“Wabah” Ulat Bulu (dalam Tinjauan Berpikir Filsafat)

Tahun 2010, hujan memang turun berkepanjangan tanpa ada kemarau sedikitpun. Dalam kondisi seperti ini, siklus hidup kupu-kupu bertahan di lingkungan yang benar-benar basah. Tahun lalu, kupu-kupu bisa hidup di semua lingkungan, karena hampir tak ada kemarau.

Belakangan ini siklus alam secara normal memang terganggu akibat pemanasan global yang disebabkan oleh pembakaran BBM dan batu bara yang berlebihan. Selain itu predator alami ulat, terutama spesies kepik, juga ikut terbasmi oleh pestisida pabrikan yang massal. Penangkapan burung untuk tujuan komersial pun ikut memicu peningkatan populasi ulat. Burung perenjak dan coblek, misalnya selama ini menjadi pemangsa ulat adalah komoditas yang bernilai tinggi.

Dampak dari kondisi ini, pertumbuhan vegetatif tanaman tidak terhenti dan pertumbuhan generatif justru terganggu. Akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011, tak ada panen raya mangga, durian, rambutan, manggis, dan lain-lain. (F. Rahadi, Kompas, 19 April 2011).

Peneliti serangga (entomolog) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Saputa, mengatakan, ulat bulu yang menyerang Gunung Kidul, yaitu ulat bulu tahun dan ulat kipat (criculatrifenestrata). Ledakan populasi ulat bulu di Gunung Kidul, Yogyakarta dan Pacitan, Jawa Timur, dipengaruhi oleh kelembaban tinggi akibat hujan sporadis yang masih sering terjadi. Secara umum, populasi ulat bulu tidak terjadi saat musim kemarau.

Hujan yang mendukung kelembaban tinggi yang mendukung ledakan populasi ulat bulu. Selain itu ledakan populasi juga akibat berkurangnya musuh alami ulat termasuk lebah. Pada musim kemarau yang disertai banyak hujan, populasi lebah tidak bisa berkembang biak. Salah satu pemangsa ulat bulu di Gunung Kidul adalah lebah tabuhan raksasa (Vespa mandirinia) yang berukuran paling besar dari lebah lain. (Hari Sutrisno, Kompas, 30 Mei 2011).

Wabah yang kemudian meluas ke berbagai kawasan di Jawa, kalimantan, dan Sumatera itu oleh masyarakat “awam” sempat dihubungkan dengan unsur-unsur mitos. Wabah tersebut dianggap sebagai musibah yang bermuatan “laknat” atau “kutukan” sebagai bentuk hukuman yang ditimpakan Tuhan.

Tanggapan:

Menaggapi permasalahan di atas, menurut saya hal ini terjadi sebagai dampak dari kerusakan alam yang diakibatkan oleh ulah perbuatan manusia. Sebagai manifestasinya, kerusakan ini kemudian berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem alam, contohnya rantai makanan, perubahan iklim cuaca dan musim, serta proses alamiah kehidupan adalah beberapa bentuk ekosistem alam yang berjalan sesuai dengan sunnatullah yang diberlakukan oleh Sang Maha Pencipta. Dalam sunnatullah ini berlaku hukum kausalitas (sebab-akibat), maka dalam hal ini terdapat suatu sistem yang saling berkaitan antara satu dan lainnya. Ketika sistem itu terganggu atau bahkan rusak, maka keteraturan sistem itu akan berubah dan berujung kepada kehancuran alam itu sendiri, sebagai contoh dalam hal ini adalah kasus hama ulat bulu di atas.

Sebagai penjabaran dari ungkapan tersebut adalah kerusakan alam akibat ulah manusia mulai dari yang bersifat struktural, institusional, dan kultural. Pada tingkat struktural yang paling menonjol adalah strategi pembangunan (sarana prasarana) dan industrialisasi yang eksploitatif, tidak mengindahkan keselarasan bahkan menimbulkan kerusakan alam dan kesenjangan sosial yang menyengsarakan kehidupan manusia. Pada tingkat institusional, kerusakan alam dikarenakan berbagai perangkat kelembagaan yang rentan lemah, tidak terkoordinasi dan cenderung korup. Sedangkan dalam tingkat kultural, terjadinya kerusakan lingkungkan dikarenakan rendahnya kesadaran dan perilaku ramah lingkungan. Hal ini disebabkan antara lain karena menjamurnya budaya pragmatis dan hedonis dalam kehidupan masyarakat dalam skala universal.

Untuk mempertegas pemahaman tersebut, hal ini sesuai dengan ungkapan Allah Swt dalam Surat Ar-Ruum ayat 41, Allah Swt berfirman yang artinya:

“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Sementara itu, tanpa mengesampingkan kajian dari sisi ilmiah, berdasarkan catatan sejarah yang terdapat di dalam Al-Quran, hal serupa juga pernah terjadi pada masa Fir’aun (Rhamses II) dan kaumnya pada zaman kenabian Musa AS dan Harun AS sebagai bentuk kemurkaan Allah Swt atas dosa, kemunkaran, penyalahgunaan wewenang kekuasaan, serta pembangkangan terhadap seruan Allah Swt melalui Musa AS dan Harun AS. sebagaimana diabadikan dalam Surat Al-A’raf ayat 130-133, Allah Swt berfirman:

Artinya:  “(130). dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. (131). kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami.” dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (132). Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu,” (133). Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”

Azab (hukuman) yang ditimpakan oleh Allah Swt kepada Fir’aun dan kaumnya ini berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar. Adapun puncak dari kemurkaan Allah Swt itu adalah kemusnahan massal terhadap Fir’aun dan kaumnya dengan dihimpit dan ditenggelamkan di laut.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa populasi hewan yang tidak terkendali yang kemudian meresahkan manusia dalam konteks ayat di atas adalah diantara bentuk kemurkaan Allah Swt yang ditimpakan-Nya kepada manusia yang menyimpang dari ketentuan-Nya sebagai bentuk teguran (peringatan), atau bahkan azab (hukuman) yang nyata.

Tinjauan Berpikir Filsafat

Sedangkan jika ditinjau dari sudut pandang berpikir ilmiah, permasalahan di atas dapat dirumuskan melalui pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Dalam kajian ontologis, secara umum ulat merupakan makhluk hidup yang mengalami metamorfosis (perubahan bentuk dalam siklus hidupnya). Dimulai dari telur, menetas menjadi larva (ulat), kepompong dan kupu-kupu. Pada fase menjadi larva inilah mereka akan makan daun sebanyak-banyaknya sebelum berhenti makan ketika menjadi kepompong[1]. Siklus hidup ulat bulu sebelum menjadi kupu-kupu dapat digambarkan sebagai berikut:

Ulat bulu bukanlah spesies yang dapat mengancam kehidupan manusia, kendati pun demikian, dalam beberapa kasus, ulat bulu dapat menyebabkan gatal-gatal dan iritasi pada permukaan kulit yang sensitif. Walaupun tidak mengancam kehidupan manusia, dalam skala besar sebagaimana contoh kasus di atas, ledakan populasi ulat bulu yang tidak terkendali dapat menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Gundulnya pohon atau tanaman yang ditanam masyarakat akibat dimakan ulat bulu dan merambahnya ulat bulu ke pemukiman warga yang memenuhi dinding dan lantai rumah adalah diantara keresahan masyarakat akibat ledakan populasi ulat bulu yang tidak terkendali.

Dalam kaitannya dengan kajian epistemologis, ledakan populasi ulat bulu yang tidak terkendali tersebut terjadi karena banyak faktor, curah hujan yang tinggi sebagai dampak dari pemanasan global, hilangnya predator alami ulat bulu (burung, semut keranggang, kepik, kelelawar, tokek, lebah, dll) akibat perburuan dan penanggulangan hama melalui pestisida adalah faktor penyebab terjadinya masalah ini. Kalau dicermati secara seksama, pada hakikatnya penyebab utama dalam masalah ini adalah ulah perbuatan manusia yang telah merusak alam seisinya ini.

Rasionalisasinya bahwa perubahan iklim yang tidak menentu terjadi karena pemanasan global yang sistemik, mulai dari penggundulan hutan, ekspoitasi terhadap sumber daya alam yang berlebihan, pembangunan dan industrialisasi yang tidak ramah lingkungan, serta efek rumah kaca, yang kesemuanya adalah hasil perbuatan manusia (yang serakah dan tidak bermoral). Selanjutnya, perburuan terhadap predator alami ulat bulu seperti burung, lebah, kelelawar, tokek dan semut keranggang (telurnya) secara besar-besaran marak dilakukan dengan tujuan konsumsi ataupun karena nilai ekonomis di pasaran yang menjanjikan, di samping juga akibat pestisida dan insektisida terhadap hewan predator alami pemangsa ulat bulu di lahan pertanian dan perkebunan. Hal inilah yang kemudian memicu terputusnya rantai makanan terhadap ulat bulu yang pada akhirnya terjadilah populasi ulat bulu yang tidak terkendali tersebut.

