Putri Rambut Putih dan Langkusa

Pada masa kekuasaan Susuhunan Palembang, di Kabupaten Ogan Komering Ilir, yaitu di Perigi, Kayuagung, hiduplah seorang putri cantik. Rambutnya panjang, hitam terurai. Ia mempunyai kesaktian yang terdapat pada air ludahnya. Apabila seseorang diludahinya, maka rambut kepala orang itu menjadi putih. Karena kesaktiannya itulah ia memiliki julukan Putri Rambut Putih.
Alkisah pada masa itu, banyak bujang dan orang terkemuka mencoba melamar putri cantik itu. Akan tetapi, semua lamaran mereka tidak pernah diterima, bahkan kepala orang yang melamar sering diludahinya. Rambut orang-orang yang diludahi itu menjadi putih. Pernah suatu kali, ada pula pemuda dan saudagar yang mempunyai kemampuan bela diri mencoba melamarnya. Namun kenekatan orang-orang itu akhirnya menuai akibat yang sama, rambut mereka menjadi putih karena diludahi Putri Rambut Putih. Sejak itulah tidak ada lagi yang berani melamar sang putri yang memang berparas cantik itu.
Selain Sang Putri memiliki kesaktian pada air ludahnya serta kemampuannya dalam beladiri, ia pun memiliki seorang kakak yang cukup sakti. Kakaknya itu bernama Langkusa. Sedangkan kedua orang tua mereka sudah lama meninggal.
Kecantikan serta kesaktian Putri Rambut Putih akhirnya sampai juga ke telingan Susuhunan Palembang. Ia berniat untuk melamar putri itu. Kemudian ia pun mengutus beberapa anak buahnya untuk melamar sang putri. Tentu saja para utusan yang dikirim tidaklah sembarangan. Mereka adalah para prajurit yang memiliki kemampuan beladiri yang lumayan untuk menjaga sesuatu hal yang tidak diinginkan.
“Hululbalang, tolong kau pimpin beberapa prajurit yang memiliki kempuan lebih. Bawa juga bendera kebesaran. Gunakan kapal kita yang paling bagus.” titah Susuhunan kepada seorang hulubalang.
“Baik paduka, titah paduka hamba junjung tinggi.” Hulubalang itu pun memberi hormat kemudian undur diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Setelah segalanya siap, beberapa utusan itu pun kemudian berangkat ke Kayuagung untuk menyampaiakn maksud paduka Susuhunan. Kapal yang membawa rombongan Susuhunan menuju ke hulu menelusuri Sungai Musi, terus berbelok menelusuri Sungai Komering. Tidak sulit bagi mereka untuk mencari rumah Sang Putri yang memang sudah terkenal itu. Seorang utusan Susuhunan pun kemudian menghadap Putri Rambut Putih.
“Hamba diutus Paduka Susuhunan untuk menyampaikan maksud Paduka, yaitu melamar Tuan Putri.” demikian ucap sang utusan setelah berbasa-basi alakadarnya.
“Aku sudah mengetahui maksud Susuhunan Palembang. Tapi aku minta maaf, aku tidak bisa menerimanya.” demikian ucap Sang Putri dengan nada congkak. Utusan itu agak tersentak mendengarnya. Bukan masalah penolakannya yang membuat ia terkejut, tetapi sikap dan nada bicara putri itu yang terdengar sangat tidak sopan. Bahkan kemudian, tanpa diduga, putri itu meludahinya hingga rambut ustusan itu berubah menjadi putih.
Dengan tanpa permisi lagi dan perasaan marah yang dipendam, hulubalang dan rombongannya kembali ke Palembang. Setelah merapatkan kapalnya, mereka langsung menuju istana Susuhunan dengan wajah merah padam.
Melihat wajah para utusannya yang membara seperti memendam kemarahan, Susuhunan sudah dapat menangkap maksudnya. Namun ia ingin mendengarkan langsung apa yang akan dilaporkan mereka.
“Inilah hasil yang hamba terima, Paduka. Putri itu ternyata memang sangat angkuh dan sombong. Kepala hamba pun diludahinya hingga rambut hamba menjadi putih.” ucap utusan itu dengan nada kesal.
“Kurang ajar! Itu sama halnya dengan meludahi kepalaku sendiri!” Susuhunan demikian geram. Ia tampak sangat murka. Kemudian Susuhunan pun memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menyelidiki kekuatan Putri Rambut Putih. Susuhunan bermaksud menculik putri itu untuk dibawa ke Palembang.
Esoknya, beberapa telik sandi pun berangkat untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam selama beberapa hari. Kapan waktu putri mandi di sungai, ke mana saja ia pergi, atau kegiatan lainnya Putri Rambut Putih diselidiki para utusan itu. Sampai kemudian diketahui juga bahwa putri yang sombong itu mempunyai seorang kakak lelaki yang sangat sakti bernama Langkusa. Bahkan, perihal ilmu kanuragannya, Langkusa memiliki kemampuan luar biasa.
Para telik sandi itu kemudian pulang dan menceritakan hasil penyelidikan mereka. Susuhunan sempat terkejut ketika mendengar kesaktian kakak Putri Rambut Putih. Itu artinya akan ada halangan lain yang tidak ringan untuk dihadapi. Namun niat Susuhunan untuk menculik sang putri sudah bulat. Tetapi ia memang harus menyusun strategi lain untuk melumpuhkan Langkusa terlebih dahulu bila tidak mau diajak berdamai secara baik-baik. Bila perlu, Susuhunan harus membunuh Langkusa.
Sampai kemudian diketahui juga bahwa di dalam hutan di pinggir Desa Perigi, hidup seekor banteng yang ganas. Di dalam telinga banteng itu terdapat sarang lebah penyengat. Penciuman banteng itu sangat tajam, terutama terhadap bau tubuh manusia. Apabila banteng itu mencium bau manusia, ia menjadi marah lalu mencari dan membunuh manusia itu. Kemudian diketahui juga bahwa di Desa Perigi ada juga sumur yang sangat dalam dan lebar. Sumur ini pun akan dijadikan siasat alternatif Sang Susuhunan apabila beberapa rencana lain tidak berhasil.
Setelah menemukan dan mematangkan beberapa rencana, berangkatlah Susuhunan dan para hulubalangnya ke Desa Perigi. Kebetulan pada waktu itu Langkusa tidak berada di rumah. Dia sedang bertapa di Ujung Tulung. Langkusa pun tampaknya tidak bisa tinggal diam. Ia mempunyai firasat buruk setelah peristiwa penolakan adiknya terhadap Susuhunan Palembang. Maka untuk memperdalam ilmunya ia pun kembali bertapa beberapa hari. Namun pertapaannya ini pun sudah diketahui oleh anak buah Susuhunan yang memang selalu memata-matai Putri Rambut Putih dan kakanya itu.
Sampai akhirnya, Susuhunan menyuruh seseorang untuk menjemput Langkusa agar mau menghadapnya di tempat persinggahan di Perigi. Utusan itu pun segera menuju pertapaan Langkusa. Setelah bertemu Langkusa utusan Susuhunan menceritakan maksud kedatangannya.
“Mohon maaf kalau kedatangan saya mengganggu Tuan Langkusa. Paduka Susuhunan Palembang menitah saya untuk menjemput Tuan agar datang ke Perigi.” ucap utusan itu penuh hormat. Ia berjaga-jaga kalau-kalau Languksa yang sedang bertapa itu menjadi gusar.
“Ada perlu apa Susuhunan memanggilku?” tanya Langkusa tenang. Ia menduga-duga, pasti ada hal yang kurang baik yang bakal dihadapinya. Sebenarnya, mata batinnya sudah menangkap siasat-siasat apa yang akan dilakukan Susuhunan di Perigi nanti.
“Jelasnya saya tidak tahu, Tuan. Susuhunanlah yang akan menyampaikannya langsung.”
“Baik, kalau begitu silakan Tuan pulang duluan, saya segera menyusul.”
Setelah utusan itu hilang dari pandangannya, Langkusa pun mengakhiri pertapaannya dan langsung menemui Susuhunan di Perigi. Susuhunan Palembang itu terkejut karena terkabar bahwa Langkusa sudah menuju persinggahannya. Padahal utusannya sendiri belum datang. Ia kini semakin yakin akan kesaktian Langkusa itu.
“Hamba mohon maaf bila terlambat menghadap Paduka. Gerangan apakah sehingga Paduka memanggil hamba?” kata Langkusa setelah menghadap.
“Hai Langkusa, sebagai tanda baktimu pada Susuhunan Palembang, aku minta tolong padamu, guna keamanan di dusun ini, coba kamu tangkap banteng liar di dalam hutan di tepi dusun!” ujar Susuhunan penuh wibawa meskipun di dalam hatinya ada perasaan was-was. Dalam hatinya ia berharap agar Langkusa dapat celaka setelah bertemu banteng liar itu.
“Baik, paduka. Titah Paduka hamba junjung tinggi.” jawab Langkusa mantap. “Hamba segera berangkat.”
“Silakan! Hati-hati!”
Langkusa pun segera undur diri setelah menunduk memberi hormat. Susuhunan dan segenap anak buahnya harap-harap cemas. Langkusa pun segera berangkat menuju hutan mencari banteng itu. Rupanya, banteng itu pun telah waspada, ia lebih dahulu mencium bau manusia yang datang. Banteng liar terus terus mengendus menyongsong Langkusa yang datang. Dengan kepalanya yang menunduk memamerkan tanduknya yang runcing, banteng itu langsung menyerbu Langkusa. Mata banteng itu seperti menyala, merah membara. Semak belukar yang dilaluinya langsung tersibak. Hentakkan kakinya gemuruh seakan-akan bumi akan terbelah. Langkusa siap menghadapi serangan banteng jantan ganas yang tubuhnya sangat kekar dan besar itu. Begitu kepala banteng menyodok tubuh Langkusa, tanpa ampun lagi Langkusa pun menyongsongnya dengan pukulan tenaga dalamnya. Kepala banteng pun pecah. Binatang yang dikenal sangat ganas itu langsung tergolek tak bernafas. Dengan segala kemampuannya, tubuh banteng itu dipanggulnya, dibawa ke dusun untuk diserahkan kepada Susuhunan sebagai tanda bukti keberhasilannya.
Rupanya Susuhunan pun sudah mengetahui bahwa Langkusa berhasil. Perasaan cemas mulai melanda pikirannya. Namun ia sudah menyiapkan siasat lain. Di dasar sumur yang dalam dan lebar yang ada di dusun itu telah diisi dengan tombak-tombak beracun yang tertancap kuat dengan mata tombak menghadap ke atas. Sehingga apabila ada seseorang yang terjun ke dalam sumur itu pastilah akan disongsong oleh beberapa mata tombak itu.
“Terima kasih Langkusa, engkau benar-benar seorang pemuda yang sakti dan baik budi. Aku sangat kagum padamu. Namun aku minta tolong sekali lagi, cincinku terjatuh ke dalam sumur sewaktu aku mencoba melihat ke kedalaman sumur itu.”
Beberapa pengawal pun disuruh Susuhunan menunjukkan sumur yang dimaksud. Langkusa tetap tenang. Ia pun mencoba melihat dengan mata batinnya tentang segala sesuatu yang ada di dalam sumur itu. Susuhunan dan rombongannya mengiringi langkah Langkusa menuju sumur.
Setelah sampai di bibir sumur, Langkusa melompat terjun, bersalto ke dalam sumur. Semua orang yang menyaksikan terhenyak melihat cara Langkusa melompat. Begitu tubuh kakak Putri Rambut Putih itu masuk ke dalam sumur, air pun menyembur ke atas diiringi bunyi berdentum Semua tombak dalam sumur itu patah begitu tersentuh tubuh Langkusa. Secepat kilat Langkusa pun naik kembali dengan sebuah cincin di tangannya. Semua orang kembali terhenyak, termasuk Susuhunan.
“Inikah cincin yang Paduka maksudkan itu?” kata Langkusa sambil menyerahkan cincin temuannya kepada Susuhunan.
“Luar biasa kau, Langkusa. Sebagai Susuhunan Palembang, aku sangat bangga padamu!”
Tidak lama setelah menerima cincin, Susuhunan dan rombongannya pulang ke Palembang sambil membawa berbagai kecamuk dalam batin mereka. Kini jelas, Langkusa dan adiknya tidak dapat diremehkan begitu saja.
Setibanya kembali di Palembang, Susuhunan mengadakan pertemuan khusus. Semua hulubalang dipanggil. Susuhunan akan kembali mengatur rencana untuk menculik Putri Rambut Putih.
“Siapa di antara kamu yang sanggup menangkap Putri Rambut Putih?” tanya Susuhunan kepada semua orang yang hadir di balai pertemuan. Semua hulubalang dan yang lainnya tidak menjawab. Mereka hanya saling lirik dan saling pandang. Mereka sudah yakin bahwa kemampuan mereka jauh di bawah Langkusa maupun Putri Rambut Putih.
Karena tidak ada yang sanggup menjalankan perintah tersebut maka semua hulubalang dan anak buahnya diperintahkan membuat sungai dari Teleko sampai Tanjung Agung. Sungai ini sebagai jalur alternatif dalam usaha penculikan nanti.
Berhari-hari sungai pun dibuat. Tentu saja Susuhunan tidak mengabarkan maskud sebenarnya tujuan membuat sungai tersebut. Setelah selesai sungai itu dibuat, Susuhunan berserta hulubalangnya menyusuri sungai itu dengan kapal. Sesampainya di Tanjung Agung, Susuhunan dan rombongannya diam-diam naik ke darat lalu berjalan kaki ke arah Perigi yang jaraknya sekitar dua kilometer.
Pada saat itu, Langkusa sedang asyik mandi di sungai. Sementara itu, Putri Rambut Putih pun sedang asyik membuat periuk dari tanah liat di kolong rumah panggungnya. Tampaknya ia cukup terampil membuat periuk itu. Gerakan tangannya cukup lembut namun lincah. Rambutnya yang panjang terurai kini telah disanggulnya dan disemat dengan menggunakan sebatang tangubai. Dengan begitu ia merasa lebih bebas bergerak.
Sementara itu di semak belukar, Susuhunan dan beberapa hulubalangnya mengendap-endap hati-hati menuju rumah Putri Rambut Putih. Beberapa hulubalang yang memiliki ilmu kanuragan tinggi akhirnya melompat bersamaan dan berhasil menyekap Sang Putri. Putri Rambut Putih berusaha melawan sambil meronta-ronta. Namun totokan seorang hulubalang berhasil membuatnya pingsan. Sang Putri pun kemudian dibawa lari menuju kapal.
Namun ternyata, usaha penculikan itu diketahui beberapa orang warga kampung yang tidak sengaja melihat kejadian itu. Seorang di antaranya kemudian melaporkan kejadian itu kepada Langkusa yang tengah asyik mandi di sungai. Akan tetapi Langkusa tidak menanggapinya. Kemudian orang kedua melapor kembali kepada Langkusa, tetapi karena dia sedang begitu asyiknya berkecipak di sungai, dia tetap tidak memberi tanggapan.
Beberapa saat kemudian, saat Langkusa selesai mandi, barulah dia bertanya dan menanggapinya dengan serius.
“ Dibawa ke mana adikku?” tanya Langkusa sambil mengelapi tubuhnya dengan telapak tangan.
“Adikmu sudah dibawa Susuhunan ke kapalnya,” jawab orang itu.
Secepat kilat Langkusa pun berlari menyusul ke Tanjung Agung, tempat kapal
Susuhunan berlabuh. Sesampainya di sana, ternyata adiknya telah dibawa ke dalam kapal.
Melihat Langkusa sudah bertolak pinggang di pinggir sungai, Susuhunan beserta balatentaranya pun langsung siap siaga.
“Paduka, tolong imbangi kapal ini, aku akan melompat.” kata Langkusa lantang. Ia tak perlu lagi menjelaskan maksud kedatangannya.
“Lompatlah!” jawab Suhunan dengan nada menantang. “Kapal ini besar, tidak mungkin tenggelam hanya oleh berat tubuhmu!” Ia memberi kode kepada balatentaranya untuk berjaga-jaga.
Langkusa pun melompat ke kapal bagaikan kilat. Begitu kakinya menginjak bibir kapal, kapal itu pun miring sehingga orang-orang yang sudah berjaga-jaga menjadi oleng, termasuk Susuhunan. Dengan sigap pula Langkusa menyambar adiknya. Sambil memanggul adiknya, dia melompat kembali ke darat. Ketika melompat itulah, tangubai adiknya jatuh ke sungai. Kini tempat tangubai (tusuk konde) itu jatuh dikenal dengan nama Lubuk Tangubai.
Setelah itu, Langkusa kembali ke dusunnya dengan membopong adiknya, sedangkan Suhunan dan rombongannya pulang kembali ke Palembang dengan penuh kekecewaan.
Sampai di Palembang, emosi Suhunan meledak. Ia pun megeluarkan kutuknya/bersumpah dihadapan para pengikutnya. Konon, sumpahnya itu sampai sekarang diyakini masih berlaku.
“Mulai saat ini, keturunanku tidak akan selamat apabila mengawini orang dari Dusun Kayuagung!” teriak sang Susuhunan geram.
Putri Rambut Putih sendiri kemudian hidup tentram bersama kakaknya. Namun, akibat sifat Putri Rambut Putih yang sombong dan congkak serta orang-orang tidak berani lagi untuk mencoba melamarnya, konon, sampai tua dan akhirnya mati pun ia tetap tidak pernah menikah.

Tambahan:

Saat ini, nama “Langkusa” diabadikan sebagai nama lorong di Perigi, Kayuagung. Nama Perigi berarti sumur, diyakini oleh warga bahwa Perigi adalah tempat pertama kali moyang Kayuagung tinggal, dimana sumur merupakan simbol pemenuhan terhadap kebutuhan air dalam kehidupan. (Abu Syauqi Tamim)

Catatan:
Cerita ini termasuk dongeng yang dipercaya oleh masyarakat Kayuagung. Hikmah yang dapat dipetik yaitu kita tidak boleh sombong meskipun kita memiliki ilmu yang tinggi.

  1. Diramu dari berbagai sumber, baik penuturan lisan maupun tertulis.
  2. Dalam versi lain diceritakan hewan hutan liar itu adalah kerbau, bukan banteng.
  3. Tangubai/tongabai : tusuk konde.
  4. Telik sandi : mata-mata.
  5. Susuhunan/Suhunan: penguasa daerah/wilayah semacam sultan/kesultanan.
  6. Lubuk Tangubai: Lubuk Tongabai.

 

Sumber

Sriwijaya FC

Sriwijaya Football Club (disingkat Sriwijaya FC) adalah sebuah klub sepakbola Indonesia yang bermarkas di Palembang. Tim berjuluk Laskar Wong Kito ini merupakan tim yang dimiliki oleh PT. Sriwijaya Optimis Mandiri (PT SOM) setelah terjadi penjualan opsi kepemilikan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Presiden Sriwijaya saat ini adalah Doddy Alex Reza yang merupakan putra dari gubernur Sumsel, Alex Noerdin. Tim berkostum merah kuning bermotif songket ini memiliki dua kelompok suporter, S-Mania dan Singa Mania yang kemudian digabung menjadi Sumselmania. Sriwijaya FC adalah juara Divisi Utama Liga Indonesia 2007.

Sejarah

Walaupun mewakili provinsi Sumatera Selatan, Sriwijaya FC didirikan di Jakarta dengan nama Persijatim pada tahun 1976. Karena alasan finansial, klub ini sempat pindah ke Solo dan menjadi Persijatim Solo FC pada tahun 2002 hingga 2004. Setelah itu klub ini dibeli oleh pemerintah provinsi Sumatera Selatan dan diganti namanya menjadi Sriwijaya FC Palembang.

Sarana Pendukung

1. Stadion Gelora Sriwijaya

Home Base Sriwijaya FC adalah Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring berkapasitas 40.000 penonton ini merupakan Stadion kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan, yang merpakan Stadion termegah ke- 2 di Indonesia setelah Gelora Bung Karno. Stadion Gelora Sriwijaya juga telah diakui sebagai salah satu stadion terbaik bertaraf Internasional.

Stadion ini beralamat di Jl. Gubernur HA Bastari Jakabaring Palembang

2. Mess Pertiwi

Mess Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang dikelola oleh dharma Wanita Pemprov Sumsel dijadikan sebagai Mess para pemain da staff pelatih, sehingga setidaknya dapat menekan anggaran kebutuhan team. Mess ini berada ditengah kota yaitu Jl. Ba Salim Batubara Sekip Pangkal, tapi tetap menimbulkan kesan Asri sehingga kenyamanan tersendiri badi Squad Team.

3. Sekertarian SFC

Sebagai Kesebelasan mapan yang memiliki ambisi untuk menjadi salah satu kesebelasan yang bukan hanya disegani lawan, sudah sewajarnya bila Sriwijaya FC memiliki Sekertariat yang representatif dan mudah dijangkau, yaitu di Kompleks Palembang Square Jl. Angkatan 45 / Kampus POM IX No R 130 Telp / Fax : (0711) 380130, 316816. Sekertariat ini adalah bangunan Ruko 3 tingkat. Lantai 1 digunakan untuk Etalase dan pusat penjualan Merchandise mengenai Sriwijaya FC. Lantai 2 menjadi pusat aktivitas Manajemen, dan lantai 3 digunakan sebagai tempat pertemuan/Ruang Rapat. (sumber sriwijaya-fc.com)

Prestasi

Liga Indonesia

  • 2005: Peringkat 12 Wilayah Barat (Pelatih: Henk Wulems, Herry Kiswanto, Suimin Diharja)
  • 2006: Peringkat 9 Wilayah Barat (Pelatih: Suimin Diharja)
  • 2007: Peringkat 1 Wilayah Barat (Pelatih: Rahmad Darmawan)
  • 2008: Double Winner pertama dalam sejarah sepak bola Indonesia
  • 2008: Juara Liga Indonesia XIII (Pelatih: Rahmad Darmawan)
  • 2008: Juara Copa Dji Sam Soe Indonesia III (Pelatih: Rahmad Darmawan)
  • 2008: Rekor MURI sebagai tim pertama di Indonesia yang mampu meraih Double Winner dalam 1 musim
  • 2008/2009: Juara Copa Dji Sam Soe IV (Pelatih: Rahmad Darmawan)
  • 2009/2010: Juara Piala Indonesia (Hattrick Pertama di indonesia) (Pelatih: Rahmad Darmawan)
  • 2010 : Juara Inter Island Cup 2010

