa Cemas Berlebihan

Sebuah Inspirasi Pengalaman Bapak Anton (Moderator)

14 tahun yang lalu, saya kena rasa cemas ini, 3 or 4 bulan, cuman ngurung diri di kamar…, trus suatu saat, saya ke salah satu dokter di Surakarta..
setelah saya bilang bahwa dah 4 bulan ngurung di kamar, karena sering pusing dan perut panas. Selanjutnya..

Dokter : Itu gampang…pokoke manut (ngikut) saya..
Saya : (sedikit marah dan tersinggung, ini dokter kok mandang enteng banget penyakit saya, tetapi di sisi lain juga gembir, mendengar penyakit saya ini enteng) (terbengong bengong)

D : Kamu hobinya apa?
S : Sepakbola.
D : yo wis.. (ya udah) gini aja.. ini tak kasih obat.., trus besok pagi kamu jalan jalan, lusa lari lari, trus hari berikutnya main bola…
S : (Dokter Edan ini, mosok saya di suruh gitu, padahal dah 4 bulan gak berani keluar kamar.., mosok langsung jalan jalan, lari dan main bola (tetapi seperti tersihir, saya hiya hiya saja..)
Ya dokter..
D: Yo wis, ini resepnya, 10 hari lagi balik ke sini..

besoknya saya ngikuti saran dokter (tidak lupa obatnya saya minum). Benar!..sejak saat itu saya gembira lagi…saya tahu (setelah itu) obat tsb obat penenang. Tetapi saya juga tahu, ketika kita BERGEMBIRA entah karena hobbi kita atau aktifitas kita (ngobrol sama teman) .itu salah satu obat mujarab bagi rasa cemas…

Pengalaman itu, saat saya mau menyelesaikan sarjana saya.., alhamdulillah saya bisa melewati itu..,

trus..2003..saya depresi lagi..saat itu..saat mau menyelesaikan. s2 saya….Tidak terlalu berat memang..Lagi saya bisa melewati itu..

Saat itu saya tidak tahu tentang anxiety ini, saya anggap biasa…shg saya melanjutkan lagi studi saya ke jenjang s3…itu mulai 2006.

baru satu tahun di jenjang s3 yakni..2007 sampai skrg..saya dapat cemas lagi spt itu..dan ini parah..(terbukti selama 3 tahun masih mengkonsumsi obat depressan). …alhamdulillah saya dng ketekunan dan kesabaran saya hampir bisa melewati ini semua. Bukan hal yg mudah memang, tapi tetap ada jalan…

Begitu..semoga bisa membantu dan menginspirasi semuanya…
Salam..

________________________________________________________

Rasa khawatir, gelisah, takut, waswas, tidak tenteram, panik dan sebagainya merupakan gejala umum akibat cemas. Namun sampai sebatas mana situasi jiwa berupa cemas itu dapat ditoleransi oleh seorang individu sebagai kesatuan utuh. Karena seringkali ”cemas” menimbulkan keluhan fisik berupa berdebar-debar, berkeringat, sakit kepala, bahkan gangguan fungsi seksual dan beragam lainnya.

Begitu banyak manifestasi gejala akibat cemas. Begitu banyak pula penderita yang terkecoh, menganggap fisiknya yang sakit, sehingga mereka gonta-ganti dokter sampai minta dilakukan operasi dan bahkan ada yang minta bantuan dukun. Dengan begitu, bahwa ‘cemas’ menjadikan seseorang tidak rasional lagi. Karena itu, selagi Anda masih dapat berpikir rasional, kenalilah gejala ‘cemas yang sakit’ (anxietas) itu.

Kecemasan pada umumnya berhubungan dengan adanya situasi yang mengancam atau membahayakan. Dengan berjalannya waktu, keadaan cemas tersebut biasanya akan dapat teratasi sendiri. Namun, ada keadaan cemas yang berkepanjangan, bahkan tidak jelas lagi kaitannya dengan suatu faktor penyebab atau pencetus tertentu. Hal ini merupakan pertanda gangguan kejiwaan yang dapat menyebabkan hambatan dalam berbagai segi kemampuan dan fungsi sosial bagi penderitanya. Tidaklah mudah untuk membedakan cemas yang wajar dan cemas yang sakit. Karena keduanya merupakan respons yang umum dan normal dalam kehidupan sehari-hari.

Keadaan cemas yang wajar merupakan respons terhadap adanya ancaman atau bahaya luar yang nyata jelas dan tidak bersumber pada adanya konflik. Sedangkan cemas yang sakit (anxietas) merupakan respons terhadap adanya bahaya yang lebih kompleks, tidak jelas sumber penyebabnya, dan lebih banyak melibatkan konflik jiwa yang ada dalam diri sendiri.

Sebenarnya, di antara berbagai jenis gangguan cemas, yang umum dikenal adalah gangguan panik dan gangguan cemas menyeluruh (anxietas).

Anxietas

Cemas itu timbul akibat adanya respons terhadap kondisi stres atau konflik. Rangsangan berupa konflik, baik yang datang dari luar maupun dalam diri sendiri, itu akan menimbulkan respons dari sistem saraf yang mengatur pelepasan hormon tertentu. Akibat pelepasan hormon tersebut, maka muncul perangsangan pada organ-organ seperti lambung, jantung, pembuluh daerah maupun alat-alat gerak. Karena bentuk respons yang demikian, penderita biasanya tidak menyadari hal itu sebagai hubungan sebab akibat.

Apakah seseorang akan mengalami anxietas atau tidak dan berapa beratnya, sangat tergantung pada berbagai faktor. Faktor itu ada yang bersumber pada keadaan biologis, kemampuan beradaptasi/mempertahankan diri terhadap lingkungan yang diperoleh dari perkembangan dan pengalamannya, serta adaptasi terhadap rangsangan, situasi atau stressor yang dihadapi.

Setiap anxietas selalu melibatkan komponen kejiwaan maupun organobiologik walaupun pada tiap individu bentuknya tidak sama. Kebanyakan gejala tersebut merupakan penampakan dari terangsangnya sistem saraf otonom maupun viceral.

Penderita ada yang mengeluh menjadi sering kencing atau malah sulit kencing, mulas, mencret, kembung, perih di lambung, keringat dingin, berdebar-debar, darah tinggi, sakit kepala dan sesak napas. Pada sistem alat gerak dapat timbul kejang-kejang, nyeri oto, keluhan seperti rematik dan lainnya.

Pada kasus yang lebih berat dapat menimbulkan kepanikan. Pada orang-orang sibuk, eksekutif yang selalu mendambakan vitalitas dan kebetulan kena anxietas tetapi dia menyadari adanya gejala berupa darah tinggi atau berdebar-debar seperti mau serangan jantung, misalnya akan menimbulkan rasa takut yang berlebihan sehingga dapat menjadi stressor baru yang lebih besar.

Dengan demikian, hilang-timbulnya serangan anxietas menjadi siklus yang semakin lama semakin berat sehingga dapat menyebabkan penderita jatuh ke kondisi yang sangat buruk. Biasanya pengalaman terhadap serangan tersebut menjadi traumatik sehingga bila ada keadaan atau kejadian yang mirip dengan trauma tersebut akan menimbulkan serangan ulang.

Traumatik

Pada orang-orang yang menderita kecemasan menyeluruh, penghayatan terhadap kecemasannya secara subyektif lebih dirasakan daripada keluhan-keluhan fisik seperti berdebar-debar dan lainnya. Hal buruk lainnya, terutama bagi pelajar atau orang aktif, dengan adanya anxietas adalah terganggunya proses pikir, konsentrasi yang dengan sendirinya juga mengganggu proses belajar dan persepsi. Keadaan ini akan menimbulkan hambatan dalam tugas dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, orang yang dalam keadaan takut dan cemas cenderung untuk selektif dalam berpikir dan menjadi tidak tajam pengamatannya terhadap hal-hal lain, kecuali akan hal-hal yang menghantui pikirannya dan kecemasannya. Akibatnya timbul sikap apriori dan berprasangka.

Pada gangguan panik umumnya, penderita datang ke dokter biasanya sudah menunjukkan penampilan dan ekspresi cemas yang jelas. Adapun gejala yang mencolok pada serangan pertama biasanya adalah gejala-gejala fisik seperti berdebar-debar, sesak dan sebagainya, yang datang secara mendadak, sehingga penderita menjadi takut dan cemas. Serangan selanjutnya akan dimulai dengan serangan cemas yang datang mendadak tanpa penyebab yang jelas. Dalam beberapa menit, perasaan cemas itu diikuti oleh keluhan berdebar-debar, sesak napas, keringat dingin dan sebagainya, sehingga cemas dan ketakutan kian menjadi-jadi. Bahkan seringkali disertai perasaan mau mati yang sangat mengganggu dan menyakitkan.

Walaupun serangan tersebut berlangsung tidak terlalu lama, setidaknya kurang dari satu jam, tetapi dampak cemas dan takut bisa berkepanjangan. Setiap kali mendapat serangan, penderita merasakannya sebagai pengalaman traumatik. Dan di antara serangan panik seringkali penderita mengalami gejala kecemasan yang bersifat antisipatorik. Keadaan ini berbeda dari anxietas pada cemas menyeluruh.

Keadaan traumatik menyebabkan penderita cenderung untuk mengaitkan serangan panik dengan situasi yang dianggap berkaitan datangnya serangan, misalnya kalau berada di tempat ramai, terjebak di jalan macet, bepergian sendiri dan sebagainya. Dengan demikian, bahwa gangguan panik berlanjut disertai agorafobia. Sementara itu, pada gangguan cemas menyeluruh (GCM) biasanya mengalami gangguan yang berlangsung menahun. Keluhan utama yang menonjol adalah kecemasan/kekhawatiran yang berlebihan mengenai berbagai hal yang sebenarnya tidak beralasan. Kecemasan tersebut tidak hanya datang sesekali, tetapi hampir setiap waktu, lebih dari enam bulan.

Penderita GCM biasanya tidak dapat tenang, resah, gemetaran, cepat lelah, otot terasa sakit atau tegang disertai gejala saraf otonom seperti keringat dingin dan lainnya. Penderita jadi sangat peka sehingga seringkali mengeluh mudah terkejut, merasa terpojok, cepat tersinggung, susah konsentrasi dan tidur yang terganggu. Dengan mengenali gejala-gejala tersebut timbul, mungkin Anda tidak akan terkecoh lagi dengan gangguan fisik akibat kecemasan yang tidak rasional, sehingga Anda bisa langsung minta bantuan dokter ahli jiwa untuk mengatasinya.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: