Fatwa Ulama Tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du.

Para pembaca yang dirahmati Allah, sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 1431 Hijriyah dan akan memasuki tahun baru hijriyah 1432, sebagian besar kaum muslimin telah mempersiapkan perayaan untuk tahun baru islam tersebut, di antaranya dengan bertukar ucapan selamat satu sama lain maka apa kedudukan ucapan selamat tahun baru hijriyah dari sisi syar’i?

Di bawah ini kami mengutip beberapa fatwa ulama kibar dalam hal ini:

1. Syeikh Ibnu Bazz rahimahullah pernah ditanya:

Kami pada permulaan tahun baru hijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), maka apa hukum syar’ie terkait ucapan selamat ini?

Jawaban:

Ucapan selamat tahun baru hijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para salaful shalih, dan saya tidak mengetahui satupun dalil dari sunah maupun kitabullah yang menunjukkan pensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidak mengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semoga anda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itu kami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya, adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.

2. Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah:

Pertanyaan: Syeikh yang mulia! anda membahas tentang tahun baru, maka apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita terhadap mereka yang mengucapkan selamat?

Beliau menjawab:

Jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya, inilah pendapat yang benar dalam masalah ini, misalnya seandainya seseorang mengucapkan kepadamu: kamu mengucapkan selamat tahun baru kepadamu, maka dijawab: semoga Allah mengucapkan selamat kebaikan untukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan. Tetapi jangan kamu memulainya, karena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para salaful shalih bahwa mereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah, bahkan ketahuilah bahwa para salaf belum menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.

(Pertemuan bulanan ke 44 diakhir tahun 1417 H).

Dan beliau juga pernah ditanya: Syeikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah?

Jawaban:

Saya berpendapat bahwa memulai ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidak disyariatkan dalam artian: kami tidak mengatakan kepada orang: sesungguhnya disunahkan bagi kalian untuk saling menyampaikan ucapan selamat, tetapi jika mereka melakukannya tidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun baru supaya memohon kepada Allah supaya menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah ini yang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasukan perkara ibadah.

(pertemuan terbuka ke: 93 hari Khamis tanggal 25 bulan Dzul Hijjah tahun 1415H).

Dan beliau juga pernah ditanya: apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?

Beliau menjawab:

Ucapan selamat dengan kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan para salaful shalih, maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan ditengah-tengah manusia, meskipun phenomena ini sekarang berkurang, karena Alhamdulillah sebagian orang sudah memahaminya, padahal sebelumnya mereka saling bertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.

Penanya: apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?

Beliau menjawab:

Yaitu mereka mengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allah mengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikan pertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.

Penanya: apakah diucapkan: setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?

Beliau menjawab: tidak, setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitri atau di tahun baru.

(perjumpaan terbuka ke: 202 pada hari Khamis tanggal 6 Muharram tahun 1420H).

3. Syeikh Shalih Al-Fauzan hafidhohullah pernah ditanya:

Syeikh yang mulia semoga Allah memberikan anda taufik, kebanyakan manusia saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, maka apa hukum ucapan selamat atas kedatangannya? Diantara ucapan mereka: semoga menjadi tahun bahagia, atau ucapan mereka: semoga kalian setiap tahun dalam kebaikan, apakah ini disyariatkan?

Jawaban:

“ini adalah bid’ah, ini bid’ah dan menyerupai ucapan selamat orang-orang Nasrani dengan tahun baru masehi, dan ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan para salaf, dan juga tahun baru hijriyah adalah istilah para sahabat radhiyallahu anhum untuk penaggalan muamalat saja, mereka tidak menganggapnya hari raya dan mereka mengucapkan selamat atasnya atau, ini tidak ada dasarnya, para sahabat menjadikannya untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalat saja.”

4. Fatwa Syeikh Abdul Karim Al-Khidhir mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah:

Doa kepada seorang muslim dengan doa umum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatan seperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapan selamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dan keceriaan pada wajah muslim lain. Imam Ahmad rahimahullah berkata: saya tidak memulai ucapan selamat, jika seseorang memulaiku dengan ucapan selamat maka saya suka menjawabnya karena menjawan ucapan selamat wajib, adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunah yang diperintahkan dan juga bukan termasuk perkara yang dilarang.

Kesimpulan

Dari beberapa fatwa diatas dapat dipahami bawa para ulama kibar sebagian membolehkan menjawab ucapan selamat saja tidak untuk memulainya, namun kita tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besar karena hal itu lebih kepada adat kebiasaan bukan diyakini sebagai ibadah yang disyariatkan.

Tapi sebaiknya kita menjelaskan kepada umat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihan dalam ucapan selamat, karena kuatir terjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum nasrani sebagaimana fatwa Syeikh Shalih Al-Fauzan hafidohullah.

Namun kita tidak disyariatkan untuk merayakannya seperti kita merayakan hari-hari raya karena perayaan sebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyah.

Wallahu A’lam bishowab.

Sumber

Shalat Gerhana

Tidak ada satu kejadian di antara sekian banyak kejadian yang ditampakkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan hamba-Nya, melainkan agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kekuasaan yang Allah ‘Azza wa Jalla tampakkan tersebut. Yang pada akhirnya, kita dituntut untuk selalu mawas diri dan melakukan muhasabah.

Di antara bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, ialah terjadinya gerhana. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

PENGERTIAN GERHANA

Dalam istilah fuqaha dinamakan kusûf. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa. [1] Jadi, shalat gerhana, ialah shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya.

HUKUM SHALAT GERHANA

Jumhur ulama’ berpendapat, shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. Abu ‘Awanah Rahimahullah menegaskan wajibnya shalat gerhana matahari. Demikian pula riwayat dari Abu Hanifah Rahimahullah, beliau memiliki pendapat yang sama. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau menempatkannya seperti shalat Jum’at. Demikian pula Ibnu Qudamah Rahimahullah berpendapat, bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. [2]

Adapun yang lebih kuat, ialah pendapat yang mengatakan wajib, berdasarkan perintah yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Imam asy-Syaukani juga menguatkan pendapat ini. Demikian pula Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah dan Syaikh al-Albâni Rahimahullah. [3] Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih ‘Utsaimin Rahimahullah berkata: “Sebagian ulama berpendapat, shalat gerhana wajib hukumnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (jika kalian melihat, maka shalatlah—muttafaqun ‘alaih).

Sesungguhnya, gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Semua itu menjadi satu alasan kuat wajibnya perkara ini, kalaupun kita katakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat menekankan tentang kejadian ini, kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya. Maka, pendapat ini perlu ditilik ulang, bagaimana bisa dikatakan sesuatu yang menakutkan kemudian dengan sengaja kita meninggalkannya? Bahkan seolah hanya kejadian biasa saja? Dimanakah rasa takut?

Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib, memiliki argumen sangat kuat. Sehingga jika ada manusia yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di ladang; semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita diperintahkan untuk mewaspdainya. Maka pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah. [4]

Dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin pun menyatakan, “Jika kita mengatakan hukumnya wajib, maka yang nampak wajibnya adalah wajib kifayah.”

Adapun shalat gerhana bulan, terdapat dua pendapat yang berbeda dari kalangan ulama.

Pendapat pertama. Sunnah muakkadah, dan dilakukan secara berjama’ah seperti halnya shalat gerhana matahari. Demikian ini pendapat Imam asy- Syâfi’i, Ahmad, Dawud Ibnu Hazm. Dan pendapat senada juga datang dari ‘Atha, Hasan, an-Nakha`i, Ishâq dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu. [5] Dalil mereka:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali.” (Muttafqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Tidak dilakukan secara berjama’ah. Demikian ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Mâlik. [6] Dalilnya, bahwa pada umumnya, pelaksanaan shalat gerhana bulan pada malam hari lebih berat dari pada pelaksanaannya saat siang hari. Sementara itu belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menunaikannya secara berjama’ah, padahal kejadian gerhana bulan lebih sering dari pada kejadian gerhana matahari.

Manakah pendapat yang kuat? Dalam hal ini, ialah pendapat pertama, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya untuk menunaikan keduanya tanpa ada pengecualian antara yang satu dengan lainnya (gerhana matahari dan bulan). [7]

Sebagaimana di dalam hadits disebutkan, “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ibnu Qudamah Rahimahullah juga berkata, “Sunnah yang diajarkan, ialah menunaikan shalat gerhana berjama’ah di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, walaupun boleh juga dilakukan sendiri-sendiri,namun pelaksanaannya dengan berjama’ah lebih afdhal (lebih baik). Karena yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ialah dengan berjama’ah. Sehingga, dengan demikian, sunnah yang telah diajarkan ialah menunaikannya di masjid.” [8]

WAKTU SHALAT GERHANA

Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana tersebut berakhir. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang.” (Muttafaqun ‘alaihi).

KAPAN GERHANA DIANGGAP USAI?

Shalat gerhana matahari tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sediakala, dan (2) gerhana terjadi tatkala matahari terbenam. Demikian pula halnya dengan shalat gerhana bulan, tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sediakala, dan (2) saat terbit matahari. [9]

AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA

  1. Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,“Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
  2. Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits,“Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
  3. Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr Radhiallahu’anhuma berkata,“Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)Jika dikhawatirkan akan terjadi fitnah, maka hendaknya para wanita mengerjakan shalat gerhana ini sendiri-sendiri di rumah mereka berdasarkan keumuman perintah mengerjakan shalat gerhana.
  4. Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu’anhuma, ia berkata: Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri)
  5. Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri)

TATA CARA SHALAT GERHANA

Tidak ada perbedaan di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda.

Pendapat pertama. Imam Mâlik, Syâfi’i, dan Ahmad, mereka berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at. Pada setiap raka’at ada dua kali berdiri, dua kali membaca, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu, ia berkata, “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka beliau shalat dan orang-orang ikut shalat bersamanya. Beliau berdiri sangat lama (seperti) membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dan sangat lama ruku’nya, lalu berdiri, lama sekali berdirinya namun berdiri yang kedua lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’, lama sekali ruku’nya namun ruku’ kedua lebih pendek dari ruku’ pertama.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Hadits kedua, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana matahari. Rasulullah berdiri kemudian bertakbir kemudian membaca, panjang sekali bacaannya, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, kemudian mengangkat kepalanya (i’tidal) seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah,” kemudian berdiri sebagaimana berdiri yang pertama, kemudian membaca, panjang sekali bacaannya namun bacaan yang kedua lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, panjang sekali sujudnya, kemudian dia berbuat pada raka’at yang kedua sebagimana yang dilakukan pada raka’at pertama, kemudian salam…” (Muttafaqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at, dan setiap raka’at satu kali berdiri, satu ruku dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya. Dalil yang disebutkan Abu Hanifah dan yang senada dengannya, ialah hadits Abu Bakrah, ia berkata:

“Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka Rasulullah keluar dari rumahnya seraya menyeret selendangnya sampai akhirnya tiba di masjid. Orang-orang pun ikut melakukan apa yang dilakukannya, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam shalat bersama mereka dua raka’at.” (HR Bukhâri, an-Nasâ‘i)

Dari pendapat di atas, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama (jumhur ulama’), berdasarkan beberapa hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Karena pendapat Abu Hanifah Rahimahullah dan orang-orang yang sependapat dengannya, riwayat yang mereka sebutkan bersifat mutlak (umum), sedangkan riwayat yang dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah muqayyad. [10]

Syaikh al-Albâni Rahimahullah berkata, [11] “Ringkas kata, dalam masalah cara shalat gerhana yang benar ialah dua raka’at, yang pada setiap raka’at terdapat dua ruku’, sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan riwayat yang shahih”. Wallahu a’lam.

Ringkasan tata cara shalat gerhana sebagai berikut.

  1. Bertakbir, membaca doa iftitah, ta’awudz, membaca surat al-Fâtihah, dan membaca surat panjang, seperti al-Baqarah.
  2. Ruku’ dengan ruku’ yang panjang.
  3. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan: sami’allhu liman hamidah.
  4. Tidak sujud (setelah bangkit dari ruku’), akan tetapi membaca surat al-Fatihah dan surat yang lebih ringan dari yang pertama.
  5. Kemudian ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, hanya saja lebih ringan dari ruku’ yang pertama.
  6. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan: sami’allahu liman hamidah.
  7. Kemudian sujud, lalu duduk antara dua sujud, lalu sujud lagi.
  8. Kemudian berdiri ke raka’at kedua, dan selanjutnya melakukan seperti yang dilakukan pada raka’at pertama.

Demikian secara ringkas penjelasan tentang shalat gerhana, semoga bermanfaat.

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala ‘alihi washahbihi ajma’in.

Marâji’:

  1. Al-Mughni.
  2. Ar-Raudhah an-Nadiyah.
  3. Asy-Syarhul-Mumti’.
  4. Bidayatul-Mujtahid.
  5. Irwâ‘ul Ghalil.
  6. Raudhatuth-Thalibin.
  7. Shahîh Fiqih Sunnah.
  8. Tamamul-Minnah, dan lain-lain.

Catatan Kaki:

  1. Lisanul-‘Arab, Kasyful Qanna’, 2/60.
  2. Al- Mughni, Ibnu Qudamah, 3/330.
  3. Fathul-Bâri (2/612), Tamamul-Minnah (261), ar-Raudhah an-Nadiyah (156).
  4. Syarhul-Mumti’, 5/237-240.
  5. Al- Umm (1/214), al- Mughni (2/420), al- Inshaf (2/442), Bida yatul- Mujtahid (1/160), danMuhalla (5/95).
  6. Ibnu Abidin (2/183) dan Bidayatul-Mujtahid (1/312).
  7. Shahîh Fiqih Sunnah, 1/433.
  8. Al-Mughni, 3/323.
  9. Al-Mughni (3/427), Raudhatuth-Thalibin (2/87).
  10. Shahîh Fiqih Sunnah, 1/437.
  11. Irwâ‘ul Ghalil, 3/132

 

Sumber

Apa Jenis Kelamin Komputer Anda?

Bagi kita manusia, status jenis kelamin (perempuan atau laki-laki) seseorang tentu dapat diketahui dengan jelas melalui bentuk fisik, sikap, perilaku, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan komputer/laptop/notebook/netbook kita, apakah benda-benda tersebut juga memiliki jenis kelamin sebagaimana jenis kelamin pada manusia dan hewan? Kalau jawabannya “iya,” bagaimana cara mengetahui jenis kelaminnya? Bukankah semuanya sama dalam bentuk fisik, dan sebagainya?

Menarik untuk membahasnya lebih lanjut, dalam postingan ini ada langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengetahui jenis kelamin benda tersebut.

  1. Buka aplikasi “Notepad” pada komputer/laptop/notebook/netbook yang ingin diketahui jenis kelaminnya (!).
  2. Ketik kalimat berikut: CreateObject(“SAPI.SpVoice”).Speak”I Love You”
  3. Simpan dengan format “vbs”. Namanya terserah Anda, contoh: xyz.vbs termasuk mau disimpan dimana (yang penting masih di dalam komputer/laptop/notebook/netbook Anda. Mungkin bisa dicoba untuk menyimpannya di dalam flashdisk, dsb sehingga bisa juga dibuka di media yang lain. (Penulis belum mencobanya, apakah bekerja atau tidak).
  4. Buka file tersebut dengan cara meng-klik-nya. Setelah Anda klik akan terdengar suara yang mengatakan “I Love You.” Kalau yang mengatakannya terdengar suara perempuan, maka jenis kelaminnya adalah perempuan. Sebaliknya, kalau terdengar suara laki-laki, maka jenis kelaminnya laki-laki.

Selamat mencoba.

“Wabah” Ulat Bulu (dalam Tinjauan Berpikir Filsafat)

Tahun 2010, hujan memang turun berkepanjangan tanpa ada kemarau sedikitpun. Dalam kondisi seperti ini, siklus hidup kupu-kupu bertahan di lingkungan yang benar-benar basah. Tahun lalu, kupu-kupu bisa hidup di semua lingkungan, karena hampir tak ada kemarau.

Belakangan ini siklus alam secara normal memang terganggu akibat pemanasan global yang disebabkan oleh pembakaran BBM dan batu bara yang berlebihan. Selain itu predator alami ulat, terutama spesies kepik, juga ikut terbasmi oleh pestisida pabrikan yang massal. Penangkapan burung untuk tujuan komersial pun ikut memicu peningkatan populasi ulat. Burung perenjak dan coblek, misalnya selama ini menjadi pemangsa ulat adalah komoditas yang bernilai tinggi.

Dampak dari kondisi ini, pertumbuhan vegetatif tanaman tidak terhenti dan pertumbuhan generatif justru terganggu. Akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011, tak ada panen raya mangga, durian, rambutan, manggis, dan lain-lain. (F. Rahadi, Kompas, 19 April 2011).

Peneliti serangga (entomolog) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Saputa, mengatakan, ulat bulu yang menyerang Gunung Kidul, yaitu ulat bulu tahun dan ulat kipat (criculatrifenestrata). Ledakan populasi ulat bulu di Gunung Kidul, Yogyakarta dan Pacitan, Jawa Timur, dipengaruhi oleh kelembaban tinggi akibat hujan sporadis yang masih sering terjadi. Secara umum, populasi ulat bulu tidak terjadi saat musim kemarau.

Hujan yang mendukung kelembaban tinggi yang mendukung ledakan populasi ulat bulu. Selain itu ledakan populasi juga akibat berkurangnya musuh alami ulat termasuk lebah. Pada musim kemarau yang disertai banyak hujan, populasi lebah tidak bisa berkembang biak. Salah satu pemangsa ulat bulu di Gunung Kidul adalah lebah tabuhan raksasa (Vespa mandirinia) yang berukuran paling besar dari lebah lain. (Hari Sutrisno, Kompas, 30 Mei 2011).

Wabah yang kemudian meluas ke berbagai kawasan di Jawa, kalimantan, dan Sumatera itu oleh masyarakat “awam” sempat dihubungkan dengan unsur-unsur mitos. Wabah tersebut dianggap sebagai musibah yang bermuatan “laknat” atau “kutukan” sebagai bentuk hukuman yang ditimpakan Tuhan.

Tanggapan:

Menaggapi permasalahan di atas, menurut saya hal ini terjadi sebagai dampak dari kerusakan alam yang diakibatkan oleh ulah perbuatan manusia. Sebagai manifestasinya, kerusakan ini kemudian berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem alam, contohnya rantai makanan, perubahan iklim cuaca dan musim, serta proses alamiah kehidupan adalah beberapa bentuk ekosistem alam yang berjalan sesuai dengan sunnatullah yang diberlakukan oleh Sang Maha Pencipta. Dalam sunnatullah ini berlaku hukum kausalitas (sebab-akibat), maka dalam hal ini terdapat suatu sistem yang saling berkaitan antara satu dan lainnya. Ketika sistem itu terganggu atau bahkan rusak, maka keteraturan sistem itu akan berubah dan berujung kepada kehancuran alam itu sendiri, sebagai contoh dalam hal ini adalah kasus hama ulat bulu di atas.

Sebagai penjabaran dari ungkapan tersebut adalah kerusakan alam akibat ulah manusia mulai dari yang bersifat struktural, institusional, dan kultural. Pada tingkat struktural yang paling menonjol adalah strategi pembangunan (sarana prasarana) dan industrialisasi yang eksploitatif, tidak mengindahkan keselarasan bahkan menimbulkan kerusakan alam dan kesenjangan sosial yang menyengsarakan kehidupan manusia. Pada tingkat institusional, kerusakan alam dikarenakan berbagai perangkat kelembagaan yang rentan lemah, tidak terkoordinasi dan cenderung korup. Sedangkan dalam tingkat kultural, terjadinya kerusakan lingkungkan dikarenakan rendahnya kesadaran dan perilaku ramah lingkungan. Hal ini disebabkan antara lain karena menjamurnya budaya pragmatis dan hedonis dalam kehidupan masyarakat dalam skala universal.

Untuk mempertegas pemahaman tersebut, hal ini sesuai dengan ungkapan Allah Swt dalam Surat Ar-Ruum ayat 41, Allah Swt berfirman yang artinya:

“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Sementara itu, tanpa mengesampingkan kajian dari sisi ilmiah, berdasarkan catatan sejarah yang terdapat di dalam Al-Quran, hal serupa juga pernah terjadi pada masa Fir’aun (Rhamses II) dan kaumnya pada zaman kenabian Musa AS dan Harun AS sebagai bentuk kemurkaan Allah Swt atas dosa, kemunkaran, penyalahgunaan wewenang kekuasaan, serta pembangkangan terhadap seruan Allah Swt melalui Musa AS dan Harun AS. sebagaimana diabadikan dalam Surat Al-A’raf ayat 130-133, Allah Swt berfirman:

Artinya:  “(130). dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. (131). kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami.” dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (132). Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu,” (133). Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”

Azab (hukuman) yang ditimpakan oleh Allah Swt kepada Fir’aun dan kaumnya ini berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar. Adapun puncak dari kemurkaan Allah Swt itu adalah kemusnahan massal terhadap Fir’aun dan kaumnya dengan dihimpit dan ditenggelamkan di laut.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa populasi hewan yang tidak terkendali yang kemudian meresahkan manusia dalam konteks ayat di atas adalah diantara bentuk kemurkaan Allah Swt yang ditimpakan-Nya kepada manusia yang menyimpang dari ketentuan-Nya sebagai bentuk teguran (peringatan), atau bahkan azab (hukuman) yang nyata.

Tinjauan Berpikir Filsafat

Sedangkan jika ditinjau dari sudut pandang berpikir ilmiah, permasalahan di atas dapat dirumuskan melalui pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Dalam kajian ontologis, secara umum ulat merupakan makhluk hidup yang mengalami metamorfosis (perubahan bentuk dalam siklus hidupnya). Dimulai dari telur, menetas menjadi larva (ulat), kepompong dan kupu-kupu. Pada fase menjadi larva inilah mereka akan makan daun sebanyak-banyaknya sebelum berhenti makan ketika menjadi kepompong[1]. Siklus hidup ulat bulu sebelum menjadi kupu-kupu dapat digambarkan sebagai berikut:

Ulat bulu bukanlah spesies yang dapat mengancam kehidupan manusia, kendati pun demikian, dalam beberapa kasus, ulat bulu dapat menyebabkan gatal-gatal dan iritasi pada permukaan kulit yang sensitif. Walaupun tidak mengancam kehidupan manusia, dalam skala besar sebagaimana contoh kasus di atas, ledakan populasi ulat bulu yang tidak terkendali dapat menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Gundulnya pohon atau tanaman yang ditanam masyarakat akibat dimakan ulat bulu dan merambahnya ulat bulu ke pemukiman warga yang memenuhi dinding dan lantai rumah adalah diantara keresahan masyarakat akibat ledakan populasi ulat bulu yang tidak terkendali.

Dalam kaitannya dengan kajian epistemologis, ledakan populasi ulat bulu yang tidak terkendali tersebut terjadi karena banyak faktor, curah hujan yang tinggi sebagai dampak dari pemanasan global, hilangnya predator alami ulat bulu (burung, semut keranggang, kepik, kelelawar, tokek, lebah, dll) akibat perburuan dan penanggulangan hama melalui pestisida adalah faktor penyebab terjadinya masalah ini. Kalau dicermati secara seksama, pada hakikatnya penyebab utama dalam masalah ini adalah ulah perbuatan manusia yang telah merusak alam seisinya ini.

Rasionalisasinya bahwa perubahan iklim yang tidak menentu terjadi karena pemanasan global yang sistemik, mulai dari penggundulan hutan, ekspoitasi terhadap sumber daya alam yang berlebihan, pembangunan dan industrialisasi yang tidak ramah lingkungan, serta efek rumah kaca, yang kesemuanya adalah hasil perbuatan manusia (yang serakah dan tidak bermoral). Selanjutnya, perburuan terhadap predator alami ulat bulu seperti burung, lebah, kelelawar, tokek dan semut keranggang (telurnya) secara besar-besaran marak dilakukan dengan tujuan konsumsi ataupun karena nilai ekonomis di pasaran yang menjanjikan, di samping juga akibat pestisida dan insektisida terhadap hewan predator alami pemangsa ulat bulu di lahan pertanian dan perkebunan. Hal inilah yang kemudian memicu terputusnya rantai makanan terhadap ulat bulu yang pada akhirnya terjadilah populasi ulat bulu yang tidak terkendali tersebut.

Dari sudut aksiologi, dapat dipahami secara jelas bahwa pada dasarnya segala ciptaan Allah Swt diciptakan berdasarkan fungsi masing-masing sebagai pelestari terhadap alam melalui keseimbangan dan ketentuannya masing-masing. Ketika terjadi ketidakseimbangan dalam kuantitas dan kualitas makhluk ciptaan itu, maka tentu ini akan berdampak kepada kerusakan alam itu sendiri.

Menurut Hidayat Soesilo Hadi, Kepala Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi, UGM, Yogyakarta, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam penanganan serangan hama (termasuk dalam hal ini adalah wabah ulat bulu), yaitu regulasi, limitasi, dan stabilitas (RLS)[2]. Pada tahap regulasi, ulat bulu mulai muncul pada suatu ekosistem. Hal yang harus dilakukan pada tahap ini adalah berusaha mengendalikan populasi ulat bulu agar tumbuh dengan normal. Langkah yang dilakukan dengan menjaga rantai makanan yang ada jangan sampai rusak. Pada tahap kedua, limitasi, pertumbuhan ulat bulu dibatasi jumlahnya sehingga tidak meledak menjadi wabah. Langkah yang dilakukan dengan membasmi ulat bulu menggunakan cara-cara yang tidak merusak atau membahayakan ekosistem, bisa juga menggunakan insektisida berdaya rendah atau memusnahkannya dengan cara manual seperti dikubur atau dibakar. Pada tahap ketiga, stabilitas, populasi ulat bulu dan populasi predatornya harus dijaga keseimbangannya. Langkah yang dilakukan bisa dengan menanam pohon, memelihara burung, tidak melakukan perburuan burung, tidak merusak hutan, dan langkah-langkah preventif lainnya.


[1] Fadil Abidin, Wabah Ulat Bulu dan Rusaknya Ekosistem, http://www.analisadaily.com /news/read/2011/07/03/4539/wabah_ulat_bulu_dan_rusaknya_ekosistem/#.UKX5hmdqz7s, diakses tanggal 16 November 2012 pukul 14.20 WIB.

[2] Michelia, Bukan Wabah Ulat Bulu, http://www.balairungpress.com/2011/05/bukan-wabah-ulat-bulu/, diakses tanggal 16 November 2012 pukul 15.22 WIB.

Sejarah Sumpah Pemuda 1928

Sumpah Pemuda, tentunya semua orang khususnya rakyat Indonesia tahu mengenai Sumpah Pemuda. Namun sebagian besar dari yang tahu mengenai Sumpah pemuda tak lebih dari sekedar tahu kalimatnya saja, tetapi makna serta isi sumpahnya dewasa ini banyak yaang tidak tahu, mungkin salah satunya anda sendiri.

Ketika kita mau nelihat sejarah Sumpah Pemoeda, maka kita harus menelisik Sejarah Kongres Pemoeda. Kongres Pemoeda pertama kali diadakan pada 2 Mei 1926 M, dan Kongres Pemoeda 2 diadakan pada 28 Oktober 1928 M.

Menelisik latarbelakang adanya Kongres Pemoeda 2 kita mesti melihat hasil keputusan kongres ke-2 Jong Islamieten Bond pada23-27 Desember 1927 yang memutuskan untuk memperjuangkan Cita-cita persatuan dan Kebangsaan, selain itu beberapa hari sebelumnya juga sudah didirikan pada 17 Desember 1927 yaitu Perhimpoenan Pemoefakatan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang bertujuan sama dengan Hasil Kongres JIB ke-2.

Keputusan itu ternyata mendapatkan reaksi keras dari Keputusan Kongres Boedi Oetomo di surakarta pada 6-9 April 1928 yang menolak pelaksanaan Cita-cit persatuan Indonesia, yang kemudian diikuti oleh Jong Java yang setia menginduk kepada Boedi Oetomo mengembangkan bahasa Jawa, Kesenian Jawa, dan Agama Djawa (Kebatinan) dalam lingkup Djawa Radja.

Untuk menjawab hasil kongres Boedi Oetomo ini, 7 bulan setelahnya PPPI (Perhimpoenan Pejadjar-Peladjar Indonesia) dan Jong Indonesia segera menyelenggarakan Kongres Pemoeda II pada 28 Oktober 1928 atau Ahad Wage, 13 Jumadil Awwal 1347 H di Kramat Raya 106 Jakarta.  Kongres Pemuda II kala itu dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito dari PPPI, dan Sumpah Pemuda dirumuskan oleh Moehammad Yamin yang waktu itu mewakili Jong Soematraen Bond. Kongres Pemuda II melahirkan 3 keputusan yaitu:

1. Sumpah Pemuda
Satu : “Kami poetra dan poetri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia”
Dua : “Kami poetra dan poetri Indonesia Mengakoe Berbangsa Satoe, Bangsa Indonesia”
Tiga : “Kami poetra dan poetri Indonesia Mendjoenjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia”
2. Lagu Indonesia Raya Menjadi Lagu Kebangsaan Indonesia
3. Sang Saka Merah Putih sebagai Bendera Nasional Indonesia

Sumpah Pemuda bagi rakyat Indonesia merupakan sebuah moment yang sangat bersejarah, karena dari sinilah yang mempengaruhi ruh, jiwa rakyat Indonesia untuk memperjuangkan dirinya agar terbebas dari penjajah Belanda yang sudah 350 menguasai Indonesia demi menjadi sebuah Bangsa yang merdeka. Sumpah Pemuda menjadi titik dimana kebangkitan nasional menemui ruh kebersamaan atau persatuan nasional.

Bahasa Indonesia
Dalam salah satu butir isi Sumpah Pemuda yaitu Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Persatuan Bangsa Indonesia, bukan Bahasa Jawa atau bahasa lainya. Karena pada dasarnya bisa saja saat itu bahasa Jawa menjadi bahasa yang disepakati, karena mayoritas pemuda elit kala itu dari Jawa.
Dalam catatan Kongres kala S.M. Kartosoewirjo yang kala itu masih berusia 23 Tahun dari Partai Sjarikat Islam Indonesia mengungkapkan pendapatnya ke forum bahwa bahasa asing berfungsi sebagai bahasa pergaulan internasional, dan menekankan bahwa bahasa Indonesia harus menjadi bahasa penghubung persatuan pemuda, selanjutnya, pergerakan nasional harus diserahkan kepada perkumpulan yang beradasarkan nasionalisme.
Penekanan yang dituturkan S.M. Karto Soewirjo cukup beralasan, dimana 6 bulan sebelumnya kongres Boedi Oetomo menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia. Hal ini menyadarkanya bahasa apa yang dapat digunakan untuk menyampaikan aspirasi Nasional dan Organisasi apa yang harus diamanati untuk memimpin pergerakan Nasional.
Asal tahu saja dahulu rakyat Indonesia dilarang oleh Belanda untuk berbicara dengan bahasa Belanda, hanya orang-orang pribumi tertentu yang diperbolehkan untuk menggunakan Bahasa Belanda. Sehingga rakyat Indonesia terbiasa menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasinya tentunya selain bahasa daerahnya masing-masing. Sehingga dipasar-pasar kala itu sangat populer bahasa Melayu yang mana akhirnya Bahasa Melayu menjadi bahasa Pasar atau Bahasa Melayu Pasar. Hal ini bisa terjadi karena para saudagar dari pasar kepasar menggunakan bahasa melayu sebagai alat komunikasinya. Alhasil wajar jika bahasa Melayu menyebar ke seantero Nusantara.
Bahasa Melayu dahulu selain biasa digunakan di Pasar juga digunakan di Pesantren-pesantren sebagai Bahasa ilmunya, dan juga digunakan oleh Kerajaan atau kesultanan sebagai bahasa Diplomatiknya. Yang kemudian Media-Media Islam seperti Syarikat Dagang Islam, Moehamadiyah, Hajatul Qulub/Persyarikatan Ulama, Djamiah Nahdatul Wathon/Nahdatul Ulama, Persatuan Islam/Persis, Jong Islamiten Bond, Tarbiyah Islamiyah/Perti. menggunakan Bahasa Melayu sebagai Bahasa Jurnalistiknya. Berbeda dengan Oganisasi kalangan priyayi Jawa yang menggunakan Bahasa Jawa seperti Boedi Oetomo, Jong Java dll.
Awalnya Bahasa Indonesia dikenal dengan nama Bahasa Melayu, kemudian dikenal dengan nama bahasa Melayu Pasar karena memang sangat populer dipasar-pasar, setelah itu sekarang dikenal dengan Bahasa Indonesia. Pada umumnya dulu bahasa melayu ditulis dalam huruf arab melayu dan huruf arab jawa.
Jadi, rakyat Indonesia harus bangga dan menghargai bahasanya yaitu Bahasa Indonesia, karena bahasa inilah yang mampu menyatukan perjuangan dahulu dalam melawan penjajah. Peran Pedagang/Saudagar sangat penting dalam penyebaran bahasa melayu ini ke seluruh nusantara dan juga Ulama yang mana dahulu mereka juga menjadi pedagang/Saudagar. Dari Pasar, Pesantren, Kesultanan, Media akhirnya sekarang menjadi Bahasa Resmi Bangsa Indonesia.
Catatan: Wajar saja kalau bahasa Belanda tidak populer di Indonesia dibandingkan bahasa Penjajah lainya diwilayah bekas jajahanya seperti Inggris, dan Portugis serta Spanyol (Bahasa Inggris Populer d Malaysia, Portugis populer di Timor-timur dan Spanyol populer di Filipina), hal ini dikarenakan Belanda sejak awal melarang orang Indonesia menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa keseharianya, Belanda hanya memperbolehkan orang pribumi menggunakan bahasa indonesia pada kalangan priyayi/bangsawan.
Kata “Indonesia”

Selain Bahasa, yang menjadi point penting sumpah pemuda adalah Bangsa Indonesia, yah kata Indonesia menjadi nama bangsa kita. Mungkin diantara kita bertanya-tanya asal mula kata Indonesia, siapa yang mengenalkanya pada kita. karena tidak ada suku Indonesia sebelumnya, kerajaan Indonesia juga tidak ada. 
Dalam menelusuri sejara kata Indonesia kita bisa telusuri dari nama-nama Organisasi kala itu, dari keputusan-keputusan kongresnya. dari situ kita bisa melihat latar belakang kata Indonesia digunakan sebagan penamaan bangsa kita.
Mungkin saat ini orang ketika ditanya awal mula penggunaan kata Indonesia akan tertuju ke organisasi PNI(Perserikatan Nasional Indonesia) karena disana ada pemimpinya yaitu Ir. Soekarno. tetapi sebenarnya sebelum berdirinya PNI tahun 1927, sudah ada organisasi yang menggunakan kata indonesia sebagai nama organisasinya yaitu Indonesische Eenheids Comitee pada bulan Agustus 1926 di Bandung dan Comite Persatoean Indonesia pada bulan September 1926 di Surabaya.
Jadi bisa dikatakan yang mempelopori penggunaan nama Indonesia adalah Indonesische Eenheids Comite dan Comite Persatuan Indonesia yaitu pada tahun 1926, sedangkan PNI didirikan setahun setelahnya pada tahun 1927 Baru pada tahun 1928 Kata Indonesia diikrarkan menjadi nama Bangsa kita yaitu Bangsa Indonesia, dan pada 17 Agustus 1945 Indonesia diresmikan menjadi nama Bangsa sekaligus Negara Indonesia.Itu dari segi Organisasi, lalu siapa orangnya yang mengenalkan Indonesi? Dr. Soekiman Wirjosandjojo. Ketika Dr. Soekiman Wirjosandjojo menjadi ketua Indische Vereniging di Belanda pada 11 Januari 1925, Dr. Soekiman Wirjosandjojo mengubah nama   Indische Vereniging menjadi Perhimpoenan Indonesia. Setelah itu mulailah kata Indonesia dikenal dan kemudian Organisasi-organisasi muncul dengan kata Indonesia sebagai nama Organisasinya, diantaranya; Indonesische Eenheids Comitee (`1926), Comite Persatoean Indonesia (1926), Perhimpoenan Peldjar-Peladjar Indonesia (1926), Jong Indonesia (1927), Perserikatan Nasional Indonesia (1927), Perhimpoenan Pemoefakatan Politik Indonesia (PPPKI) tahun 1927 , Madjlis Oelama Indonesia (September 1928), Partai Sjarikat Islam Indonesia (1928), Perikatan Prerempoean Indonesia (Des 1928) dll.

Namun Sejarah Indonesia, nama Dr. Soekirman Wirjosandjojo tidak dituliskan sebagai pelopor penggunaan kata Indonesia di Belanda dan Indonesia, demikian pula setelah menjadi Perdana Menteri NKRI tidak dituliskan  bahwa yang mengesahkan Lambang Garuda Pancasila pada 1951 M adalah Dr. Soekirman Wirjosandjojo.

Dalam Artikel saya selanjutnya akan bahas mengenai latar belakang berdirinya organisasi-organisasi yang menggunakan kata Indonesia khususnya sebelum tahun 1928 dan Organisasi-organisasi yang berpengaruh terhadap lahirnya Kongres Pemoeda II untuk melengkapi artikel ini.
Kembali lagi ke hari Sumpah Pemuda, kalaulah Soempah Boekit Sigeontang (683 M) melahirkan kerajaan Sriwjaya (Abad 5-13), Soempah Palapa/Patih Gajah Mada di kaki Pegenoengan Pananggoengan pada 1331 M melahirkan Madjapahit, maka Soempah Pemoeda melahirkan Negara Republik Indonesia (1945) begitulah yang dituturkan Moehammad Yamin.
Sriwijaya berdiri dengan agama Budhanya dan Majapahit lahir dengan agama Hindu, sedangkan Indonesia Lahir karena Perjuangan umat Islam dan pada akhirnya sejengkal demi sejengkal setelah Negara Republik Indonesia Lahir Umat Islam disisihkan serta disingkirkan dari percaturan politik negara dengan antiklimaksnya pada peristiwa Pembubaran Masyumi pada tahun 1960 oleh presiden kala itu Ir. Soekarno dan setelah itu sejarah menyaksikan Umat Islam menjadi bulan-bulanan rezim yang berkuasa, bahkan sampai masa reformasipun, Umat Islam masih menjadi bulan-bulanan dengan stigma yang terus dipaksakan yaitu Terorisme sehingga Negara/Polisi khususnya Densus 88 bisa leluasa menangkap serta membunuh ditempat, siapa saja yang dianggap teroris tanpa memperbolehknya untuk membela diri didepan pengadilan, Ironi…Sejarah sekarang mencatat Umat Islam tak dapat memetik jerih payah pengorbananya demi sebuah kata yaitu NKRI, lebih jelasnya mengenai sejarah ini, baca sejara awal kemerdekaan indonesia 1945-1955 sampai akhirnya lahir sebuah keputusan yang kontroversial yaitu Dekrit Presiden Tahun 1955 dan Kepres pembubaran Masyumi tahun 1960.
Lalu setelah mengetahu sejarah ini, masihkah mereka tega mengatakan Umat Islam mementingkan dirinya yang mayoritas dibandingkan umat yang lain yang minoritas? masihkah mereka tega berkata bahwa Mentang-mentang Mayoritas umat Islam bisa Menindas yang Mayoritas? Seharusnya umat lain yang menjust seperti itu mau menengok negara dimana umatnya berkuasa di belahan dunia lain, bagaimana mereka memperlakukan Umat Islam yang lemah dan Minorotas disana? Kalau anda orang baik maka anda akan memahami letak ketidak adilanya. dan menghargai serta mengerti betapa baik hatinya Umat Islam diindonesia rela berkorban demi Damai dan bersatunya Indonesia. Mengertilaaaaaaah……..!!!Dan Indonesia saat ini bagaikan Pohon Besar yang hampir  tercerabut dari Akarnya. Nilai, Semangat serta Cita-cita dahulu ketika diperjuangkan tak lagi sama dengan Nilai, semangat serta cita-cita Indonesia saat ini. Sehingga Indonesia bak Pohon yang tertiup badai sedangkan akarnya hampir saja lepas dari tanah. Janganlah musuhi Umat Islam di Indonesia karena Umat Islam Indonesialah yang menjaga Akar tetap terhujam ketanah agar Indonesia tetap bersatu, utuh tidak becerai berai kemudian tumbang. Dan Yakinlah ketika suatu saat nanti Indonesia membutuhkan darah-darah pengorbanan demi keutuhanya, dunia akan menyaksikan bahwa darah itu adalah darah Umat Islam, maju terdepan seperti yang dilakukan para pendahulunya. Sedangkan Umat yang lain entah kemana, entah itu bersembunyi atau menunggu…

Mari kita menjadi Pemuda yang tahu sejarah sehingga kita tidak mudah ditipu serta diadu domba dan agar kita tidak salah orang untuk mengucapkan kata terima kasih kepada para pejuang sebelumnya. Bangkitlah Pemuda Jayalah Indonesia dan Membumilah Islam dengan luhurnya ajaranya.

Sumber

Illuminati dan Bahayanya

Inilah Illuminati dan Bahayanya
all seeing eye
Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir
Illuminati adalah kelompok persaudaraan rahasia yang sangat tertutup. Menurut Wikipedia, Illuminati berasal dari bahasa latin illuminatus yang berarti tercerahkan, adalah nama yang diberikan kepada organisasi persaudaraan rahasia kuno yang pernah ada dan diyakini masih tetap ada sampai sekarang, walaupun tidak ditemukan bukti-bukti nyata tentang keberadaan organisasi persaudaraan ini.

Secara historis, nama illuminati ini merujuk kepada illuminati Bavaria, yaitu sebuah kelompok rahasia pada zaman pencerahan di Eropa yang didirikan pada 1 Mei 1776 M di Ingolstadt (Bavaria Atas) dengan nama Ordo Illuminati. Anggota awalnya sebanyak lima orang dan di pelopori Adam Weishaupt, keturunan Yahudi yang lahir dan besar di Ingolstadt dan berlatar belakang pendidikan sebagai Jesuit.

Tetapi, ada juga penelitian yang menyebutkan, organisasi Illuminati ini sudah ada jauh sebelum masa Adam Weishaupt. Menurut penelitian ini, illuminati merupakan organisasi rahasia Yahudi yang bergerak di bawah tanah, menjalankan segenap agenda Zionisme yang didasarkan pada ajaran Qabala, yaitu ordo rahasia Yahudi tertua yang telah berusia lebih kurang 4.000 tahun.

Adam Weishaupt hanyalah kelanjutan tangan ordo Qabala putih, yaitu salah satu ordo Qabala yang lebih menekankan misi politik, di samping mengembangkan ajaran Qabala dalam me nyem bah Lucifer. Mereka merumuskan, misi Qabala adalah menentukan arah peradaban manusia guna membentuk “tatanan dunia baru” ( Novus ordo seclorum) dan “Pemerintahan Satu Dunia” ( E Pluribus Unum) di bawah kepemimpinan kaum Yahudi.

Di antara salah satu tujuan organisasi ini adalah menghapuskan semua agama yang ada. Dan menurut penelitian yang disebutkan di atas, Adam Weishaupt inilah perumus The Protocols of the Elders of Zion (protokol tokoh-tokoh zionisme) yang berisi agenda besar dengan tujuan utama untuk penguasaan dunia oleh kaum Zionis. (Sumber: barisanjihad.multiply.com).

Dari keterangan dan gambaran ringkas tentang illuminati, dapat kita ambil kesimpulan bahwa ia merupakan suatu kelompok atau organisasi rahasia yang bertujuan menguasai dunia di ba wah kepemimpinan kaum Zionis dan menghapuskan semua agama yang ada, dengan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Seperti sudah menjadi rahasia umum, para tokoh illuminati menguasai sebagian besar ekonomi dunia, yang dengan itu mereka bisa mengatur dan mengarahkan pemerintahan negara-negara di dunia. Salah satu cara dan jalan mereka memengaruhi akal dan pola pikir masyarakat dunia adalah melalui industri musik dan film.

Di sinilah umat Islam harus menyadari bahayanya menjadikan artis dan penyanyi Hollywood sebagai idola dan role model dalam perilaku, fashion, dan gaya hidup karena kebanyakan mereka membawa dan menyisipkan ajaran serta gaya hidup yang diinginkan oleh kaum Zionis bagi masyarakat dunia sehingga bisa mereka kuasai.

Mereka kerap menggunakan selebritas untuk memengaruhi masyarakat dunia dengan musik, aksi panggung, dan gaya hidupnya yang mengumbar seks dan pornografi serta gaya hidup bebas nilai dan agama. Kalau umat Islam tidak waspada tentu akan sangat berbahaya terhadap generasi muda kita, yang sekarang ini kita lihat sudah begitu jauh dari ajaran Islam.

Tetapi, sebagai umat Islam yang percaya akan janji Allah SWT bahwa masa depan itu bagi kegemilangan Islam dan umatnya, kita tidak boleh takut. Yang dituntut dari kita adalah kewaspadaan sebagai umat untuk terus berusaha men jadi generasi yang selalu berada dalam kebenaran dan tidak terpengaruh dengan mereka yang mengecewakan dan menghinakan kita.

Kita pun mesti mempersiapkan diri dan keluarga agar bisa menjadi generasi rabbani yang menerapkan nilai-nilai Islam. Diriwayatkan dari Tsauban, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berjalan di atas kebenaran, tiada sedikit pun terpengaruh orang yang menghina mereka, hingga datangnya keputusan Allah’.” (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim).

Alquran menjelaskan, kaum Yahudi akan selalu menimbulkan api peperangan di antara bangsa di dunia ini dan menjerumuskan masyarakat dunia. Namun sebagai Muslim, kita meyakini jika kita beriman kepada Allah SWT maka Dia menjadikan kita berkuasa di muka bumi ini.

‘’Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.’’ (QS. Al- Nur [24]: 55).

Wallahu a’lam bish shawab.

Dikutip dari Rubrik Tanya Jawab Republika, edisi 24 April 2012

 

Sumber

Air, Benda Mati Itu Hidup

Air, Benda Mati Itu Hidup
Air minum

Dulu waktu SD, saya diajarkan sebuah pelajaran tentang konsep benda mati dan benda hidup. Jelas sekali disebutkan bahwa selain manusia, binatang dan tumbuhan; semuanya adalah benda mati.

Logika itu melekat terus sampai SMP,  hingga akhirnya saya membaca buku “winnetou” Indian suku Apache yang gagah berani. Dalam buku tersebut terselip budaya Indian yang mempercayai bahwa benda-benda seperti angin, gunung dan sebagainya itu mempunyai spirit. Imajinasi saya pun melayang-layang, kemudian saya sering berkhayal berdialog dengan awan di langit. Dan semua saya beri nama, sampai sepatu saya pun, saya beri nama “si Gemuk”, persis seperti kebiasaan suku Indian di dalam buku tersebut.

Kemudian waktu berselang. Pendek cerita Ustaz doddy membawa buku tentang penelitian DR Masaru Emoto, tentang air. Menarik sekali karena air yang kita minum atau air apapun juga, jika kita katakan kepada air tersebut “kamu bodoh”, maka reaksi dari air tersebut setelah diteliti molekulnya berubah menjadi buruk. Dan jika dikatakan “mari bekerja” molekulnya akan lebih baik daripada jika dikatakan “kerjakan!”

Dan yang lebih mencengangkan lagi, air juga bereaksi terhadap doa. Jika air didekatkan dengan doa maka molekulnya berubah menjadi heksagonal dan berwarna emas. Dalam penelitian fenomenal ini , DR Masaru Emoto menyimpulkan bahwa kita, manusia sebaiknya berbaik-baik terhadap air, dan karena manusia 70 persen terdiri dari air, maka menurut DR tersebut otomatis kita harus berucap kata yang santun terhadap manusia. Karena jika tidak molekul air didalam tubuhnya akan berubah menjadi buruk dan akan membawa dampak pengaruh orang itu akan menjadi marah.

Rasullullah SAW dengan ketinggian ilmunya 14 abad yang lalu menyatakan kepada Aisyah RA; “Wahai Aisyah, jika engkau ingin minum hendaklah mengucapkanlah Bismillah, dan jika air itu mengalir ke dalam perutmu dan tidak terjadi apa-apa ucapkanlah Alhamdulillah”.

Artinya Rasul sangat mengerti bahwa air itu makhluk Allah, yang ketika kita mengucapkan Bismillah maka air itu akan tunduk kepada kita, karena kita meminta izin langsung kepada pemilik semesta alam, yang menciptakan air tersebut. Dan dalam hadis lain Rasul SAW bersabda; “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan yang baik-baik atau diam”.(HR Bukhari)  Artinya sesama manusia kita tidak diperbolehkan mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakitkan orang lain. Subhanallah.

Barulah saya menyadari bahwa Islam telah jelas menyatakan 14 abad yang lalu, bahkan jauh dari sebelum itu bahwa seluruh yang diciptakan Allah disebut dengan makhluk Allah SWT. Dan mereka bertasbih kepada Allah, yang artinya mereka semuanya hidup.  Sebagaimana ayat “Bertasbih kepada-NYA apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS Al Hasyr [QS 59;24]).

Seluruh makhluk Allah bertasbih, gugusan bintang (al buruj), bintang (an Najm), bumi ( Al ard), gunung (jabal), angin, awan seluruhnya yang ada di langit dan dibumi semua bertasbih kepada Allah. Dan saat ini mereka ditundukkan oleh Allah untuk kepentingan manusia. Hal itu sebagaimana ayat;“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripadaNYA…”. Surat Al Jatsiyah (QS 45:13).

DR Masaru Emoto meneliti air tersebut karena dia mengalami suatu penyakit di kakinya yang sulit sekali disembuhkan, dan dia tercengang karena dengan basuhan air yang di “treatment” tersebut kakinya bisa sembuh. Berarti tidak mengherankan jika fenomena air doa yang sering kita lihat atau bahkan alami disekitar kita. Banyak sekali penyembuhan lewat air yang didoakan, mungkin pendekatan logikanya mirip dengan penelitian DR Masaru Emoto tersebut. Namun tetaplah Allah SWT yang Maha menyembuhkan dan atas seizin Allah kesembuhan itu terjadi. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis:

“Setiap penyakitada obatnya. Bila penyakit dikenai obat, niscaya akan sembuh atas izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Imam Ahmad, Bukhari dan Ibnu Majah).

Rasulullah juga mengajarkan banyak doa kesembuhan yang diriwayatkan dalam berbagai hadis, yang antara lain:

“Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, hilangkanlah penyakit ini karena hanya Engkaulah Maha Penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkannya kecuali ijin Engkau.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemudian jika kita lebih jauh membahas air, ternyata air yang ada didunia ini adalah air yang sama dengan air dari zaman Nabi Nuh. Karena beberapa ulama menyebutkan air pada zaman Nabi Nuh ditambahkan langsung oleh Allah SWT dari langit, sehubungan peristiwa air bah atau banjir besar pada zaman Nabi Nuh AS.

Namun setelah itu air itu mempunyai water cycle dengan sangat teratur; pertama hujan turun, kemudian air yang ada di gunung, bukit, semua mengalir, yang didalam tanah menjadi air tanah, yang diatas menjadi mata air, mengalir ke air terjun, sungai sampai terus bermuara ke laut. Lalu terjadi evaporasi atau penguapan air, yang kemudian butir-butir air akan menjadi hujan lagi. Begitulah penjelasan sederhananya. Karena itulah mungkin pemahamannya bahwa air bisa bereaksi hampir kepada seluruh bahasa. Wallahu a’lam

Subhanallah wal hamdulillah, satu lagi tabir yang terbuka setelah sekian banyak tabir yang Alloh bukakan kepada kita. Dan lewat ilmu pengetahuan, kita semakin dapat memahami tanda-tanda kebesaran Alloh Azza wa Jalla.

Sebagaimana ayat: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” (QS. Fushilat, 41 : 53)

Setelah membaca dan mengkaji tentang air ini, kemudian sambil masih mencoba mengendapkan informasi tentang air, mulut ini bergumam, “Subhanallah, ternyata air, benda mati itu hidup”.

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik disisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Ustaz Erick Yusuf: Pemrakarsa Training iHAQi (Integrated Human Quotient)
Twitter: @erickyusuf

 

Sumber