Fatwa Ulama Tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du.

Para pembaca yang dirahmati Allah, sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 1431 Hijriyah dan akan memasuki tahun baru hijriyah 1432, sebagian besar kaum muslimin telah mempersiapkan perayaan untuk tahun baru islam tersebut, di antaranya dengan bertukar ucapan selamat satu sama lain maka apa kedudukan ucapan selamat tahun baru hijriyah dari sisi syar’i?

Di bawah ini kami mengutip beberapa fatwa ulama kibar dalam hal ini:

1. Syeikh Ibnu Bazz rahimahullah pernah ditanya:

Kami pada permulaan tahun baru hijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), maka apa hukum syar’ie terkait ucapan selamat ini?

Jawaban:

Ucapan selamat tahun baru hijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para salaful shalih, dan saya tidak mengetahui satupun dalil dari sunah maupun kitabullah yang menunjukkan pensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidak mengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semoga anda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itu kami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya, adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.

2. Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah:

Pertanyaan: Syeikh yang mulia! anda membahas tentang tahun baru, maka apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita terhadap mereka yang mengucapkan selamat?

Beliau menjawab:

Jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya, inilah pendapat yang benar dalam masalah ini, misalnya seandainya seseorang mengucapkan kepadamu: kamu mengucapkan selamat tahun baru kepadamu, maka dijawab: semoga Allah mengucapkan selamat kebaikan untukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan. Tetapi jangan kamu memulainya, karena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para salaful shalih bahwa mereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah, bahkan ketahuilah bahwa para salaf belum menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.

(Pertemuan bulanan ke 44 diakhir tahun 1417 H).

Dan beliau juga pernah ditanya: Syeikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah?

Jawaban:

Saya berpendapat bahwa memulai ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidak disyariatkan dalam artian: kami tidak mengatakan kepada orang: sesungguhnya disunahkan bagi kalian untuk saling menyampaikan ucapan selamat, tetapi jika mereka melakukannya tidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun baru supaya memohon kepada Allah supaya menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah ini yang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasukan perkara ibadah.

(pertemuan terbuka ke: 93 hari Khamis tanggal 25 bulan Dzul Hijjah tahun 1415H).

Dan beliau juga pernah ditanya: apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?

Beliau menjawab:

Ucapan selamat dengan kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan para salaful shalih, maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan ditengah-tengah manusia, meskipun phenomena ini sekarang berkurang, karena Alhamdulillah sebagian orang sudah memahaminya, padahal sebelumnya mereka saling bertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.

Penanya: apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?

Beliau menjawab:

Yaitu mereka mengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allah mengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikan pertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.

Penanya: apakah diucapkan: setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?

Beliau menjawab: tidak, setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitri atau di tahun baru.

(perjumpaan terbuka ke: 202 pada hari Khamis tanggal 6 Muharram tahun 1420H).

3. Syeikh Shalih Al-Fauzan hafidhohullah pernah ditanya:

Syeikh yang mulia semoga Allah memberikan anda taufik, kebanyakan manusia saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, maka apa hukum ucapan selamat atas kedatangannya? Diantara ucapan mereka: semoga menjadi tahun bahagia, atau ucapan mereka: semoga kalian setiap tahun dalam kebaikan, apakah ini disyariatkan?

Jawaban:

“ini adalah bid’ah, ini bid’ah dan menyerupai ucapan selamat orang-orang Nasrani dengan tahun baru masehi, dan ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan para salaf, dan juga tahun baru hijriyah adalah istilah para sahabat radhiyallahu anhum untuk penaggalan muamalat saja, mereka tidak menganggapnya hari raya dan mereka mengucapkan selamat atasnya atau, ini tidak ada dasarnya, para sahabat menjadikannya untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalat saja.”

4. Fatwa Syeikh Abdul Karim Al-Khidhir mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah:

Doa kepada seorang muslim dengan doa umum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatan seperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapan selamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dan keceriaan pada wajah muslim lain. Imam Ahmad rahimahullah berkata: saya tidak memulai ucapan selamat, jika seseorang memulaiku dengan ucapan selamat maka saya suka menjawabnya karena menjawan ucapan selamat wajib, adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunah yang diperintahkan dan juga bukan termasuk perkara yang dilarang.

Kesimpulan

Dari beberapa fatwa diatas dapat dipahami bawa para ulama kibar sebagian membolehkan menjawab ucapan selamat saja tidak untuk memulainya, namun kita tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besar karena hal itu lebih kepada adat kebiasaan bukan diyakini sebagai ibadah yang disyariatkan.

Tapi sebaiknya kita menjelaskan kepada umat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihan dalam ucapan selamat, karena kuatir terjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum nasrani sebagaimana fatwa Syeikh Shalih Al-Fauzan hafidohullah.

Namun kita tidak disyariatkan untuk merayakannya seperti kita merayakan hari-hari raya karena perayaan sebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyah.

Wallahu A’lam bishowab.

Sumber

Antara Taqlid Ittiba’

Ittiba’ (mengikuti) kebenaran adalah kewajiban setiap manusia sebagaimana Alloh wajibkan setiap manusia agar selalu ittiba’ kepada wahyu yang diturunkan oleh Alloh kepada Rasul-Nya. Alloh jadikan wahyu tersebut sebagai petunjuk bagi manusia di dalam kehidupannya.

Tidak ada yang membangkang kepada perintah Alloh tersebut kecuali orang-orang yang taqlid kepada nenek moyangnya atau kebiasaan yang berlaku di sekelilingnya atau hawa nafsunya yang mengajak untuk membangkang dari perintah Alloh. Mereka tolak datangnya kebenaran karena taqlid.

Tidak ada satu pun kesesatan kecuali disebabkan taqlid kepada kebatilan yang diperindah oleh iblis sehingga tampak sebagai kebenaran. Inilah sebab kesesatan setiap kaum para rasul yang menolak dakwah para rasul. IniIah sebab kesesatan orang-orang Nashara yang taqlid kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka. Inilah sebab kesesatan setiap kelompok ahli bid’ah yang taqlid kepada pemikiran-pemikiran sesat dan gembong-gembong mereka.

Para pengikut kesesatan ini menggunakan segala cara untuk mempertahankan kesesatan mereka sekaligus mengajak orang-orang selain mereka kepada jalan mereka. Mereka sebarkan syubhat bahwa orang yang ittiba’ kepada manhaj para ulama adalah taqlid kepada ulama. Mereka campur adukkan antara taqlid dan ittiba’.

Jika mereka diseru untuk meninggalkan taqlid kepada pemikiran para pemimpin kesesatan mereka, mereka balik membantah, “Wahai para Salafiyyun kalian juga taqlid kepada para ulama kalian!”

Inilah jalan setiap pemilik kesesatan dari masa ke masa, mereka gabungkan antara kebatilan dengan kebenaran, mereka kaburkan garis pemisah antara keduanya.

Dengan memhon Taufiq dari Alloh pada pembahasan kali ini kami ketengahkan kepada pembaca beberapa perbedaan yang mendasar antara taqlid dan ittiba’ agar kita bisa memahaminya dengan benar, dan sekaligus –bi’idznillah– bisa menepis syubhat para pemilik kebatilan dalam masalah ini.

Definisi Taqlid

Taqlid secara bahasa adalah meletakkan “al-qiladatun” (kalung) ke leher. Dipakai juga dalam hal menyerahkan perkara kepada seseorang seakan-akan perkara tersebut diletakkan di lehernya seperti kalung. [Lisanul Arab 3/367 dan Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 3 14]

Adapun taqlid menurut istilah adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjah-nya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad. [Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/993 dan l’lamul Muwaqqi’in 2/178]

Ada juga yang mengatakan bahwa taqlid adalah mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya. [Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 3 14]

Celaan Terhadap Taqlid

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mencela taqlid dalam Kitab-Nya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah.” (QS. At-Taubah [9] : 31)

Ketika Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca ayat Ini maka dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami dulu tidak menjadikan mereka sebagai Rabb-Rabb.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, Bukankah jika mereka halalkan kepada kalian apa yang diharamkan atas kalian maka kalian juga menghalalkannya, dan jika mereka haramkan apa yang dihalalkan atas kalian maka kalian juga mengharamkannya?” Adi Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ltulah peribadatan kepada mereka.” [Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jami’ nya 3095 dan Baihaqidalam Sunan Kubra 10/116 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ghayatul Maram hal. 20]

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’ (Rasul itu) berkata: ‘Apakah (kamu akan mengikutinyajuga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.” (QS. Az-Zukhruf [43] : 23-24)

Al-Imam lbnu Abdil Barr rahimahullahu berkata, “Karena mereka taqlid kepada bapak-bapak mereka maka mereka tidak mau mengikuti petunjuk para Rasul.” [Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/977]

Alloh menyifati orang-orang yang taqlid dengan firman-Nya.

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-arang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.” (QS. Al-Anfal [8] : 22)

“Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dan orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali” (QS. Al-Baqarah [2] : 166)

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “Para ulama berargumen dengan ayat-ayat ini untuk membatalkan taqlid.” [Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/978]

Wajibnya Ittiba’

Ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang (wajib) diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan. [I’Iamul Muwaqqi’in 2/171]

Seorang muslim wajib ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan menempuh jalan yang beliau tempuh dan melakukan apa yang beliau lakukan. Begitu banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan setiap muslim agar selalu ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di antaranya firman Alloh.

“Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, makasesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (QS. Ali lmran [3] : 32)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat [49] : 1)

“Hal orang-arang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah Ia kepoda Allah (AlQur ‘an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa [4] : 59)

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintal Alloh, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. “Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali lmran [3] : 31)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya seandainya Musa hidup maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku.” [Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq dalamMushannafnya 6/Fl 3, lbnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 9/47, Ahmad dalam Musnadnya 3/387, dan lbnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmi 2/805, Syaikh Al-Albani berkata dalam Irwa’ 6/34, “Hasan”]

Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata, “Jika Musa Kalimullah tidak boleh ittiba’ kecuali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana dengan yang lainnya? Hadits ini merupakan dalil yang qath‘i atas wajibnya mengesakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam hal ittiba’, dan ini merupakan konsekuensi syahadat ‘anna Muhammadan rasulullah”, karena itulah Alloh sebutkan dalam ayat di atas (QS. Ali lmran [3] : 31) bahwa ittiba’ kepada Rasulullah bukan kepada yang lainnya adalah dalil kecintaan Alloh kepadanya.” [Muqaddimah Bidayatus Sul fi Tafdhili Rasul hal. 5-6]

Demikian juga Alloh memerintahkan setiap muslim agar ittiba’ kepada sabilil mukminin yaitu jalan para sahabat Rasulullah dan mengancam dengan hukuman yang berat kepada siapa saja yang menyeleweng darinya:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan Ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan Ia ke dalam jahanam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ [4] : 115)

Pengertian lain dari ittiba’ adalah jika engkau mengikuti suatu perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihannya sebagaimana diktakan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/787.

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah mendebat seorang pun kecuali aku katakan: Ya Alloh jalankan kebenaran pada hati dan lisannya, jika kebenaran bersamaku maka dia ittiba’ kepadaku dan jika kebenaran bersamanya maka aku ittiba’ padanya.” [Qawa’idul Ahkam fi Mashalihil Anam oleh Al-’Izz bin Abdis Salam 2/I 36]

Taqlid Bukanlah Ittiba’

Al-Imam lbnu Abdil Barr berkata, “Taqlid menurut para ulama bukan ittiba, karena ittiba’ adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihan perkataannya, dan taqlid adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang dalam keadaan engkau tidak tahu segi dan makna perkataannya.” [Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/787]

Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad berkata, “Taqlid maknanya dalam syari‘at adalah merujuk kepada suatu perkataan yang tidak ada argumennya, ini adalah dilarang dalam syari’at, adapun ittiba maka adalah yang kokoh argumennya.”

Beliau juga berkata, “Setiap orang yang engkau ikuti perkataannya tanpa ada dalil yang mewajibkanmu untuk mengikutinya maka engkau telah taqlid kepadanya, dan taqlid dalam agama tidak shahih. Setiap orang yang dalil mewajibkanmu untuk mengikuti perkataannya maka engkau ittiba’ kepadanya. Ittiba’ dalam agama dibolehkan dan taqlid dilarang.” [Dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam kmtabnya Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/993]

Para Imam Melarang Taqlid dan Mewajibkan Ittiba’

Diantara hal lain yang menunjukkan perbedaan yang mendasar antara taqlid dan ittiba’ adalah larangan para imam kepada para pengikutnya dan taqlid dan perintah mereka kepada para pengikutnya agar selalu ittiba’:

Al-Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak halal atas seorangpun mengambil perkataan kami selama dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya” Dalam riwayat lain beliau berkata, “Orang yang tidak tahu dalilku, haram atasnya berfatwa dengan perkataanku.” [Dinukil oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya atas Bahru Raiq 6/293 dan Sya’ rany dalam Al-Mizan 1/55]

Al-Imam Malik berkata : “Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru. Lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesual dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ 2/32]

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Jika kalian menjumpai sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ittiba’-lah kepadanya, janganlah kalian menoleh kepada perkataan siapapun.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ 9/107 dengan sanad yang shahih]

Beliau juga berkata, “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi, lebih utama untuk diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku.” [Diriwayatkan oleh Abu Hatim dalamAdab Syafi’i hal. 93 dengan sanad yang shahih]

Al-Imam Ahmad berkata, “Janganlah engkau taqlid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka, apa yang datang dari Nabi dan para sahabatnya ambillah.” Beliau juga berkata, “Ittiba’ adalah jika seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” [Masa’iI Al-Imam Ahmad oleh Abu Dawud hal.276- 277]

Ittiba’ adalah Jalan Ahli Sunnah dan Taqlid adalah Jalan Ahli Bid’ah

Al-Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafy berkata, “Umat ini telah sepakat bahwa tidak wajib taat kepada seorangpun dalam segala sesuatu kecuali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, makà barangsiapa yang ta’ashub (fanatik) kepada salah seorang imam dan mengesampingkan yang lainnya seperti orang yang ta’ashub kepada seorang sahabat dan mengesampingkan yang lainnya, seperti orang-orang Rafidhah yang ta’ashub kepada Ali dan mengesampingkan tiga khalifah yang lainnya. ini jalannya ahlul ahwa.” [Al-Ittiba’ cet. kedua hal. 80]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Barangsiapa yang ta’ ashub kepada seseorang, dia kedudukannya seperti orang-orang Rafidhah yang ta’ashub kepada salah seorang sahabat, dan seperti orang-orang Khawarij. Ini adalah jalan ahli bid’ ah dan ahwa’ yang mereka keluar dan syari’at dengan kesepakatan umat dan menurut Kitab dan Sunnah, yang wajib kepada semua makhluk adalah ittiba’ kepada seorang yang ma’shum (yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam) yang tidak mengucap dan hawa nafsunya, yang dia ucapkan adalah wahyu yang diturunkan kepadanya.” [Mukhtashar Fatawa Mishniyyah hal. 46-47]

Bantahan Para Ulama Kepada Pembela Taqlid

Al-Imam Al-Muzani berkata, “Dikatakan kepada orang yang berhukum dengan taqlid, Apakah kamu punya hujjah pada apa yang kamu hukumi?’ Jika dia mengatakan,‘Ya’, secara otomatis dia membatalkan taqlid-nya, karena hujjah yang mewajibkan dia menghukumi itu bukan taqlid-nya”.

Jika dia mengatakan, “Aku menghukumi tanpa memakai hujjah.” Dikatakan kepadanya, “Kalau begitu mengapa engkau tumpahkan darah, engkau halalkan kemaluan, dan engkau musnahkan harta padahal Alloh mengharamkan semua itu kecuali dengan hujjah, Alloh berfirman:

“Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini.” (QS. Yunus [10] : 68)

Kalau dia mengatakan, “Aku tahu kalau aku menepati kebenaran walaupun aku tidak mengetahui hujjah, karena aku telah taqlid kepada seorang ulama besar yang dia tidak berkata kecuali dengan hujjah yang tersembunyi dariku” Dikatakan kepadanya, “Jika dibolehkan taqlid kepada gurumu karena dia tidak berkata kecuali dengan hujjah yang tersembunyi darimu, maka taqlid kepada guru dan gurumu lebih utama karena dia tidak berkata kecuali dengan hujjah yang tersembunyl dari gurumu sebagaimana gurumu tidak berkata kecuali dengan hujjah yang tersembunyi darimu.” Kalau dia mengatakan, “Ya”, maka dia harus meninggalkan taqlid kepada guru dari gurunya dan yang di atasnya hingga berhenti kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau dia enggan melakukan itu berarti dia telah membatalkan ucapannya dan dikatakan kepadanya, “Bagaimana dibolehkan taqlid kepada orang yang lebih kecil dan lebih sedikit ilmunya dan tidak boleh taqlid kepada orang yang lebih besar dan lebih banyak ilmunya? ini jelas menupakan kontradiksi.”

Kalau dia mengatakan, “Karena guruku -meskipun dia lebih kecil- dia telah menggabungkan ilmu orang-orang yang di atasnya kepada ilmunya, karena itu dia lebih paham apa yang dia ambil dan lebih tahu apa yang dia tinggalkan” Dikatakan kepadanya, “Demikian juga orang yang belajar dari gurumu maka dia sungguh telah menggabungkan ilmu gurumu dan ilmu orang-orang yang di atasnya kepada ilmunya, maka engkau harus taqlid kepada orang ini dan meninggalkan taqlid kepada gurumu. Demikian juga engkau lebih berhak untuk taqlid kepada dirimu sendiri daripada taqlid kepada gurumu! Jika dia tetap pada perkataannya ini berarti dia menjadikan orang yang lebih kecil dan orang yang berbicara dari para ulama yunior lebih pantas di-taqlid-i daripada para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Demikian juga menurut dia seorang sahabat harus taq lid kepada seorang tabi’in, dalam keadaan seorang tabi’ in di bawäh sahabat menurut analogi perkataannya, maka yang lebih tinggi selamanya lebih rendah, maka cukuplah ini merupakan kejelekan dan kerusakan.” [Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdady dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 2/69-70 dan dinukil oleh lbnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/992-993]

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “Dikatakan kepada orang yang taqlid: Mengapa engkau taqlid dan menyelisihi salaf dalam masalah ini, karena salaf tidak melakukan taqlid?” Kalau dia mengatakan, “Aku taqlid karena aku tidak paham tafsir Kitabullah dan aku belum menguasai hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan yang aku taqlid-i telah mengetahui semuanya itu maka berarti aku taqlid kepada orang yang lebih berilmu daripadaku.”

Dikatakan kepadanya, “Adapun para ulama, jika mereka sepakat pada sesuatu dan tafsir Kitabullah atau periwayatan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau sepakat pada sesuatu maka itu adalah al-haq yang tidak ada satu pun keraguan di dalamnya. Akan tetapi mereka telah berselisih dalam hal yang kamu taqlid-i, lalu apa argumenmu di dalam taqild kepada sebagian mereka tidak kepadã yang lainnya, padahal mereka semua berilmu. Bisa jadi orang yang tidak kamu pakai perkataanya lebih berilmu daripada orang yang engkau taqlid-i?”

Jika dia mengatakan, “Aku taqlid kepadanya karena aku tahu dia di atas kebenaran.” Dikatakan kepadanya, “Apakah kamu tahu hal itu dengan dalil dari Al-Kitab, Sunnah, dan ijma’?”Jika dia mengatakan, “Ya”, maka dia telah membatalkan taqlid-nya dan dituntut untuk mendatangkan dalil dan perkataannya” [Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/994]

Hukum Taqlid

Taqlid terbagi menjadi tiga macam sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam lbnul Qayyim dalam kitabnya i’lamul Muwaqqi’in 2/187: (1) Taqlid yang diharamkan, (2) Taqlid yang diwajibkan, dan (3) Taqlid yang dibolehkan.

Macam yang pertama yaitu taqlid yang diharamkan terbagi menjadi tiga jenis:

  1. Taqlid kepada perkataan nenek moyang sehingga berpaling dari apa yang diturunkan Alloh.
  2. Taqlid kepada orang yang tidak diketahui bahwa dia pantas diambil perkataannya.
  3. Taqlid kepada perkataan seseorang setelah tegak argumen dan dalil yang menyelisihi perkataannya.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala‘ telah mencela tiga macam taqlid ini di dalam ayat-ayat yang banyak sekali dalam Kitab-Nya sebagaimana telah kita sebutkan pada uraian di atas.

Macam yang kedua yaitu taqlid yang diwajibkan adalah yang dikatakan oleh Al-Imam lbnul Qayyim, “SesungguhnyaAlloh telah memerintahkan agar bertanya kepada Ahlu Dzikr, dan Adz-Dzikr adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang Alloh perintahkan agar para istri Nabi-Nya selalu mengingatnya sebagaimana dalam finman-Nya :

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dan ayat-ayat Alloh dan hikmah (Sunnah Nabimu).” (QS. Al-Ahzab [43] : 34)

lnilah Adz-Dzikr yang Alloh penintahkan agar kita selalu ittiba’ kepadanya, dan Alloh perintahkan orang yang tidak memiliki ilmu agar bertanya kepada ahlinya. Inilah yang wajib atas setiap orang agar bertanya kepada ahli ilmu tentang Adz-Dzikr yang Alloh turunkan kepada Rasul-Nya agar ahli ilmu ini memberitahukan kepadanya. Kalau dia sudah diberitahu tentang Adz-Dzikr ini maka tidak boleh baginya kecuali ittiba’ kepadanya.” [l’lamul Muwaqqi’in 2/241]

Macam yang ketiga yaitu taqlid yang dibolehkan adalah yang dikatakan oleh Al-Imam lbnul Qayyim, “Adapun taqlidnya seorang yang sudah mengerahkan usahanya untuk ittiba’ kepada apa yang diturunkan Alloh. Hanya saja sebagian darinya tensembunyi bagi orang tersebut sehingg dia taqlid kepada orang yang lebih berilmu darinya, maka yang seperti ini adalah terpuji dan tidak tencela, dia mendapat pahala dan tidak berdosa….” [I’lamul Muwaqqi’ in 2/169]

Syaikhul Islam lbnu Taimiyah berkata, “Adapun orang yang mampu ijtihad apakah dibolehkan baginya taqlid? ini adalah hal yang diperselisihkan, dan yang shahih adalah dibolehkan ketika dia dalam keadaan tidak mampu berijtihad entah karena dalil-dalil (dan pendapat yang berbeda) sama-sama kuat atau karena sempitnya waktu untuk berijtihad atau karena tidak nampak dalil baginya.” [Majmu’ Fatawa 20/203-204]

Mengikuti Manhaj Para Ulama Bukan Berarti Taklid Kepada Mereka

Al-Imam lbnul Qayyim berkata, “Jika ada yang mengatakan: Kalian semua mengakui bahwa para imam yang di-taqlid-i dalam agama mereka berada di atas petunjuk, karena itu maka orang-orang yang taqlid kepada mereka pasti di atas petunjuk juga, karena mereka mengikuti langkah para imam tersebut.

Dikatakan kepadanya, “Mengikuti langkah para imam ini secara otomatis membatalkan sikap taqlid kepada mereka, karena jalan para imam ini adalah ittiba’ kepada hujjah dan melarang umat dan taqlid kepada mereka sebagaimana akan kami sebutkan hal ini dan mereka lnsya Alloh. Maka barangsiapa yang meninggalkan hujjah dan melanggar larangan para imam ini (dan sikap taqlid) yang juga dilarang oleh Alloh dan Rasul-Nya, maka jelas orang ini tidak berada di atas jalan para imam ini, bahkan termasuk orang-orang yang menyelisihi mereka.

Yang menempuh jalan para imam ini adalah orang yang mengikuti hujjah, tunduk kepada dalil, dan tidak menjadikan seorang pun yang dijadikan perkataannya sebagal timbangan terhadap Kitab dan Sunnah kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari sini nampaklah kebatilan pemahaman orang yang menjadikan taqlid sebagai ittiba’, mengaburkannya dan mencampuradukkan antara keduanya, bahkan taqlid menyelisihi ittiba’. Alloh dan Rasul-Nya telah memilahkan antara keduanya demikian juga para ulama.

Karena sesungguhnya ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan.” [I’lamul Muwaqqi’in 2/170-l71]

[Pembabasan ini banyak mengambil faedah dan risalah Syaikhuna Al-Fadhil Muhammad bin Hadi Al-Madkhaly yang berjudul Al Iqna’ bi Maja’a ‘an A’immati Da ‘wah minal Aqwal fil Ittiba’]

Kesimpulan

Taqlid menurut istilah adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjah-nya atau mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya.

Taqlid terbagi menjadi tiga macam.

  1. Taqlid yang diharamkan, yaitu taqlid kepada perkataan nenek moyang sehingga berpaling dan apa yang diturunkan oleh Alloh, taqlid kepada orang yang tidak diketahui bahwa dia pantas diambil perkataannya, dan taqlid kepada perkataan seseorang setelah tegak argumen dan dalil yang menyelisihi perkataannya. lnilah taqlid yang dicela Alloh dalam Kitab-Nya.
  2. Taqlid yang diwajibkan, yaitu orang yang tidak memiliki ilmu agar bertanya kepada ahlinya tentang Adz-Dzikr yaitu apa yang Alloh turunkan kepada Rasul-Nya. Kalau dia sudah diberitahu tentang Adz-Dzikr ini maka tidak boleh baginya kecuali ittiba’ kepadanya.
  3. Taqlid yang dibolehkan, yaitu taqlid-nya seorang yang sudah mengerahkan usahanya untuk ittiba’ kepada apa yang diturunkan oleh Alloh dalam suatu permasalahan. Hanya saja sebagian dari hujjahnya tersembunyi bagi orang tersebut sehingga dia taqlid kepada orang yang lebih berilmu darinya dalam permasalahan tersebut.

Ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang (wajib) diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan atau jika engkau mengikuti suatu perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihannya.

Taqlid bukanlah ittiba’, karena ittiba’ adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihan perkataannya, dan taqlid adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang dalam keadaan engkau tidak tahu segi dari makna penkataannya.

Para imam melarang para pengikutnya dan taqlid dan memerintahkan mereka agar selalu ittiba’.

Ittiba’ adalah jalan Ahlu Sunnah dan taqlid adalah jalan ahli bid’ah.

Mengikuti manhaj para ulama bukanlah taqlid kepada mereka, karena manhaj para ulama ini adalah ittiba’ kepada hujjah dan melarang umat dan taqlid kepada mereka, maka orang yang menempuh manhaj mereka juga ittiba’ sebagaimana mereka.

Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi 2 Tahun V/Ramadhan 1426, Oktober 2005. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim PO BOX 21 (61153)

Sumber

 

“Wanita” sebagai Perangkap Iblis

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

{ سِتْرُ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إذَا دَخَلَ الْكَنِيفَ أَنْ يَقُولَ : بِسْمِ اللَّهِ }( ابن ماجه )

Dinding penutup antara mata jin dan aurat manusia ketika seseorang masuk jamban adalah kalau ia mengucapkan Bismillaah. (HR Ibnu Majah dalam Kitab Thoharoh / 242)

Iblis dan bala tentaranya adalah sosok-sosok yang jiwanya kotor terus-menerus. Mereka selalu mengintip aurat dan kejelekan. Iblis telah mencopot pakaian Adam ’alaihis salam dan isterinya sedangkan keduanya itu di surga. Lalu di dunia ini Iblis, wadya balanya, dan partainya membelejeti pakaian taqwa dari jiwa manusia, dan mencopoti pakaian penutup aurat dari badan. Sehingga keadaan telanjang menjadi pemandangan nyata yang dianggap biasa, sedang menampakkan aurat sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan manusia tanpa ada halangannya.

Tetapi kalau memang kita tetap teguh mengikuti syari’at Islam, maka tidak akan terjadi yang demikian itu. Iblis tak mampu, sampai di tempat-tempat yang kita harus buka aurat pun, iblis tak mampu melihatnya, (karena ada do’a seperti tersebut di atas). Maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dzikir dan keutamaan berserah diri kepada-Nya itu sebagai pencegah bagi mata barisan iblis dan partainya. (Lihat Hasan Ahmad Qothomisy, Al-Muwajahah As-Shiro’ ma’as Syaithon wa Hizbihi, Daru Thibah Ar-Riyadh 1415H/ 1995, cet I, hal 147)

Wanita

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ

Sesungguhnya wanita itu menghadap ke muka dalam bentuk syetan, dan ke belakang dalam bentuk syetan (pula). (HR Muslim Juz 10 Kitab Nikah, hal 177).

 حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى امْرَأَةً فَأَتَى امْرَأَتَهُ زَيْنَبَ وَهِيَ تَمْعَسُ مَنِيئَةً لَهَا فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا حَرْبُ بْنُ أَبِي الْعَالِيَةِ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى امْرَأَةً فَذَكَرَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فَأَتَى امْرَأَتَهُ زَيْنَبَ وَهِيَ تَمْعَسُ مَنِيئَةً وَلَمْ يَذْكُرْ تُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ. (مسلم)

Riwayat dari Jabir bahwa Rasulullah saw melihat seorang perempuan maka beliau datang ke isterinya, Zainab yang sedang menggosok kulit (binatang) miliknya yang mau disamak, lalu beliau menunaikan hajatnya (berhubungan dengan isteri itu), kemudian beliau keluar ke sahabat-sahabatnya, lalu bersabda: Sesungguhnya wanita itu menghadap ke muka dalam bentuk syetan, dan (menghadap) ke belakang dalam bentuk syetan (pula). Maka apabila salah satu di antara kalian melihat seorang perempuan, hendaklah ia datang ke isterinya, karena hal itu membalikkan apa yang ada pada dirinya (yakni gejolak syahwat). Dalam riwayat lain, bahwa Nabi saw melihat seorang perempuan, lalu periwayat menyebutkan seperti tadi, hanya saja dia berkata, maka beliau datang ke isterinya, Zainab, dan dia sedang menggosok kulit yang mau disamak, dan periwayat tak menyebut menghadap ke belakang dalam bentuk syetan. (HR Muslim)

Mujahid rahimahullah berkata: Ketika perempuan menghadap ke depan (datang), maka syetan duduk di atas kepalanya lalu menghiasinya untuk orang yang melihatnya, dan ketika perempuan itu menghadap ke belakang (pergi), syetan duduk di atas bagian belakangnya lalu ia memperindahnya untuk orang yang melihatnya.(Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkaamil Quran, juz 12/ 227)

تفسير القرطبي ج: 12 ص: 227
وقال مجاهد إذا أقبلت المرأة جلس الشيطان على رأسها فزينها لمن ينظر فإذا أدبرت جلس على عجزها فزينها لمن ينظر وعن خالد بن أبي عمران قال لاتتبعن النظرة النظرة فربما نظر العبد نظرة نغل منها قلبه كما ينغل الأديم فلا ينتفع به فأمر الله سبحانه وتعالى المؤمنين والمؤمنات بغض الأبصار عما لايحل فلا يحل للرجل أن ينظر إلى المرأة ولا المرأة إلى الرجل فإن علاقتها به كعلاقته بها وقصدها منه كقدصده منها وفي صحيح مسلم عن أبي هريرة قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إن الله كتب على ابن آدم حظه من الزنى أدرك ذلك لامحالة فالعينان تزنيان وزناهما النظر

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan:

{ إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ , وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ , فَاتَّقُوا الدُّنْيَا , وَاتَّقُوا النِّسَاءَ , فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ }

Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu sekalian khalifah di dunia, lalu Allah mengawasi bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu tentang dunia dan jagalah dirimu tentang wanita. Maka sesungguhnya bencana/fitnah Bani Israil adalah dalam hal wanita. (HR Muslim Juz 17 Kitab Riqoq hal 55).

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Kitab Shahihain:

وَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنهما عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : { مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ }

Aku tidak meninggalkan fitnah/bencana yang lebih berbahaya atas kaum lelaki (selain bahaya fitnah) dari perempuan. (Al-Fath juz 9 , Hadits 5096, dan Muslim juz 18 hal 54)

Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah berkata, Jika syetan putus asa mengenai sesuatu maka ia kemudian pasti mendatangi sesuatu itu dari arah perempuan. Sa’id pun berkata lagi, Tidak ada sesuatu yang lebih aku takuti di sisiku kecuali perempuan. (Siyaru ‘a’laamin Nubalaa’ Juz 4 / 237)

Kalau syetan putus asa dalam hal tertentu, maka dia akan melancarkan godaan itu dari arah perempuan. Apa yang dikatakan Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah tersebut dalam kenyataan kini tampak nyata. Sudah menjadi rahasia umum, ada proyek-proyek yang dilancarkan pengurusannya pakai umpan wanita. Itulah praktek syetan. Maka Sa’id yang di zaman sahabat tidak ada kebiasaan model syetan seperti sekarang pun, dia paling takut terhadap wanita.

Dan hadits tentang wanita kadang panjang, itu tidak lain karena wanita itu adalah pengikut syetan terkutuk yang paling banyak. Wanita pengikut syetan itu adalah tali-tali dan perantara untuk para pengikut syetan. Bagaimana tidak, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan bahwa wanita itu penghuni neraka yang paling banyak, dan mereka tidak masuk neraka kecuali karena mengikuti iblis dan tentara-tentaranya. Dan tidaklah manusia mengikuti iblis kecuali karena iblis telah menguasai mereka. Dan iblis tidak menguasai kecuali dengan banyaknya maksiat dan dosa. Sedang kekuasaan iblis dan partainya itu dengan cara menganggap indah dan bagus dosa-dosa dan maksiat.

Dalam Hadits disebutkan:

إنَّمَا الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ ,

Wanita itu adalah aurat, maka apabila ia keluar, diincar oleh syetan. (Hadits Shahih Sunan Tirmidzi no 936, dan Thabrani di Al-Kabier juz 3/ 64, dan lihat Al-Irwaa’ no 273)

Perempuan sebagai salah satu sarana iblis untuk merusak

Iblis menyodorkan fitnah pada wanita guna menyesatkan dan merusak. Al-Qur’an telah mengisahkan contoh-contoh adanya bencana-bencana/fitnah lewat wanita. Di antara kisah-kisahnya adalah:

1. Godaan Syetan untuk Kaum Tsamud lewat wanita

Ibnu Jarir dan lain-lain dari ulama salaf (generasi Sahabat, Tabi’ien, dan Tabi’ut Tabi’ien) menyebutkan bahwa dua wanita dari kaum Tsamud, salah satunya Shoduq putri Al-Mahya bin Zuhair bin Al-Mukhtar, dia adalah bangsawan dan kaya. Sedang ia di bawah suami yang telah masuk Islam, lalu wanita ini menceraikan suaminya itu. Lalu wanita ini mengundang anak pamannya yang disebut Mashro’ bin Mahraj bin Al-Mahya, dan wanita ini menyodorkan dirinya pada lelaki anak pamannya itu bila ia berani membunuh onta (Nabi Shalih ’alaihis salam).

Wanita lainnya adalah `Unaizah binti Ghanim bin Majlaz dijuluki Ummu ‘Utsman. Dia ini tua dan kafir, punya anak 4 wanita dari suaminya, Dzu’ab bin Amru, salah satu kepala kaum. Lalu si perempuan tua ini menyodorkan ke-4 putrinya kepada Qadar ibn Salif bila ia berani membunuh onta, maka ia akan kebagian putrinya mana saja yang ia ingini. Lalu dua pemuda (Mashro’ dan Qadar) bersegera untuk membunuh onta itu, dan berusaha mencari teman di dalam kaumnya. Maka 7 orang lainnya merespon ajakannya itu, jadi jumlahnya 9 orang. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wata’ala:

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ(48)

Dan adalah di kota itu, sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (QS. An-Naml[27] :48)

Dan mereka berusaha pada seluruh kabilah itu dan mempropagandakan untuk membunuh onta, lalu mereka menyambutnya dan sepakat untuk membunuh onta itu. Lalu mereka berangkat mengintai onta. Ketika onta itu muncul dari kawanan yang mendatangi air, lalu Mashro’ bersembunyi untuk menyergapnya, lantas melemparkan panah padanya dan menancaplah di tulang kaki onta. Dan datanglah wanita-wanita membujuk kabilah itu untuk membunuh onta, sedang wanita-wanita itu membuka wajah-wajahnya (dari kerudungnya) untuk menyemangati kabilahnya. Lalu Qadar bin Salif mendahului mereka mengeraskan (hantaman) pedangnya atas onta itu maka putuslah urat di atas tumitnya, lalu jatuh tersungkurlah onta itu ke bumi.(Tafsir At-Thabari juz 8 / 227-228, Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir juz 1/ 127, Al-Kamil fit Taariekh Ibnul Atsier juz 1/ 51-52).

تفسير الطبري ج: 8 ص: 227
وكانت امرأة من ثمود يقال لها عنيزة بنت غنم بن مجلز تكنى بأم غنم وهي من بني عبيد بن المهل أخي دميل بن المهل وكانت امرأة ذؤاب بن عمرو وكانت عجوزا مسنة وكانت ذات بنات حسان وكانت ذات مال من إبل وبقر وغنم وامرأة أخرى يقال لها صدوف بنت المحيا بن زهير بن المحيا سيد بني عبيد وصاحب أوثانهم في الزمن الأول وكان الوادي يقال له وادي المحيا وهو جد المحيا الأصغر أبي صدوف وكانت صدوف من أحسن الناس وكانت غنية ذات مال من إبل وغنم وبقر وكانتا من أشد امرأتين في ثمود عداوة لصالح وأعظمهم به كفرا وكانتا تحبان أن تعقر الناقة مع كفرهما به لما أضرت به من مواشيهما وكانت صدوف ثم ابن خال لها يقال له صنتم بن هراوة بن سعد بن الغطريف من بني هليل الراوي فحسن إسلامه وكانت صدوف قد فوضت إليه مالها فأنفقه على من أسلم معه من أصحاب صالح حتى رق المال فاطلعت على ذلك من إسلامه صدوف فعاتبته على ذلك فأظهر لها دينه ودعاها إلى الله وإلى الإسلام فأبت عليه وسبت ولده فأخذت بنيه وبناته منه فغيبتهم في بني الذي هي منه وكان صنتم زوجها من بني هليل وكان ابن خالها فقال لها ردي علي ولدي فقالت حتى أنافرك إلى بني صنعان بن عبيد أو إلى بني جندع بن عبيد فقال لها صنتم بل أنا أقول إلى بني مرداس بن عبيد وذلك أن بني مرداس بن عبيد كانوا قد سارعوا في الإسلام وأبطأ عنه الآخرون فقالت لا أنافرك إلا إلى من دعوتك إليه فقال بنو مرداس والله لتعطينه ولده طائعة أو كارهة فلما رأت ذلك أعطته إياهم ثم إن صدوف وعنيزة تحيلا في عقر الناقة للشقاء الذي نزل فدعت صدوف رجلا من ثمود يقال له الحباب لعقره الناقة وعرضت عليه نفسها بذلك إن هو فعل فأبى عليها فدعت ابن عم لها يقال
تفسير الطبري ج: 8 ص: 228
مصدع بن مهرج بن المحيا وجعلت له نفسها على أن يعقر الناقة وكانت من أحسن الناس وكانت غنية كثيرة المال فأجابها إلى ذلك ودعت عنيزة بنت غنم قدار بن سالف بن جندع رجلا من أهل قرح وكان قدار رجلا أحمر أزرق قصيرا يزعمون أنه كان لزنية من رجل يقال له صهياد ولم يكن لأبيه سالف الذي يدعى إليه ولكنه قد ولد على فراش سالف وكان يدعى له وينسب إليه فقالت أعطيك أي بناتي شئت على أن تعقر الناقة وكانت عنيزة شريفة من نساء ثمود وكان زوجها ذؤاب بن عمرو من أشراف رجال ثمود وكان قدار عزيزا منيعا في قومه فانطلق قدار بن سالف ومصدع بن مهرج فاستنفرا غواة من ثمود فاتبعهما سبعة نفر فكانوا تسعة نفر أحد النفر الذين اتبعوهما رجل يقال له هويل بن ميلغ خال قدار بن سالف أخو أمه لأبيها وأمها وكان عزيزا من أهل حجر ودعير بن غنم بن داعر وهو من بني حلاوة بن المهل ودأب بن مهرج أخو مصدع بن مهرج وخمسة لم تحفظ لنا أسماؤهم فرصدوا الناقة حين صدرت عن الماء وقد كمن لها قدار في أصل صخرة على طريقها وكمن لها مصدع في أصل أخرى فمرت على مصدع فرماها بسهم فانتظم به عضلة ساقها وخرجت أم غنم عنيزة وأمرت ابنتها وكانت من أحسن الناس وجها فأسفرت عنه لقدار وأرته إياه ثم ذمرته فشد على الناقة بالسيف فكشف عرقوبها فخرت ورغت رغاة واحدة تحذر سقبها ثم طعن في لبتها فنحرها

Wanita yang menyemangati Mashro’ adalah isteri pemimpin, sedang yang menyemangati Qadar adalah isteri pejabat juga. Adapun Qadar bin Salif sendiri termasuk pemimpin, jadi mereka itu orang elit semua.

Perempuan pertama telah menyodorkan dirinya kepada Mashro’, sedang perempuan kedua menyodorkan puteri-puterinya kepada Qadar. Dan perempuan-perempuan kabilah itu telah keluar dengan membujuk orang-orang agar membunuh onta dengan cara membuka wajah-wajah mereka. Sungguh telah terjadi fitnah wanita itu sebagai jalan masuknya Iblis kepada para pembesar, dan Iblis bersandar bersama mereka untuk membunuh onta yang menjadi ayat Allah subhanahu wata’ala yang disampaikan kepada nabi-Nya, Shalih ’alaihis salam.

Demikian ini tampak bagi kita, para pembesar (kaum elit) bersepakat semuanya, laki-laki maupun perempuan.

2. Kepala Nabi Yahya ’alaihis salam Dipenggal untuk Pelacur

Hal itu dikatakan kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu oleh Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha di suatu tempat di Masjidil Haram. Demikian itu ketika Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhu disalib, lalu Ibnu Umar menoleh ke Asma’ seraya berkata: Jasad (anakmu) ini sebenarnya bukan apa-apa, sedang yang di sisi Allah adalah arwahnya. Maka bertaqwalah kamu kepada Allah subhanahu wata’ala dan bersabarlah.

Lalu Asma’ menjawab, Apa yang menghalangiku (untuk bersabar), sedangkan kepala Yahya bin Zakaria ’alaihis salam (saja) sungguh telah dihadiahkan kepada seorang pelacur dari Bani Israel. (Siyaru A’laamin Nubalaa’ juz 2/ 294, Al-Fashlu fil Milal 4/ 57, Al-Muhalla juz 2/22, ‘Audul Hijaab juz 2/195, dan orang-orangnya terpercaya, khabar itu tetap untuk kisah., Al-Muwajahah hal 80).

الفصل في الملل [ جزء 4 – صفحة 57 ]
عن سفيان بن عيينه عن منصور بن صفية عن أمه صفية بنت شيبة قالت دخل ابن عمر المسجد فأبصر ابن الزبير مرطوحا قبل أن يصلب فقيل له هذه أسماء بنت أبي بكر الصديق فمال إليها فعزاها وقال إن هذه الجثث ليست بشيء وإن الأرواح عند الله فقالت أسماء وما يمنعني وقد أهدي رأس يحيى بن زكريا إلى بغي من بغايا بني إسرائيل

Kenyataan dari kisah ini adalah Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan dibunuhnya Nabi Yahya ’alaihis salam itu karena (permintaan) pelacur. Di sini kita lihat puncak kekuasaan iblis atas orang-orang elit dengan dorongan syahwat seks di mana sampai membunuh seorang nabi Allah yaitu Yahya bin Zakaria ’alaihimas salam. Walaupun berbeda-beda kitab-kitab tarikh dalam rincian peristiwa itu, hanya saja intinya adalah; Seorang raja masa itu di Damskus ada yang menginginkan kawin dengan sebagian mahramnya atau wanita yang tidak halal baginya untuk dikawini. Lalu Nabi Yahya ’alaihis salam mencegahnya, sedangkan wanita itu menginginkan raja itu, maka ada suatu (ganjalan) yang menetap di dalam jiwa wanita dan raja itu terhadap Nabi Yahya ’alaihis salam. Maka ketika antara wanita dan raja itu terjadi percintaan, wanita itu minta agar diberi darah Yahya, lalu raja akan memberikan padanya. Maka raja mengutus orang untuk mendatangi Nabi Yahya ’alaihis salam dan membunuhnya, dan membawakan kepala Yahya kepada wanita itu! (Lihat Tarikh At-Thabari j 1/ 346-347, Al-kamil Ibnu Atsir j 1/ 171, Al-Bidayah wan Nihayah j 1/49)

تاريخ الطبري [ جزء 1 – صفحة 346 ]
إن ملك بني إسرائيل كان يكرم يحيى بن زكرياء ويدني مجلسه ويستشيره في أمره ولا يقطع أمرا دونه وإنه هوي أن يتزوج ابنة امرأة له فسأل يحيى عن ذلك فنهاه عن نكاحها وقال لست أرضاها لك فبلغ ذلك أمها فحقدت على يحيى حين نهاه أن يتزوج ابنتها فعمدت إلى الجارية حين جلس الملك على شرابه فألبستها ثيابا رقاقا حمرا وطيبتها وألبستها من الحلي وألبستها فوق ذلك كساء أسود فأرسلتها إلى الملك وأمرتها أن تسقيه وأن تعرض له فإن أرادها على نفسها أبت عليه حتى يعطيها ما سألته فإذا أعطاها ذلك سألته أن تؤتى برأس يحيى بن زكرياء في طست ففعلت فجعلت تسقيه وتعرض له فلما أخذ فيه الشراب أرادها على نفسها فقالت لا أفعل حتى تعطيني ما أسألك قال ما تسأليني قالت أسألك أن تبعث إلى يحيى بن زكرياء فأوتى برأسه في هذا الطست فقال ويحك سليني غير هذا قالت ما أريد أن أسألك إلا هذا قال فلما أبت عليه بعث إليه فأتي برأسه والرأس يتكلم حتى وضع بين يديه وهو يقول لا تحل لك فلما أصبح إذا دمه يغلي فأمر بتراب فألقي عليه فرقى الدم فوق التراب يغلي فألقي عليه التراب أيضا فارتفع الدم فوقه فلم يزل يلقى عليه التراب حتى بلغ سور المدينة وهو في ذلك يغلي وبلغ صيحائين فنادى في الناس وأراد أن يبعث إليهم جيشا ويؤمر عليهم رجلا فأتاه بختنصر فكلمه وقال إن الذي كنت أرسلت تلك المرة ضعيف فإني قد دخلت المدينة وسمعت كلام أهلها فابعثني فبعثه فسار بختنصر حتى إذا بلغوا ذلك المكان تحصنوا منه في مدائنهم فلم يطقهم فلم ااشتد عليه المقام وجاع أصحابه أراد الرجوع فخرجت إليه عجوز من عجائز بني إسرائيل فقالت أين أمير الجند فأتي به إليها فقالت إنه
تاريخ الطبري [ جزء 1 – صفحة 347 ]
بلغني أنك تريد أن ترجع بجندك قبل أن تفتح هذه المدينة قال نعم قد طال مقامي وجاع أصحابي فلست أستطيع المقام فوق الذي كان مني فقالت أرأيتك إن فتحت لك المدينة أتعطيني ما أسألك فتقتل من أمرتك بقتله وتكف إذا أمرتك أن تكف قال لها نعم قالت إذا أصبحت فاقسم جندك أربعة أرباع ثم أقم على كل زاوية ربعا ثم ارفعوا بأيديكم إلى السماء فنادوا إنا نستفتحك يا الله بدم يحيى بن زكرياء فإنها سوف تتساقط ففعلوا فتساقطت المدينة ودخلوا من جوانبها فقالت له كف يدك اقتل على هذا الدم حتى يسكن فانطلقت به إلى دم يحيى وهو على تراب كثير فقتل عليه حتى سكن فقتل سبعين ألف رجل وامرأة فلما سكن الدم قالت له كف يدك فإن الله عز وجل إذا قتل نبي لم يرض حتى يقتل من قتله ومن رضي قتله

Demikianlah kondisi orang-orang terlaknat yang tidak menahan diri untuk tidak membunuh nabi-nabi Allah. Bagaimana mereka tidak dilaknat? Sedangkan Nabi-nabi Allah itu penyulut hidayah dan pemegang bendera kebenaran dan Tauhid, sedangkan iblis terlaknat itu pembawa bendera neraka dan panji-panji kekafiran serta syirik. (Dipetik dari Al-Muwajahah as-Shiro’ ma’as Syaithon wa Hizbihi oleh Hasan Ahmad Qothomisy, Darut Thibah Ar-Riyadh cet I, 1415H / 1995 M)

3. Isteri Al-Aziz serta Yusuf `alaihis salam

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ(23)وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ(24)وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ(25)

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggali di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: `Marilah ke sini, Yusuf berkata, Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tidak akan beruntung.”

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.”

“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata, Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (QS Yusuf [12] : 23-25)

Firman Allah subhanahu wata’ala lagi:

فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ(28)يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ(29)

“Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu (wanita) adalah besar.”

“(Hai) Yusuf: Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteri) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” (QS Yusuf [12] : 28-29)

Sesungguhnya kisah Yusuf ’alaihis salam adalah contoh terbesar dalam menjelaskan konsentrasi iblis atas kalangan penguasa, dan iblis menguasai mereka dari segi syahwat seks melalui wanita. Sampai anak lelaki yang dibeli pun kemudian dirayu untuk menzinai isteri tuannya. Allah menunjukkan bukti betapa iblis menggoda lewat wanita terhadap manusia pilihan, yaitu Yusuf as, yang secara keturunan adalah tertingi di kalangan para nabi. (Lihat hadits Nabi Muhammad saw dalam Shahih Al-Bukhari, kitab al-anbiya’)

Karena Nabi Yusuf as adalah nabi, bin nabi, bin nabi, bin nabi. Yaitu Nabi Yusuf as, bin Nabi Ya’qub as, bin Nabi Ishaq as, bin Nabi Ibrahim as. Secara keteguhan agama, Yusuf yang dipelihara tuannya di Mesir itu adalah calon nabi, yaitu orang yang dipercaya oleh Allah swt untuk membawa risalah kepada umatnya. Namun orang yang luhur derajatnya secara agama dan keturunan itupun diupayakan oleh Iblis untuk digarap, agar terjerumus ke perbuatan nista, perzinaan; hanya saja Allah swt tetap menyelamatkannya. Akibatnya Yusuf as dipenjarakan karena tak memenuhi hasrat isteri penguasa itu. Jadi, orang yang menyelamatkan diri dari perbuatan nista dan kotor, justru dipenjara.

Kisah ahsanal qoshosh, sebagus-bagusnya kisah itu difirmankan Allah swt dalam satu surat khusus di Al-Qur’an, surat Yusuf, tentu agar menjadi peringatan. Dengan membaca ayat-ayat tentang kisah itu tidak perlu keterangan tambahan. Tetapi di sini tampak bagi kita gambaran dari kalangan papan atas (at-thobaqotur rooqiyyah) di masa ribuan tahun lalu, seakan-akan aksi jahat iblis lewat wanita itu adalah yang ada pada hari ini pula, dengan leluasa dalam mengarahkan penyelewengan seks, dan kecenderungan untuk menutup-nutupinya dari masyarakat. Dan inilah pentingnya semua kisah itu. (Dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Sumber-Sumber Penghancur Akhlaq Islam, Pustaka Nahi Munkar, Surabaya- Jakarta, 2010).

 

Sumber

Shalat Gerhana

Tidak ada satu kejadian di antara sekian banyak kejadian yang ditampakkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan hamba-Nya, melainkan agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kekuasaan yang Allah ‘Azza wa Jalla tampakkan tersebut. Yang pada akhirnya, kita dituntut untuk selalu mawas diri dan melakukan muhasabah.

Di antara bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, ialah terjadinya gerhana. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

PENGERTIAN GERHANA

Dalam istilah fuqaha dinamakan kusûf. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa. [1] Jadi, shalat gerhana, ialah shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya.

HUKUM SHALAT GERHANA

Jumhur ulama’ berpendapat, shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. Abu ‘Awanah Rahimahullah menegaskan wajibnya shalat gerhana matahari. Demikian pula riwayat dari Abu Hanifah Rahimahullah, beliau memiliki pendapat yang sama. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau menempatkannya seperti shalat Jum’at. Demikian pula Ibnu Qudamah Rahimahullah berpendapat, bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. [2]

Adapun yang lebih kuat, ialah pendapat yang mengatakan wajib, berdasarkan perintah yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Imam asy-Syaukani juga menguatkan pendapat ini. Demikian pula Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah dan Syaikh al-Albâni Rahimahullah. [3] Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih ‘Utsaimin Rahimahullah berkata: “Sebagian ulama berpendapat, shalat gerhana wajib hukumnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (jika kalian melihat, maka shalatlah—muttafaqun ‘alaih).

Sesungguhnya, gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Semua itu menjadi satu alasan kuat wajibnya perkara ini, kalaupun kita katakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat menekankan tentang kejadian ini, kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya. Maka, pendapat ini perlu ditilik ulang, bagaimana bisa dikatakan sesuatu yang menakutkan kemudian dengan sengaja kita meninggalkannya? Bahkan seolah hanya kejadian biasa saja? Dimanakah rasa takut?

Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib, memiliki argumen sangat kuat. Sehingga jika ada manusia yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di ladang; semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita diperintahkan untuk mewaspdainya. Maka pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah. [4]

Dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin pun menyatakan, “Jika kita mengatakan hukumnya wajib, maka yang nampak wajibnya adalah wajib kifayah.”

Adapun shalat gerhana bulan, terdapat dua pendapat yang berbeda dari kalangan ulama.

Pendapat pertama. Sunnah muakkadah, dan dilakukan secara berjama’ah seperti halnya shalat gerhana matahari. Demikian ini pendapat Imam asy- Syâfi’i, Ahmad, Dawud Ibnu Hazm. Dan pendapat senada juga datang dari ‘Atha, Hasan, an-Nakha`i, Ishâq dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu. [5] Dalil mereka:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali.” (Muttafqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Tidak dilakukan secara berjama’ah. Demikian ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Mâlik. [6] Dalilnya, bahwa pada umumnya, pelaksanaan shalat gerhana bulan pada malam hari lebih berat dari pada pelaksanaannya saat siang hari. Sementara itu belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menunaikannya secara berjama’ah, padahal kejadian gerhana bulan lebih sering dari pada kejadian gerhana matahari.

Manakah pendapat yang kuat? Dalam hal ini, ialah pendapat pertama, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya untuk menunaikan keduanya tanpa ada pengecualian antara yang satu dengan lainnya (gerhana matahari dan bulan). [7]

Sebagaimana di dalam hadits disebutkan, “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ibnu Qudamah Rahimahullah juga berkata, “Sunnah yang diajarkan, ialah menunaikan shalat gerhana berjama’ah di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, walaupun boleh juga dilakukan sendiri-sendiri,namun pelaksanaannya dengan berjama’ah lebih afdhal (lebih baik). Karena yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ialah dengan berjama’ah. Sehingga, dengan demikian, sunnah yang telah diajarkan ialah menunaikannya di masjid.” [8]

WAKTU SHALAT GERHANA

Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana tersebut berakhir. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang.” (Muttafaqun ‘alaihi).

KAPAN GERHANA DIANGGAP USAI?

Shalat gerhana matahari tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sediakala, dan (2) gerhana terjadi tatkala matahari terbenam. Demikian pula halnya dengan shalat gerhana bulan, tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sediakala, dan (2) saat terbit matahari. [9]

AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA

  1. Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,“Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
  2. Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits,“Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
  3. Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr Radhiallahu’anhuma berkata,“Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)Jika dikhawatirkan akan terjadi fitnah, maka hendaknya para wanita mengerjakan shalat gerhana ini sendiri-sendiri di rumah mereka berdasarkan keumuman perintah mengerjakan shalat gerhana.
  4. Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu’anhuma, ia berkata: Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri)
  5. Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri)

TATA CARA SHALAT GERHANA

Tidak ada perbedaan di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda.

Pendapat pertama. Imam Mâlik, Syâfi’i, dan Ahmad, mereka berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at. Pada setiap raka’at ada dua kali berdiri, dua kali membaca, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu, ia berkata, “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka beliau shalat dan orang-orang ikut shalat bersamanya. Beliau berdiri sangat lama (seperti) membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dan sangat lama ruku’nya, lalu berdiri, lama sekali berdirinya namun berdiri yang kedua lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’, lama sekali ruku’nya namun ruku’ kedua lebih pendek dari ruku’ pertama.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Hadits kedua, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana matahari. Rasulullah berdiri kemudian bertakbir kemudian membaca, panjang sekali bacaannya, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, kemudian mengangkat kepalanya (i’tidal) seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah,” kemudian berdiri sebagaimana berdiri yang pertama, kemudian membaca, panjang sekali bacaannya namun bacaan yang kedua lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, panjang sekali sujudnya, kemudian dia berbuat pada raka’at yang kedua sebagimana yang dilakukan pada raka’at pertama, kemudian salam…” (Muttafaqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at, dan setiap raka’at satu kali berdiri, satu ruku dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya. Dalil yang disebutkan Abu Hanifah dan yang senada dengannya, ialah hadits Abu Bakrah, ia berkata:

“Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka Rasulullah keluar dari rumahnya seraya menyeret selendangnya sampai akhirnya tiba di masjid. Orang-orang pun ikut melakukan apa yang dilakukannya, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam shalat bersama mereka dua raka’at.” (HR Bukhâri, an-Nasâ‘i)

Dari pendapat di atas, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama (jumhur ulama’), berdasarkan beberapa hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Karena pendapat Abu Hanifah Rahimahullah dan orang-orang yang sependapat dengannya, riwayat yang mereka sebutkan bersifat mutlak (umum), sedangkan riwayat yang dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah muqayyad. [10]

Syaikh al-Albâni Rahimahullah berkata, [11] “Ringkas kata, dalam masalah cara shalat gerhana yang benar ialah dua raka’at, yang pada setiap raka’at terdapat dua ruku’, sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan riwayat yang shahih”. Wallahu a’lam.

Ringkasan tata cara shalat gerhana sebagai berikut.

  1. Bertakbir, membaca doa iftitah, ta’awudz, membaca surat al-Fâtihah, dan membaca surat panjang, seperti al-Baqarah.
  2. Ruku’ dengan ruku’ yang panjang.
  3. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan: sami’allhu liman hamidah.
  4. Tidak sujud (setelah bangkit dari ruku’), akan tetapi membaca surat al-Fatihah dan surat yang lebih ringan dari yang pertama.
  5. Kemudian ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, hanya saja lebih ringan dari ruku’ yang pertama.
  6. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan: sami’allahu liman hamidah.
  7. Kemudian sujud, lalu duduk antara dua sujud, lalu sujud lagi.
  8. Kemudian berdiri ke raka’at kedua, dan selanjutnya melakukan seperti yang dilakukan pada raka’at pertama.

Demikian secara ringkas penjelasan tentang shalat gerhana, semoga bermanfaat.

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala ‘alihi washahbihi ajma’in.

Marâji’:

  1. Al-Mughni.
  2. Ar-Raudhah an-Nadiyah.
  3. Asy-Syarhul-Mumti’.
  4. Bidayatul-Mujtahid.
  5. Irwâ‘ul Ghalil.
  6. Raudhatuth-Thalibin.
  7. Shahîh Fiqih Sunnah.
  8. Tamamul-Minnah, dan lain-lain.

Catatan Kaki:

  1. Lisanul-‘Arab, Kasyful Qanna’, 2/60.
  2. Al- Mughni, Ibnu Qudamah, 3/330.
  3. Fathul-Bâri (2/612), Tamamul-Minnah (261), ar-Raudhah an-Nadiyah (156).
  4. Syarhul-Mumti’, 5/237-240.
  5. Al- Umm (1/214), al- Mughni (2/420), al- Inshaf (2/442), Bida yatul- Mujtahid (1/160), danMuhalla (5/95).
  6. Ibnu Abidin (2/183) dan Bidayatul-Mujtahid (1/312).
  7. Shahîh Fiqih Sunnah, 1/433.
  8. Al-Mughni, 3/323.
  9. Al-Mughni (3/427), Raudhatuth-Thalibin (2/87).
  10. Shahîh Fiqih Sunnah, 1/437.
  11. Irwâ‘ul Ghalil, 3/132

 

Sumber

Peredaran! Tasawuf

Sekarang ini banyak lembaga yang menjajakan paket-paket kajian ini itu yang seolah untuk memberikan bimbingan keislaman namun sebenarnya belum tentu merujuk kepada Islam yang benar.

Gatra edisi 31 Januari 1998 menurunkan laporan khusus sekitar kecenderungan bertasawuf di beberapa kalangan di antaranya sebagian pejabat atau ibu-ibu pejabat. Juga komentar-komentar mengenai tasawuf dari beberapa tokoh, serta adanya lembaga-lembaga yang menjajakan kajian tasawuf.

Dalam hal kajian Islam, sejak 1985-an banyak lontaran yang bernada mengkritik Islam terutama syari’ahnya atau hukum Islam dan fiqhnya. Kritik-kritik itu sambil memojokkan syari’ah atupun fiqh atau juga para ahli fiqh dengan cap-cap “miring” misalnya Syari’ah minded, fiqh sentris, tekstual tidak kontekstual, bahkan ada yang melontarkan cap skripturalis dipinjam dari istilah dari agama tertentu.

Sikap menyindir-nyindir syari’ah dan fiqh serta ahlinya itu sudah dikenal sejak dulu, paling tidak, Imam Ghozali dari kalangan sufi menyebut ulama fiqh sebagai ulama dunia. Di kalangan kaum kebatinan ataupun kejawen pun Mangkunegoro IV yang mengaku dirinya meninggalkan sholat (dalam salah satu puisinya) itu berani mengkritik para ahli syari’ah demi membela kebatinannya.

Belakangan orang-orang yang miring-miring ke sekuler, Mu’tazilah, Syi’ah dan semacamnya ramai-ramai pula mengkritik syari’ah dan fiqh serta ahlinya dengan cap-cap “miring” tersebut. Bahkan ada yang berani menghujat hadits shohih meniru-niru orientalis atau anak buah orientalis seperti Abu Rayah di Mesir dan sebagainya.

Sebagai bukti, ada orang dari Bandung (Jalaluddin Rakhmat) yang berani mengkritik hadits shahih riwayat Imam Muslim (Antum a’lamu bi umuuri dunyaakum– kalian lebih tahu dengan perkara-perkara dunia kalian) dengan argumen-argumen tidak ilmiah menurut ilmu Hadits, namun justru kini sebagai pelaku utama menjajakan paket tasawuf, suatu kajian yang justru membahas sesuatu yang tanpa landasan jelas.

Padahal tasawuf itu bukan hanya belum tentu berlandaskan Hadits shahih, namun justru mengandung unsur-unsur”dari ajaran luar Islam. Demikian pula Prof Dr Harun Nasution yang cenderung menolak Hadits Ahad (periwayatnya tiap jenjang tidak banyak orang) walaupun shahih untuk jadi landasan aqidah (misalnya rukun iman), namun sebaliknya ia khabarnya malah berguru tentang tasawuf.”Ini”salah
satu bentuk kerancuan berfikir yang nyata, Hadits shahih ditolak namun tasawuf yang tak jelas landasannya itu ditekuni.

Siapapun yang mengetahui apa itu tasawuf — bagi yang obyektif– tentu akan mengakui bahwa tasawuf itu ada unsur dari luar Islam dan ada unsur dari Islam. Maka siapapun yang mengetahui masalah itu dan masih bersikap obyektif akan
mengatakan: “Islam itu sudah sempurna, maka tidak butuh kepada tasawuf yang mengandung unsur-unsur ajaran dari luar Islam itu.”

Kalau memang seorang dari Bandung yang tadinya menghujat-hujat Hadits shahih itu hujatannya dimaksudkan untuk memurnikan Islam, maka seharusnya dia justru sama sekali tidak mengadakan pengakjian tasawuf dalam arti menyebarkan tasawuf di Jakarta atau di manapun. Karena, dengan menyebarkan tasawuf kepada orang-orang ataupun ibu-ibu pejabat yang sangat awam agama itu bukannya mengembalikan Islam kepada yang benar namun mencampuradukkan hal-
hal dari luar ajaran Islam kepada Islam.

Sungguh ironis tindakan orang semacam ini. Masyarakat yang awam agama tentu akan terseret, apalagi penyebar itu seorang ahli komunikasi, maka apa yang disampaikan walau sebenarnya adalah limbah namun”bisa dianggap sebagai emas.

Dengan kenyataan itu, umat Islam hendaknya hati-hati dan waspada. Kalau ada orang atau lembaga mengadakan kajian-kajian Islam, hendaknya dilihat, benarkah kajiannya itu berlandaskan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits-hadits yang shahih. Kalau tidak, maka lebih baik ditinggalkan, dan lebih afdhol mencari kajian yang berlandaskan Al-Quran dan Hadits shohih.

Kasus itu sungguh ironis, menghujat Hadits shahih tetapi kemudian menjajakan paket kajian tasawuf yang tasawuf itu sendiri akar katanya saja tidak diketemukan secara pasti dalam Islam. Apalagi ajaran dan prakteknya banyak yang menyimpang dari Islam.

Sumber: Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf Belitan Iblis.

Membentengi Aqidah Dari Faham dan Ajaran Sesat

Aneka macam serangan terhadap aqidah ditujukan kepada dua pokok utama yang menjadi landasan Islam, yaitu dua kalimah syahadat.
Pokok utama yang pertama adalah tauhidullah, mengesakan Allah. Yaitu bahwa Allah itulah Tuhan, Maha Pencipta, Maha Esa, Yang disembah dengan mengesakannya. Tiada sekutu baginya dalam hal sifatNya dan perbuatanNya. Dia lah yang memiliki sifat Maha Sempurna, Maha Indah, Maha Agung, dan tidak sebaliknya.
Pokok yang kedua adalah mengesakan jalan padaNya. Tidak menetapkan hukum pada urusan manusia dengan selain (hukum)Nya. Dan tidak mendekatkan diri kepadaNya kecuali dengan apa yang disyari’atkanNya. Itulah makna Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasulullah. Maka “Laa ilaaha Illallaah” adalah pokok pertama, sedang “Muhammadur Rasuulullah” adalahn pokok kedua.

Sungguh Rassulullah SAW telah ditentang dalam hal dua pokok ini.

a. Orang-orang musyrikin Arab berkata:
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shaad/ 38:5).

Dan orang-orang musyrikin bicara tentang tuhan-tuhan mereka:
Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya..” (Az-Zumar/ 39:3).

Musyrikin berkata pula:
“ Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (Yunus/ 10: 18).

Allah SWT telah membantah mereka, katakanlah wahai Muhammad:
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” (Al- Anbiyaa`/ 21:22).

“Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafa`at itu semuanya.” (Az-Zumar/ 39:44).

Tentang pokok yang kedua, Allah SWT berfirman menghancurkan aturan-aturan mereka yang batil dalam hal halal dan haram serta mendekatkan diri pada Allah:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (As-Syuura/ 42:21).

b dan c. Adapun orang-orangYahudi dan Nasrani maka masing-masing kelompok itu mengaku bahwa jalan merekalah yang benar; sesembahan mereka lah yang benar, sedang surga itu hanya khusus untuk mereka saja, tidak untuk orang lain.

Allah SWT telah membantah mereka:

“Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. (Al-Baqarah/ 2:120).
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi..” (Ali `Imran/ 3:31).

Al-Quran seluruhnya adalah keterangan jihad Rasulullah SAW terhadap kelompok-kelompok yang tiga itu (musyrikin, Yahudi, dan Nasrani) dalam hal dua pokok (tauhidullah dan tauhidut thariqah/ Tiada Tuhan selain Allah, dan Muuhammad utusan Allah) ini.
Orang-orang yang memurnikan agamanya hanya untuk Allah, mereka telah beriman kepada Rasulullah. Mereka mencintai Rasul dan mendahulukan ajaran beliau dalam segala hal. Mereka mencintai dan mengikuti beliau dengan jiwa dan raga mereka. Mereka mengorbankan perjuangan dalam mengikuti dan mentaati beliau. Dan mereka melaksanakannya itu dengan sebaik-baiknya sehingga Allah SWT memuji mereka dengan ayat-ayat yang banyak di dalam Al-Quran. Di antaranya firman Allah SWT:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia -Allah dan keridha`anNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (Al-Fath/ 48:29).

Allah SWT ridha terhadap mereka, sedang mereka pun meridhai-Nya, mengetahui-Nya sebenar-benar ma’rifat (pengetahuan), dan menjalankan agama-Nya sebaik-baik pelaksanaan.
Rasulullah SAW pun memuji mereka (para sahabatnya), beliau bersabda:

“Sebaik-baik manusia itu adalah generasiku, kemudian orang-orang yang berikutnya, kemudian orang-orang yang berikutnya.” (HR As-Syaikhaani dan lainnya dari Ibnu Mas’ud, dan lainnya dari selain Ibnu Mas’ud).

Dan Nabi SAW bersaksi mengenai pribadi-pribadi di antara mereka akan masuk surga dan punya keutamaan. Di antaranya adalah Abu Bakar Siddiq ra yang beliau sabdakan:

“Aku ditimbang dengan ummat maka aku lebih berat, dan Abu Bakar ditimbang dengan ummat-tanpa adanya aku di dalam ummat itu-maka ia lebih berat, dan Umar ditimbang dengan ummat-tanpa adanya aku dan Abu Bakar di dalam ummat itu-maka ia lebih berat.” (Hadits Riwayat Ahmad 5/44 dan 50, Abu Daud 4634, At-Tirmidzi 2389-Tuhfatul Ahwadzi dan dishahihkannya).

Semuanya itu dari Abi Bakrah bahwa seorang sahabat bermimpi bahwa ada timbangan yang menjulur dari langit, Nabi SAW ditimbang dengan Abu Bakar, maka lebih berat Nabi SAW. Kemudian Abu Bakar ditimbang dengan Umar, maka lebih berat Abu Bakar, kemudian Umar ditimbang dengan Utsman maka lebih berat Umar, kemudian timbangan itu diangkat. Hadits ini telah dikuatkan oleh guru kami (almarhum) Al-Bani dalam takhrij Al-Misykat 3/233 dengan dua jalan.

Dan Nabi bersabda:
“Seandainya ada nabi setelahku maka pasti dia adalah Umar.” (HR Ahmad 4/154, At-Tirmidzi 2/293 menghasankannya, Al-Hakim 3/85 menshahihkannya, dan selain mereka).

Nabi SAW berkata kepada Bilal:
“Aku telah mendengar detak-detak dua sandalmu di hadapanku di surga.” (HR Al-Bukhari 3/276 di Fathul Bari, Ahmad 2/333 dan 439 dari Abi Hurairah).

Bukti kegigihan Rasul dalam menjaga Tauhid

Di samping yang demikian itu Rasulullah SAW sungguh bersemangat selama hidupnya sebagai Rasul untuk mengabadikan dua pokok tauhid itu: Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasuulullaah. Agar keduanya tetap bersih lagi jernih, maka beliau sama sekali tidak membolehkkan pengotoran dua pokok tauhid ini., walaupun terhadap orang yang paling dicintai dan paling terkesan baginya.

Bukti-buktinya;

a. Beliau pada suatu hari melihat di tangan Umar bin Khathab ra ada selembar kertas (waraqah) dari Taurat, dan Umar telah mengagumi apa yang ada di dalamnya, maka Rasulullah SAW marah dengan kemarahan yang keras, dan beliau berkata:

“Apa (apaan) ini! Sedangkan aku ada di belakang kalian. Sungguh telah aku bawakan dia (pengganti Taurat) dengan keadaan putih lagi suci… Demi Allah seandainya Musa hidup (sekarang ini) pasti dia tidak ada kelonggarannya kecuali dia harus mengikutiku.” (Sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/387, dan Al-Baihaqi dalam Syu’bul Iman, dan Ad-Darimi 1/115-116 dengan lebih sempurna. Hadits ini menurut Abdur Rahman Abdul Khaliq yang menulis makalah ini, berderajat Hasan, karena punya banyak jalan menurut Al-Lalkai dan Al-Harwi dan lainnya).

Dalam Hadits itu terdapat pengertian sebagai berikut:

Pertama: Rasulullah SAW heran adanya orang yang mulai mencari petunjuk kepada selain Al-Quran dan As-Sunnah sedangkan beliau masih hidup. Termasuk tuntutan iman kepada Al-Quran dan As-Sunnah adalah meyakini bahwa petunjuk itu adanya hanyalah pada keduanya (Al-Quran dan As-Sunnah) itu.
Kedua: Rasulullah SAW telah membawa agama yang suci murni, tidak dikaburkan oleh pembuat kekaburan berupa perubahan, penggantian, atau penyelewengan. Sedang para sahabat menerima agama Islam itu dengan wungkul (utuh) dan murni. Maka bagaimana mereka akan berpaling darinya dan mencari petunjuk kepada hal-hal yang menyerupai penyelewengan, penggantian, dan penambahan serta pengurangan.
Ketiga: Bahwa Nabi Musa as sendiri yang dituruni Kitab Taurat seandainya dia masih hidup pasti dia wajib mengikuti Rasul saw, dan meninggalkan syari’at yang telah dia sampaikan kepada manusia.

Hadits ini adalah pokok mengenai penjelasan manhaj (pola) Al-Quran dan As-Sunnah. Tidak boleh seorangpun mencari petunjuk -untuk mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri pada Allah dan memperbaiki diri- kepada ajaran yang tidak dibawa oleh Rasulullah saw, hatta walaupun dulunya termasuk syari’at yang diturunkan atas salah satu nabi yang dahulu.

b. Dalil yang kedua bahwa Rasulullah saw mendengar khathib yang berkhutbah di hadapan beliau, di antaranya ia berkata: “ Barangsiapa taat pada Allah dan rasulNya maka sungguh ia telah mendaopat ppetunjuk, dan barangsiapa bermaksiat kepada keduanya (waman ya’shihimaa) maka sungguh dia telah sesat.” Maka Rasulullah saw berkata padanya:

“Seburuk-buruk khathib kaum adalah kamu. Katakanlah: Barangsiapa bermaksiat pada Allah dan rasulNya maka sungguh dia telah sesat.” (HR Muslim 6/159-di Syarah An-Nawawi, dan Ahmad 4/256 dan 379).

Khatib ini telah memotong lafal “Rasulullah saw” (tidak diucapkan tetapi diganti dengan dhamir/ kata ganti dan digandengkan dengan Allah SWT). Maka beliau mencelanya di depan orang banyak, karena khatib itu mengumpulkan antara Allah dan rasulNya dalam satu kataganti “waman ya’shihimaa” lalu Rasul saw menyuruhnya untuk mengulangi penyebutan nama yang jelas bagi Allah dan bagi rasulNya, sehingga tidak akan dikira walau dari jauh bahwa kedudukan Rasul seperti kedudukan Allah swt. Semangat Rasul saw ini adalah dalil atas wajibnya menjaga ketauhidan Allah Ta’ala dengan penjagaan yang sempurna, dan kewajiban membedakan dengan sempurna antara hal yang wajib untuk Allah SWTdan yang wajib untuk RasulNya saw.

c. Dalil ketiga: Bahwa Utsman bin Madh`un ra, seorang sahabat pilihan, ketika wafat, sedang Rasul saw hadir di sisinya dan mendengar seorang sahabat besar perempuan, Ummu Al-`Ala`, berkata: “Kesaksianku atasmu Abu As-Saib (Utsman bin Madh`un), bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasul saw membantahnya dengan berkata:

“Tahukah kamu bahwa Allah sungguh telah memuliakannya?”

Ini adalah peringatan yang besar dari Rasul saw kepada sahabat wanita ini karena dia telah menetapkan hukum dengan hukum yang menyangkut kegaiban. Ini tidak boleh, karena tidak ada yang menjangkau hal gaib kecuali Allah SWT. Tetapi Shahabiyah (sahabat wanita) ini membalas dengan berkata: “Subhanallah, ya Rasulallah!! Siapa (lagi) kah yang akan Allah muliakan kalau Dia tidak memuliakannya?” Artinya, jika Utsman bin Madh`un ra tidak termasuk orang yang dimuliakan Allah swt, maka siapa lagi yang masih tersisa pada kita yang akan dimuliakan Allah SWT. Ini jawaban yang sangat mengena dan signifikan/ cukup bermakna. Tetapi Rasul saw menolaknya dengan ucapan yang lebih mengena dari itu, di mana beliau bersabda:

“Demi Allah, saya ini benar-benar utusan Allah, (tetapi) saya tidak tahu apa yang Dia perbuat padaku esok.” Ini adalah puncak perkara. Rasul sendiri yang dia itu orang yang dirahmati dan disalami oleh Allah , beliau wajib berhati-hati dan mengharap rahmat Allah. Dan disinilah Ummu Al`Ala` sampai pada hakekat syara` yang besar, maka dia berkata: “Demi Allah, setelah ini saya tidak akan menganggap suci terhadap seorangpun salama-lamanya.” (Diiwayatkan Al-Bukhari 3/385, 6/223 dan 224, 8/266 dari Fathul Bari, dan Ahmad 6/436 dari Ummi Al`Ala` Al-Anshariyah binahwihi).

Pokok yang ini ditetapkan dalam syari’at pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang banyak. Di antaranya firman Allah SWT:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.

Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).” (An-Nisaa`/ 4:49-50).

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan dia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An-Nisaa’/ 123).

d. Dalil keempat: Bahwa seorang lelaki datang kepada Rasul saw dan berkata:

“Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki.” Maka Rasul saw bersabda:

“Apakah kamu menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah? Katakanlah: “Apa yang Allah kehendaki sendiri.” (HR Ahmad 1/214,224,283,347, Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad 783 dan selain keduanya.)

Nabi saw telah menjadikan kehendak itu bagi Allah sendiri, sehingga mengajarkannya kepada mukminin bahwa tiada kemauan seorangpun yang bersama kemauan Allah SWT.

e. Dalil kelima: Ada sebagian sahabat ra lewat di tengah perjalanan mereka (ketika) keluar ke Hawazin setelah Fathu Makkah ada satu pohon yang orang-orang musyrikin mengalungkan pedang-pedangnya di atas nya, dengan mempercayai bahwa orang yang mengerjakan itu akan mendapatkan kemenangan dalam pertempuran dengan musuh. Lalu para sahabat berkata: Ya Rasulullah, buatkan untuk kami gantungan seperti gantungan milik mereka itu, artinya pohon yang mereka gantungi senjata mereka. Maka Rasul saw menjawab mereka:

“Demi Allah Yang diriku ada di tanganNya, kamu sekalian telah berkata seperti Bani Israil berkata kepada Musa: “Buatkanlah tuhan untuk kami sebagaimana (mereka telah membuat) tuhan-tuhan untuk mereka.” (HR Ahmad dalam Musnadnya 5/218) dan At-Tirmidzi dalam Sunannya 6/407 dan 408-Tuhfatul Ahwadzi, dan ia katakan Hadits hasan shahih.)

Nabi saw menjelaskan bahwa itu termasuk perbuatan orang-orang musyrikin, dan menyerupai mereka dalam hal ini adalah syirik kepada Allah Ta’ala (juga). Karena meminta berkah dan pertolongan kepada selain Allah SWT adalah menyekutukanNya.

Dalil-dalil tersebut di atas itu semua sungguh merupakan kejelasan bahwa Rasul saw sama sekali tidak membolehkan pengotoran pokok yang paling pokok dalam Islam, yaitu tauhidullah (mengesakan Allah) swt dan mengatakan atas nama Allah tanpa ilmu, dan mencari petunjuk (hidayah) kepada selain (Kitab)Nya SWT, dan (Sunnah) RasulNya saw.

Rasulullah saw telah menutup pintu perdukunan, peramalan, dan pengaku-ngaku berilmu gaib. Dan beliau saw mengabarkan bahwa orang yang mengaku-ngaku demikian itu kafir. Dan orang yang membenarkan peramal atau dukun maka sungguh ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan atas Muhammad saw. Dan beliau ditanya tentang para peramal, beliau jawab: “Mereka itu bukan apa-apa.” Demikianlah, karena tidak adanya harga mereka (peramal) itu dan beliau menghinakan mereka. Lalu para sahabatnya ra berkata padanya: Tetapi mereka (para dukun) itu mengabarkan pada kami kadang-kadang dengan satu perkara, lalu terjadi seperti apa yang mereka katakan. Maka Rasul saw mengabarkan kepada mereka (sahabat) bahwa syetan-syetan menaiki satu sama lain dan sampai ke awan dan mendengar malaikat yang berbicara mengenai perkara dari Allah Ta’ala, maka syetan-syetan itu mempelajari perkara itu dari mereka (para malaikat), lalu Allah melemparkan nyala api atas mereka (syetan-syetan), maka nyala api itu kadang-kadang mengenai mereka lalu membakar mereka, dan kadang–kadang mereka menyampaikan kata-kata itu kepada syetan yang ada di bawah mereka sebelum adanya nyala api itu, maka syetan itu berdusta dengan kata-kata itu tadi seratus kedustaan. Oleh karena itu wali-wali syetan (para dukun dll) dari manusia itu benarnya satu kali, tetapi mereka berbohongnya banyak. (HR Muslim dalam Shohihnya 14/225-Syarah An-Nawawi, dengan lafal otentiknya, dan Al-Bukhari dari Abi Hurairah, dan Ahmad dan lainnya.).

Dan ketika para sahabat ragu-ragu mengenai Ibnu Shoyyad orang Yahudi yang tinggal di Madinah, dan mereka menyangka dia itu dajjal (pembohong) yang telah diceritakan oleh Rasul saw, dan Rasul bertandang bersama jama’ah mengunjungi Ibnu Syoyad di rumahnya. Rasul Saw berkata padanya dengan minta dikhabari: “Sungguh aku menyembunyikan suatu barang untukmu…”

Rasul saw telah menyembunyikan Surat Ad-Dukhan pada diri beliau, lalu Rasul bertanya padanya mengenai apa yang ada pada diri beliau. Maka musuh Allah itu menjawab: “Dia adalah Ad-Dukh” dan dia (dukun Yahudi itu) tidak mampu untuk menyempurnakan kata (Ad-Dukhon, hanya Ad-Dukh). Lalu Rasul SAW berkata padanya: “Piciklah kamu, maka kamu tidak akan melampaui kemampuanmu”. Artinya kamu tidak akan melamapui keadaanmu sebagai dukun yang berhubungan dengan jin. Oleh karena itu Rasul saw bertanya padanya: “Bagaimana kamu bisa tahu?” Dia menjawab: “Datang kepadaku kadang-kadang benar dan kadang bohong.” Artinya khabar-khabar dari syetan datang padanya kadang benar, dan kadang bohong. Lalu Rasulullah bersabda: “Laqod Lubbisa `alaih”. Sungguh telah dicampur aduk (antara kebenaran dan kebohongan) atasnya. (Diriwayatkan semacam ini secara panjang oleh Al-Bukhari 3/462, 6/512, 13/180-dari Fathul Bari).

Dalam hadits ini ada dalil bahwa syetan bisa mengintai apa yang ada pada orang mu’min kemudian syetan mengabarkannya kepada manusia yang jadi wali syetan (seperti dukun dll), dan kita diperintahkan untuk tidak membenarkan hal yang ghaib kecuali yang datang dari jalan Allah dan dari jalan Rasulullah saw saja.

Seluruh dalil/ bukti yang telah kami sebutkan dan selainnya yang tidak terhitung banyaknya sesungguhnya hanya untuk menetapkan segi aqidah imaniyah dalam da’wah Rasul saw. Dan itu adalah penjelasan bahwa kepercayaan dan keimanan terhadap yang ghaib itu sumbernya adalah Allah SWT. Tidak boleh sama sekali seorang Muslim mengambil jalan lain untuk perkara yang ghaib. Dan barangsiapa mengerjakan yang demikian itu (mengambil jalan selain jalan Allah) maka sungguh ia telah keluar dari iman kepada Allah Ta’ala. (Dipetik dari Al-Fikrus Shuufi, Abdur Rahman Abdul Khaliq, Maktabah Darul Fiha` Dimasyq, cetakan pertama, 1994/ 1414H, halm 24-34).

Sumber: Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf Belitan Iblis.

Pijakan Pertama untuk Membantah Shufi

Sebagian banyak taman-teman dari kalangan Muslimin yang tak suka pada tasawwuf dan penyelewangan-penyelewengannya, mereka memulai bantahannya terhadap shufi dengan pijakan awal yang salah. Mereka mendebat shufi mengenai perkara-perkara pinggiran dan cabang-cabangnya, seperti bid’ahnya shufi dalam dzikir-dzikir, penamaan mereka dengan shufi, pengadaan perayaan-perayaan maulid atau bawaan tasbeh-tasbeh mereka, atau pakaian-pakaian mereka yang tambal-tambalan dan semacamnya berupa gejala-gejala aneh yang tampak.

Memulai bantahan dengan perkara-perkara sekitar ini adalah langkah awal yang salah total. Walaupun perkara (yang disandang shufi) ini semuanya adalah bid’ah yang menyelisihi syari’at, dan mengada-adakan kebohongan dalam agama, namun (memulai bantahan dengan perkara-perkara cabang itu) menyamarkan hal yang lebih penting dan lebih besar. Artinya, cabang-cabang ini tidak boleh untuk pijakan awal dalam mendebat shufi, dan meninggalkan hal-hal pokok. Memang benar, (cabang-cabang bid’ah shufiyah) itu tadi adalah dosa-dosa dan penyelewengan-penyelewangan, tetapi ia adalah kecil sekali apabila dibanding dengan dosa-dosa besar, kebohongan-kebohongan, kekafiran-kekafiran yang dahsyat, dan tujuan-tujuan hina dina yang berjalan dalam pemikiran shufi. Oleh karena itu wajib bagi orang yang membantah shufi untuk memulai dengan hal-hal pokok, dan induk-induk, bukan dengan cabang-cabang dan sub-sub bentuk. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 49-50).

Barangkali dengan Anda telah membaca perbedaan pokok antara Al-Islam dan tasawwuf, Anda telah tahu apa yang seyogyanya Anda mulai dalam berdebat, yaitu tentang manhaj talaqqi (pola pengam­bilan –pemahaman) dan penetapan agama. Yaitu isi dari jawaban pertanyaan: Bagaimana kita mengambil (sumber) agama? Dan bagaima­na kita menetapkan aqidah dan ibadah, dan apa itu sumber-sumber pemahamannya?

Islam menjadikan sumber pemahaman terbatas pada Al-Quran dan As-Sunnah saja. Dan tidak boleh menetapkan aqidah kecuali dengan nash/ teks dari Al-Quran dan perkataan Rasul. Dan tidak ada pene­tapan syari’at kecuali dengan kitab dan Sunnah, dan ijtihad yang sesuai dengan keduanya. Ijtihad itu benar dan salah, tidak ada yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali Al-Quran dan Sunnah RasulNya saja.

Adapun tasawwuf, maka agama mereka (didapatkan) melalui klaim syeikh-syeikh, bahwa mereka mengambilnya dari Allah secara langsung, tanpa perantaraan, dan dari Rasul yang mereka klaim bahwa Rasul selalu datang ke majlis-majlis, dan tempat-tempat dzikir mereka. Juga dari malaikat, dari jin yang mereka nama­kan dengan badan halus (ruhaniyyin), dan dengan kasyf yang mereka klaim bahwa keghaiban-keghaiban tersingkap oleh hati wali, maka wali itu melihat apa-apa yang di langit-langit dan bumi, dan hal-hal yang telah lalu serta yang akan datang. Maka wali bagi mereka tidak ada sebijipun apa-apa yang di langit dan di bumi yang terlewat dari ilmu wali.
Oleh karena itu, jadikanlah pertanyaan pertama kepada shufi:

Bagaimana kalian menetapkan agama itu? Dan dari mana kalian mengambil sumber aqidah kalian?

Apabila shufi menjawab padamu: “Dari Al-Quran dan As-Sunnah,” maka katakanlah padanya: Al-Quran dan As-Sunnah menyaksikan bahwa iblis itu kafir, dia dan pengikut-pengikutnya akan dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan:

“Dan berkatalah syetan, tatkala perkara (hisab) telah disele­saikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menya­lahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu, dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS Ibrahim/ 14:22).

Syetan di sini adalah iblis menurut ijma’ para mufassir salaf (tiga generasi awal: shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in). Arti wamaa antum bimushrikhi adalah kamu tidak dapat membebaskanku dan menyelamatkanku. Itu artinya iblis adalah bersama mereka di neraka. Maka apakah kalian yakin wahai orang-orang tasawwuf/shufi yang demikian itu?

Kalau orang shufi mengatakan padamu, “Ya, kami percaya bahwa iblis dan pengikut-pengikutnya itu di dalam neraka,” maka dia (shufi) telah berbohong padamu. Dan kalau ia berkata padamu, “Kami tidak percaya bahwa iblis di neraka, dan kami percaya bahwa iblis tobat dari apa yang telah lalu darinya, atau iblis adalah hamba yang meng-esakan Tuhan (muwahhid) lagi mu’min seperti kata guru mereka Al-Hallaj”; maka katakanlah padanya (shufi): Sungguh kalian telah kafir karena kalian telah menyelisihi Al-Quran dan Hadits-hadits Rasul dan ijma’ ummat bahwa iblis itu kafir dan termasuk penghuni neraka (ahlin naar). Maka katakanlah padanya: Syeikh akbar kamu, Ibnu Arabi, telah menghukumi bahwa Iblis di dalam surga, dan Fir’aun juga di surga (seperti dalam kitabnya, Fushushul Hukm). Dan guru besarmu, Al-Hallaj, bahwa iblis itu adalah penuntunnya, sedang syeikhnya adalah Fir’aun, seperti tercantum dalam kitab At-Thawwasin halaman 52. Lalu apa yang kamu katakan dalam hal itu (wahai orang shufi)?

Apabila ia (orang shufi) mengingkarinya maka dia adalah orang pembesar yang ngeyel (ngotot), atau jahil (orang bodoh) yang tidak tahu. Sedangkan kalau dia mengakui yang demikian dan men­gikuti Al-Hallaj dan Ibnu Arabi maka sungguh dia telah kafir seperti mereka kafir, dan jadilah ia termasuk teman-teman Iblis dan Fir’aun, cukuplah yang demikian itu sebagai teman di dalam neraka. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 51-52).

Dan apabila ia ingin menipumu dan berkata: “Sesungguhnya perkataan mereka ini adalah dalam keadaan syathah (mengeluarkan kata-kata aneh dalam keadaan tidak sadar)” yang mereka katakan bahwa itu dikuasai keadaan dan mabuk, maka katakanlah padanya: Bohong kamu. Karena perkataan ini ada dalam kitab-kitab yang dikarang, dan Ibnu Arabi telah mengeluarkan kitab Fushushul Hukm dengan ucapannya: “Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah dalam mimpi di Mahrusah Damsik dan beliau memberiku kitab ini, dan beliau bersabda padaku, ‘keluarlah dengannya (kitab ini) kepada para manusia’.”

Padahal kitab ini lah yang menyebutkan bahwa Iblis dan Fir’aun itu termasuk orang-orang yang arif lagi selamat, dan Fir’aun itu lebih tahu tentang Allah daripada Musa. Dan bahwa setiap orang yang menyembah sesuatu (apapun) maka dia itu tidak menyembah kecuali (menyembah) Allah.

Al-Hallaj pun demikian, ia menulis segala kekafiran-kekafirannya dalam kitabnya, sedang dia tidak dalam keadaan syathah (mengeluarkan kata-kata aneh dalam keadaan tidak sadar) atau dikuasai keadaan seperti yang mereka katakan.

Apabila orang shufi mengatakan padamu: “Mereka itu telah berbi­cara dengan bahasa yang kita tidak tahu,” maka katakalah pada si shufi itu: Sungguh mereka telah menulis pembicaraan mereka dengan Bahasa Arab dan disyarahkan (dijelaskan) oleh murid-murid mereka dan telah mereka tulis/ uraiakan hal itu.

Apabila si shufi mengatakan, “Sesungguhnya ini adalah bahasa khusus untuk ahli tasawwuf yang tidak diketahui oleh selain mereka,” maka katakanlah padanya (si shufi): Sesungguhnya bahasa mereka ini adalah Bahasa Arab, dan mereka telah menyebarkannya kepada para manusia dan tidak menjadikannya khusus bagi mereka, sedangkan para Ulama Muslimin telah menghukumi Al-Hallaj dengan kafir, dan dia disalib di atas jembatan Baghdad tahun 309H dengan sebab makalahnya. Dan demikian pula Ulama Muslimin telah menghu­kumi kafir dan zindiq terhadap Ibnu Arabi.

Apabila si shufi mengatakan padamu: “Saya tidak mengakui peng­hukuman Ulama Syari’at karena mereka itu ulama lahir yang tidak tahu hakekat,” maka jawablah padanya (si Shufi): Yang lahir ini adalah (sesuai dengan) Al-Quran dan As-Sunnah/ Al-Hadits, dan setiap hakekat yang berbeda dengan yang lahir ini maka dia batil. Dan apakah hakekat yang mereka dakawakan itu?

Kalau si shufi mengatakan padamu, “Hakekat yaitu sesuatu dari rahasia-rahasia yang tidak disebarkan dan tidak kita dengar”; maka katakanlah: Sungguh kalian telah menyebarkannya dan memper­dengarkannya, yaitu bahwa setiap yang wujud menurut klaim kalian adalah Allah, sedang surga dan neraka itu sama, dan Iblis dan Muhammad itu sama, dan Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah, seperti kata Imammu dan Syeikh Akbarmu:

Al-‘abdu robbun wa robbu ‘abdun
ya laita syi’ri manil mukallaf?
In qultu ‘abdun fadzaka robbun
wa in qultu robbun an yukallaf?

(Hamba itu Tuhan dan Tuhan itu hamba
Aduhai siapakah yang dibebani hukum?
Apabila aku katakan hamba maka itu adalah Tuhan
Dan apabila aku katakan Tuhan maka akan dibebani hukum?).

Apabila si shufi mengakui yang demikian itu dan mengikuti mereka yang zindiq-zindiq itu maka dia kafir seperti mereka. Dan apabila si shufi berkata: “Saya tidak tahu tentang perkatan ini dan tidak mengerti tetapi aku mempercayai keimanan pengucap-pengucapnya, kebersihan mereka, dan kewalian mereka”; maka katakanlah pada si shufi itu: Sesungguhnya ungkapan ini adalah ungka­pan berbahasa Arab yang jelas, tidak ada samar padanya. Dan ia mengkhabarkan tentang aqidah yang dikenal yaitu wihdatul wujud, yakni kepercayaan Hindu dan zindiq yang kalian nukil/pindahkan ke Islam dan kalian campuradukkannya dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi Saw.

Lalu apabila si shufi mengatakan padamu: “Jangan kamu menentang para wali sehingga mereka tidak menyakitimu, karena Rasulul­lah Saw bersabda, telah berfirman Allah Ta’ala:

“Barangsiapa memusuhi seorang wali maka sungguh Aku izinkan dia untuk dipe­rangi”; maka katakanlah pada si shufi: Mereka itu bukan wali, tetapi mereka hanyalah orang-orang zindiq yang berkedok Islam. Dan saya mengingkari kalian dan tuhan-tuhan kalian, “sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya, sesungguhnya Tuhanku (ada) di atas jalan yang lurus. (lihat QS Hud/ 11:55-56).

Apabila si shufi mengatakan padamu: “Wajib atas kita menyerah­kan kepada orang-orang shufi keadaan mereka. Karena mereka me­nyaksikan hakekat dan mengetahui batin agama!!” maka katakanlah pada si shufi: Bohong kamu. Kita tidak boleh bungkam terhadap seseorang tentang ucapan yang menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah, dan menyebarkan kekafiran dan kezindiqan di antara kaum Muslimin, karena Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila’nat Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terha­dap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (LIhat QS Al-Baqarah: 159-160).

Oleh karena itu tidak boleh bungkam terhadap kebatilan kalian dan barang murahan serta zindiq kalian, karena kalian telah merusak Dunia Islam, baik dulu maupun sekarang, dan kondisimu itu masih berlangsung sampai hari ini, kalian mengeluarkan manusia dari ibadah kepada Allah ke ibadah pada syaikh-syaikh, dan dari tauhid ke syirik dan penyembahan kuburan, dan dari sunnah ke bid’ah. Juga mengeluarkan manusia dari pemahaman Al-Quran dan As-Sunnah ke pemahaman bid’ah, khurafat, dan takhayul dari orang-orang yang mengaku-aku melihat Allah, malaikat, Rasul, dan surga. Kalian orang-orang shufi selam hidup telah membantu gerombolan-gerombolan kebatinan, dan mengabdi kepada penjajah. Oleh karena itu sama sekali tidak boleh bungkam terhadap kesesatan kalian, kesyirikan kalian, dan upaya pengalihan kalian terhadap manusia dari Al-Quranul Karim ke dzikir-dzikir bid’ah kalian dan ibadah-ibadah yang tidak lebih dari tepuk tangan dan siulan-siulan seperti ibadah musyrikin. (Fadhoihus Shufiyyah, halaman 55).

Kilah-kilah pendukung tasawwuf

Dalam buku Ensiklopedi Islam ditampilkan pendapat Harun Nasu­tion, dekan pasca sarjana IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jakarta mengenai tasawwuf. Harun Nasution ini menurut murid-muridnya (di antaranya yang bercerita di sutu perkuliahan adalah Drs Hamdan Rasyid MA yang dia waktu itu berkuliah di Pasca Sarjana IAIN Jakarta), bahwa Dr Harun Nasution (pada akhir-akhir umur­nya) sering ke Abah Anom di Tasik Malaya Jawa Barat, tokoh tare­kat Naqsyabandiyah yang digabung dengan Qodiriyyah. Bisa kita simak pendapatnya yang dikutip buku Ensiklopedi Islam sebagai berikut:

Bagi Harun Nasution, teori-teori yang mengatakan bahwa ajaran tasawuf dipengaruhi oleh unsur asing sulit dibuktikan kebenaran­nya. Karena dalam ajaran Islam sendiri terdapat ayat-ayat dalam Al-Quran dan hadis-hadis yang menggambarkan dekatnya manusia dengan Tuhan. Di antaranya surah al-Baqarah ayat 186 yang artinya; “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa kepada-Ku.

Dalam ayat lain disebutkan pula: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi maha Menge­tahui.” (QS 2:115).

Disebutkan pula dalam surah Qaf ayat 16 yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.”

Dalam hadis qudsi (hadis yang maksudnya berasal dari Allah SWT, lafalnya berasal dari Nabi SAW) disebutkan bahwa Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa memusuhi seseorang wali-Ku, maka Aku mengumumkan permusuhan-Ku terhadapnya. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang lebih kusukai daripada pengamalan segala yang Kufardukan atasnya. Kemudian, hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa menyintainya. Bila Aku telah cinta kepadanya, jadilah Aku pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku penglihatannya yang dengannya ia melihat, aku tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku kakinya yang dengan itu ia berjalan. Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi.” (HR. Bukhari).

Demikian kutipan Ensiklopedi Islam, halaman 75-76.

Sanggahan terhadap pendapat Harun Nasution

Benarkah pendapat atau kilah Harun Nasution yang dikenal tidak memasukkan qodho’ dan qodar ke dalam rukun iman, dan yang dalam hal ini tampak memperkuat barisan shufi, baik secara pemikiran maupun praktek itu?

Kita simak syarah atau penjelasan Hadits Qudsi yang dia jadi­kan kilah itu, sebenarnya apakah ada kaitannya dengan tasawwuf, mari kita simak sebagai berikut:

Al-walayah dengan difathah wawunya artinya adalah almahabbah, kecintaan, dan lawannya adalah al’adawah, permusuhan. Sedang “wali” adalah lawan kata dari “musuh”, dan wali-wali Allah itu adalah orang-orang yang beriman lagi bertaqwa. Allah Ta’ala berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekha­watiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS Yunus/ 10:62-63).

Maka setiap orang mukmin yang bertaqwa dialah wali Allah sesuai dengan keimanan dan ketaqwaannya. Sedang orang yang kafir maka dialah musuh Allah. Lantas orang mukmin yang bermaksiat maka berkumpul pada dirinya dua perkara –dia wali Allah sesuai dengan iman yang ada dalam dirinya, dan dia musuh Allah sesuai dengan maksiat yang ada dalam dirinya. Wali itu bukan orang yang maksum (terjaga) dari kesalahan seperti yang dikira/diklaim oleh sebagian orang fanatik terhadap orang yang mereka namakan auliya’. Dan auliya’ (para wali) tidak memiliki kemampuan mengatur alam, tidak mampu menarik manfaat dan menolak bahaya dan menyembuhkan penyakit, dan menghilangkan keruwetan, seperti yang disangka oleh banyak orang ahli khurofat yang meng­gantungkan diri pada auliya’ dan menyembah mereka selain Allah, dan meminta tolong pada mereka dalam musibah-musibah berat, dan meminta pada mereka untuk mencukupi kebutuhan, dan menghilangkan keruwetan, juga meminta berkah dengan mengusap bagian-bagian badan mereka, tanah-tanah mereka, dan kuburan-kuburan mereka, dan bernadzar untuk mereka, dan menyembelih kurban untuk mereka, seperti yang dulu telah dilakukan orang-orang musyrik jahiliyah.

Seperti firman Allah Ta’ala tentang mereka:
“Dan mereka menyembah selain dari Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanf­aatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” (QS Yunus/ 10:18).

Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS Az-Zumar/ 39:3).

Dan ayat-ayat lainnya.

Tidaklah setiap yang diklaim sebagai wali itu jadi wali. Sesungguhnya wali itu tidak lain hanya orang yang beriman lagi bertaqwa, sedangkan wali itu orang yang butuh dan berhajat kepada Tuhannya, dia tidak mampu memberikan mudharat dan manfaat kepada dirinya ataupun kepada orang lain. Wali-wali Allah itu wajib dicintai dan dihormati tanpa ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menghormati mereka dan tidak berlebihan dalam mendudukkan hak mereka dengan meminta sesuatu kepada mereka yang sebenarnya tidak boleh diminta kecuali kepada Allah.

Diharamkan memusuhi mereka (wali-wali), mengurangi hak mereka, dan menyakiti mereka. Allah telah mengancam orang yang mengerja­kan hal itu dengan firmanNya dalam hadits: “Barangsiapa memusuhi wali-Ku maka sungguh Aku telah umumkan perang dengannya” artinya sungguh telah aku beritahukan bahwa aku memusuhi orang yang memusuhiKu dengan (lantaran) memusuhi wali-waliKu. Ini sesuai dengan tingkatan pertama atas orang yang memusuhi para sahabat Radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang memarahi para sahabat di antaranya orang-orang Syi’ah dan ahli bid’ah. Nabi Saw bersabda: “Janganlah kalian mencaci shabat-sahabtku. Karena, demi Allah yang diriku ada di tanganNya, seandainya seseorang kamu mengin­faqkan emas seberat Gunung Uhud maka tidak sampai sepanjang salah satu mereka dan tidak separuhnya.”

Nabi Saw juga bersabda: Allah, Allah, mengenai sahabt-sahabat­ku. Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran, karena barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh ia telah menyakitiku, dan barangsiapa menyakitiku maka sungguh ia telah menyakiti Allah, dan barangsiapa menyakiti Allah maka hampir saja Allah menimpakan adzab padanya.” (dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya.)

Ibnu Daqiq rahimahullah berkata: “Wali Allah Ta’ala adalah yang mengikuti apa yang disyari’atkan Allah. Maka berhati-hatilah manusia dari menyakiti hati-wali Allah ‘Azza wa Jalla.” Arti memusuhi itu kalau menjadikannya musuh, dan saya tidak melihat arti selain memusuhinya lantaran dia itu wali Allah. Adapun apabila keadaan memang menuntut adanya perselisihan pendapat antara dua wali Allah secara kehakiman ataupun pertengkaran maka dikembalikan kepada upaya mengeluarkan hak yang samar (untuk menentukan kebenaran), karena hal (pertentangan antar dua wali Allah) itu tidak termasuk dalam hadits ini. Karena sesungguhnya telah berlangsung pertengkaran antara Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan antara Abbas dan Ali ra, antar banyak sahabat, sedangkan mereka semua itu adalah wali-wali Allah ‘Azza wa Jalla. (Dr shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-fauzan, Ad-Dhiyaa’ al-Laami’ minal Ahaadiits al-Qudsiyyah al-Jawaami’, 1990, hal 18-21).

Kemudian Allah SWT menjelaskan sebab-sebab yang menjadikan orang memperoleh kewalian Allah Ta’ala, dan hamba itu menjadi wali Allah –artinya dicintai dan haram dimusuhi, maka Allah berfirman: Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang lebih Aku sukai daripada pengamalan segala yang Kufardhukan atasnya, dan hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa mencin­tainya.” Maka Allah menjelaskan bahwa sebab kewalian itu adalah mendekatkan diri kepadaNya SWT dengan mentaatiNya. Dan wali-wali Allah itu adalah mereka yang mengerjakan perbuatan dengan ta’at yang mendekatkan diri kepada-Nya dan meninggalkan maksiat terha­dap-Nya. Ini membatalkan dakwaan-dakwaan yang mengklaim kewalian bagi manusia-manusia yang menyelisihi syari’at Allah dan berbuat bid’ah, khurafat, dan syirik.

Mereka itu justru musuh-musuh Allah yang sebenarnya, bukan wali-wali-Nya.

Wali-walinya tidak lain hanya orang-orang yang taqwa.” (Al-Anfaal/ 8:34). Sedangkan mereka itu musuh-musuh Allah yang menjauhkan diri dariNya dengan perbuatan-perbuatan yang mengaki­batkan mereka terusir dan terjauhkan. Dan kalau mereka mengaku wali atau diklaim sebagai wali Allah pasti mereka membuat lahan mata pencaharian yang mengacaukan manusia dengan klaim kewalian itu, dan mereka mengeruk duit orang-orang awam. Julukan wali atau auliya’ telah menjadi sumber menangguk rezeki pada masa kini dengan membangun kuburan-kuburan dan membuka kotak-kotak amal/nadzar, lalu di sekelilingnya dijaga oleh karyawan-karyawan yang mengawasi lahan-lahan pencarian itu dengan bayaran dari uang yang jalannya tidak benar.

Sesungguhnya auliya’ullah wahai orang-orang ahli khurafat, tidak pernah mereka mendakwakan diri mereka sebagai auliya’, dan juga orang-orang Muslim tidak mendakwakan kewalian terhadap orang tertentu kecuali ada kesaksian Rasul Saw padanya tentang kewalian itu. Tetapi orang Muslim mengharapkan kepada mukmin lain suatu kebaikan, dan khawatir terhadap orang jahat mengenai kejahatannya, dan mereka mencintai orang-orang baik, dan membenci orang-orang jahat.

Mengenai firman Allah Ta’ala: Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang lebih Aku sukai daripada pengamalan segala yang Kufardhukan atasnya, adalah dalil atas wajibnya memperhatikan kewajiban-kewajiban dan melaksanakannya sebelum hal-hal yang sunnat. Karena yang sunnat itu tidak diterima kecuali dengan syarat pelaksanaan yang wajib. Dan mengenai firmaNya: dan hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa mencintainya.” Itu menunjukkan atas keutamaan amal sunnat dan memperbanyaknya, karena akan menyebabkan kecintaan Allah terhadap pelakunya. Makanya yang wajib-wajib itu akan menjadi sempurna karena dilak­sanakannya yang sunnat itu apabila ada kekurangan pada yang wajib.

Firman Allah Ta’ala: “Bila Aku telah cinta kepadanya, jadilah Aku pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku pengliha­tannya yang dengannya ia melihat, aku tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku kakinya yang dengan itu ia berjalan. Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi.” Itu artinya bahwa Allah membenarkannya, menjaganya mengenai pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya, maka ia tidak menggunakan anggota-anggota badannya ini untuk bermaksiat, dan ia hanya menggunakannya dalam ketaatan pada Allah Azza wa Jalla.

Ibnu Daqiq Al-Ied berkata: “Arti firman Allah itu bahwa ia (yang dicintai Allah ini) tidak mendengarkan apa yang tidak diizinkan Allah baginya untuk mendengarnya, dan tidak melihat sesuatu yang tidak diizinkan Allah untuk melihatnya, dan tidak mengulurkan tangannya kepada sesuatu yang tidak diizinkan Allah untuk menjangkaunya, dan tidak berjalan kecuali kepada hal yang diizinkan Allah baginya untuk menuju padanya…” selesailah arti­nya itu, dan tafsiran itu ditunjukkan pula oleh firmaNya dalam akhir hadits Qudsi tersebut: Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi.” Artinya, Allah Ta’ala menyertainya dengan menyetujuinya, menolongnya, dan menjaga anggota-anggota badannya dari segala larangan, karena balasan itu adalah setimpal dengan perbu­atan.

Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl/ 16:128). (Dr Al-Fauzan, ibid, hal 22-23).

Jawaban atas syubhat/ kesamaran

Hadits tersebut di atas menjadi salah satu syubhat/ kesamaran yang dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam kitabnya, Al-Qowaa’id al-Mutslaa fii Shifaatillaah wa Asmaa-ihil Husna.

Menurut Syaikh ‘Utsaimin, hadits tersebut shahih, diriwayat­kan oleh Al-Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, bab tawadhu’.

Golongan Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, telah memahami hadits ini menurut dhahirnya dan memberlakukannya menurut apa adanya.

Akan tetapi, apakah dhahir dari hadits ini?

Apakah dikatakan: Dhahir hadits ini bahwa Allah SWT menjadi telinga, mata, tangan dan kaki si Wali? Ataukah dikatakan: Dhahirnya bahwa Allah SWT meluruskan atau membenarkan si Wali dalam pendengaran, penglihatan, gerakan tangan dan langkah kakinya, sehingga pengetahuan dan amal perbuatannya lillaah (ikhlas karena Allah), billaah (dengan memohon pertolongan Allah), dan fillaah (menuruti syari’at Allah)?

Tidak diragukan lagi, ungkap Syaikh Utsaimin, bahwa perkataan pertama bukanlah dhahir dari hadits tersebut. Bahkan, bagi orang yang memperhatikan lafadznya, hadits ini tidak menunjukkan peng­ertian itu. Soalnya, terdapat dalam lafadh hadits ini dua alasan yang menolak pengertian tadi (Allah menjadi telinga dst):

Pertama: bahwa Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi ini:

Dan hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa mencintainya.” dan berfirman pula:

Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi.”

Ditetapkan dalam hadits tersebut adanya penghamba dan yang dihambai, yang mendekatkan diri dan yang didekati, yang mencintai dan yang dicintai, yang memohon dan yang dimohoni, yang memberi dan yang diberi, yang minta perlindungan dan yang dimintai, yang memberi perlindungan dan yang diberi. Jadi konteks hadits menun­jukkan adanya dua dzat yang saling berbeda, masing-masing berdiri sendiri. Ini berarti bahwa yang satu mustahil menjadi sifat bagi yang lain, atau menjadi salah satu bagiannya.

Kedua: telinga si Wali, matanya, tangannya, dan kakinya, semua itu merupakan sifat atau anggota tubuh pada makhluk yang hadits (baru) yang menjadi ada setelah tidak ada sebelumnya. Bagi orang yang berakal tidak mungkin memahami bahwa Al-Khaliq (Maha Pencipta) Yang Maha pertama, yang sebelumnya tidak ada satu makhlukpun, lalu menjadi alat mendengar, alat melihat, tangan dan kaki si makhluk. Bahkan hati merasa muak untuk membayangkan pengertian ini, dan lisan pun terasa kelu untuk mengucapkannya, sekalipun hanya sekadar pengendalian saja. Oleh karena itu, bagaimana bisa dikatakan bahwa pengertian inilah dhahir hadits qudsi tersebut, dan bahwa pengertian hadits di atas telah dirubah dari dhahir ini. Maha Suci Engkau Ya Allah. Segala puji bagi Engkau. (Syaikh Utsaimin, Kaidah-kaidah Utama Masalah Asma’ dan Sifat Allah SWT, CV MUS Jakarta, 1998, hal. 108-110).

Selanjutnya, Syaiklh Utsaimin menjelaskan, setelah ternyata bahwa perkataan pertama salah dan tidak dapat dibenarkan, sudah barang tentu yang benar adalah perkatan yang kedua yaitu bahwa Allah SWT meluruskan atau membenarkan si Wali dalam pendengaran, penglihatan, gerakan tangan dan langkah kakinya, sehingga dengan demikian pengetahuannya melalui pendengaran dan penglihatan serta perbuatan dengan tangan dan kaki, semua itu lillaah –ikhlas untuk Allah, billaah –dengan memohon pertolonganNya, fillaah–menuruti dan mengikuti syari’atNya.

Dengan demikian, dia benar-benar telah mewujudkan ikhlas, minta pertolonganNya (isti’anah), dan mengikuti syari’atnya (mutaba’ah) secara sempurna. Inilah taufiq (persetujuan/pertolongan Allah) yang sesungguhnya. Dan inilah tafsiran yang diberikan oleh ulama Salaf, tafsiran yang sesuai dengan dhahir lafadh­nya, menurut hakekatnya dan tepat dengan konteksnya. Tidak ada ta’wil di dalamnya atau alterasi (perubahan) nash/teks dari dhahirnya. Hanya milik Allah segala puji dan karunia.

Tentang Allah dekat

Allah berfirman:
Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawa­blah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku…(QS Al-Baqarah: 186).

Para ulama Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, memberlakukan nash ini menurut dhahirnya dan hakekat maknanya yang layak bagi Allah Azza wa Jalla, tanpa takyif (bagaimana caranya) dan tanpa tamtsil (permisalan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam komentarnya atas hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia/ terendah), mengatakan: “Adapun mendekatnya Allah kepada sebagian hamba-Nya maka hal ini ditetapkan oleh mereka yang menetapkan datangnya Allah pada hari kiamat, turunnya Allah ke langit terendah, dan bersemayamnya Allah di atas ‘arsy. Inilah madzhab Salaf, madzhab para imam Islam yang terkenal dan Madzhab Ahlul Hadits. Dan pemberitaan mengenai hal ini dari mereka adalah mutawatir.” (Majmu’ Fatawa, jilid 5, halaman 466).

Jika demikian halnya, lalu apakah halangannya bila dikatakan bahwa Allah mendekat kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki di samping Dia berada di atas ‘Arsy. Dan apakah halangannya bila dikatakan Dia menurut yang Dia kehendaki tanpa takyif dan tanpa tamsil?

Bukankah ini merupakan kesempurnaan Allah, jika Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya menurut pengertian yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya?

Perpaduan antara ma’iyah (kebersamaan) dan ‘uluw (keberadaan di atas) bisa terjadi pada makhluk. Soalnya, dikatakan: “Kami masih meneruskan perjalanan dan rembulan pun bersama kami”. Ini tidak dianggap bertentangan, padahal sudah barang tentu bahwa orang yang melakukan perjalanan itu berada di bumi sedangkan rembulan berada di langit. Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagaimana pikiran Anda dengan Al-Khaliq yang meliputi segala sesuatu?

Bagi Allah yang demikian itu hal-Nya, apakah tidak bisa dikatakan bahwa Dia bersama Makhluk-Nya di samping Dia Maha Tinggi berada di atas mereka, terpisah dari mereka, bersemayam di atas ‘arsy-Nya.” (Kaidah-kaidah Utama…, hal. 156).

Maka lemahlah alasan-alasan orang shufi dan pendukungnya yang menganggap bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut sebagai landasan tasawwuf.

Syeikh ‘Utsaimin menegaskan, ayat …Dan Dia bersama kamu di manapun kamu berada.” (QS 57:4); ma’iyah (kebersamaan) ini tidak berarti Allah SWT bercampur dengan makhluk atau tinggal bersama di tempat mereka. Sama sekali tidak menunjukkan pengertian ini.

Karena ini adalah makna bathil yang mustahil bagi Allah Azza wa Jalla, padahal tidak mungkin makna dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya adalah sesuatu yang mustahil lagi bathil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-‘Aqidah Al-Waasithiyah (hal. 115, cetakan ketiga, komentar Muhammad Khalil Al-Harras), mengatakan:

“Dan pengertian dari firman-Nya: “Dan Dia bersama kamu”, bukanlah berarti bahwa Allah itu bercampur dengan makhluk-Nya karena hal ini tidak dibenarkan oleh bahasa. Bahkan, bulan seba­gai satu tanda dari tanda-tanda (kemahatinggian dan kebesaran) Ilahi, yang termasuk di antara makhluk-Nya yang terkecil dan terletak di langit itu, tetapi dia dikatakan bersama musafir dan yang bukan musafir di mana saja berada.”

Komentar Syeikh ‘Utsaimin: Tidak ada orang yang berpendapat dengan makna bathil (Allah bercampur dengan makhluk atau tinggal bersama di tempat mereka) ini kecuali Al-Hululiyah (Pantheisme) seperti orang-orang terdahulu dari Jahmiyah dan selain mereka yang mengatakan bahwa Allah dengan dzat-Nya berada di setiap tempat. Maha suci Allah dari perkataan mereka dan amat besar dosanya ucapan yang keluar dari mulut mereka. Apa yang mereka katakan tiada lain adalah kebatilan.

Perkataan mereka ini telah dibantah oleh para ulama Salaf dan imam yang sempat menjumpainya, karena perkataan tersebut menim­bulkan beberapa konsekwensi yang tidak dapat dibenarkan yang menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat-sifat kekurangan dan mengingkari keberadaan Allah di atas makhluk-Nya.

Bagaimana seseorang bisa mengatakan bahwa dzat Allah berada pada setiap tempat, atau Allah bercampur dengan makhluk, padahal Allah SWT itu “KursiNya meliputi langit dan bumi” (QS 2:255), dan “Bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (QS 39:67)? (Kaidah-kaidah Utama… (hal.152).

Kebatilan dalih kaum shufi dan pendukungnya telah nyata. Masihkah akan diikuti, didukung, dan dipertahankan?

Sumber: Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf Belitan Iblis.