Dari sudut aksiologi, dapat dipahami secara jelas bahwa pada dasarnya segala ciptaan Allah Swt diciptakan berdasarkan fungsi masing-masing sebagai pelestari terhadap alam melalui keseimbangan dan ketentuannya masing-masing. Ketika terjadi ketidakseimbangan dalam kuantitas dan kualitas makhluk ciptaan itu, maka tentu ini akan berdampak kepada kerusakan alam itu sendiri.

Menurut Hidayat Soesilo Hadi, Kepala Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi, UGM, Yogyakarta, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam penanganan serangan hama (termasuk dalam hal ini adalah wabah ulat bulu), yaitu regulasi, limitasi, dan stabilitas (RLS)[2]. Pada tahap regulasi, ulat bulu mulai muncul pada suatu ekosistem. Hal yang harus dilakukan pada tahap ini adalah berusaha mengendalikan populasi ulat bulu agar tumbuh dengan normal. Langkah yang dilakukan dengan menjaga rantai makanan yang ada jangan sampai rusak. Pada tahap kedua, limitasi, pertumbuhan ulat bulu dibatasi jumlahnya sehingga tidak meledak menjadi wabah. Langkah yang dilakukan dengan membasmi ulat bulu menggunakan cara-cara yang tidak merusak atau membahayakan ekosistem, bisa juga menggunakan insektisida berdaya rendah atau memusnahkannya dengan cara manual seperti dikubur atau dibakar. Pada tahap ketiga, stabilitas, populasi ulat bulu dan populasi predatornya harus dijaga keseimbangannya. Langkah yang dilakukan bisa dengan menanam pohon, memelihara burung, tidak melakukan perburuan burung, tidak merusak hutan, dan langkah-langkah preventif lainnya.


[1] Fadil Abidin, Wabah Ulat Bulu dan Rusaknya Ekosistem, http://www.analisadaily.com /news/read/2011/07/03/4539/wabah_ulat_bulu_dan_rusaknya_ekosistem/#.UKX5hmdqz7s, diakses tanggal 16 November 2012 pukul 14.20 WIB.

[2] Michelia, Bukan Wabah Ulat Bulu, http://www.balairungpress.com/2011/05/bukan-wabah-ulat-bulu/, diakses tanggal 16 November 2012 pukul 15.22 WIB.

Manfaat Kacang Hijau Bagi Kesehatan

Manfaat Kacang Hijau

Agar kita lebih memahami tentang manfaat kacang hijau, berikut ini adalah daftar beserta penjelasan tentang beberapa manfaat kacang hijau bagi kesehatan:

Kacang hijau dapat memperkuat tulang. Kacang hijau mengandung fosfor dan kalsium yang sangat bermanfaat dalam pertumbuhan dan memperkuat tulang. Selain itu, kandungan protein kacang hijau juga sangat tinggi (sekitar 24%).

Kacang hijau sangat baik bagi kesehatan Jantung. Kandungan lemak tak jenuh dalam kacang hijau aman untuk di konsumsi dan bermanfaat bagi kesehatan jantung. Karena lemaknya merupakan lemak tak jenuh, bagi Anda yang memiliki masalah dengan berat badan tidak perlu khawatir untuk mengonsumsi kacang hijau.

Manfaat kacang hijau selanjutnya adalah dapat membantu penyerapan protein, mencegah kanker, beri-beri, hingga meningkatkan kinerja syaraf. Hal ini karena dalam kacang hijau memiliki kandungan vitamin B1 dan vitamin B2 yang cukup.

Selain baik bagi kesehatan dan mencegah dari beberapa macam penyakit. Manfaat kacang hijau juga sangat baik untuk Ibu Hamil. Kacang hijau mengandung Asam Folat yang penting untuk Ibu hamil. Ibu hamil dapat mengonsumsi kacang hijau sejak awal kehamilan atau sebelum hamil. Khasiat yang terkandung dalam asam folat sangat baik bagi perkembangan saraf pada bayi dalam kandungan.

Manfaat kacang hijau yang mengandung asam folat ini juga dapat menghindarkan dari terjadinya bayi kelainan jantung, bibir sumbing, dan berbagai kecacatan lainnya. Selain itu Asam folat juga dapat meningkatkan kecerdasan bayi.

Sumber

 

 

 

Air, Benda Mati Itu Hidup

Air, Benda Mati Itu Hidup
Air minum

Dulu waktu SD, saya diajarkan sebuah pelajaran tentang konsep benda mati dan benda hidup. Jelas sekali disebutkan bahwa selain manusia, binatang dan tumbuhan; semuanya adalah benda mati.

Logika itu melekat terus sampai SMP,  hingga akhirnya saya membaca buku “winnetou” Indian suku Apache yang gagah berani. Dalam buku tersebut terselip budaya Indian yang mempercayai bahwa benda-benda seperti angin, gunung dan sebagainya itu mempunyai spirit. Imajinasi saya pun melayang-layang, kemudian saya sering berkhayal berdialog dengan awan di langit. Dan semua saya beri nama, sampai sepatu saya pun, saya beri nama “si Gemuk”, persis seperti kebiasaan suku Indian di dalam buku tersebut.

Kemudian waktu berselang. Pendek cerita Ustaz doddy membawa buku tentang penelitian DR Masaru Emoto, tentang air. Menarik sekali karena air yang kita minum atau air apapun juga, jika kita katakan kepada air tersebut “kamu bodoh”, maka reaksi dari air tersebut setelah diteliti molekulnya berubah menjadi buruk. Dan jika dikatakan “mari bekerja” molekulnya akan lebih baik daripada jika dikatakan “kerjakan!”

Dan yang lebih mencengangkan lagi, air juga bereaksi terhadap doa. Jika air didekatkan dengan doa maka molekulnya berubah menjadi heksagonal dan berwarna emas. Dalam penelitian fenomenal ini , DR Masaru Emoto menyimpulkan bahwa kita, manusia sebaiknya berbaik-baik terhadap air, dan karena manusia 70 persen terdiri dari air, maka menurut DR tersebut otomatis kita harus berucap kata yang santun terhadap manusia. Karena jika tidak molekul air didalam tubuhnya akan berubah menjadi buruk dan akan membawa dampak pengaruh orang itu akan menjadi marah.

Rasullullah SAW dengan ketinggian ilmunya 14 abad yang lalu menyatakan kepada Aisyah RA; “Wahai Aisyah, jika engkau ingin minum hendaklah mengucapkanlah Bismillah, dan jika air itu mengalir ke dalam perutmu dan tidak terjadi apa-apa ucapkanlah Alhamdulillah”.

Artinya Rasul sangat mengerti bahwa air itu makhluk Allah, yang ketika kita mengucapkan Bismillah maka air itu akan tunduk kepada kita, karena kita meminta izin langsung kepada pemilik semesta alam, yang menciptakan air tersebut. Dan dalam hadis lain Rasul SAW bersabda; “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan yang baik-baik atau diam”.(HR Bukhari)  Artinya sesama manusia kita tidak diperbolehkan mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakitkan orang lain. Subhanallah.

Barulah saya menyadari bahwa Islam telah jelas menyatakan 14 abad yang lalu, bahkan jauh dari sebelum itu bahwa seluruh yang diciptakan Allah disebut dengan makhluk Allah SWT. Dan mereka bertasbih kepada Allah, yang artinya mereka semuanya hidup.  Sebagaimana ayat “Bertasbih kepada-NYA apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS Al Hasyr [QS 59;24]).

Seluruh makhluk Allah bertasbih, gugusan bintang (al buruj), bintang (an Najm), bumi ( Al ard), gunung (jabal), angin, awan seluruhnya yang ada di langit dan dibumi semua bertasbih kepada Allah. Dan saat ini mereka ditundukkan oleh Allah untuk kepentingan manusia. Hal itu sebagaimana ayat;“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripadaNYA…”. Surat Al Jatsiyah (QS 45:13).

DR Masaru Emoto meneliti air tersebut karena dia mengalami suatu penyakit di kakinya yang sulit sekali disembuhkan, dan dia tercengang karena dengan basuhan air yang di “treatment” tersebut kakinya bisa sembuh. Berarti tidak mengherankan jika fenomena air doa yang sering kita lihat atau bahkan alami disekitar kita. Banyak sekali penyembuhan lewat air yang didoakan, mungkin pendekatan logikanya mirip dengan penelitian DR Masaru Emoto tersebut. Namun tetaplah Allah SWT yang Maha menyembuhkan dan atas seizin Allah kesembuhan itu terjadi. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis:

“Setiap penyakitada obatnya. Bila penyakit dikenai obat, niscaya akan sembuh atas izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Imam Ahmad, Bukhari dan Ibnu Majah).

Rasulullah juga mengajarkan banyak doa kesembuhan yang diriwayatkan dalam berbagai hadis, yang antara lain:

“Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, hilangkanlah penyakit ini karena hanya Engkaulah Maha Penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkannya kecuali ijin Engkau.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemudian jika kita lebih jauh membahas air, ternyata air yang ada didunia ini adalah air yang sama dengan air dari zaman Nabi Nuh. Karena beberapa ulama menyebutkan air pada zaman Nabi Nuh ditambahkan langsung oleh Allah SWT dari langit, sehubungan peristiwa air bah atau banjir besar pada zaman Nabi Nuh AS.

Namun setelah itu air itu mempunyai water cycle dengan sangat teratur; pertama hujan turun, kemudian air yang ada di gunung, bukit, semua mengalir, yang didalam tanah menjadi air tanah, yang diatas menjadi mata air, mengalir ke air terjun, sungai sampai terus bermuara ke laut. Lalu terjadi evaporasi atau penguapan air, yang kemudian butir-butir air akan menjadi hujan lagi. Begitulah penjelasan sederhananya. Karena itulah mungkin pemahamannya bahwa air bisa bereaksi hampir kepada seluruh bahasa. Wallahu a’lam

Subhanallah wal hamdulillah, satu lagi tabir yang terbuka setelah sekian banyak tabir yang Alloh bukakan kepada kita. Dan lewat ilmu pengetahuan, kita semakin dapat memahami tanda-tanda kebesaran Alloh Azza wa Jalla.

Sebagaimana ayat: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” (QS. Fushilat, 41 : 53)

Setelah membaca dan mengkaji tentang air ini, kemudian sambil masih mencoba mengendapkan informasi tentang air, mulut ini bergumam, “Subhanallah, ternyata air, benda mati itu hidup”.

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik disisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Ustaz Erick Yusuf: Pemrakarsa Training iHAQi (Integrated Human Quotient)
Twitter: @erickyusuf

 

Sumber

Ternyata Perilaku Kita Dipengaruhi Bakteri Yang Ada di Dalam Usus

Ribuan bakteri hidup dalam usus manusia. Selain memberikan manfaat, keberadaan bakteri-bakteri itu, terkadang juga merugikan manusia.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap, bakteri dalam usus dapat mempengaruhi perilaku manusia.

Menurut penelitian yang dilakukan para peneliti dari Universitas McMaster, bakteri dalam usus bisa mempengaruhi zat kimia dalam otak dan mempengaruhi perilaku manusia. Temuan ini sangat penting, karena jenis penyakit perut, termasuk iritasi usus besar, sering dikaitkan dengan kegelisahan atau depresi.

Di samping itu, ada juga spekulasi yang mengatakan masalah psykologi, seperti gejala autisme, dikaitkan dengan bakteri yang terkandung dalam usus.

“Hasil yang menakjubkan memberikan dorongan untuk melakukan penelitihan lebih jauh terhadap komponen mikroba penyebab penyakit perilaku,” kata profesor pengobatan dan peneliti dari Michael G. DeGroote School of Medicine, Stephen Collin seperti dilansir medindia.net, Jumat 20 Mei 2011.

Collin dan asistennya, Premysl Bercik melakukan penelitian di Institut Penelitian Kesehatan Pencernaan Keluarga Farncombe (Inggris).

Dalam penelitian itu, ditemukan bahwa dalam usus masing-masing orang terdapat sekitar 1.000 bakteri trillium yang hidup dengan nyaman, dan selaras dengan kehidupan manusia. Bakteri ini melakukan sejumlah fungsi penting terhadap kesehatan, yaitu menyerap energi dari makanan, melindungi terjadinya infeksi, dan menyediakan nutrisi untuk sel dalam usus.

Namun, jika ‘kehidupan nyaman’ bakteri-bakteri itu mengalami gangguan, akan berdampak pula pada kondisi manusia. Setiap gangguan dapat mengancam kondisi jiwa, seperti infeksi usus besar akibat antibiotik.

Untuk membuktikan bakteri dapat mempengaruhi perilaku, peneliti mengambil seekor tikus yang bebas bakteri, kemudian memberinya bakteri dari tikus yang memiliki perilaku agresif.

Hasilnya, setelah diberi bakteri tikus yang berperilaku agresif, tikus yang bebas bakteri dan semula diam itu berubah menjadi agresif dan lebih berani.

Penelitian yang sama juga menunjukkan tikus yang semula agresif menjadi pasif ketika diberi bakteri dari tikus yang berperilaku pasif.

Sementara itu, penelitian sebelumnya fokus pada peranan bakteri pada perkembangan awal otak. Collin mengatakan penelitian terakhir ini mengindikasikan meskipun banyak faktor yang menentukan perilaku, sifat dan stabilitas bakteri dalam usus dapat mempengaruhi tingkah laku dan setiap gangguan. Baik gangguan yang disebabkan oleh anti biotik atau infeksi, mungkin akan menyebabkan perubahan perilaku.

Sumber

Mengapa Kita Butuh Mimpi Dalam Tidur?

Mengapa Kita Butuh Mimpi Dalam Tidur? – Orang mengatakan waktu dapat menyembuhkan semua luka. Itu ternyata ada benarnya. Riset terbaru dari University of California, Berkeley, mengindikasikan bahwa lamanya waktu bermimpi ketika tidur dapat mengatasi penderitaan yang menyakitkan.
Mimpi Dalam Tidur

Peneliti UC Berkeley menemukan bahwa, selama fase mimpi dalam tidur, atau tidur rapid eye movement (REM), yaitu ketika bola mata bergerak cepat saat tidur, zat kimia stres dipadamkan dan otak memproses pengalaman emosional dan mengikis memori yang menyakitkan.

Temuan ini menawarkan sebuah penjelasan yang menarik soal mengapa orang yang menderita kelainan stres pasca-kejadian traumatis, seperti veteran perang, menemui kesulitan untuk pulih dari pengalaman yang membuatnya tertekan dan berulang kali dihantui mimpi buruk. Penelitian ini juga menawarkan jawaban mengapa kita bermimpi.

“Tahap mimpi tidur, berdasarkan komposisi neurokimianya yang unik, memberikan semacam terapi sepanjang malam, sejenis balsam menenangkan yang membuang semua hal yang tajam dari pengalaman emosional pada hari sebelumnya,” kata Matthew Walker, dosen psikologi dan neuroscience di universitas itu yang terlibat dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology.

Bagi penderita stres pasca-peristiwa traumatis, terapi malam ini mungkin tidak bekerja secara efektif. “Sehingga ketika kilas balik, misalnya dipicu oleh ban mobil meletus, mereka mengalami kembali seluruh pengalaman mengerikan itu karena emosinya tidak disingkirkan dari memori dengan benar selama tidur,” kata Walker.

Hasil studi ini menawarkan berbagai informasi tentang fungsi emosional tidur REM, yang biasanya mencakup 20 persen dari waktu tidur seorang manusia sehat.

Studi otak sebelumnya mengindikasikan bahwa pola tidur sehat itu tidak berjalan sebagaimana mestinya pada orang yang menderita kelainan seperti trauma dan depresi.

Sumber

Kekuatan Petir yang Dahsyat

 

Petir

Petir

Petir sering terlihat di saat cuaca mendung atau ketika sedang hujan badai. Coba sekali-sekali aganperhatikan di malam hari, saat hujan deras, langit tiba-tiba menyala, tak lama kemudian disusul oleh suara menggelegar. Suara itu membuat kita sering menutup telinga kita, bahkan membuat kita bersembunyi ditempat yang menurut kita cukup terlindungi. Mengapa? Karena petir bisa menyambar benda-benda di sekitarnya dan ditempat yang tinggi. Misalnya pohon kelapa atau tiang listrik.

Dalam beberapa kejadian di Indonesia, petir bisa menyebabkan kematian, seperti pernah terjadi di Batam. Ketika seseorang sedang bermain golf di lapangan terbuka, ia tiba-tiba tersambar petir. Sangat dahsyat ya… Nah, mengapa suara petir menggelegar sampai menerangi langit? Atau agan ingin tahu seberapa banyak sih cahaya yang dipancarkan petir? Atau seberapa besar panas yang dilepaskannya? Kalau mau tahu, Dalam ilmu fisika, satu kilatan petir adalah cahaya terang yang terbentuk selama pelepasan listrik di atmosfer saat hujan badai. Petir dapat terjadi ketika tegangan listrik pada dua titik terpisah di atmosfer – masih dalam satu awan, atau antara awan dan permukaan tanah, atau antara dua permukaan tanah – mencapai tingkat tinggi. Kilat petir terjadi dalam bentuk setidaknya dua sambaran. Pada sambaran pertama muatan negatif (-) mengalir dari awan ke permukaan tanah. Ini bukanlah kilatan yang sangat terang. Sejumlah kilat percabangan biasanya dapat terlihat menyebar keluar dari jalur kilat utama. Ketika sambaran pertama ini mencapai permukaan tanah, sebuah muatan berlawanan terbentuk pada titik yang akan disambarnya dan arus kilat kedua yang bermuatan positif terbentuk dari dalam jalur kilat utama tersebut langsung menuju awan. Dua kilat tersebut biasanya beradu sekitar 50 meter di atas permukaan tanah. Arus pendek terbentuk di titik pertemuan antara awan dan permukaan tanah tersebut, dan hasilnya sebuah arus listrik yang sangat kuat dan terang mengalir dari dalam jalur kilat utama itu menuju awan. Perbedaan tegangan pada aliran listrik antara awan dan permukaan tanah ini melebihi beberapa juta volt.

Energi petir
Energi yang dilepaskan oleh satu sambaran petir lebih besar daripada yang dihasilkan oleh seluruh pusat pembangkit tenaga listrik di Amerika. Suhu pada jalur di mana petir terbentuk dapat mencapai 10.000 derajat Celcius. Suhu di dalam tanur untuk meleburkan besi adalah antara 1.050 dan 1.100 derajat Celcius. Panas yang dihasilkan oleh sambaran petir terkecil dapat mencapai 10 kali lipatnya. Panas yang luar biasa ini berarti bahwa petir dapat dengan mudah membakar dan menghancurkan seluruh unsur yang ada di muka bumi. Perbandingan lainnya, suhu permukaan matahari tingginya 700.000 derajat Celcius. Dengan kata lain, suhu petir adalah 1/70 dari suhu permukaan matahari. Cahaya yang dikeluarkan oleh petir lebih terang daripada cahaya 10 juta bola lampu pijar berdaya 100 watt.

Sebuah sambaran petir berukuran rata-rata memiliki energi yang dapat menyalakan sebuah bola lampu 100 watt selama lebih dari 3 bulan. Sebuah sambaran kilat berukuran rata-rata mengandung kekuatan listrik sebesar 20.000 amp. Sebuah las menggunakan 250-400 amp untuk mengelas baja. Kilat bergerak dengan kecepatan 150.000 km/detik, atau setengah kecepatan cahaya, dan 100.000 kali lipat lebih cepat daripada suara Kilatan yang terbentuk turun sangat cepat ke bumi dengan kecepatan 96.000 km/jam.

Sambaran pertama mencapai titik pertemuan atau permukaan bumi dalam waktu 20 milidetik, dan sambaran dengan arah berlawanan menuju ke awan dalam tempo 70 mikrodetik. Secara keseluruhan petir berlangsung dalam waktu hingga setengah detik. Suara gemuruh yang mengikutinya disebabkan oleh pemanasan mendadak dari udara di sekitar jalur petir. Akibatnya, udara tersebut memuai dengan kecepatan melebihi kecepatan suara, meskipun gelombang kejutnya kembali ke gelombang suara normal dalam rentang beberapa meter. Gelombang suara terbentuk mengikuti udara atmosfer dan bentuk permukaan setelahnya. Itulah alasan terjadinya guntur dan petir yang susul-menyusul.

Petir berarus listrik terbesar
Sebuah majalah ‘Intisari’ pernah mengungkapkan bahwa petir berarus listrik terbesar terdapat di Indonesia, tepatnya di daerah Depok. Penelitian yang disponsori PLN Cabang Depok, pada bulan April, Mei dan Juni 2002, dengan menggunakan teknologi lighting position and tracking system (LPATS), itu untuk mengenali perilaku petir di wilayah kota di selatan Jakarta. Tak disangka, para peneliti mendapati arus petir negatif berkekuatan 379,2 kA (kilo Ampere) dan petir positif mencapai 441,1 kA.

Dengan kekuatan arus sebesar itu, petir mampu meratakan bangunan gedung yang terbuat dari beton sekalipun. Selama ini, Indonesia memang dikenal sebagai negara dengan sambaran petir cukup tinggi. Kondisi meteorologis Indonesia memang sangat ideal bagi terciptanya petir. Tiga syarat pembentukan petir – udara naik, kelembaban, dan partikel bebas atau aerosol – terpenuhi dengan baik di Indonesia sebagai negara maritim.

Dalam majalah Intisari edisi Desember 2000, disebutkan bahwa bumi bisa diibaratkan sebagai kapasitor. Antara lapisan ionesfer dan Bumi, jika langit cerah, ada arus listrik yang mengalir terus-menerus, dari ionosfer yang bermuatan positif ke Bumi yang bermuatan negatif. Tapi Bumi tidak terbakar, karena ada awan petir yang bermuatan listrik positif maupun negatif sebagai penyeimbang. “Yang positif turun ke Bumi, dan yang negatif naik ke ionosfer.

Ketika langit berawan, tidak semua awan adalah awan petir. Hanya awan cumulonimbus yang menghasilkan petir. Petir terjadi karena pelepasan muatan listrik dari satu awan cumulonimbus ke awan lainnya, atau dari awan langsung ke Bumi.

Saat kita merenungi semua perihal petir ini, kita akan memahami bahwa peristiwa alam ini adalah sesuatu yang menakjubkan. Bagaimana sebuah kekuatan luar biasa semacam itu muncul dari partikel bermuatan positif dan negatif, yang tak terlihat oleh mata telanjang, menunjukkan bahwa petir diciptakan dengan sengaja oleh Sang Pencipta. Lebih jauh lagi, kenyataan bahwa molekul-molekul nitrogen, yang sangat penting untuk tumbuhan, muncul dari kekuatan ini, sekali lagi membuktikan bahwa petir diciptakan khusus oleh sang pencipta.

Subhanalloh.

Sumber

 

10 Senjata Penghancur Paling Canggih di Dunia Saat Ini

1. Aurora Excalibur
Senjata ini merupakan pesawat tak berawak yang beroperasi dengan lepas landas dan mendarat secara vertikal. Pesawat ini dapat mencapai kecepatan 460 mph (740 kmh) dan dapat membawa misil untuk ditembakkan. Pesawat ini bisa melakukan semua hal itu melalui remote control. Excalibur berhasil diuji pada Juni 2009.

2. Peluncur Granat XM-25
Senjata ini mampu menembakkan 25 granat pada jarak apa pun, jarak dapat diatur dan diprogram pengguna. Senjata baru ini menggabungkan kemampuan menembak dan komputer. Menurut rumor, XM-25 akan digunakan di Afganistan bulan ini.
3. Hellads
Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) Pentagon mengembangkan senjata laser masa depan yang dikenal sebagai High Energy Liquid Laser Area Defense System. Sistem laser ini dibuat seringkas mungkin agar dapat dipasang di pesawat taktis tanpa mempengaruhi performa misi. Laser ini cukup kuat untuk menembak jatuh roket, misil, dan artileri lain. Uji tingkat empat senjata ini dijadwalkan dilakukan tahun ini.
4. Kamuflase Masa Depan, Metaflex
Metaflex Future Camouflage, Ilmuwan Skotlandia mengembangkan kamuflase dengan menciptakan materi yang disebut Metaflex. Materi ini saperti jubah menghilang Harry Potter. Pemakai akan menjadi tak tampak karena materi Metaflex membengkokkan cahaya ketika sampai di permukaannya. Jubah hilang ini diuji tahun ini dan berpotensi dapat digunakan sebagai senjata pertahanan.
5. The Free Electron Laser
Angkatan Laut (AL) sedang merancang sistem laser lain yang dapat menembak jatuh roket dan misil yang menyerang kapal. Tak ada batasan penggunaan laser ini ketika sasarannya bukan pelacak, sensor, pertukaran informasi, dan target. Rancangan awal senjata ini selesai pada Maret dan prototipe senjata ini tersedia pada maret 2012.
6. Railgun
Militer Amerika Serikat (AS) menguji sebuah versi Railgun pada 2008 lalu. Senjata ini dapat mempercepat kecepatan proyektil menjadi 2,4 kmh (tujuh kali kecepatan suara). Versi sempurna senjata ini akan siap antara 2020-2025 mendatang.
7. Organisme Sintetis BioDesign
DARPA mengeluarkan dana sebesar US$ 6 juta (Rp 53,7 miliar) untuk proyek menciptakan mikroorganisme ‘yang diprogram hidup selamanya’. Mikroorganisme ini berisi molekul yang membantu bertahan hidup, serta dapat digunakan untuk membunuh hanya dengan jentikan switch. Debut senjata ini masih belum diketahui. (Bio Design Synthetic Organisms).
8. Senjata Pembunuh milik China
AL China mengembangkan ‘senjata pembunuh’ yang memiliki kemampuan menarget dan menghancurkan pesawat AS. Misil balistik antipesawat ini dapat menyerang pesawat AS pada jarak dua ribu km. Kemampuan manuver tak terprediksi misil ini membuatnya mampu menghindari radar. Debut senjata ini belum diketahui.
9. Hybrid Insect MEMS (HI-MEMS)
HI-MEMS terdiri dari setengah serangga, dan setengan mesin. Pertama, sistem mikro-mekanis ditempatkan di dalam serangga selama masa metamorfosis. Serangga ini beroperasi seperti mobil remote control. HI-MEMS akan digunakan untuk mengumpulkan informasi menggunakan sensor, seperti mikrofon atau detektor gas. Debut senjata ini belum diketahui.
10. Sistem Senjata Sunyi DREAD
Sistem Senjata Sunyi DREAD (DREAD Silent Weapon System) memiliki kemampuan menembakkan 120 ribu peluru per menit. Senjata ini sepenuhnya digerakkan listrik, bukan bubuk mesiu. Berarti senjata ini tak akan bersuara dan tak akan ada panas. Debut senjata ini belum diketahui.

Sumber