Liga Champions Asia

  • 2009: Fase Grup

Piala AFC

  • 2010: 16 Besar

 

Mars Sriwijaya FC

Majulah SRIWIJAYA FC
Kebanggaan masyarakat Sumsel
Berjuang dimana-mana
Juara di medan laga
Garuda perkasa lambangnya
Laskar Sriwijaya julukannya
Membawa Sumsel ke kancah Nasional
Demi keagungan Nusa dan Bangsa

Pantang menyerah
Pantang menyerah
Hancurkan Lawan yang menantang
Bersatu teguh
Semangat baja
Jayalah SRIWIJAYA FC

Lirik : Amalsyah Tarmizi
Lagu : Ir. Bambang Gunawan

Ditetapkan di : Palembang
Tanggal : 7 Januari 2006

 

Logo Sriwijaya FC

Sriwijaya FC juga sempat beberapa kali mengganti logo untuk mencari logo yang terbaik dari yang terbaik. Tercatat Sriwijaya FC pernah mengganti 3 kali logo klub.

Berikut beberapa logo yang pernah dipakai Sriwijaya FC  Palembang:

Tahun 2004 “awal berdiri”

Tahun 2006 sampai tahun 2009

Tahun 2009 sampai sekarang

Dari berbagai sumber

Daftar Kecamatan dan Kelurahan/Desa di Kabupaten Ogan Komering Ilir Tahun 2006

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) adalah salah satu kabupaten yang ada di lingkungan wilayah Propinsi Sumatera Selatan. Dalam perkembangannya, telah mengalami banyak pemekaran daerah, mulai dari pemekaran OKI menjadi 2 kabupaten, yaitu Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir (OI), termasuk pemekaran kecamatan, kelurahan dan desa. Berikut daftar kecamatan, kelurahan/desa di lingkungan Kabupaten Ogan Komering Ilir pada tahun 2006:

1. Kecamatan Kota Kayuagung:

  1. Kelurahan Cinta Raja
  2. Kelurahan Kayuagung
  3. Kelurahan Perigi
  4. Kelurahan Kotaraya
  5. Kelurahan Kedaton
  6. Kelurahan Jua-jua
  7. Kelurahan Tanjung Rancing
  8. Kelurahan Sidakersa
  9. Kelurahan Mangun Jaya
  10. Kelurahan Paku
  11. Kelurahan Sukadana
  12. Desa Arisan Buntal
  13. Desa Tanjung Lubuk
  14. Desa Serigeni
  15. Desa Serigeni Baru
  16. Desa Tanjung Menang
  17. Desa Tanjung Serang
  18. Desa Teloko
  19. Desa Kijang Ulu
  20. Desa Celikah
  21. Desa Muara Baru
  22. Desa Anyar
  23. Desa Banding Anyar
  24. Desa Buluh Cawang
  25. Desa Lubuk Dalam

2. Kecamatan Tanjung Lubuk:

  1. Desa Tanjung Lubuk
  2. Desa Sukamulya
  3. Desa Pulau Gemantung
  4. Desa Sukarami
  5. Desa Pengarayan
  6. Desa Seritanjung
  7. Desa Tanjung Baru
  8. Desa Ulak Kapal
  9. Desa Tanjung Merindu
  10. Desa Jambu Ilir
  11. Desa Tanjung Laut
  12. Desa Tanjung Laga
  13. Desa Ulak Balam
  14. Desa Tanjung Beringin
  15. Desa Bumi Agung
  16. Desa Kota Bumi
  17. Desa Jukdadak

3. Kecamatan Teluk Gelam:

  1. Desa Seriguna
  2. Desa Penyandingan
  3. Desa Kuripan
  4. Desa Cinta Marga
  5. Desa Ulak Ketapang
  6. Desa Talang Pangeran
  7. Desa Mulyaguna
  8. Desa Bumi Harapan
  9. Desa Sinar Harapan Jaya
  10. Desa Panca Tunggal Benawa
  11. Desa Muara Telang
  12. Desa Sugihwaras
  13. Desa Serapek
  14. Desa Benawa

4. Kecamatan Pedamaran:

  1. Desa Menangraya
  2. Desa Pedamaran I
  3. Desa Pedamaran II
  4. Desa Pedamaran III
  5. Desa Pedamaran IV
  6. Desa Pedamaran V
  7. Desa Pedamaran VI
  8. Desa Cintajaya
  9. Desa Sukadamai
  10. Desa Serinanti
  11. Desa Sukaraja
  12. Desa Burnai Timur
  13. Desa Sukapulih

5. Kecamatan Pedamaran Timur:

  1. Desa Sumber Hidup
  2. Desa Gading Raja
  3. Desa Panca Warna
  4. Desa Tanjung Makmur
  5. Desa Kayu Labu
  6. Desa Pulau Geronggang
  7. Desa Maribaya

6. Kecamatan Sirah Pulau Padang:

  1. Desa Sirah Pulau Padang
  2. Desa Terate
  3. Desa Terusan Menang
  4. Desa Mangun Jaya
  5. Desa Ulak Jermun
  6. Desa Awal Terusan
  7. Desa Batu Ampar
  8. Desa Tanjung Alai
  9. Desa Serdang Menang
  10. Desa Bungin Tinggi
  11. Desa Penyandingan
  12. Desa Berkat
  13. Desa Sukaraja
  14. Desa Belanti
  15. Desa Rengas Pitu
  16. Desa Pantai
  17. Desa Pematang bulur
  18. Desa Rawang Besar

7. Kecamatan Jejawi:

  1. Desa Jejawi
  2. Desa Bubusan
  3. Desa Air Itam
  4. Desa Karang Agung
  5. Desa Muara Batun
  6. Desa Lingkis
  7. Desa Talang Cempedak
  8. Desa Lubuk Ketepeng
  9. Desa Tanjung Aur
  10. Desa Suka Darma
  11. Desa Tanjung Ali
  12. Desa Ulak Tembaga
  13. Desa Terusan Jawa
  14. Desa Pedu
  15. Desa Simpang Empat
  16. Desa Pematang Kijang

8. Kecamatan Air Sugihan:

  1. Desa Tirta Mulya
  2. Desa Sukamulya
  3. Desa Jadimulya
  4. Desa Margatani
  5. Desa Badarjaya
  6. Desa Muktijaya
  7. Desa Srijayabaru
  8. Desa Nusantara
  9. Desa Kertamukti
  10. Desa Nusakarta
  11. Desa Banyubiru
  12. Desa Pangkalan Damai
  13. Desa Negerisakti
  14. Desa Rantau Karya
  15. Desa Pangkalansakti
  16. Desa Simpangheran
  17. Desa Rengasabang
  18. Desa Bukitbatu
  19. Desa Sungaibatang

9. Kecamatan Pampangan:

  1. Desa Pampangan
  2. Desa Ulak Kemang
  3. Desa Sepang
  4. Desa Keman
  5. Desa Ulak Pianggu
  6. Desa Kandis
  7. Desa Ulak Depati
  8. Desa Tapus
  9. Desa Pulau Layang
  10. Desa Pulau Betung
  11. Desa Kuro
  12. Desa Bangsal
  13. Desa Menggeris
  14. Desa Serimenang
  15. Desa Secondong
  16. Desa Jermun
  17. Desa Serdang
  18. Desa Jungkal
  19. Desa Tanjung Kemang

10. Kecamatan Pangkalan Lampam:

  1. Desa Pangkalan Lampam
  2. Desa Lirik
  3. Desa Talang Daya
  4. Desa Lebung Batang
  5. Desa Darat
  6. Desa Sukaraja
  7. Desa Sungai Bungin
  8. Desa Suka Damai
  9. Desa Pulauan
  10. Desa Riding
  11. Desa Sungutan
  12. Desa Rimba Samak
  13. Desa Air Pedara
  14. Desa Rambai
  15. Desa Air Rumbai
  16. Desa Perigi
  17. Desa Deling

11. Kecamatan Tulung Selapan:

  1. Desa Tulung Selapan Ilir
  2. Desa Tulung Selapan Ulu
  3. Desa Petaling
  4. Desa Ujung Tanjung
  5. Desa Lebung Gajah
  6. Desa Lebung Itam
  7. Desa Penanggoan Duren
  8. Desa Jerambah Rengas
  9. Desa Toman
  10. Desa Kayu Ara
  11. Desa Cambai
  12. Desa Tanjung Batu
  13. Desa Penyandingan
  14. Desa Pulu Beruang
  15. Desa Simpang Tiga
  16. Desa Simpang Tiga jaya
  17. Desa Simpang Tiga Sakti
  18. Desa Simpang Tiga Makmur
  19. Desa Rantau Lurus
  20. Desa Tulung Seluang

12. Kecamatan Cengal:

  1. Desa Cengal
  2. Desa Talang Rimba
  3. Desa Pelimbangan
  4. Desa Sungai Jeruju
  5. Desa Ulak Kedondong
  6. Desa Sungai Lumpur
  7. Desa Sungai Ketupak
  8. Desa Somor
  9. Desa Sungai Pasir

13. Kecamatan Pematang Panggang/Sungai Menang:

  1. Desa Sungai Menang
  2. Desa Sidomulyo
  3. Desa Talang Jaya
  4. Desa Talang Makmur
  5. Desa Harapan Jaya
  6. Desa Sungai Sibur
  7. Desa Sungai Ceper
  8. Desa Sungai Tepuk
  9. Desa Pinang Indah
  10. Desa Karangsia
  11. Desa Bumi Pratama Mandira
  12. Desa Gajah Mati
  13. Desa Gajah Mukti (UPT 1)
  14. Desa Gajah Makmuri (UPT 2)
  15. Desa Gajah Mulya (UPT 3)
  16. Desa Sri Gading (UPT 4)

14. Kecamatan Mesuji:

  1. Desa Pematang Panggang
  2. Desa Sungai Sodong
  3. Desa Pagar Dewa
  4. Desa Surya Adi
  5. Desa Margo Bakti
  6. Desa Makarti Mulya
  7. Desa Jaya Bakti
  8. Desa Suka Mukti
  9. Desa Mekar Wangi
  10. Desa Karya Mukti
  11. Desa Kali Deras
  12. Desa Sumber Deras
  13. Desa Kembang Jajar
  14. Desa Kota Baru
  15. Desa Dabuk Makmur

15. Kecamatan Mesuji Makmur:

  1. Desa Catur Tunggal
  2. Desa Mukti Karya
  3. Desa Suryakarta
  4. Desa Tegal Sari
  5. Desa Cahaya Mulya
  6. Desa Sumber Mulya
  7. Desa Karya Usaha
  8. Desa Pematang Suka Ramah
  9. Desa Gading Sari
  10. Desa Pematang Sukatani
  11. Desa Pematang Jaya
  12. Desa Bina Karsa
  13. Desa Pematang Sari
  14. Desa Pematang Bina Tani
  15. Desa Karya Jaya
  16. Desa Mesuji Jaya
  17. Desa Beringin Jaya
  18. Desa Cahaya Mas
  19. Desa Kampung Baru
  20. Desa Labuhan Jaya

16. Kecamatan Mesuji Raya:

  1. Desa Kemang Indah
  2. Desa Sedyo Mulyo
  3. Desa Bumi Makmur
  4. Desa Gedung Rejo
  5. Desa Kerta Mukti
  6. Desa Rotan Mulya
  7. Desa Embacang
  8. Desa Balian
  9. Desa Suka Sari
  10. Desa Cipta Sari
  11. Desa Embacang Permai
  12. Desa Mataram Jaya
  13. Desa Sumbu Sari
  14. Desa Sumber Baru
  15. Desa Mulya Jaya
  16. Desa Balian Makmur

17. Kecamatan Lempuing:

  1. Desa Tugu Mulyo
  2. Desa Tulung Harapan
  3. Desa Bumi Agung
  4. Desa Sumber Agung
  5. Desa Tebing Suluh
  6. Desa Bumi Arjo
  7. Desa Dabuk Rejo
  8. Desa Suka Mulya
  9. Desa Cahya Maju
  10. Desa Cahya Bumi
  11. Desa Kuta Pandan
  12. Desa Kepayang
  13. Desa Tugu Jaya
  14. Desa Tugu Agung
  15. Desa Mekar Jaya
  16. Desa Sindang Sari
  17. Desa Kawasan Hutan Sialang

18. Kecamatan Lempuing Jaya:

  1. Desa Lubuk Seberuk
  2. Desa Muara Burnai I
  3. Desa Muara Burnai II
  4. Desa Purwo Sari
  5. Desa Lubuk Makmur
  6. Desa Sungai Belida
  7. Desa Mukti Sari
  8. Desa Lempuing Indah
  9. Desa Tania Makmur
  10. Desa Rantau Durian I
  11. Desa Rantau Durian II
  12. Desa Tanjung Sari I
  13. Desa Tanjung Sari II
  14. Desa Sukajaya
  15. Desa Suka Maju

______________________________

Sumber: Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Ogan Komering Ilir.