Adam Smith

Tokoh terkemuka di bidang teori pembangunan ekonomi, Adam Smith, lahir di kota Kirkcaldy, Skotlandia, tahun 1723. Waktu remaja dia belajar di Universitas Oxford, dan dari tahun 1751 sampai 1764 dia menjadi mahaguru di Universitas Glasgow. Selama di situlah dia menerbitkan buku pertamanya, Theory of Moral Sentiments, yang mengangkat dirinya ke tengah-tengah masyarakat intelektual. Tetapi, puncak kemasyhurannya terutama terletak pada buku karya besarnya An Inquiry Into the Nature and Causes of The Wealth of Nations, yang terbit tahun 1776. Buku ini segera sukses dan merebut pasar, dan sisa hidup Smith menikmati kemasyhuran dan penghargaan berkat karya itu. Dia mati juga di Kirkcaldy tahun 1790. Tak seorang anak pun dia punya, lagi pula tak pernah kawin.

Adam Smith bukanlah orang pertama yang mengabdikan diri pada teori ekonomi, dan banyak gagasan-gagasannya yang terkenal bukanlah asli keluar dari kepalanya. Tetapi, dialah orang pertama yang mempersembahkan teori ekonomi yang sistematik dan mudah dicerna yang cukup tepat sebagai dasar bertolak buat kemajuan bidang itu di masa depan. Atas dasar alasan itu, layaklah dianggap bahwa The Wealth of Nations merupakan pangkal tolak dari penelitian modern politik ekonomi.

Salah satu hasil besar yang disuguhkan buku ini adalah karena ia meluruskan dan menghalau pelbagai anggapan yang jadi anutan orang sebelumnya. Smith adu pendapat dan menentang teori lama ekonomi perdagangan yang menekankan arti penting perlunya negara punya persediaan batangan emas dalam jumlah besar. Begitu pula, bukunya menolak pandangan para physiokrat yang mengatakan bahwa tanah merupakan sumber utama dari nilai. Sebaliknya Smith menekankan arti pokok yang paling penting adalah tenaga kerja. Smith dengan gigih menekankan bahwa peningkatan produksi dapat dicapai lewat pembagian kerja dan dia menyerang habis semua peraturan pemerintah yang usang dan campur tangannya berikut hambatan-hambatan yang menghalangi perkembangan dan perluasan industri.

Ide sentral The Wealth of Nations adalah pasar bebas yang bergerak menurut mekanisme pasar yang dianggapnya secara otomatis bisa memprodusir macam dan jumlah barang yang paling disenangi dan diperlukan masyarakat konsumen. Misalnya, persediaan barang yang justru disenangi merosot, dengan sendirinya harga akan naik dan kenaikan harga ini akan mendatangkan untung banyak bagi siapa saja yang memproduksinya. Karena untung banyak, pabrik-pabrik lain tergerak untuk memproduksi juga. Akibat dari kenaikan produksi tidak bisa tidak akan menyingkirkan keadaan kekurangan barang. Lagi pula, kenaikan suplai dalam kaitan dengan kompetisi antar pelbagai perusahaan akan cenderung menurunkan harga komoditi pada tingkat harga yang “normal,” misalnya ongkos produksinya. Tak ada pihak mana pun yang membantu melenyapkan kelangkaan, tetapi kelangkaan itu akan teratasi dengan sendirinya. “Tiap orang,” kata Smith “cenderung mencari keuntungan untuk dirinya, tetapi dia “dituntun oleh tangan gaib untuk mencapai tujuan akhir yang bukan menjadi bagian keinginannya. Dengan jalan mengejar kepentingan dirinya sendiri dia sering memajukan masyarakat lebih efektif dibanding bilamana dia betulbetul bermaksud memajukannya” (The Wealth of Nations, Bab IV, pasal II).

“Tangan gaib” ini tak dapat melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya jika ada gangguan terhadap persaingan bebas. Smith karena itu percaya kepada sistem perdagangan bebas dan menentang keras harga tinggi. Pada dasarnya dia menentang keras hampir semua ikut campurnya pemerintah di bidang bisnis dan pasar bebas. Campur tangan ini, kata Smith, hampir senantiasa akan mengakibatkan kemerosotan efisiensi ekonomi dan ujungujungnya akan menaikkan harga. (Smith tidaklah menciptakan semboyan “laissez faire,” tetapi dia lebih dari siapa pun juga menyebarkan konsep itu).

Beberapa orang peroleh kesan bahwa Adam Smith tak lain dari seorang yang cuma “menari menurut bunyi gendang” demi kepentingan ekonomi. Pendapat ini tidaklah benar. Dia berulang kali dan dengan kata-kata keras, mengecam habis praktek-praktek monopoli ekonomi dan menginginkan penghapusannya. Dan Smith bukannya orang naive dalam hubungan ekonomi praktek. Ini bisa dibaca dari pengamatannya yang khas dalam buku The Wealth of Nations: “Orang dalam dunia dagang barang yang sama jarang bisa ketemu bersama, tetapi pembicaraan akan berakhir pada pembentukan komplotan yang bertentangan dengan rakyat, atau dalam bentuk lain menaikkan harga.”

Begitu sempurnanya Adam Smith mengorganisir dan mengedepankan sistem pemikiran ekonominya, sehingga hanya dalam jangka waktu beberapa puluh tahun saja mazhab-mazhab ekonomi sebelumnya tersisihkan. Nyatanya, semua pokok-pokok pikiran mereka yang bagus telah digabungkan dengan sistem Smith, sementara Smith dengan sistematis mengungkapkan kekurangan-kekurangan mereka yang ada. Pengganti Smith termasuk ekonom-ekonom kenamaan seperti Thomas Malthus dan David Ricardo, mengembangkan dan menyempurnakan sistemnya (tanpa mengubah garis-garis pokoknya) menjadi struktur yang kini digolongkan kedalam kategori ekonomi klasik. Sampai pada suatu tingkat penting tertentu, bahkan teori ekonomi Karl Marx (meski bukan teori politiknya) dapat dianggap sebagai kelanjutan dari teori ekonomi klasik.

Dalam buku The Wealth of Nations, Smith sebagian menggunakan pandangan-pandangan Malthus tentang kelebihan penduduk. Tetapi, jika Ricardo dan Karl Marx keduanya bersikeras bahwa tekanan penduduk akan mencegah upah naik melampaui batas keperluan (apa yang disebut “hukum baja upah”), Smith menegaskan bahwa kondisi kenaikan produksi upah dapat dinaikkan. Amatlah jelas, kejadian-kejadian -membuktikan bahwa Smith benar dalam segi ini, sedangkan Ricardo dan Marx meleset.

Tak ada sangkut-pautnya dengan ketetapan pandangan Smith atau pengaruhnya terhadap para teoritikus ekonomi yang datang belakangan, yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap perundang-undangan serta politik yang diambil pemerintah. The Wealth of Nations ditulis dengan keulungan yang tinggi serta kejernihan pandangan yang tak bertolok banding dan terbaca amat luas. Argumen Smith menghadapi campur tangan pemerintah dalam bidang bisnis dan dunia perdagangan dan demi rendahnya harga serta perekonomian bebas, telah mempengaruhi secara pasti terhadap garis kebijaksanaan pemerintah di seseluruh abad ke-19. Sesungguhnya, pengaruhnya dalam hal itu masih tetap terasa hingga sekarang.

Sejak teori ekonomi berkembang pesat sesudah masa Smith, dan beberapa gagasannya tergeser oleh pendapat-pendapat lain, sangatlah mudah mengecilkan makna penting Adam Smith. Mesti begitu, fakta menunjukkan, dialah pemula dan pendiri tokoh ekonomi sebagai suatu studi yang sistematis,dan dia sesungguhnya tokoh terkemuka dalam sejarah pemikiran manusia.

Sumber: Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah.

Iklan

Pelajaran Bisnis dari Sandiaga Uno

Aa Sandiaga Uno mungkin adalah sosok pria yang digandrungi banyak kaum perempuan : muda, very handsome, kaya raya dan rendah hati. Sosok Sandi memang merupakan salah satu fenomena dalam jagat bisnis di tanah air.

Dalam usianya yang masih terbilang muda, yakni 42 tahun, ia telah dinobatkan oleh majalah internasional Forbes, sebagai orang kaya nomer 29 di Indonesia. Total kekayaannya sekitar Rp 800 milyar (wow).

Melalui perusahaannya yang bergerak di bidang investasi, yakni Saratoga Capital, Mas Sandi telah meneguhkan dirinya sebagai anak muda cemerlang dengan visi bisnis yang mak nyus.

Dalam tulisan kali ini, kita akan mencoba mengenal lebih dekat dengan mas Sandi yang handsome ini. Didalamnya kita mau menelisik dua pelajaran bisnis yang barangkali bisa kita petik.

Sejatinya, yang juga membuat banyak orang tertegun, adalah sikap rendah hati dan kehidupan religius Sandi yang amat kental. Ia dikenal sebagai pria yang melakoni ritual puasa sunah Daud (puasa setiap dua hari sekali, sepanjang tahun). Orang yang kaya raya ini ternyata begitu akrab dengan dunia ukhrowi (dunia akherat). Subhanallah.

Ia juga tak pernah berhenti sholat sunnah Dhuha setiap pagi. Dalam sebuah perbincangan informal, Mas Sandi memberikan pengakuan seperti ini :
“Jadi begini, ibadah itu kalo sudah rutin kita lakukan bukan lagi menjadi sebuah kewajiban tapi menjadi sebuah kebutuhan. Jadi kalo aku gak sholat dhuha aja sekali, tiba-tiba ada sesuatu yang hilang, aneh rasanya. Walaupun itu sunnah jadi terasa wajib. Dan aku ngerasain sekali hikmahnya, sudah 7-8 tahun ini rutin aku lakukan, rejeki itu seperti gak aku cari, semua datang sendiri…….seperti dianter rejeki itu”.
Kalau kalimat diatas diucapkan pak ustadz, kita biasa mendengarnya. Namun kalau yang bilang adalah anak muda dengan kekayaan 800 milyar, now that’s the power of Ibadah.

Sekarang mari kita simak pelajaran bisnis pertama dari mas Sandi.

Lesson # 1 : Timing is everything. Sandi mendirikan perusahaan di bidang private equity persis pada saat Indonesia mengalami krisis moneter pada 1997 (private equity adalah perusahaan yang mengakuisisi saham perusahaan lain yang dianggap masih murah, lalu diperbaiki kinerjanya, dan kemudian dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi).

Pada saat krisis itu, beragam peluang investasi bermunculan lantaran banyak perusahaan mau dijual dengan harga yang relatif murah. Disinilah timing serta keputusan bisnis Sandi mendapatkan tempat yang pas. Bisnis dia melesat karena berhadapan dengan timing yang pas, yakni pas kondisi krisis moneter.
Moralnya : pengambilan keputusan menjadi jelek bukan karena mutu keputusannya yang buruk, namun mungkin timing-nya yang tidak tepat. Dan sebaliknya : keputusan menjadi sangat berharga karena dilakukan pada momen waktu yang tepat.

Sekarang, renungkan : apa keputusan penting dalam bisnis atau karir yang pernah Anda lakukan? Dan apakah timing keputusan itu pas? Sebab jika tidak pas, maka mungkin Anda akan menyesal berkepanjangan. (Misal banyak orang bilang, kalau mau bikin bisnis sendiri maka timingnya – lakukanlah sebelum usia 35 tahun. Sebab diatas usia itu, Anda akan masuk area comfort zone, dan akan makin takut untuk mengambil risiko).

Lesson # 2 dari Mas Sandi adalah ini : pentingnya menemukan partner atau rekan kerja yang memiliki chemistry dengan kita, dan bisa membangun sinergi. Sandi pertama kali membangun usaha dengan teman sekolah SMA-nya. Sahabat lama biasanya cenderung telah memiliki ikatan emosi dan chemistry yang kuat. Jadi nyambung dan klik.

Sama dengan kita. Dalam bekerja kita biasanya akan lebih enjoy dan produktif kalau bisa menemukan partner atau rekan kerja yang cocok dan pas dengan kita (jadi ada chemistry yang kuat). Team work yang kokoh memang bisa kita bangun kalau ada ikatan atau kohesi yang solid diantara para anggotanya.
Demikianlah, dua pelajaran bisnis ringkas dari Sandiaga Uno. Sosok profesional muda yang kaya, rendah hati dan punya sikap religius yang kuat.
Mas Sandi, doa saya agar keberkahan dari Sang Pemberi Rezeki terus mengalir pada diri Anda dan keluarga.

Written by Yodhia Antariksa

Sumber

Tips Aman Transaksi Via Internet

Sehubungan dengan pekerjaan yang ekstra sibuk, tidak punya waktu untuk keluar sebentar dari kantor atau tempat kita bekerja untuk membeli produk yang kita inginkan, terkadang internet menjadi pilihan utama sebagai solusi atas masalah tersebut.

Ya, internet menjadi lahan yang menjanjikan untuk kita, sebagai konsumen maupun sebagai produsen yang memasarkan produk via internet. Kesempatan ini tidak sedikit digunakan sebagai lahan subur ajang penipuan. Sehingga tidak sedikit konsumen yang tertipu, kecewa, kesal, marah, dan sebagainya karena menjadi mangsa penipuan berkedok jual produk, jasa, dan lain-lain. Saya pun pernah mengalami hal tersebut.

Berangkat dari pengalaman buruk yang begitu berharga ini, saya bermaksud membaginya kepada pembaca sekalian, agar hal serupa tidak terulang dan pastinya tidak terjadi kepada Anda. Berikut tips aman bertransaksi via internet ala Abu Syauqi Tamim:

  1. Perhatikan alamat situsnya, apakah situs gratisan, seperti blog pada umumnya, atau hosting yang berbayar, biasanya tanpa embel-embel blog seperti http://www.abusyauqitamim.com (contoh). Kalau hosting yang berbayar, tentunya ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dan tentunya harus mengeluarkan dana. Kalau sekedar iseng untuk nipu, seseorang harus berfikir dan bekerja keras untuk memenuhinya.
  2. Jangan mudah terpengaruh oleh layanan penjualan barang bermerek yang dijual murah. Penipu selalu menggunakan merek terkenal sebagai pemanis agar barangnya diminati, apalagi kalau barang bermerek yang dijual murah sekali, tentunya kita akan tergiur. Hati-hatilah Saudaraku, karena itulah salah satu cara mereka menipu kita.
  3. Eksplorasi situs tersebut, perhatikan setiap komen yang ada, adakah komplain dari konsumen. Beberapa situs biasanya tidak menyediakan layanan komen, takut kali ya.
  4. Pastikan Anda menggunakan jasa rekening bersama (broker/perantara) sebagai pihak ketiga yang menjadi perantara antara Anda dan penjual. Sekalipun Anda sudah mengenal dengan baik si penjual, maklum manusia terkadang khilaf kalau liat uang. Satu hal yang harus Anda cermati, penipu tidak akan pernah berhenti sampai Anda mengirimkan uang ke reningnya. Tidak ada alasan pembayaran di muka yang dapat dibenarkan sebelum Anda benar-benar menerima pesanan Anda.
  5. Pastikan di situs tersebut tercantum alamat lengkap dimana lokasi toko online berada berikut nomor kontak yang dapat dihubungi. Kalau perlu, Anda minta bantuan kepada saudara, teman atau kenalan Anda yang kebetulan tempat tinggalnya dekat dengan lokasi toko online tersebut atau seseorang yang mungkin dapat membantu Anda memastikan bahwa benar ada toko dengan nama dimaksud yang beralamat sesuai alamat yang tercantum.
  6. Cek via google atau mesin pencari yang lain apakah situs tersebut termasuk situs yang diblacklist oleh konsumen karena penipuan atau pelayanan yang kurang baik. Dalam hal ini, Anda juga saya sarankan untuk mendiskusikan situs tersebut melalui blog atau situs terpercaya, mungkin saja ada diantara sahabat bloger yang pernah berurusan dengan situs tersebut, silahkan tanya pendapatnya.
  7. Kalau barang dikirim via jasa pengiriman barang apa saja, minta nomor pengiriman barang atau nomor resi. Cek via situs jasa pengiriman barang tersebut, apakah betul nomor resi tersebut ada dalam daftar pengiriman barang atau tidak.
  8. Apabila barang sudah Anda terima, pastikan bahwa barang tersebut dalam kondisi yang baik dan sesuai dengan pesanan Anda. Jika barang tidak sesuai dengan pesanan, hubungi pihak penjual dan sampaikan keluhan Anda juga kepada perusahaan jasa pengiriman barang yang Anda pakai.
  9. Yang saya tahu, sampai detik ini belum ada satupun Undang-undang ITE yang mengatur tentang kejahatan cyber. Jadi, kalau Anda tertipu karena melakukan transaksi via internet, tanpa ada surat perjanjian yang sah, maka hukum positif di negara kita Indonesia tidak dapat menyelesaikan kasus Anda.

Ingatlah, bahwa penipuan itu sangat lumrah dilakukan, mengingat kehidupan di Indonesia yang semakin sulit, sementara harga kebutuhan pokok terus meningkat, belum lagi untuk mengimbangi gaya hidup manusia masa kini hedon, terkadang menyebabkan seseorang buta, mana yang benar mana yang salah, mana yang haram mana yang halal. Ditambah lagi penganguran yang semakin merajalela, bobroknya akhlak dan moral pun turut berperan dalam hal ini.

Semoga bermanfaat

Bunga Koperasi Simpan Pinjam

 Penanya:
H. Hasan Basri,
Koperasi Fatimah Pare
Pertanyaan:
Beberapa saat yang lalu ada fatwa dari MUI bahwa bunga Bank adalah riba. Oleh sebab itu, perlu kami minta penjelasan dari Majelis Tarjih, apakah bunga Koperasi Simpan Pinjam termasuk riba? Mohon penjelasan!
Jawaban:
Pertanyaan yang hampir sama dengan pertanyaan yang saudara ajukan, pernah ditanyakan dan telah diberi jawaban secara rinci berdasarkan Keputusan Muktamar Tarjih di Malang Tahun 1989, serta telah dimuat dalam Buku Soal Jawab Agama Jilid II halaman 229 – 232. Namun untuk memenuhi permintaan saudara kami sampaikan jawaban secara ringkas sebagai berikut.
Koperasi adalah sebuah lembaga usaha bersama yang didirikan oleh sejumlah orang sebagai anggotanya. Jika dalam usaha ini menghasilkan keuntungan, maka keuntungan itu dibagi kepada semua anggotanya. Dengan demikian dalam koperasi mewujudkan mu’awwanah (tolong menolong) di antara sesama anggota. Jika dalam mengembangkan usaha ini dengan bunga, sesungguhnya bunga itu diperoleh dari anggota dan akan dibagi kepada anggota juga. Muktamar Tarjih di Malang Tahun 1989 memutuskan bahwa bunga koperasi simpan pinjam hukumnya mubah (boleh). Tentu saja besar bunga pinjaman dari koperasi ditetapkan berdasarkan musyawarah dan keadilan, tidak ada yang merugikan dan tidak ada pula yang dirugikan, mengingat firman Allah Swt:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ. [البقرة (2): 279].

Artinya: “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” [al-Baqarah (2): 279].
Koperasi tidak sama dengan Bank, karena tidak semua nasabah Bank adalah para pendiri Bank, sehingga bunga yang dibayarkan oleh nasabah kepada Bank –sebagai keuntungan dari Bank- tidak menjadi milik nasabah yang tentunya keuntungan itu tidak akan dibagikan kepada nasabah. Dengan demikian, maka pada Bank yang menggunakan sistem bunga, ada pihak yang dirugikan, sebagaimana diterangkan dalam ayat yang dikutip di atas. Berdasarkan keterangan tersebut, kiranya dapat menjadi penjelasan tentang perbedaan bunga Bank dengan bunga dalam Koperasi.
Wallahu a‘lam bish-shawab. *dw)

Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

MUI: Kredit itu Halal Bukan Riba

Menyoal permasalahan haram halal pada proses jual beli melalui kredit, Ketua MUI Kabupaten Bandung, KH Anwar Safiuddin Kamil menegaskan bahwa kredit diperkenankan dan jelas tidak haram. Kredit diperkenankan dan bukanlah riba bila melalui persyaratan-persyaratan tertentu.

“Kredit berbeda jauh dengan namanya riba,” ujarnya dalam acara diskusi yang diselenggarakan FIF di RM. Kampung Sawah, Soreang, Selasa (24/1). Anwar menambahkan, kredit merupakan proses pembelian melalui cara berangsur-angsur. Kredit diperbolehkan jika antara pihak penjual dan pembeli tidak saling dirugikan.

Anwar juga menambahkan, jual beli kredit dibolehkan ketika terjadi kepastian harga dan tidak terjadi dua harga. Sejak awal keduanya menyepakati satu harga saja, tidak dua harga. Dua harga itu hanya pilihan di awal, sebelum transaksi disepakati.

Anwar juga sangat menyayangkan pihak LSM dan Ormas yang memprovokasi untuk berhenti melakukan kredit karena berseberangan dengan ajaran agama. “Tidak dibenarkan hal tersebut, karena tidak ada alasannya yang kuat,” tambahnya.

Misalnya keduanya sepakat dengan harga dicicil, tambah Anwar, maka harga itu tidak boleh lagi diubah-ubah di tengah proses pencicilan, tidak boleh dinaikkan atau diturunkan lantaran kreditnya lebih cepat atau lebih lambat.

Dalam diskusi yang bertemakan ‘Apakah Kredit itu Riba?,’ hadir juga sebagai narasumber Didi Agung selaku kepala FIF soreang. Dalam kesempatan tersebut, FIF syariah ditawarkan sebagai program unggulan sebagai solusi alternatif leasing yang berpanduan dan berbasis syariah.

“Dengan FIF syariah, kita tawarkan cicilan kredit sesuai kehendak konsumen, insya Allah tetap Barokah,” ujar Didi.

Sumber

Fiqh Zakat

MUKADDIMAH

Sebagai salah satu kewajiban, bahkan rukun dan pilar utama ajaran Islam, selama ini zakat belum mendapatkan perhatian yang semestinya dari umat Islam, baik dalam tataran pemahaman maupun pelaksanaannya. Hal ini berbeda dari perhatian mereka terhadap rukun-rukun Islam yang lain, seperti shalat, puasa dan haji, meskipun perhatian terhadap rukun-rukun tersebut juga belum ideal. Disamping itu, selama ini permasalahan zakat juga seringkali hanya diangkat pada bulan Ramadhan, dengan anggapan bahwa zakat itu hanya terkait dengan bulan Ramadhan. Padahal, permasalahan zakat sebetulnya bukan hanya permasalahan di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, menjadi amat penting untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap zakat – dengan menggalakkan sosialisasi dan kajian tentang zakat, serta optimalisasi peran lembaga-lembaga amil zakat – , dengan tidak membatasinya pada bulan Ramadhan saja.

URGENSI, FUNGSI, DAN MANFAAT ZAKAT

  1. Zakat merupakan rukun ketiga diantara rukun-rukun Islam yang, dalam Al-Qur’an maupun Hadits, hampir senantiasa digandengkan dengan shalat. Dan Islam tidak akan tegak kecuali dengan ditegakkan seluruh rukunnya, termasuk dalam hal ini zakat, sebagaimana sebuah bangunan tidak akan tegak kecuali jika tegak seluruh tiang penyangganya.
  2. Zakat merupakan bukti dan parameter keimanan serta keislaman seseorang. Maka, tidak berzakat bagi yang mampu menunjukkan adanya “cacat” dalam keimanan dan keislamannya.
  3. Zakat merupakan salah satu sumber kekuatan bangunan ekonomi umat, disamping merupakan salah satu faktor penting untuk mewujudkan tanggung jawab sosial dan keseimbangan dalam distribusi harta. (Lihat QS Al-Hasyr : 7)
  4. Jika ditunaikan dan dikelola dengan benar, zakat merupakan solusi terbaik untuk memberantas kemiskinan di kalangan umat Islam dan negeri-negeri muslim.
  5. Zakat merupakan wujud dan bukti rasa syukur seorang mukmin atas kelapangan rizki yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.
  6. Zakat berfungsi untuk menyucikan jiwa muzakki dari sifat kikir, zhalim dan cinta dunia, sekaligus membersihkan jiwa para fakir miskin dari sifat benci dan dengki terhadap orang-orang kaya.
  7. Zakat berfungsi sebagai pembersih harta pemiliknya. Harta yang tidak dizakati adalah harta yang kotor karena masih tercampur dengan hak milik orang lain, karena bagian dua setengah persen yang harus dibayarkan itu misalnya, sudah menjadi hak milik sah para mustahiq (para fakir miskin dan lain-lain; lihat QS At-Taubah : 60).
  8. Zakat, sebagaimana juga infaq dan shadaqah, tidak akan mengurangi harta tetapi justru akan menambahnya, baik menambah nominalnya ataupun barakahnya.
  9. Dengan berzakat, seseorang akan terbebas dari ancaman siksaan pedih di Neraka, sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam QS Ali Imran : 180 dan QS At-Taubah : 34 – 35.
  10. Orang yang berzakat, sebagaimana juga yang berinfaq dan bershadaqah, akan dicintai oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Dan hal ini akan mewujudkan eratnya jalinan ukhuwah dalam tubuh masyarakat muslim.

MACAM-MACAM ZAKAT

Dalam Islam, zakat terbagi menjadi dua macam sebagai berikut :

  1. Zakat fitrah, ialah zakat yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim atas nama dirinya dan yang dibawah tanggung jawabnya, pada penghujung bulan Ramadhan, sebelum shalat Idul Fitri, bila yang bersangkutan memiliki kelebihan harta untuk keperluan pada hari itu dan malam harinya. Adapun kadar yang dibayarkan adalah satu sha’ (kurang lebih 2,2 kilogram [atau yang biasa digenapkan menjadi 2,5 kilogram] dari bahan pokok setiap daerah). Menurut sebagian ulama’, zakat fitrah juga bisa ditunaikan dalam bentuk nilai mata uang seharga kadar zakat tersebut, khususnya jika hal itu lebih bermanfaat bagi fakir miskin yang menerimanya. Dan karena keterkaitannya yang lebih kuat dengan diri si pembayar zakat daripada keterkaitannya dengan harta, zakat ini juga dikenal dengan sebutan zakat diri  (zakatul abdaan).
  2. Zakat harta (zakatul amwaal / zakat maal), ialah zakat yang wajib ditunaikan atas kepemilikan harta dengan ketentuan-ketentuan khusus terkait dengan jenis harta, batas nominalnya (nishab), dan kadar zakatnya. Zakat ini disebut dengan zakat maal karena keterkaitannya yang lebih kuat dengan harta daripada keterkaitannya dengan diri pemiliknya. Oleh karena itu, syarat-syaratnya pun lebih banyak yang terkait dengan harta daripada dengan diri pemiliknya.

SYARAT-SYARAT MUZAKKI

  1. Islam
  2. Merdeka (bukan hamba sahaya)

SYARAT-SYARAT HARTA WAJIB ZAKAT

  1. Harta tersebut baik dan halal.
  2. Bersifat produktif, baik secara riil ataupun tidak riil. Dengan demikian, harta yang tidak berkembang dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup pemiliknya tidaklah wajib dizakati, seperti rumah tinggal dengan segala perlengkapannya, kendaraan pribadi, perhiasan yang dipakai secara tidak berlebihan.
  3. Dalam kepemilikan penuh.
  4. Mencapai nishab (batas minimal harta yang dikenakan zakat).
  5. Mencapai haul (berlalu setahun) untuk beberapa jenis harta, seperti emas dan perak, harta perniagaan, dan hewan ternak.
  6. Surplus dari kebutuhan pokok minimal (primer).
  7. Terbebas dari hutang yang jatuh tempo.

CATATAN PENTING : Dua syarat terakhir berlaku jika mengikuti pendapat bahwa zakat diambil dari penghasilan bersih (netto), dan tidak berlaku jika yang diikuti adalah pendapat bahwa zakat diambil dari penghasilan kotor (bruto). Kalau kita kembali pada konsepnya, zakat itu diwajibkan atas orang-orang yang kaya, yakni yang telah sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya dan memiliki kelebihan harta yang telah mencapai nishab. Jika ada orang yang memiliki pendapatan yang telah mencapai nishab, akan tetapi biaya kebutuhan-kebutuhan pokoknya sama atau bahkan lebih besar dari itu, berarti ia bukan orang kaya dan justeru termasuk orang yang kekurangan, sehingga dengan demikian ia tidak wajib berzakat. Karena jika ia diwajibkan berzakat, berarti ia harus membayarnya dari hutang, sehingga hal itu dirasakan memberatkan, sebagaimana yang selama ini banyak terjadi. Dan patut dicatat, bahwa jika zakat diambil dari penghasilan kotor maka bisa jadi seseorang akan tercatat dalam daftar muzakki dan mustahiq sekaligus, sebagaimana yang selama ini juga banyak terjadi. Dan yang demikian ini tidak  dibenarkan, karena muzakki itu orang kaya yang tidak boleh menerima zakat sementara mustahiq itu orang miskin yang tidak wajib membayar zakat*. Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut, pendapat pertama (penentuan nishab berdasarkan pendapatan netto) terlihat lebih kuat. Dan pendapat inilah yang dipilih dan dikuatkan oleh Dr. Yusuf Qardhawi (dalam Fiqhuz Zakah Jilid I hal 151-161, 391-397, 484-486 dan lain-lain) dengan berbagai dalil dan argumentasi. Meskipun, dalam praktek di lapangan ada juga muzakki-muzakki yang secara pribadi tetap memilih pendapat kedua (penentuan nishab berdasarkan pendapatan bruto) karena tingginya semangat mereka untuk berzakat dan juga dengan alasan lebih praktis karena tidak harus susah-susah melakukan penghitungan yang rumit. Tapi ini adalah pilihan pribadi yang tidak  bisa dijadikan landasan penetapan fatwa umum.

GOLONGAN YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

Orang-orang yang boleh dan berhak menerima zakat telah disebutkan oleh Allah secara rinci dalam QS At-Taubah : 60, yaitu sebagai berikut :

  1. Fakir, ialah orang yang tidak memiliki sumber penghasilan atau memilikinya akan tetapi penghasilannya tersebut kurang dari separuh kebutuhannya.
  2. Miskin, ialah orang yang memiliki penghasilan lebih dari separuh kebutuhannya, namun masih belum mencukupi.
  3. ‘Amil, ialah orang yang bertugas mengelola zakat.
  4. Muallaf, ialah orang yang baru saja masuk Islam, atau orang yang sedang diharapkan masuk Islam.
  5. Hamba sahaya.
  6. Orang yang mempunyai hutang.
  7. Fi sabilillah, ialah orang yang sedang berjihad untuk menegakkan agama Allah.
  8. Ibnu sabil, ialah orang yang sedang melakukan perjalanan dan bekal perjalanannya tidak cukup.

CATATAN: Terdapat perbedaan pendapat yang cukup luas dalam menafsirkan istilah “fi sabilillah” sebagai salah satu sasaran pengalokasian zakat. Jumhur ulama membatasi arti “fi sabilillah” pada jihad yang berupa perang fisik melawan orang-orang kafir, sehingga pada pos ini yang berhak menjadi sasaran pengalokasian zakat hanyalah para mujahidin yang sedang berperang saja, menurut pendapat sebagian ulama, atau termasuk juga untuk segala perlengkapan dan kebutuhan perang, menurut sebagian ulama yang lain. Sementara itu ada pendapat lain yang mengartikan kata “fi sabilillah” secara luas meliputi semua bentuk kebajikan, ketaatan dan  pendekatan diri kepada Allah tanpa kecuali. Sehingga menurut pendapat ini, harta zakat boleh dipergunakan untuk kepentingan apa saja yang maslahat, baik dan dalam konteks ketaatan serta kebajikan. Pendapat terakhir ini, menurut hemat kami, tidak cukup kuat, karena tidak sesuai dengan QS. At-Taubah: 60 itu sendiri, yang membatasi pengalokasian zakat pada delapan ashnaaf (sasaran) saja. Pendapat ini juga menjadikan penyebutan kedelapan ashnaaf dalam ayat tersebut seakan-akan tidak berarti, karena tujuh ashnaaf yang lain juga termasuk dalam cakupan “fi sabilillah” dengan makna yang sangat umum dan luas itu. Disamping dengan penafsiran tersebut, zakatpun jadi tidak memiliki perbedaan yang spesifik dan signifikan dari infaq dan shadaqah pada umumnya. Maka berdasarkan alasan-alasan tersebut dan yang lainnya, kami lebih cenderung memilih pendapat pertama, meskipun tidak sepenuhnya, yakni pendapat jumhur yang membatasi pada makna jihad, namun dengan sedikit memperluas cakupan mafhum (pengertian) jihad, sehingga tidak terbatas pada jihad qitali (perang) saja, sesuai dengan pendapat Dr. Yusuf Al-Qardhawi (dalam Fiqhuz Zakah jilid II hal 650-669).

 

GOLONGAN YANG TIDAK BERHAK MENERIMA ZAKAT

  1. Orang kaya, ialah orang yang penghasilannya mencapai nishab setelah dikurangi kebutuhan-kebutuhan pokoknya.
  2. Orang yang mampu dan berpeluang untuk bekerja
  3. 3.      Non muslim, baik harbi maupun dzimmi
  4. Isteri, bapak keatas, ibu keatas, dan anak kebawah
  5. 5.      Keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

TABEL ZAKAT

Jenis Harta

Nishab

Kadar Zakat

Keterangan

Unta

1 – 4 ekor

belum wajib zakat

  • Syarat wajib zakat : setelah mencapai haul (satu tahun)
  • Jika jumlah unta melebihi 120 ekor, maka setiap pertambahan 50 ekor harus dizakati 1 ekor hiqqah dan setiap pertambahan 40 ekor harus dizakati 1 ekor bintu labun.

5 – 9 ekor

1 ekor kambing

10 – 14 ekor

2 ekor kambing

15 – 19 ekor

3 ekor kambing

20 – 24 ekor

4 ekor kambing

25 – 35 ekor

1 ekor bintu makhadh

(unta genap 1 tahun)

36 – 45 ekor

1 ekor bintu labun

(unta genap 2 tahun)

46 – 60 ekor

1 ekor hiqqah

(unta genap 3 tahun)

61 – 75 ekor

1 ekor jadz’ah

(unta genap 4 tahun)

76 – 90 ekor

2 ekor bintu labun

91 – 120 ekor

2 ekor hiqqah

Sapi

1 – 29 ekor

belum wajib zakat

  • Syarat wajib zakat : setelah mencapai haul (satu tahun)
  • Jika jumlah sapi melebihi 120 ekor, maka setiap pertambahan 30 ekor harus dizakati 1 ekor sapi genap 1 tahun dan setiap pertambahan 40 ekor harus dizakati 1 ekor sapi genap 2 tahun.

30 – 39 ekor

1 ekor sapi yang genap 1 tahun

40 – 59 ekor

1 ekor sapi yang genap 2 tahun

60 – 69 ekor

2 ekor sapi yang genap 1 tahun

70 – 79 ekor

1 ekor sapi genap 1 tahun

+ 1 ekor sapi genap 2 tahun

80 – 89 ekor

2 ekor sapi genap 2 tahun

90 – 99 ekor

3 ekor sapi genap 1 tahun

100 – 109 ekor

1 ekor sapi genap 2 tahun

+ 2 ekor sapi genap 1 tahun

110-119 ekor

2 ekor sapi genap 2 tahun

+ 1 ekor sapi genap 1 tahun

120 ekor

3 ekor sapi genap 2 tahun,

atau 4 ekor sapi genap 1 tahun

Kambing

1 – 39 ekor

belum wajib zakat

  • Syarat wajib zakat : setelah mencapai haul (satu tahun)
  • Jika jumlah kambing melebihi 300 ekor, maka setiap pertambahan 100 ekor harus dizakati 1 ekor kambing.

40 – 120 ekor

1 ekor kambing

121 – 200 ekor

2 ekor kambing

201 – 300 ekor

3 ekor kambing

Emas simpanan

85 gram

2,5 persen

Syarat wajib zakat : setelah mencapai haul (satu tahun)

Perak simpanan

595 gram

2,5 persen

Syarat wajib zakat : setelah mencapai haul (satu tahun)

Harta perniagaan

senilai 85 gram emas

2,5 persen

  • Syarat wajib zakat : setelah mencapai haul (satu tahun)
  • Nishab = barang yang ada + laba 1 tahun + piutang yang diharapkan bisa kembali

Hasil tanaman

5 wasaq

= 653 kg BERAS

5 persen jika dengan irigasi, dan  10 persen jika tanpa irigasi

  • Ditunaikan setiap kali panen
  • CATATAN PENTING : Selama ini telah terjadi kesalahan jama’i (oleh hampir semua lembaga amil zakat) dengan menetapkan bahwa nishab hasil tanaman seperti padi misalnya – yang juga kemudian menjadi dasar qiyas bagi penentuan nishab zakat profesi – adalah 5 wasaq (653 kg) berupa gabah kering atau sama dengan 520 kg beras (?). Padahal yang benar adalah 5 wasaq (653 kg) itu sudah berupa beras, karena standar nishab hasil tanaman itu sesudah dibersihkan dari kulitnya. Adapun jika diukur dengan gabah, untuk padi, maka nishab – menurut sebagian ulama – menjadi dua kalinya, yaitu 10 wasaq (1306 kg) gabah, atau disesuaikan dengan realita kadar perselisihan antara beras dan gabah, dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi.  (Lihat masalah ini dalam Fiqhuz Zakah Jilid I hal 371-376 dan Fiqhus Sunnah Jilid I hal 252)

Barang tambang

senilai 85 gram emas

2,5 persen

setiap kali mendapatkan

Harta rikaz (harta karun, temuan dari perut bumi)

tanpa nishab

20 persen

setiap kali menemukan

Hasil profesi

senilai 85 gram emas (qiyas emas)

2,5 persen

akumulasi 1 tahun, bisa dibayarkan setiap bulan atau setiap tahun

senilai nishab hasil tanaman (qiyas hasil tanaman)

2,5 persen

dibayarkan setiap kali mendapatkan

Pendapatan insidental (komisi, bonus, hadiah, hibah, warisan, dan semacamnya)

  • Alternatif I : digabungkan ke hasil profesi dengan nishab seperti diatas.

  • Alternatif II : dizakatkan secara tersendiri jika mencapai nishab emas

2,5 persen

CATATAN PENTING : Ada pendapat bahwa zakat pendapatan insidental seperti hadiah, hibah, dan semacamnya yang bersifat tidak terduga diqiyaskan pada harta rikaz, sehingga kadar zakatnya adalah 20 persen dengan tanpa nishab. Pendapat ini tidak tepat karena pendapatan insidental seperti hadiah dan hibah telah ada semenjak zaman Nabi saw dan para sahabat, sementara tidak ada riwayat bahwa zakatnya seperti zakat harta rikaz. (Lihat Fiqhuz Zakah Jilid I hal 490 – 510)

Tabungan (simpanan)

senilai 85 gram emas

2,5 persen

Syarat wajib zakat : setelah mencapai haul (satu tahun)

Saham

senilai 85 gram emas

2,5 persen

  • Syarat wajib zakat : setelah mencapai haul (satu tahun)
  • Nishab = nilai saham + laba

Benda produktif (rumah yang disewakan, kendaraan yang disewakan, penginapan, pabrik, dan lain-lain)

Pendapat I : senilai 85 gram emas (qiyas emas)

5 atau 10 persen

  • Wajib dizakati penghasilannya saja
  • Dibayarkan setiap kali mendapatkannya atau diakumulasikan dalam kurun waktu tertentu

Pendapat II : senilai nishab hasil tanaman (qiyas hasil tanaman)

5 atau 10 persen

Zakat fitrah

Kelebihan dari kebutuhan pokok dalam sehari semalam Idul Fitri.

1 sha’ = 2,5 kg atau 3,5 liter atau senilai itu dalam bentuk mata uang

Dibayarkan sebelum sholat Idul Fitri

 

 

SISTEM KELEMBAGAAN DALAM PENGELOLAAN ZAKAT

Pada dasarnya, selama memenuhi syarat dan tepat sasaran, maka berzakat melalui lembaga maupun langsung disalurkan sendiri, kedua-duanya boleh dan sah. Namun begitu, sistem kelembagaan dalam pengelolaan zakat tetaplah lebih baik dan lebih utama karena beberapa alasan, antara lain :

  1. Pengelolaan zakat secara kolektif melalui lembaga merupakan alternatif yang lebih dekat dengan sistem ideal pengelolaan zakat dalam Islam. Karena dibawah naungan sistem pemerintahan Islam, zakat dikelola secara kelembagaan formal dari negara dan bersifat kolektif (bukan perorangan).
  2. Sistem kelembagaan lebih praktis dan memudahkan, sehingga semangat, komitmen, dan konsistensi dalam menunaikan kewajiban berzakat tetap terus terjaga.
  3. Lebih terjamin untuk tepat sasaran dalam pengalokasian dibandingkan dengan jika disalurkan sendiri.
  4. Sistem kelembagaan lebih mampu mengelola dan mengalokasikan zakat berdasarkan skala prioritas diantara sasaran-sasaran penyaluran zakat yang banyak jumlahnya dan bermacam-macam golongannya.
  5. Sistem kelembagaan menjadikan kewajiban berzakat sebagai syiar yang akan meningkatkan semangat bagi yang telah berzakat sekaligus memberikan keteladanan dan dorongan bagi yang belum sadar zakat diantara kaum muslimin.
  6. Sistem kelembagaan kolektif lebih efektif untuk menjadikan zakat sebagai basis ekonomi umat karena dana bisa terhimpun dalam jumlah besar dan dialokasikan secara proporsional, hal mana tidak terjadi jika zakat disalurkan secara perorangan.

Adapun kriteria-kriteria lembaga pengelola zakat yang baik antara lain :

  1. Amanah dan terpercaya, baik bagi pihak muzakki (pembayar zakat) maupun mustahiq (penerima zakat).
  2. Profesional dalam manajemen, operasional pengelolaan, maupun jajaran SDM-nya.
  3. Transparan dan memenuhi kriteria standar audit.
  4. Memiliki dewan syariah yang kompeten sebagai pengawal, pengawas, dan rujukan syar’i bagi lembaga dalam menunaikan amanat umat.
  5. Berpengalaman dalam bidang pengelolaan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Waqaf) dari umat dan untuk umat.
  6. Terbukti dan teruji dalam memenuhi kriteria-kriteria diatas.
  7. Memiliki wilayah jangkauan operasional yang luas.
  8. Memenuhi unsur legal formal sebagai lembaga pengelola ZISWAF sehingga akan lebih leluasa dalam berkiprah ditengah-tengah masyarakat.

* Meskipun dalam kondisi yang lain, seseorang bisa saja menyandang predikat muzakki dan mustahiq sekaligus, misalnya amil yang kaya, ibnu sabil yang kaya di kampung halamannya, mujahid fi sabilillah yang kaya, dan dalam kasus zakat fitrah.

_________

Sumber: http://imamuna.wordpress.com/2011/07/25/fiqih-zakat/

Diakses pada tanggal 11 Januari 2012 pukul 18.03 WIB

Keharaman Riba’

Artikel ini membahas tentang keharaman riba’, karena besarnya bahaya riba, bencananya terhadap kaum muslimin dan banyaknya orang yang bermu’amalah dengannya, khususnya di zaman ini yang ketamakan dan kepentingan materi telah manjangkiti kedalam hati banyak manusia sehingga wajib atas orang yang berilmu untuk mengarahkan pena dan perhatiannya dalam menyingkap bahaya dan kerusakan riba.

Dalil-dalil tentang haramnya riba:
Pengharaman riba sudah semenjak dahulu, karena Allah ‘Azza wa Jalla telah mencela orang-orang Yahudi yang bermu’amalah dengannya dan memakan riba.
Allah ‘Azzat ‘Azhomatuhu berfirman:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيراً. وَأَخْذِهِمُ الرِّبا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) telah dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan juga disebabkan karena mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”. (QS. An-Nisa` : 160-161).
Dan riba’ sudah ada di zaman Jahiliyah, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan dalam surah Ar-Rum celaan tentang riba dan memuji zakat, padahal surah Ar-Rum adalah surah Makkiyah. Allah berfirman:

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِباً لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu harapkan wajah Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”. (QS. Ar-Rum : 39)
Dan dalam surah Ali ‘Imran, Allah ‘Azza wa Jalla menyatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبا أَضْعَافاً مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Ali ‘Imran : 130).
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبا لا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah : 275).
Lihat bagaimana jeleknya perumpamaan orang yang makan riba di awal ayat :
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”.
Dan lihat ancaman yang sangat keras terhadap orang yang makan riba setelah mengetahui haramnya pada akhir ayat : “Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Yaitu ia kekal di dalam Neraka kalau memang ia meyakini halalnya riba itu. Sebab siapa yang meyakini halalnya riba berarti ia telah menghalalkan sesuatu yang sangat jelas dan dimaklumi keharamannya dalam syari’at Islam dan itu berarti dia kafir keluar dari Islam.

Dan Allah Jalla Jalaluhu berfirman:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah : 276).
Perhatikan firman-Nya diawal ayat: “Allah memusnahkan riba” yaitu Allah mencabut berkah dari riba itu. Kemudian renungkan dua pensifatan yang sangat jelek di akhir ayat : “Orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. Pelaku riba disebut sebagai orang kafir, maknanya bahwa dosanya sangatlah besar atau bermakna kafir keluar dari Islam bila ia meyakini halalnya riba tersebut.
Dan juga disifatkan sebagai orang yang sangat berdosa, karena bahaya riba itu pada jiwa, harta dan pada yang lainnya.

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. Al-Baqarah : 278-279)
Perhatikan awal ayat : “Hai orang-orang yang beriman“, seruan dengan panggilan keimanan supaya meninggalkan riba. Kemudian ancaman yang sangat keras terhadap orang yang tidak mau meninggalkan riba berupa peperangan dari Allah dan Rasul-Nya. Karena siapa yang tidak mau meninggalkan riba berarti dia adalah musuh Allah dan Rasul-Nya.
Dan perhatikan di akhir ayat, pensifatan pelaku riba dengan bentuk kezholiman yang sangat tercela dalam setiap syari’at.

Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

اِجْتَنِبُوْا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ … فَذَكَرَ مِنْهَا : أَكْلُ الرِّبَا

“Jauhilah tujuh (dosa) yang menghancurkan… lalu beliau menyebutkan diantaranya : makan riba”.
Dan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuma riwayat Muslim:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَال :َ وَهُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan dua saksinya. Dan beliau berkata : mereka semua sama”.
Dalil-dalil di atas sangatlah jelas menunjukkan haramnya riba, karena itu para ulama sepakat tanpa ada perselisihan tentang haramnya riba secara garis besar walaupun dalam sebagian rincian pembagiannya terdapat perselisihan sebagaimana yang akan datang penjelasannya.

Definisi Riba dan Pembagiannya:
Riba secara bahasa adalah bermakna bertambah atau berkembang.
Adapun secara istilah, riba menjadi jelas dan terperinci dengan mengetahui pembagian riba itu sendiri.
Riba dalam rincian secara mendetailnya terbagi dua:
1.    Riba jual beli.
2.    Riba hutang.

Pembagian Riba Jual Beli:
Riba dalam jual beli terbagi dua :
1.    Riba Fadhl.
2.    Riba Nasi`ah.

Riba Fadhl:
Fadhl secara bahasa bermakna tambahan.
Para ulama tidak terlalu berbeda dalam mendefinisikan riba Fadhl. Yang mungkin bisa disimpulkan bahwa riba Fadhl adalah : Penambahan pada salah satu dari dua barang ribawy yang sejenis pada saat transaksi itu juga (kontan).

Penjelasan Definisi:
Barang ribawy maknanya adalah barang yang berlaku padanya hukum riba. Perlu diketahui oleh para pembaca bahwa barang dalam pembahasan riba terbagi menjadi dua :

  • Barang ribawy. Jenis barang yang telah disepakati oleh para ulama tentang berlakunya hukum riba padanya yaitu : emas, perak, gandum, korma, sya’ir (jewawut yaitu sejenis gandum) dan garam. Adapun selain dari enam ini, apakah ada barang yang tergolong barang ribawy, akan datang penjelasannya secara terperinci.
  • Barang ghairu ribawy (selain ribawy), yaitu yang tidak berlaku padanya hukum riba. Seperti : kain, baju, batu dan lainnya.

Contoh riba Fadhl :
Seperti emas 2 gr ditukar dengan emas 3 gr, korma 2 kg ditukar dengan korma 3 kg.
Contoh di atas terhitung riba Fadhl sebab ada penambahan pada salah satu dari dua barang yang sejenis. Sedangkan emas dan korma termasuk barang ribawy.
Adapun kalau emas ditukar dengan korma maka boleh ada penambahan karena emas tidak sejenis dengan korma walaupun keduanya tergolong barang ribawy.
Dan demikian pula bila sebuah baju ditukar dengan tiga baju, walaupun sejenis namun tidaklah terhitung riba Fadhl karena baju bukan barang ribawy.

Dalil-dalil pengharaman riba Fadhl:
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

لاَ تَبِيْعُوْا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ وَلاَ تُشِفُّوْا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ. وَلاَ تَبِيْعُوْا الورق بالورق إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ وَلاَ تُشِفُّوْا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلاَ تَبِيْعُوْا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali semisal dengan semisal dan jangan kalian lebihkan sebagiannya di atas sebagian yang lain. Janganlah kalian menjual perak dengan perak kecuali semisal dengan semisal dan jangan kalian lebihkan sebagiannya di atas sebagian yang lain. Dan jangan kalian menjual yang tidak ada dengan (sesuatu) yang telah siap”.

Dan dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ, وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ, وَالْبرُ ُّبِالْبرُ,ِّ وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ, وَالتَّمَرُ بِالتَّمَرِ, وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ, مِثْلاً بِمِثْلٍ, سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ, يَدًا بِيَدٍ, فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيْعُوْا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ.

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, korma dengan korma dan garam dengan garam. Semisal dengan semisal, sama dengan sama, tangan dengan tangan. Kalau jenis-jenis ini berbeda maka juallah sesuka kalian kalau tangan dengan tangan (maksudnya langsung dipegang/kontan, pen)”.

Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ, مِثْلاً بِمِثْلٍ. وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلاً بِمِثْلٍ. فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبَا.

“Emas dengan emas setimbang dengan setimbang, semisal dengan semisal. Perak dengan perak setimbang dengan setimbang, semisal dengan semisal. Maka siapa yang menambah atau minta tambah maka itu adalah riba”.

Tiga hadits di atas dan banyak lagi hadits lainnya tegas menunjukkan haramnya riba fadhl, secara khusus pada enam jenis barang ribawy yang tersebut dalam hadits. Karena itu telah terjalin kesepakatan di kalangan para ulama tentang haramnya memberi tambahan pada salah satu dari dua barang ribawy yang sejenis dari enam jenis barang di atas.

Tapi di sini ada dua syubhat (kerancuan) yang dijadikan pegangan oleh sebagian orang dari kalangan orang yang datang belakangan guna menghalalkan riba Fadhl :
Syubhat Pertama: Dalam Shahih Muslim dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

لاَ رِبَا إِلاَّ النَّسِيْئَةَ

“Tidak ada riba kecuali dalam Nasi`ah”.
Kata mereka: “Ini menunjukkan bahwa tergolong riba yang haram hanyalah riba nasi`ah, berarti riba Fadhl itu halal”.

Syubhat Kedua: Ada riwayat dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, bahwa keduanya berpendapat akan bolehnya riba Fadhl.

Sebenarnya berpegang dengan dua syubhat diatas bagaikan bergantung pada sesuatu yang lebih lemah dari sarang laba-laba. Namun untuk rincinya, dua syubhat ini akan dibantah sebagai berikut:
Syubhat pertama dijawab dengan enam jawaban:
Jawaban Pertama: Hadits Usamah adalah hadits yang Mansukh (terhapus hukumya) oleh hadits-hadits yang menunjukkan haramnya riba Fadhl. Dan diantara perkara yang menunjukkan mansukhnya adalah kesepakatan para ulama untuk tidak beramal dengan hadits tersebut.

Jawaban Kedua: Pernyataan “Tidak ada riba kecuali dalam Nasi`ah”, ini berlaku apabila barangnya berbeda jenis. Misalnya : emas ditukar dengan perak, korma ditukar dengan gandum dan seterusnya. Dalam keadaan ini memang boleh melebihkan jenis barang bila ditukar dengan jenis lainnya, seperti emas 1 gr ditukar dengan perak 10 gr dan seterusnya. Dan yang terlarang dalam keadaan ini hanyalah riba nasi`ah.
Hadits Usamah diarahkan kepada pengertian ini sebab hadits Usamah adalah umum dan ada hadits secara khusus melarang riba Fadhl, sedangkan kaidah di kalangan para ulama’: “yang khusus lebih didahulukan dari yang umum”.

Jawaban Ketiga: Keterangan dalam hadits Usamah adalah global (tidak terperinci), sedang hadits-hadits tentang haramnya riba Fadhl datang secara terperinci. Maka kaidahnya, “yang dipakai beramal adalah keterangan terperinci dan yang global dibawa pengertiannya kepada yang terperinci”.

Jawaban Keempat: Hadits Usamah dari riwayat satu orang shahabat saja sedang hadits tentang haramnya riba Fadhl dari banyak shahabat. Maka yang banyak lebih kuat dari riwayat satu orang saja.

Jawaban Kelima:  Makna “Tidak ada riba kecuali dalam Nasi`ah”, yaitu tidak ada riba yang lebih besar dosa dan bahayanya dari riba nasi`ah. Bukanlah pembatasan bahwa riba itu hanya dalam hal nasi`ah. Dan makna yang seperti ini dikenal di kalangan orang Arab. Seperti orang Arab berkata : “Tidak ada alim di negeri itu kecuali Zaid”. Padahal ada orang-orang alim selain Zaid. Yang mereka inginkan bahwa tidak ada yang keilmuannya menandingi Zaid.

Jawaban Keenam: Mengatakan bolehnya riba Fadhl dari hadits Usamah diambil dari dalalatul mafhum (pemahaman kebalikan dari hadits/pemahaman tersirat). Sedang pernyataan haramnya riba Fadhl dalam hadits-hadits selain hadits Usamah diambil dari dalalatul manthuq (Pemahaman dari konteks hadits/pemahaman tersurat). Dan kaidah berbunyi bahwa “Dalalathul manthuq lebih didahulukan dari dalalathul mafhum”.

Adapun syubhat kedua, jawabannya bahwa pendapat tentang boleh riba Fadhl dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas adalah dari ijtihad beliau berdua. Karena itu, ketika sampai kepada beliau berdua hadits Rasululullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tentang haramnya riba Fadhl maka beliau berdua ruju’ (kembali) dari pendapatnya.

Maka dengan ini rontoklah setiap syubhat yang dipakai untuk membolehkan riba Fadhl dan telah jelas syahnya kesepakatan para ulama tentang haramnya riba Fadhl.

Hukum penambahan dalam transaksi dua barang ribawy sejenis namun berbeda mutu.
Misal: 1 gr emas 23 karat ditukar dengan 2 gr emas 21 karat.
Nampak dari uraian tentang haramnya riba fadhl bahwa tidak boleh melebihkan sesuatu apapun kalau barangnya sejenis, apakah mutunya sama atau berbeda.
Dan ini lebih dipertegas lagi dalam Hadits Abu Sa’id dan Abu Hurairah riwayat Al-Bukhary dan Muslim:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَهُ بِتَمْرٍ جَنِيْبٍ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ : (( أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا ؟ )) قَالَ : لَا, وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّا لَنَأْخَذُ الصَّاعَ مِنْ هَذَا بِالصَّاعَيْنِ وَالصَّاعَيْنِ بِالثَّلَاثَةِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ : (( لَا تَفْعَلْ, بِعْ الْجَمْعَ بِالدَّرَاهِمِ ثُمَّ ابْتَعْ بِالدَّرَاهِمِ جَنِيْبًا )).

“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mempekerjakan seorang di Khaibar. Maka datanglah dia kepada beliau membawa korma Janib (korma dengan mutu sangat baik) maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bertanya : “Apakah semua korma Khaibar seperti ini ? ia menjawab : “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, kami mengganti satu sho’ dari (korma Janib) ini dengan dua sho’ (dari korma jenis lain) dan dua sho’nya dengan tiga sho’. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : Jangan kamu lakukan seperti itu, juallah semua dengan dirham (mata uang perak) lalu dengan dirham itu belilah korma Janib.”

Berkata Imam Asy-Syaukany : “Dan hadits (ini) menunjukan bahwa tidak boleh menjual (barter) jenis yang jelek dengan yang baik dalam bentuk ada penambahan, dan ini adalah perkara yang disepakati, tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama tentangnya”.
Dan di akhir hadits di atas, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memberikan jalan keluar yang bersih dan bebas dari riba untuk segala bentuk tukar menukar yang semisal dengan masalah penukaran korma di atas.
Demikian pula misalnya emas 1 gr 23 karat ditukar dengan 2 gr 21 karat, setelah mengetahui tidak bolehnya penukaran seperti ini, maka jalan keluarnya emas 23 karat ditukar dengan uang dahulu atau selain jenis emas kemudian dengan uang itu ia membeli emas 21 karat dan begitu seterusnya. Wallahul Muwaffiq.

Barang-barang yang tergolong ribawy:
Para ulama sepakat bahwa emas, perak, gandum, korma, sya’ir dan garam adalah barang ribawy berlaku padanya hukum-hukum riba.

Maka apakah ada barang ribawy selain emas jenis di atas?
Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang hal ini:
Pertama : Pengharaman riba hanya terbatas pada enam jenis ini. Ini pendapat Thawus, ‘Utsman Al-Butti, Qotadah, Abu Sulaiman, Ibnu Hazm Azh-Zhohiry dan Ibnu ‘Aqil Al-Hanbaly serta dikuatkan oleh Ash-Shon’any dalam Subulus Salam.
Kedua : Pengharaman riba tidak terbatas pada enam ini saja, tapi juga pada jenis-jenis barang lain yang semakna dalam ‘illatnya (sebabnya). Dan ini adalah pendapat jumhur ulama termasuk didalamnya Imam empat.

Tarjih:
Tiada keraguan bahwa yang kuat adalah pendapat yang kedua sebagaimana yang dikuatkan oleh ulama terkenal dari dulu sampai sekarang. Ada beberapa dalil yang menguatkan pendapat ini.
1.    Hadits Ma’mar bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ

“Makanan dengan makanan, semisal dengan semisal.”
Maksudnya : Kalau menukar makanan dengan makanan maka harus harus semisal tidak boleh melebihkan.
Sisi pendalilan : Konteks hadits dengan lafazh “makanan” dan kalimat “makanan” adalah umum sehingga tercakup didalamnya makanan selain dari yang terhitung pada enam jenis di atas.

2.    Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمُزَابَنَةِ, أَنْ يَبِيْعَ تَمْرَ حَائِطِهِ إِنْ كَانَ نَخْلًا بِتَمْرٍ كَيْلًا وَإِنْ كَانَ كَرْمًا أَنْ يَبِيْعَهُ بِزَبِيْبٍ كَيْلًا وَإِنْ كَانَ زَرْعًا أَنْ يَبِيْعَهُ بِكَيْلِ طَعَامٍ, نَهَى عَنْ ذَلِكَ كِلِّهِ

“Rasulullah melarang dari al-Muzabanah (yaitu) seseorang menjual buah kebunnya, apabila pohon korma (maksudnya Ruthob yaitu korma yang belum matang) untuk (dijual/ditukar) dengan korma (matang) setakaran, apabila anggur untuk dijual dengan kismis setakaran dan apabila tanaman untuk dijual dengan setakar makanan, (Nabi) melarang dari hal itu semua.”
Sisi pendalilan : Hadits ini menunjukan bahwa hukum riba juga berjalan pada karam (anggur) dan kismis (anggur yang di keringkan) dan keduanya tidak termasuk dari enam jenis.

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa barang ribawy tidak terbatas pada enam jenis barang saja tapi juga pada barang lainnya yang mempunyai ‘illat yang semakna dengannya.

Tapi apakah ‘illat (sebab) yang menjadikan barang ribawy di atas dianggap sebagai barang yang berlaku padanya hukum riba ?.
Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, kami ringkas dengan kesimpulan sebagai berikut:

‘Illat barang ribawy yang telah berlalu penyebutannya terbagi dua :
Pertama : ‘Illat pada emas, perak dan yang sejenisnya.
Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang ‘illat emas dan perak ini.
Satu : ‘Illatnya adalah karena ditimbang. Ini pendapat Abu Hanifah dan Ahmad dalam satu riwayat.
Jadi menurut pendapat ini emas dan perak itu termasuk barang ribawy karena emas dan perak masuk dalam katagori barang yang ditimbang dalam transaksi jual beli. Berati menurut pendapat ini hukum riba juga berlaku pada logam, besi dan lain-lainnya karena ‘illatnya sama yaitu ditimbang. Dan juga menurut pendapat ini uang kertas yang dipakai di zaman ini tidak berlaku padanya hukum riba karena kertas tidaklah ditimbang.
Dua: ‘Illatnya adalah karena Muthlaquts Tsamaniyah yaitu mempunyai nilai tukar dalam transaksi jual-beli. Pendapat ini adalah salah satu riwayat dari Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim dan ini yang dipegang oleh banyak ulama di zaman ini seperti dalam keputusan Hai`ah Kibar Ulama` Saudi Arabiah pimpinan Syaikh Ibnu Bazz dan juga keputusan beberapa Majma’ Fiqh (kumpulan/persatuan fiqh) tingkat Internasional dan ini pendapat yang kuat dalam masalah ini.
Maka menurut pendapat ini uang kertas, uang logam dan lainnya termasuk barang ribawy karena semakna dengan emas dan perak dalam ‘illat sebagai barang yang punya nilai tukar dalam transaksi jual-beli. Dan menurut pendapat ini besi, logam, kuningan dan lainnya, tidaklah termasuk barang ribawy karena bukan sebagai barang yang mempunyai nilai tukar dalam transaksi jual-beli.

Kedua : ‘Illat gandum, sya’ir, korma, garam dan yang sejenisnya.
Ada beberapa pendapat di kalangan para ulama dalam menentukan ‘illat yang menyebabkannya termasuk barang ribawy.
Dan pendapat yang paling kuat bahwa ‘illatnya adalah karena bisa dimakan dan ditakar atau bisa dimakan dan ditimbang. Ini adalah pendapat lama dari Imam Asy-Syafi’iy dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Dan ini yang di kuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan beberapa ulama di zaman ini.
Jadi menurut pendapat ini, ‘illat gandum, sya’ir, korma, garam dan yang sejenisnya adalah kadang karena bisa dimakan dan ditakar dan kadang karena bisa dimakan dan ditimbang. Perbedaan antara takaran dan timbangan, takaran adalah penentuan kadar sesuatu dengan ukuran isinya seperti Sho’ (ukuran empat Mud), Mud (ukuran senilai dua telapak tangan sedang tidak kecil tidak pula lebar), liter dan lain-lainnya sedang timbangan adalah penentuan kadar sesuatu dengan ukuran berat atau ringannya seperti kilo dan sejenisnya.
Contoh : Daging. Barang ribawy karena bisa dimakan dan ditimbang (dikilo).
Contoh lain : Gula. Barang ribawy karena bisa dimakan dan ditakar (diliter).
Contoh lain : Durian. Bukan barang ribawy. Walaupun durian itu dimakan namun ia tidaklah ditimbang dan tidak pula ditakar melainkan dijual secara hitungan.

Riba Nasi’ah.

Nasi’ah secara bahasa bermakna mengakhirkan. Seperti dalam firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan-bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang kafir dengan mengundur-undurkan itu.” (QS. At-Taubah : 37)
Dan secara istilah, riba Nasi`ah adalah menjual dua jenis barang yang sama dalam ‘illat riba fadhl dengan tidak secara kontan.

Contoh : seseorang membeli emas dengan harga 2 juta. Satu juta telah dibayar langsung dan satu juta lain pada bulan depan.
Ini termasuk riba Nasi`ah karena emas dan uang keduanya satu ‘Illat yaitu sama-sama memiliki nilai tukar. Maka transaksi harus secara kontan selesai dalam majelis itu.

Contoh lain : 1 kg beras ditukar dengan 2 kg garam. Satu kilo garam telah diserahkan dan satu kilo lagi di waktu lain.
Ini juga termasuk riba Nasi`ah karena pembayaran tidak kontan, padahal beras dan garam semakna dalam ‘illat yaitu kerena ditimbang atau dikilo dan bisa dimakan.

Adapun kalau ‘illatnya berbeda maka tidak harus kontan.
Contoh : Seseorang membeli korma 100 kg dengan harga Rp. 300.000,-, Rp. 200.000,- telah dibayar dan Rp. 100.000,- lagi dilunasi bulan depan. Contoh ini tidak termasuk riba sebab korma dan uang berbeda ‘illatnya.

Dalil Tentang Haramnya Riba Nasi`ah:
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

لاَ رِبَا إِلاَّ النَّسِيْئَةَ

“Tidak ada riba kecuali dalam Nasi`ah”. (HR. Muslim)

Dan dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيْعُوْا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Kalau jenis-jenis ini berbeda maka juallah sesuka kalian kalau tangan dengan tangan (maksudnya langsung dipegang/kontan, pen)”.

Kesimpulan Dari Riba Jual Beli:
Dari pembahasan riba Fadhl dan riba Nasi`ah mungkin bisa ditarik beberapa kesimpulan sebagai pijakan dan patokan dalam riba jual beli :

1.    Apabila ada dua barang ribawy sama dalam jenis dan ‘illatnya maka ketika terjadi penukaran antara satu jenis dengan yang lainnya maka disyaratkan padanya dua perkara ; Harus semisal dan sama dan harus saling pegang dan saat itu juga (kontan). Kapan tidak semisal dan sama maka itu terhitung riba Fadhl dan kapan tidak lansung pegang dan tidak kontan maka itu terhitung riba Nasi`ah.
Contoh : Mengganti emas dengan emas. Disyaratkan harus semisal dan sama dan harus kontan ketika terjadi penukaran.
Contoh lain : Menukar beras dengan beras. Disyaratkan harus semisal dan sama dan harus kontan ketika terjadi penukaran. Kapan dilebihkan maka terhitung riba Fadhl dan kapan ada pengunduran waktu dalam penyerahan maka itu terhitung riba Nasi`ah

2.    Dua barang ribawy yang sama dalam ‘illatnya namun berbeda jenisnya, maka dalam penukaran antara satu jenis dengan yang lainnya disyaratkan harus saling pegang dan saat itu juga (kontan) saja.
Contoh : Beras dan gula. Keduanya adalah barang ribawy dan ‘illatnya sama yaitu bisa dimakan dan ditakar (diliter) namun keduanya berbeda jenis. Apabila beras 20 liter ditukar dengan gula 30 liter maka itu hukumnya boleh tapi dengan syarat harus saling pegang dan saat itu juga (kontan).
Contoh lain : Penukaran Riyal (mata uang Arab Saudi) dengan Rupiah. Keduanya adalah barang ribawy dan ‘illatnya sama yaitu mempunyai nilai tukar (Muthlaquts Tsamaniyah) namun Riyal adalah satu jenis mata uang dan Rupiah adalah jenis mata uang lain. Andaikata Rs 1000,- di tukar dengan Rp 2.500.000,- maka hukumnya boleh. Tapi tidak boleh dikatakan –misalnya- : “Berikan Rs 1000,- sekarang dan tiga hari lagi Rp 2.500.000,- saya akan serahkan”, sebab itu artinya tidak harus saling pegang dan tidak saat itu juga (kontan) dan secara otomatis terhitung riba Nasi`ah.

3.    Apabila ada dua barang ribawy berbeda ‘illatnya maka tidak disyaratkan apa-apa ; boleh ada tambahan dan boleh tidak kontan.
Contoh : Korma ditukar dengan gula. Keduanya adalah barang ribawy namun ‘illatnya berbeda, korma ‘illatnya adalah dimakan dan ditakar sedang gula ‘illatnya adalah dimakan dan ditimbang.
Contoh lain : Membeli beras dengan uang rupiah. Keduanya adalah barang ribawy namun ‘illatnya berbeda, beras ‘illatnya adalah dimakan dan ditimbang (diliter) sedang uang rupiah ‘illatnya adalah mempunyai nilai tukar (Muthlaquts Tsamaniyah).
Maka dua contoh diatas, boleh ada pelebihan dan boleh tidak kontan.

4.    Apabila ada dua barang bukan ribawy maka boleh semuanya ; Boleh adanya pelebihan dan boleh tidak saling pegang dan dan saat itu juga (kontan).

Riba Hutang Dan Pembagiannya

Riba dalam hutang terbagi dua :
1.    Riba Jahiliyah
2.    Riba Hutang
Sebagian ulama menghitung riba jahiliyah masuk dalam bagian riba Nasi`ah. Dan Riba hutang juga oleh sebagian ulama dimasukkan ke dalam bagian riba Fadhl dan sebagian ulama lainnya menjadikannya sebagai bagian dari jenis riba yang tiga bersama riba Nasi`ah dan riba Fadhl. Namun pembagian-pembagian ini tidaklah merubah hakikat dan pengertian dari setiap dari jenis riba tersebut.

Riba Jahiliyah
Disebut sebagian riba jahiliyah karena ini yang merupakan asal riba pada jahiliah. Bentuknya : Apabila ada yang berhutang pada seseorang sampai waktu tertentu, pada saat tiba waktunya, datanglah pemilik hutang lalu berkata kepada orang yang berhutang kepadanya : “Kamu lunasi atau riba (yaitu kamu memberi tambahan karena kelonggaran waktu yang diberikan padamu)”.

Dan riba seperti ini adalah haram menurut kesepakatan ulama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ

“Dan jika (oerang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah penangguhan sampai dia berkelapangan.”

Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala mendustakan orang-orang musyrikin ketika mereka mengatakan bahwa jual beli itu sama dengan riba dalam Tanzil-Nya:

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Riba Hutang
Bentuknya : Seseorang meminjamkan sesuatu dan mensyaratkan agar dikembalikan lebih baik darinya atau mensyaratkan mengambil manfaat karenanya. Riba hutang ini disebut oleh para ulama dalam satu kaidah yang berbunyi:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا

“Setiap pinjaman yang menyebabkan manfaat maka itu adalah riba.”
Contoh : Seseorang meminjam uang sebanyak 1 juta tapi dengan syarat dikembalikan 1,5 juta.
Cotoh lain : seseorang meminjam pinjaman tapi pemilik pinjaman mensyaratkan agar ia dipinjami mobil atau dikontrakkan untuknya atau ia dinikahkan dengan putrinya dan seterusnya.
Riba Hutang hukumnya adalah haram menurut kesepakatan para ulama, dalil-dalil yang telah berlalu penyebutannya tentang haramnya riba juga mencakup riba hutang ini.
Dan telah dinukil dari beberapa orang sahabat mengenai pengharaman riba hutang ini, para sahabat itu adalah : ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin Salam, Ubay bin Ka’ab, Ibnu ‘Abbas dan Fudholah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhum.

Dari uraian di atas mungkin muncul satu pertanyaan : “Kalau peminjam memberi hadiah/manfaat kepada pemilik pinjaman, apakah itu termasuk riba?”
Jawab:
Kalau pemilik pinjaman mensyaratkan adanya hadiah itu maka hal tersebut termasuk riba hutang sebagaimana yang telah dijelaskan. Adapun kalau pemilik pinjaman tidak mesyaratkan dan tidak pula meminta lalu peminjam memberikan padanya hadiah/manfaat, maka tidak lepas dari dua keadaan :
Pertama : Pemberian hadiah/manfaat tersebut setelah pinjaman lunas atau saat melunasi. Bentuk seperti ini hukumnya adalah boleh berdasarkan hadits Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Yang paling baik diantara kalian adalah yang terbaik dalam membayar (hutang).”

Dan dalam Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ لِيْ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَقَضَانِيْ وَزَادَنِيْ

“Saya datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan beliau ada berhutang kepadaku. Maka beliau melunasinya kepadaku dan menambah untukku.”

Kedua: Pemberian hadiah/manfaat sebelum pinjaman lunas.
Hukumnya tidak boleh dan tergolong ke dalam pinjaman yang menyebabkan datangnya manfaat (riba hutang) kecuali kalau sebelumnya memang antara pemilik pinjaman dan si peminjam ada kebiasaan saling memberi hadiah.

Demikian kesimpulan masalah ini, kami sarikan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Ibnul Qayyim, Syaikh Sholeh Al-Fauzan dan lain-lainnya.

Wallahu A’lam

_________

Sumber: http://jihadsabili.wordpress.com/category/uncategorized/

Diakses pada tanggal 7 Januari 2012 pukul 16.26 WIB