“Wabah” Ulat Bulu (dalam Tinjauan Berpikir Filsafat)

Tahun 2010, hujan memang turun berkepanjangan tanpa ada kemarau sedikitpun. Dalam kondisi seperti ini, siklus hidup kupu-kupu bertahan di lingkungan yang benar-benar basah. Tahun lalu, kupu-kupu bisa hidup di semua lingkungan, karena hampir tak ada kemarau.

Belakangan ini siklus alam secara normal memang terganggu akibat pemanasan global yang disebabkan oleh pembakaran BBM dan batu bara yang berlebihan. Selain itu predator alami ulat, terutama spesies kepik, juga ikut terbasmi oleh pestisida pabrikan yang massal. Penangkapan burung untuk tujuan komersial pun ikut memicu peningkatan populasi ulat. Burung perenjak dan coblek, misalnya selama ini menjadi pemangsa ulat adalah komoditas yang bernilai tinggi.

Dampak dari kondisi ini, pertumbuhan vegetatif tanaman tidak terhenti dan pertumbuhan generatif justru terganggu. Akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011, tak ada panen raya mangga, durian, rambutan, manggis, dan lain-lain. (F. Rahadi, Kompas, 19 April 2011).

Peneliti serangga (entomolog) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Saputa, mengatakan, ulat bulu yang menyerang Gunung Kidul, yaitu ulat bulu tahun dan ulat kipat (criculatrifenestrata). Ledakan populasi ulat bulu di Gunung Kidul, Yogyakarta dan Pacitan, Jawa Timur, dipengaruhi oleh kelembaban tinggi akibat hujan sporadis yang masih sering terjadi. Secara umum, populasi ulat bulu tidak terjadi saat musim kemarau.

Hujan yang mendukung kelembaban tinggi yang mendukung ledakan populasi ulat bulu. Selain itu ledakan populasi juga akibat berkurangnya musuh alami ulat termasuk lebah. Pada musim kemarau yang disertai banyak hujan, populasi lebah tidak bisa berkembang biak. Salah satu pemangsa ulat bulu di Gunung Kidul adalah lebah tabuhan raksasa (Vespa mandirinia) yang berukuran paling besar dari lebah lain. (Hari Sutrisno, Kompas, 30 Mei 2011).

Wabah yang kemudian meluas ke berbagai kawasan di Jawa, kalimantan, dan Sumatera itu oleh masyarakat “awam” sempat dihubungkan dengan unsur-unsur mitos. Wabah tersebut dianggap sebagai musibah yang bermuatan “laknat” atau “kutukan” sebagai bentuk hukuman yang ditimpakan Tuhan.

Tanggapan:

Menaggapi permasalahan di atas, menurut saya hal ini terjadi sebagai dampak dari kerusakan alam yang diakibatkan oleh ulah perbuatan manusia. Sebagai manifestasinya, kerusakan ini kemudian berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem alam, contohnya rantai makanan, perubahan iklim cuaca dan musim, serta proses alamiah kehidupan adalah beberapa bentuk ekosistem alam yang berjalan sesuai dengan sunnatullah yang diberlakukan oleh Sang Maha Pencipta. Dalam sunnatullah ini berlaku hukum kausalitas (sebab-akibat), maka dalam hal ini terdapat suatu sistem yang saling berkaitan antara satu dan lainnya. Ketika sistem itu terganggu atau bahkan rusak, maka keteraturan sistem itu akan berubah dan berujung kepada kehancuran alam itu sendiri, sebagai contoh dalam hal ini adalah kasus hama ulat bulu di atas.

Sebagai penjabaran dari ungkapan tersebut adalah kerusakan alam akibat ulah manusia mulai dari yang bersifat struktural, institusional, dan kultural. Pada tingkat struktural yang paling menonjol adalah strategi pembangunan (sarana prasarana) dan industrialisasi yang eksploitatif, tidak mengindahkan keselarasan bahkan menimbulkan kerusakan alam dan kesenjangan sosial yang menyengsarakan kehidupan manusia. Pada tingkat institusional, kerusakan alam dikarenakan berbagai perangkat kelembagaan yang rentan lemah, tidak terkoordinasi dan cenderung korup. Sedangkan dalam tingkat kultural, terjadinya kerusakan lingkungkan dikarenakan rendahnya kesadaran dan perilaku ramah lingkungan. Hal ini disebabkan antara lain karena menjamurnya budaya pragmatis dan hedonis dalam kehidupan masyarakat dalam skala universal.

Untuk mempertegas pemahaman tersebut, hal ini sesuai dengan ungkapan Allah Swt dalam Surat Ar-Ruum ayat 41, Allah Swt berfirman yang artinya:

“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Sementara itu, tanpa mengesampingkan kajian dari sisi ilmiah, berdasarkan catatan sejarah yang terdapat di dalam Al-Quran, hal serupa juga pernah terjadi pada masa Fir’aun (Rhamses II) dan kaumnya pada zaman kenabian Musa AS dan Harun AS sebagai bentuk kemurkaan Allah Swt atas dosa, kemunkaran, penyalahgunaan wewenang kekuasaan, serta pembangkangan terhadap seruan Allah Swt melalui Musa AS dan Harun AS. sebagaimana diabadikan dalam Surat Al-A’raf ayat 130-133, Allah Swt berfirman:

Artinya:  “(130). dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. (131). kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami.” dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (132). Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu,” (133). Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”

Azab (hukuman) yang ditimpakan oleh Allah Swt kepada Fir’aun dan kaumnya ini berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar. Adapun puncak dari kemurkaan Allah Swt itu adalah kemusnahan massal terhadap Fir’aun dan kaumnya dengan dihimpit dan ditenggelamkan di laut.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa populasi hewan yang tidak terkendali yang kemudian meresahkan manusia dalam konteks ayat di atas adalah diantara bentuk kemurkaan Allah Swt yang ditimpakan-Nya kepada manusia yang menyimpang dari ketentuan-Nya sebagai bentuk teguran (peringatan), atau bahkan azab (hukuman) yang nyata.

Tinjauan Berpikir Filsafat

Sedangkan jika ditinjau dari sudut pandang berpikir ilmiah, permasalahan di atas dapat dirumuskan melalui pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Dalam kajian ontologis, secara umum ulat merupakan makhluk hidup yang mengalami metamorfosis (perubahan bentuk dalam siklus hidupnya). Dimulai dari telur, menetas menjadi larva (ulat), kepompong dan kupu-kupu. Pada fase menjadi larva inilah mereka akan makan daun sebanyak-banyaknya sebelum berhenti makan ketika menjadi kepompong[1]. Siklus hidup ulat bulu sebelum menjadi kupu-kupu dapat digambarkan sebagai berikut:

Ulat bulu bukanlah spesies yang dapat mengancam kehidupan manusia, kendati pun demikian, dalam beberapa kasus, ulat bulu dapat menyebabkan gatal-gatal dan iritasi pada permukaan kulit yang sensitif. Walaupun tidak mengancam kehidupan manusia, dalam skala besar sebagaimana contoh kasus di atas, ledakan populasi ulat bulu yang tidak terkendali dapat menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Gundulnya pohon atau tanaman yang ditanam masyarakat akibat dimakan ulat bulu dan merambahnya ulat bulu ke pemukiman warga yang memenuhi dinding dan lantai rumah adalah diantara keresahan masyarakat akibat ledakan populasi ulat bulu yang tidak terkendali.

Dalam kaitannya dengan kajian epistemologis, ledakan populasi ulat bulu yang tidak terkendali tersebut terjadi karena banyak faktor, curah hujan yang tinggi sebagai dampak dari pemanasan global, hilangnya predator alami ulat bulu (burung, semut keranggang, kepik, kelelawar, tokek, lebah, dll) akibat perburuan dan penanggulangan hama melalui pestisida adalah faktor penyebab terjadinya masalah ini. Kalau dicermati secara seksama, pada hakikatnya penyebab utama dalam masalah ini adalah ulah perbuatan manusia yang telah merusak alam seisinya ini.

Rasionalisasinya bahwa perubahan iklim yang tidak menentu terjadi karena pemanasan global yang sistemik, mulai dari penggundulan hutan, ekspoitasi terhadap sumber daya alam yang berlebihan, pembangunan dan industrialisasi yang tidak ramah lingkungan, serta efek rumah kaca, yang kesemuanya adalah hasil perbuatan manusia (yang serakah dan tidak bermoral). Selanjutnya, perburuan terhadap predator alami ulat bulu seperti burung, lebah, kelelawar, tokek dan semut keranggang (telurnya) secara besar-besaran marak dilakukan dengan tujuan konsumsi ataupun karena nilai ekonomis di pasaran yang menjanjikan, di samping juga akibat pestisida dan insektisida terhadap hewan predator alami pemangsa ulat bulu di lahan pertanian dan perkebunan. Hal inilah yang kemudian memicu terputusnya rantai makanan terhadap ulat bulu yang pada akhirnya terjadilah populasi ulat bulu yang tidak terkendali tersebut.

Dari sudut aksiologi, dapat dipahami secara jelas bahwa pada dasarnya segala ciptaan Allah Swt diciptakan berdasarkan fungsi masing-masing sebagai pelestari terhadap alam melalui keseimbangan dan ketentuannya masing-masing. Ketika terjadi ketidakseimbangan dalam kuantitas dan kualitas makhluk ciptaan itu, maka tentu ini akan berdampak kepada kerusakan alam itu sendiri.

Menurut Hidayat Soesilo Hadi, Kepala Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi, UGM, Yogyakarta, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam penanganan serangan hama (termasuk dalam hal ini adalah wabah ulat bulu), yaitu regulasi, limitasi, dan stabilitas (RLS)[2]. Pada tahap regulasi, ulat bulu mulai muncul pada suatu ekosistem. Hal yang harus dilakukan pada tahap ini adalah berusaha mengendalikan populasi ulat bulu agar tumbuh dengan normal. Langkah yang dilakukan dengan menjaga rantai makanan yang ada jangan sampai rusak. Pada tahap kedua, limitasi, pertumbuhan ulat bulu dibatasi jumlahnya sehingga tidak meledak menjadi wabah. Langkah yang dilakukan dengan membasmi ulat bulu menggunakan cara-cara yang tidak merusak atau membahayakan ekosistem, bisa juga menggunakan insektisida berdaya rendah atau memusnahkannya dengan cara manual seperti dikubur atau dibakar. Pada tahap ketiga, stabilitas, populasi ulat bulu dan populasi predatornya harus dijaga keseimbangannya. Langkah yang dilakukan bisa dengan menanam pohon, memelihara burung, tidak melakukan perburuan burung, tidak merusak hutan, dan langkah-langkah preventif lainnya.


[1] Fadil Abidin, Wabah Ulat Bulu dan Rusaknya Ekosistem, http://www.analisadaily.com /news/read/2011/07/03/4539/wabah_ulat_bulu_dan_rusaknya_ekosistem/#.UKX5hmdqz7s, diakses tanggal 16 November 2012 pukul 14.20 WIB.

[2] Michelia, Bukan Wabah Ulat Bulu, http://www.balairungpress.com/2011/05/bukan-wabah-ulat-bulu/, diakses tanggal 16 November 2012 pukul 15.22 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: