Sejarah Sumpah Pemuda 1928

Sumpah Pemuda, tentunya semua orang khususnya rakyat Indonesia tahu mengenai Sumpah Pemuda. Namun sebagian besar dari yang tahu mengenai Sumpah pemuda tak lebih dari sekedar tahu kalimatnya saja, tetapi makna serta isi sumpahnya dewasa ini banyak yaang tidak tahu, mungkin salah satunya anda sendiri.

Ketika kita mau nelihat sejarah Sumpah Pemoeda, maka kita harus menelisik Sejarah Kongres Pemoeda. Kongres Pemoeda pertama kali diadakan pada 2 Mei 1926 M, dan Kongres Pemoeda 2 diadakan pada 28 Oktober 1928 M.

Menelisik latarbelakang adanya Kongres Pemoeda 2 kita mesti melihat hasil keputusan kongres ke-2 Jong Islamieten Bond pada23-27 Desember 1927 yang memutuskan untuk memperjuangkan Cita-cita persatuan dan Kebangsaan, selain itu beberapa hari sebelumnya juga sudah didirikan pada 17 Desember 1927 yaitu Perhimpoenan Pemoefakatan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang bertujuan sama dengan Hasil Kongres JIB ke-2.

Keputusan itu ternyata mendapatkan reaksi keras dari Keputusan Kongres Boedi Oetomo di surakarta pada 6-9 April 1928 yang menolak pelaksanaan Cita-cit persatuan Indonesia, yang kemudian diikuti oleh Jong Java yang setia menginduk kepada Boedi Oetomo mengembangkan bahasa Jawa, Kesenian Jawa, dan Agama Djawa (Kebatinan) dalam lingkup Djawa Radja.

Untuk menjawab hasil kongres Boedi Oetomo ini, 7 bulan setelahnya PPPI (Perhimpoenan Pejadjar-Peladjar Indonesia) dan Jong Indonesia segera menyelenggarakan Kongres Pemoeda II pada 28 Oktober 1928 atau Ahad Wage, 13 Jumadil Awwal 1347 H di Kramat Raya 106 Jakarta.  Kongres Pemuda II kala itu dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito dari PPPI, dan Sumpah Pemuda dirumuskan oleh Moehammad Yamin yang waktu itu mewakili Jong Soematraen Bond. Kongres Pemuda II melahirkan 3 keputusan yaitu:

1. Sumpah Pemuda
Satu : “Kami poetra dan poetri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia”
Dua : “Kami poetra dan poetri Indonesia Mengakoe Berbangsa Satoe, Bangsa Indonesia”
Tiga : “Kami poetra dan poetri Indonesia Mendjoenjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia”
2. Lagu Indonesia Raya Menjadi Lagu Kebangsaan Indonesia
3. Sang Saka Merah Putih sebagai Bendera Nasional Indonesia

Sumpah Pemuda bagi rakyat Indonesia merupakan sebuah moment yang sangat bersejarah, karena dari sinilah yang mempengaruhi ruh, jiwa rakyat Indonesia untuk memperjuangkan dirinya agar terbebas dari penjajah Belanda yang sudah 350 menguasai Indonesia demi menjadi sebuah Bangsa yang merdeka. Sumpah Pemuda menjadi titik dimana kebangkitan nasional menemui ruh kebersamaan atau persatuan nasional.

Bahasa Indonesia
Dalam salah satu butir isi Sumpah Pemuda yaitu Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Persatuan Bangsa Indonesia, bukan Bahasa Jawa atau bahasa lainya. Karena pada dasarnya bisa saja saat itu bahasa Jawa menjadi bahasa yang disepakati, karena mayoritas pemuda elit kala itu dari Jawa.
Dalam catatan Kongres kala S.M. Kartosoewirjo yang kala itu masih berusia 23 Tahun dari Partai Sjarikat Islam Indonesia mengungkapkan pendapatnya ke forum bahwa bahasa asing berfungsi sebagai bahasa pergaulan internasional, dan menekankan bahwa bahasa Indonesia harus menjadi bahasa penghubung persatuan pemuda, selanjutnya, pergerakan nasional harus diserahkan kepada perkumpulan yang beradasarkan nasionalisme.
Penekanan yang dituturkan S.M. Karto Soewirjo cukup beralasan, dimana 6 bulan sebelumnya kongres Boedi Oetomo menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia. Hal ini menyadarkanya bahasa apa yang dapat digunakan untuk menyampaikan aspirasi Nasional dan Organisasi apa yang harus diamanati untuk memimpin pergerakan Nasional.
Asal tahu saja dahulu rakyat Indonesia dilarang oleh Belanda untuk berbicara dengan bahasa Belanda, hanya orang-orang pribumi tertentu yang diperbolehkan untuk menggunakan Bahasa Belanda. Sehingga rakyat Indonesia terbiasa menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasinya tentunya selain bahasa daerahnya masing-masing. Sehingga dipasar-pasar kala itu sangat populer bahasa Melayu yang mana akhirnya Bahasa Melayu menjadi bahasa Pasar atau Bahasa Melayu Pasar. Hal ini bisa terjadi karena para saudagar dari pasar kepasar menggunakan bahasa melayu sebagai alat komunikasinya. Alhasil wajar jika bahasa Melayu menyebar ke seantero Nusantara.
Bahasa Melayu dahulu selain biasa digunakan di Pasar juga digunakan di Pesantren-pesantren sebagai Bahasa ilmunya, dan juga digunakan oleh Kerajaan atau kesultanan sebagai bahasa Diplomatiknya. Yang kemudian Media-Media Islam seperti Syarikat Dagang Islam, Moehamadiyah, Hajatul Qulub/Persyarikatan Ulama, Djamiah Nahdatul Wathon/Nahdatul Ulama, Persatuan Islam/Persis, Jong Islamiten Bond, Tarbiyah Islamiyah/Perti. menggunakan Bahasa Melayu sebagai Bahasa Jurnalistiknya. Berbeda dengan Oganisasi kalangan priyayi Jawa yang menggunakan Bahasa Jawa seperti Boedi Oetomo, Jong Java dll.
Awalnya Bahasa Indonesia dikenal dengan nama Bahasa Melayu, kemudian dikenal dengan nama bahasa Melayu Pasar karena memang sangat populer dipasar-pasar, setelah itu sekarang dikenal dengan Bahasa Indonesia. Pada umumnya dulu bahasa melayu ditulis dalam huruf arab melayu dan huruf arab jawa.
Jadi, rakyat Indonesia harus bangga dan menghargai bahasanya yaitu Bahasa Indonesia, karena bahasa inilah yang mampu menyatukan perjuangan dahulu dalam melawan penjajah. Peran Pedagang/Saudagar sangat penting dalam penyebaran bahasa melayu ini ke seluruh nusantara dan juga Ulama yang mana dahulu mereka juga menjadi pedagang/Saudagar. Dari Pasar, Pesantren, Kesultanan, Media akhirnya sekarang menjadi Bahasa Resmi Bangsa Indonesia.
Catatan: Wajar saja kalau bahasa Belanda tidak populer di Indonesia dibandingkan bahasa Penjajah lainya diwilayah bekas jajahanya seperti Inggris, dan Portugis serta Spanyol (Bahasa Inggris Populer d Malaysia, Portugis populer di Timor-timur dan Spanyol populer di Filipina), hal ini dikarenakan Belanda sejak awal melarang orang Indonesia menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa keseharianya, Belanda hanya memperbolehkan orang pribumi menggunakan bahasa indonesia pada kalangan priyayi/bangsawan.
Kata “Indonesia”

Selain Bahasa, yang menjadi point penting sumpah pemuda adalah Bangsa Indonesia, yah kata Indonesia menjadi nama bangsa kita. Mungkin diantara kita bertanya-tanya asal mula kata Indonesia, siapa yang mengenalkanya pada kita. karena tidak ada suku Indonesia sebelumnya, kerajaan Indonesia juga tidak ada. 
Dalam menelusuri sejara kata Indonesia kita bisa telusuri dari nama-nama Organisasi kala itu, dari keputusan-keputusan kongresnya. dari situ kita bisa melihat latar belakang kata Indonesia digunakan sebagan penamaan bangsa kita.
Mungkin saat ini orang ketika ditanya awal mula penggunaan kata Indonesia akan tertuju ke organisasi PNI(Perserikatan Nasional Indonesia) karena disana ada pemimpinya yaitu Ir. Soekarno. tetapi sebenarnya sebelum berdirinya PNI tahun 1927, sudah ada organisasi yang menggunakan kata indonesia sebagai nama organisasinya yaitu Indonesische Eenheids Comitee pada bulan Agustus 1926 di Bandung dan Comite Persatoean Indonesia pada bulan September 1926 di Surabaya.
Jadi bisa dikatakan yang mempelopori penggunaan nama Indonesia adalah Indonesische Eenheids Comite dan Comite Persatuan Indonesia yaitu pada tahun 1926, sedangkan PNI didirikan setahun setelahnya pada tahun 1927 Baru pada tahun 1928 Kata Indonesia diikrarkan menjadi nama Bangsa kita yaitu Bangsa Indonesia, dan pada 17 Agustus 1945 Indonesia diresmikan menjadi nama Bangsa sekaligus Negara Indonesia.Itu dari segi Organisasi, lalu siapa orangnya yang mengenalkan Indonesi? Dr. Soekiman Wirjosandjojo. Ketika Dr. Soekiman Wirjosandjojo menjadi ketua Indische Vereniging di Belanda pada 11 Januari 1925, Dr. Soekiman Wirjosandjojo mengubah nama   Indische Vereniging menjadi Perhimpoenan Indonesia. Setelah itu mulailah kata Indonesia dikenal dan kemudian Organisasi-organisasi muncul dengan kata Indonesia sebagai nama Organisasinya, diantaranya; Indonesische Eenheids Comitee (`1926), Comite Persatoean Indonesia (1926), Perhimpoenan Peldjar-Peladjar Indonesia (1926), Jong Indonesia (1927), Perserikatan Nasional Indonesia (1927), Perhimpoenan Pemoefakatan Politik Indonesia (PPPKI) tahun 1927 , Madjlis Oelama Indonesia (September 1928), Partai Sjarikat Islam Indonesia (1928), Perikatan Prerempoean Indonesia (Des 1928) dll.

Namun Sejarah Indonesia, nama Dr. Soekirman Wirjosandjojo tidak dituliskan sebagai pelopor penggunaan kata Indonesia di Belanda dan Indonesia, demikian pula setelah menjadi Perdana Menteri NKRI tidak dituliskan  bahwa yang mengesahkan Lambang Garuda Pancasila pada 1951 M adalah Dr. Soekirman Wirjosandjojo.

Dalam Artikel saya selanjutnya akan bahas mengenai latar belakang berdirinya organisasi-organisasi yang menggunakan kata Indonesia khususnya sebelum tahun 1928 dan Organisasi-organisasi yang berpengaruh terhadap lahirnya Kongres Pemoeda II untuk melengkapi artikel ini.
Kembali lagi ke hari Sumpah Pemuda, kalaulah Soempah Boekit Sigeontang (683 M) melahirkan kerajaan Sriwjaya (Abad 5-13), Soempah Palapa/Patih Gajah Mada di kaki Pegenoengan Pananggoengan pada 1331 M melahirkan Madjapahit, maka Soempah Pemoeda melahirkan Negara Republik Indonesia (1945) begitulah yang dituturkan Moehammad Yamin.
Sriwijaya berdiri dengan agama Budhanya dan Majapahit lahir dengan agama Hindu, sedangkan Indonesia Lahir karena Perjuangan umat Islam dan pada akhirnya sejengkal demi sejengkal setelah Negara Republik Indonesia Lahir Umat Islam disisihkan serta disingkirkan dari percaturan politik negara dengan antiklimaksnya pada peristiwa Pembubaran Masyumi pada tahun 1960 oleh presiden kala itu Ir. Soekarno dan setelah itu sejarah menyaksikan Umat Islam menjadi bulan-bulanan rezim yang berkuasa, bahkan sampai masa reformasipun, Umat Islam masih menjadi bulan-bulanan dengan stigma yang terus dipaksakan yaitu Terorisme sehingga Negara/Polisi khususnya Densus 88 bisa leluasa menangkap serta membunuh ditempat, siapa saja yang dianggap teroris tanpa memperbolehknya untuk membela diri didepan pengadilan, Ironi…Sejarah sekarang mencatat Umat Islam tak dapat memetik jerih payah pengorbananya demi sebuah kata yaitu NKRI, lebih jelasnya mengenai sejarah ini, baca sejara awal kemerdekaan indonesia 1945-1955 sampai akhirnya lahir sebuah keputusan yang kontroversial yaitu Dekrit Presiden Tahun 1955 dan Kepres pembubaran Masyumi tahun 1960.
Lalu setelah mengetahu sejarah ini, masihkah mereka tega mengatakan Umat Islam mementingkan dirinya yang mayoritas dibandingkan umat yang lain yang minoritas? masihkah mereka tega berkata bahwa Mentang-mentang Mayoritas umat Islam bisa Menindas yang Mayoritas? Seharusnya umat lain yang menjust seperti itu mau menengok negara dimana umatnya berkuasa di belahan dunia lain, bagaimana mereka memperlakukan Umat Islam yang lemah dan Minorotas disana? Kalau anda orang baik maka anda akan memahami letak ketidak adilanya. dan menghargai serta mengerti betapa baik hatinya Umat Islam diindonesia rela berkorban demi Damai dan bersatunya Indonesia. Mengertilaaaaaaah……..!!!Dan Indonesia saat ini bagaikan Pohon Besar yang hampir  tercerabut dari Akarnya. Nilai, Semangat serta Cita-cita dahulu ketika diperjuangkan tak lagi sama dengan Nilai, semangat serta cita-cita Indonesia saat ini. Sehingga Indonesia bak Pohon yang tertiup badai sedangkan akarnya hampir saja lepas dari tanah. Janganlah musuhi Umat Islam di Indonesia karena Umat Islam Indonesialah yang menjaga Akar tetap terhujam ketanah agar Indonesia tetap bersatu, utuh tidak becerai berai kemudian tumbang. Dan Yakinlah ketika suatu saat nanti Indonesia membutuhkan darah-darah pengorbanan demi keutuhanya, dunia akan menyaksikan bahwa darah itu adalah darah Umat Islam, maju terdepan seperti yang dilakukan para pendahulunya. Sedangkan Umat yang lain entah kemana, entah itu bersembunyi atau menunggu…

Mari kita menjadi Pemuda yang tahu sejarah sehingga kita tidak mudah ditipu serta diadu domba dan agar kita tidak salah orang untuk mengucapkan kata terima kasih kepada para pejuang sebelumnya. Bangkitlah Pemuda Jayalah Indonesia dan Membumilah Islam dengan luhurnya ajaranya.

Sumber

Kedudukan TAP MPR dalam UU No. 12 Tahun 2011

Sekitar 7 tahun yang lalu pembentuk UU (DPR dan pemerintah) mengeluarkan atau tidak memasukkan Tap MPR sebagai salah satu jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia dan hal itu sebagaimana tertuang dalam Pasal 7 UU No 10 Tahun 2004.  Dikeluarkannya atau tidak dimasukkannya Tap MPR sebagai jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan tersebut tidak banyak diperdebatkan, meskipun sangat esensial bagi tertip dan kehidupan hukum di Indonesia.
Soal tata susunan (hierarki) norma hukum sangat berpengaruh pada kehidupan hukum suatu negara, apalagi bagi negara yang menyatakan dirinya sebagai negara hukum.  Susunan norma hukum dari negara manapun juga –termasuk Indonesia—selalu berlapis-lapis atau berjenjang.  Sejak Indonesia merdeka dan ditetapkannya UUD 1945 sebagai konstitusi, maka sekaligus terbentuk pula sistem norma hukum negara Indonesia.
Dalam kaitannya dengan sistem norma hukum di Indonesia itu, maka Tap MPR merupakan salah satu norma hukum yang secara hirakhis kedudukannya dibawah UUD 1945.  Meskipun secara hirakhir Tap MPR berada dibawah UUD 1945, namun Tap MPR selain masih bersifat umum dan garis besar dan belum dilekatkan oleh sanksi pidana maupun sanksi pemaksa.  Kemudian baik UUD 1945 maupun Tap MPR dibuat atau ditetapkan oleh lembaga yang sama, yakni MPR.  Dalam hubungan ini keberadaan Tap MPR setingkat lebih rendah dari UUD 1945 pada dasarnnya bisa dipahami dengan mengedepankan fungsi-fungsi yang dimiliki MPR.
Dalam konteksnya dengan sistem norma hukum Indonesia tersebut, berdasarkan TAP MPRS No.XX/MPRS/1966 dalam lampiran II-nya Tentang Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan  Indonesia berdasarkan UUD 1945 sebagai berikut;
  1. UUD 1945
  2. Ketetapan MPR
  3. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
  4. Peraturan Pemerintah
  5. Keputusan Presiden
  6. Peraturan Pelaksana lainnya; seperti Peraturan Menteri, Instruksi Mentri dan lain-lainnya.
Demikian pula halnya setelah reformasi dan setelah UUD 1945, Tap MPR tetap ditempatkan sebagai salah satu jenis peraturan perundang-undangan yang kedudukannya dibawah UUD 1945, walaupun ada perubahan atas jenis peraturan perundang-undangan. Hal ini sebagaimana  ddituangkan dalam TAP MPR No III/MPR/2000 yang menyebutkan tata urutan Peraturan Perundang-undangan sebagai berikut;
  1. UUD 1945
  2. Ketetapan MPR
  3. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
  4. Peraturan Pemerintah
  5. Peraturan Presiden
  6. Peraturan Daerah
Dari kedua TAP MPR tersebut  terlihat, bahwa jenis dan tata urutan peraturan perundang-undangan TAP MPR  tetap dipandang sebagai suatu peraturan perundang-undangan yang penting .  Tetapi entah kenapa, keberadaan Tap MPR  “dihilangkan” atau dikeluarkan dari jenis dan tata urutan peraturan perundang-undangan di dalam UU No 10 Tahun 2004. Dalam hubungan ini, UU No 10 Tahun 2004 menyebutkan tata urutan peraturan perundang-undangan sebagai berikut;
  1. UUD 1945
  2. UU/Peraturan Pemerinta Pengganti Undang-Undang
  3. Peraturan Pemerintah
  4. Peraturan Presiden
  5. Peraturan Daerah
Tidak jelas apa yang menjadi pertimbangan dari pembentuk UU No 10 Tahun 2004 tidak memasukkan Tap MPR sebagai salah jenis peraturan perundang-undangan dalam tata urutan peraturan perundang-undangan.  Dari sisi yuridis tentu kebijakan dari pembentuk UU No 10 Tahun 2004  tentulah suatu kebijakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip norma hukum yang berjenjang, artinya ketentuan UU No 10 Tahun 2004 itu bertentangan dengan Tap MPR No III/MPR/2000 yang berkedudukan lebih tinggi dari UU No 10 Tahun 2004.  Tetapi yang pasti pembentukkan UU No 10 Tahun 2004 tersebut  sepertinya mengabaikan keberadaan Tap MPR No.III/MPR/2000, dimana dalam konsideran UU No 1o Tahun 2004 tidak disebut-sebut  TAP MPR No III/MPR/2000 sebagai salah satu dasar dari pembentukan UU No. 10 Tahun 2004. Tetapi anehnya dalam Penjelasannya disebutkan bahwa pembentukan UU No 10 Tahun 2004 itu  guna memenuhi perintah ketentuan  Pasal 6 tap MPR No III/MPR/2000 Tentang Sumber Hukum Tertip Hukum.
Disisi lain,  apa yang terjadi pada pembentukkan UU No 10 Tahun 2004 yang mengeluarkan Tap MPR dari tata urutan peraturan perundang-undangan sebagaimana telah ditetapkan dalam Tap MPRNo.III/MPR/2000 jelas memperlihatkan adanya ketidak-konsistenan pembentuk UU dalam membentuk suatu UU dengan memperhatikan ketentuan yang sudah ada, apalagi berupa suatu peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi kedudukannya dari UU.
Kekeliruan mengeluarkan Tap MPR dari jenis dan tata susunan peraturan perundang-undangan sejak diundangkannya UU No 10 Tahun 2004 itu  akhirnya disadari pembentuk UU. Hal ini ditandai dengan di undangkannya UU No 12 Tahun 2011  yang diundangkan tanggal 12 Agustus 2011 lalu yang memaksukannya kembali Tap MPR sebagai salah satu jenis peraturan perundang-undangan. Meskipun UU No 12 Tahun 2011 dalam pertimbangannya menyebutkan  dalam konsideran adanya kekurangan pada UU No 10 Tahun 2004, namun sebenarnya lebih tepat kalau disebut adanya kekeliruan dalam menyusun dan membentuk UU No 1o Tahun 2004, khususnya berkaitan dengan dikeluarkannya Tap MPR sebagai salah satu jenis dan dari susunan peraturan perundang-undangan.  Dalam hubungan ini UU No 12 Tahun 2011 menyebutkan tata urutan peraturan perundang-undangan sebagai berikut:
  1. UUD 1945
  2. Ketetapan MPR
  3. UU/peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
  4. Peraturan Pemerintah
  5. Peraturan Presiden
  6. Peraturan daerah Propinsi
  7. Peraturan Daerah Kabupaten /Kota.
Dalam UU No 12 Tahun 2011 tersebut ditegaskan pula, bahwa kekuatan hukum peraturan perundang-undangan sesuai dengan hierarkinya. Artinya ketentuan ini memulihkan kembali keberadaan Tap MPR sebagai peraturan perundang-undangan yang kekuatan hukumnya lebih kuat dari UU. Tetapi disisi lain, dengan dipecahnya kedudukan Peraturan Daerah yang tadinya dalam Tap MPR No III/MPR/2000 hanya disebut Peraturan Daerah (Perda) saja tanpa membedakannya Perda Propinsi dengan Perda Kabupaten/Kota. Dengan dipercahnya Perda  menjadi Perda Propinsi dan dibawahnya Perda kabupaten Kota,  maka tentu keberadaan Perda Kabupaten/Kota lebih rendak kedudukannya dari Perda Propinsi dan sekaligus mengandung makna Perda kabupaten/Kota tidak boleh bertentangan dengan Perda Propinsi.  Sebelumnnya dalam UU No 1o Tahun 2004 dan sejalan dengan Tap MPR No III/MPR/200 kedudukan Perda Propinsi maupun Perda Kabupaten Kota berda dalam satu kotak dan tidak hirarkhis. Ini  bahkan terlihat jelas dalam ketentuan Pasal 7 ayat (5) UU No.10 Tahun 2004.  Akan tetapi dengan dipecahnya Perda menjadi Perda Propinsi dan Perda kabupaten Kota, scara hierarkhi, maka secara tidak lansung terkait dengan persoalan regulasi dalam implementasi otonomi daerah. Persoalan ini tentu menjadi masalah sendiri dan akan kita bahas dalam kesempatan lain.
Kembali ke soal l Tap MPR yang sudah dimasukkan kembali ke dalam tata urutan peraturan perundang-undangan dalam UU No 12 Tahun 2011. Suatu hal yang baru dalam UU No 12 Tahun 2011 adalah adanya peraturan lain selain dari jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan yang sudah disebutkan. Peraturan lain tersebut yakni mencakup peraturan yang ditetapkan MPR, DPR, MA, MK, BPK, KY, BI, Menteri, Badan, Lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan UU , DPRD Pripvinsi, Gubernur, DPRD  Kabupaten Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat. Kedudukan dan kekuatan hukum dari peraturan yang dibentuk lembaga-lembaga/instansi tersebut  diakui keberadaaannya  dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sepanjang sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.

Memahami UU No 12 Tahun 2011 sebagai pengganti UU No.10 tahun 2004, maka setidaknya beberapa persoalan yang terjadi dalam teknis pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia dibawah UU No 10 Tahu 2004 — khususnya terhadap pengeluaran Tap MPR dari jenis dan susunan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia— dapat diatasi dan dikembalikan pada posisi yang benar dan konsistensi terhadap tertip hukum kembali ditegakkan. Dan hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam penjelasan UU No 12 Tahun 2011, bahwa materi  UU No.10Tahun 2004  banyak menimbulkan kerancuan dan multi tafsir sehingga tidak memberikan suatu kepastian hukum. Tetapi sekali lagi UU No 12 Tahun 2011 dalam menjelaskan dalam penjelasannya terdapat materi baru yang diatur, dan materi baru itu disebutkan menambahkan Tap MPR sebagai salah satu jenis Peraturan Perundang-Undangan dan hierarkhinya ditempatkan dibawah UUD. Dan hal ini sebenarnya bukan materi baru, melainkan adanya kelalaian dan kealfaan dalam membentuk dan menyusun UU No 10 Tahun 2004. Sebab sudah terang adanya dalam TAP MPR No III/MPR/2000  sudah ditetapkan Tap MPR sebagai salah satu jenis peraturan perundang-undangan yang kedudukannya setingkat dibawah UUD 1945. Jadi dimasukannya kembali Tap MPR  sebagai salah satu jenis Peraturan perundang-undangan dalam UU No 12 Tahun 2011 sesungguhnya bukanlah penambahan materi baru, melainkan memperbaiki kesalahan pembentuk UU dalam menyusun dan membentuk UU sebelumnya yang digantikan UU No 12 tahun 2011.

Sumber

Fakta Menarik Tentang Kepulauan Indonesia

Masa lampau Indonesia sangat kaya raya. Ini dibuktikan oleh informasi dari berbagai sumber kuno. Kali ini kami akan membahas kekayaan tiap pulau yang ada di Indonesia. Pulau-pulau itu akan kami sebutkan menjadi tujuh bagian besar yaitu Sumatera, Jawa, Kepulauan Sunda kecil, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua.
Sumatera – Pulau Emas
Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Sumatera juga dikenal sebagai pulau Andalas.
Pada masa Dinasti ke-18 Fir’aun di Mesir (sekitar 1.567SM-1.339SM), di pesisir barat pulau sumatera telah ada pelabuhan yang ramai, dengan nama Barus. Barus (Lobu Tua – daerah Tapanuli) diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Barus dikenal karena merupakan tempat asal kapur barus. Ternyata kamper atau kapur barus digunakan sebagai salah satu bahan pengawet mummy Fir’aun Mesir kuno.
Di samping Barus, di Sumatera terdapat juga kerajaan kuno lainnya. Sebuah manuskrip Yahudi Purba menceritakan sumber bekalan emas untuk membina negara kota Kerajaan Nabi Sulaiman diambil dari sebuah kerajaan purba di Timur Jauh yang dinamakan Ophir. Kemungkinan Ophir berada di Sumatera Barat. Di Sumatera Barat terdapat gunung Ophir. Gunung Ophir (dikenal juga dengan nama G. Talamau) merupakan salah satu gunung tertinggi di Sumatera Barat, yang terdapat di daerah Pasaman. Kabarnya kawasan emas di Sumatera yang terbesar terdapat di Kerajaan Minangkabau. Menurut sumber kuno, dalam kerajaan itu terdapat pegunungan yang tinggi dan mengandung emas. Konon pusat Kerajaan Minangkabau terletak di tengah-tengah galian emas. Emas-emas yang dihasilkan kemudian diekspor dari sejumlah pelabuhan, seperti Kampar, Indragiri, Pariaman, Tikus, Barus, dan Pedir. Di Pulau Sumatera juga berdiri Kerajaan Srivijaya yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan besar pertama di Nusantara yang memiliki pengaruh hingga ke Thailand dan Kamboja di utara, hingga Maluku di timur.
Kini kekayaan mineral yang dikandung pulau Sumatera banyak ditambang. Banyak jenis mineral yang terdapat di Pulau Sumatera selain emas. Sumatera memiliki berbagai bahan tambang, seperti batu bara, emas, dan timah hitam. Bukan tidak mungkin sebenarnya bahan tambang seperti emas dan lain-lain banyak yang belum ditemukan di Pulau Sumatera. Beberapa orang yakin sebenarnya Pulau Sumatera banyak mengandung emas selain dari apa yang ditemukan sekarang. Jika itu benar maka Pulau Sumatera akan dikenal sebagai pulau emas kembali.
Jawa – Pulau Padi
Dahulu Pulau Jawa dikenal dengan nama JawaDwipa. JawaDwipa berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “Pulau Padi” dan disebut dalam epik Hindu Ramayana. Epik itu mengatakan “Jawadwipa, dihiasi tujuh kerajaan, Pulau Emas dan perak, kaya dengan tambang emas”, sebagai salah satu bagian paling jauh di bumi. Ahli geografi Yunani, Ptolomeus juga menulis tentang adanya “negeri Emas” dan “negeri Perak” dan pulau-pulau, antara lain pulau “”Iabadiu” yang berarti “Pulau Padi”.
Ptolomeus menyebutkan di ujung barat Iabadiou (Jawadwipa) terletak Argyre (kotaperak). Kota Perak itu kemungkinan besar adalah kerajaan Sunda kuno, Salakanagara yang terletak di barat Pulau Jawa. Salakanagara dalam sejarah Sunda (Wangsakerta) disebut juga Rajatapura. Salaka diartikan perak sedangkan nagara sama dengan kota, sehingga Salakanagara banyak ditafsirkan sebagai Kota perak.
Di Pulau Jawa ini juga berdiri kerajaan besar Majapahit. Majapahit tercatat sebagai kerajaan terbesar di Nusantara yang berhasil menyatukan kepulauan Nusantara meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Dalam catatan Wang Ta-yuan, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan kunjungan biarawan Roma tahun 1321, Odorico da Pordenone, menyebutkan bahwa istana Raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.
Menurut banyak pakar, pulau tersubur di dunia adalah Pulau Jawa. Hal ini masuk akal, karena Pulau Jawa mempunyai konsentrasi gunung berapi yang sangat tinggi. Banyak gunung berapi aktif di Pulau Jawa. Gunung inilah yang menyebabkan tanah Pulau Jawa sangat subur dengan kandungan nutrisi yang di perlukan oleh tanaman.
Raffles pengarang buku The History of Java merasa takjub pada kesuburan alam Jawa yang tiada tandingnya di belahan bumi mana pun. “Apabila seluruh tanah yang ada dimanfaatkan,” demikian tulisnya, “bisa dipastikan tidak ada wilayah di dunia ini yang bisa menandingi kuantitas, kualitas, dan variasi tanaman yang dihasilkan pulau ini.”
Kini pulau Jawa memasok 53 persen dari kebutuhan pangan Indonesia. Pertanian padi banyak terdapat di Pulau Jawa karena memiliki kesuburan yang luar biasa. Pulau Jawa dikatakan sebagai lumbung beras Indonesia. Jawa juga terkenal dengan kopinya yang disebut kopi Jawa. Curah hujan dan tingkat keasaman tanah di Jawa sangat pas untuk budidaya kopi. Jauh lebih baik dari kopi Amerika Latin ataupun Afrika.
Hasil pertanian pangan lainnya berupa sayur-sayuran dan buah-buahan juga benyak terdapat di Jawa, misalnya kacang tanah, kacang hijau, daun bawang, bawang merah, kentang, kubis, lobak, petsai, kacang panjang, wortel, buncis, bayam, ketimun, cabe, terong, labu siam, kacang merah, tomat, alpokat, jeruk, durian, duku, jambu biji, jambu air, jambu bol, nenas, mangga, pepaya, pisang, sawo, salak,apel, anggur serta rambutan. Bahkan di Jawa kini dicoba untuk ditanam gandum dan pohon kurma. Bukan tidak mungkin jika lahan di Pulau Jawa dipakai dan diolah secara maksimal untuk pertanian maka Pulau Jawa bisa sangat kaya hanya dari hasil pertanian.
Kepulauan Sunda kecil (Bali, NTB dan NTT) – Kepulauan Wisata
Ptolemaeus menyebutkan, ada tiga buah pulau yang dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India. Berdasarkan informasi itu kemudian ahli-ahli ilmu bumi Eropa menggunakan kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pulau di timur India. Sejumlah pulau yang kemudian terbentuk di dataran Sunda diberi nama dengan menggunakan istilah Sunda pula yakni Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil. Kepulauan Sunda Besar ialah himpunan pulau besar yang terdiri dari Sumatera, Jawa, Madura dan Kalimantan. Sedangkan Sunda Kecil merupakan gugusan pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, dan Timor.
Daerah Kepulauan Sunda kecil ini dikenal sebagai daerah wisata karena keindahan alamnya yang menakjubkan. Sejak dulu telah ada yang berwisata ke daerah ini. Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad 11. Pada tahun 1920 wisatawan dari Eropa mulai datang ke Bali. Bali di Eropa dikenal juga sebagai the Island of God.
Di Tempat lain di Kepulauan Sunda Kecil tepatnya di daerah Nusa Tenggara Barat dikenal dari hasil ternaknya berupa kuda, sapi, dan kerbau. Kuda Nusa tenggara sudah dikenal dunia sejak ratusan tahun silam. Abad 13 M Nusa Tenggara Barat telah mengirim kuda-kuda ke Pulau Jawa. Nusa Tenggara Barat juga dikenal sebagai tempat pariwisata raja-raja. Raja-raja dari kerajaan Bali membangun Taman Narmada pada tahun 1727 M di daerah Pulau Lombok untuk melepas kepenatan sesaat dari rutinitas di kerajaan.
Daerah Sunda Kecil yang tidak kalah kayanya adalah Nusa Tenggara Timur, karena di daerah ini terdapat kayu cendana yang sangat berharga. Cendana adalah tumbuhan asli Indonesia yang tumbuh di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Cendana dari Nusa Tenggara Timur telah diperdagangkan sejak awal abad masehi. Sejak awal abad masehi, banyak pedagang dari wilayah Indonesia bagian barat dan Cina berlayar ke berbagai wilayah penghasil cendana di Nusa Tenggara Timur terutama Pulau Sumba dan Pulau Timor. Konon Nabi Sulaiman memakai cendana untuk membuat tiang-tiang dalam bait Sulaiman, dan untuk alat musik. Nabi Sulaiman mengimpor kayu ini dari tempat-tempat yang jauh yang kemungkinan cendana tersebut berasal dari Nusa Tenggara Timur.
Kini Kepulauan Sunda kecil ini merupakan tempat pariwisata yang terkenal di dunia. Bali merupakan pulau terindah di dunia. Lombok juga merupakan salah satu tempat terindah di dunia. Sementara itu di Nusa tenggara Timur terdapat Pulau yang dihuni binatang purba satu-satunya di dunia yang masih hidup yaitu komodo. Kepulauan Sunda kecil merupakan tempat yang misterius dan sangat menawan. Kepulauan ini bisa mendapat banyak kekayaan para pelancong dari seluruh dunia jika dikelola secara maksimal.
Kalimantan – Pulau Lumbung energi
Dahulu nama pulau terbesar ketiga di dunia ini adalah Warunadwipa yang artinya Pulau Dewa Laut. Kalimantan dalam berita-berita China (T’ai p’ing huan yu chi) disebut dengan istilah Chin li p’i shih. Nusa Kencana” adalah sebutan pulau Kalimantan dalam naskah-naskah Jawa Kuno. Orang Melayu menyebutnya Pulau Hujung Tanah (P’ulo Chung). Borneo adalah nama yang dipakai oleh kolonial Inggris dan Belanda.
Pada zaman dulu pedagang asing datang ke pulau ini mencari komoditas hasil alam berupa kamfer, lilin dan sarang burung walet melakukan barter dengan guci keramik yang bernilai tinggi dalam masyarakat Dayak. Para pendatang India maupun orang Melayu memasuki muara-muara sungai untuk mencari lahan bercocok tanam dan berhasil menemukan tambang emas dan intan di Pulau ini.
Di Kalimantan berdiri kerajaan Kutai. Kutai Martadipura adalah kerajaan tertua bercorak Hindu di Nusantara. Nama Kutai sudah disebut-sebut sejak abad ke 4 (empat) pada berita-berita India secara tegas menyebutkan Kutai dengan nama “Quetaire” begitu pula dengan berita Cina pada abat ke 9 (sembilan) menyebut Kutai dengan sebutan “Kho They” yang berarti kerajaan besar. Dan pada abad 13 (tiga belas) dalam kesusastraan kuno Kitab Negara Kertagama yang disusun oleh Empu Prapanca ditulis dengan istilah “Tunjung Kute”. Peradaban Kutai masa lalu inilah yang menjadi tonggak awal zaman sejarah di Indonesia.
Kini Pulau Kalimantan merupakan salah satu lumbung sumberdaya alam di Indonesia memiliki beberapa sumberdaya yang dapat dijadikan sebagai sumber energi, diantaranya adalah batubara, minyak, gas dan geothermal. Hutan Kalimantan mengandung gambut yang dapat digunakan sebagai sumber energi baik untuk pembangkit listrik maupun pemanas sebagai pengganti batu bara. Yang luar biasa ternyata Kalimantan memiliki banyak cadangan uranium yang bisa dipakai untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Disamping itu Kalimantan juga memiliki potensi lain yakni sebagai penyedia sumber energi botani atau terbaharui. Sumber energi botani atau bioenergi ini adalah dari CPO sawit. Pulau Kalimantan memang sangat kaya.
Sulawesi – Pulau besi
Orang Arab menyebut Sulawesi dengan nama Sholibis. Orang Belanda menyebut pulau ini dengan nama Celebes. Pulau ini telah dihuni oleh manusia sejak 30.000 tahun yang lalu terbukti dengan adanya peninggalan purba di Pulau ini. Contohnya lokasi prasejarah zaman batu Lembah Besoa.
Nama Sulawesi konon berasal dari kata ‘Sula’ yang berarti pulau dan ‘besi’. Pulau Sulawesi sejak dahulu adalah penghasil bessi (besi), sehingga tidaklah mengherankan Ussu dan sekitar danau Matana mengandung besi dan nikkel. Di sulawesi pernah berdiri Kerajaan Luwu yang merupakan salah satu kerajaan tertua di Sulawesi. Wilayah Luwu merupakan penghasil besi. Bessi Luwu atau senjata Luwu (keris atau kawali) sangat terkenal akan keampuhannya, bukan saja di Sulawesi tetapi juga di luar Sulawesi. Dalam sejarah Majapahit, wilayah Luwu merupakan pembayar upeti kerajaan, selain dikenal sebagai pemasok utama besi ke Majapahit, Maluku dan lain-lain. Menurut catatan yang ada, sejak abad XIV Luwu telah dikenal sebagai tempat peleburan besi.
Di Pulau Sulawesi ini juga pernah berdiri Kerajaan Gowa Tallo yang pernah berada dipuncak kejayaan yang terpancar dari Sombaopu, ibukota Kerajaan Gowa ke timur sampai ke selat Dobo, ke utara sampai ke Sulu, ke barat sampai ke Kutai dan ke selatan melalui Sunda Kecil, diluar pulau Bali sampai ke Marege (bagian utara Australia). Ini menunjukkan kekuasaan yang luas meliputi lebih dari 2/3 wilayah Nusantara.
Selama zaman yang makmur akan perdagangan rempah-rempah pada abad 15 sampai 19, Sulawesi sebagai gerbang kepulauan Maluku, pulau yang kaya akan rempah-rempah. Kerajaan besar seperti Makasar dan Bone seperti yang disebutkan dalam sejarah Indonesia timur, telah memainkan peranan penting. Pada abad ke 14 Masehi, orang Sulawesi sudah bisa membuat perahu yang menjelajahi dunia. Perahu pinisi yang dibuat masyarakat Bugis pada waktu itu sudah bisa berlayar sampai ke Madagaskar di Afrika, suatu perjalanan mengarungi samudera yang memerlukan tekad yang besar dan keberanian luar biasa. Ini membuktikan bahwa suku Bugis memiliki kemampuan membuat perahu yang mengagumkan, dan memiliki semangat bahari yang tinggi. Pada saat yang sama Vasco da Gama baru memulai penjelajahan pertamanya pada tahun 1497 dalam upaya mencari rempah-rempah, dan menemukan benua-benua baru di timur, yang sebelumnya dirintis Marco Polo.
Sampai saat ini Sulawesi sangat kaya akan bahan tambang meliputi besi, tembaga, emas, perak, nikel, titanium, mangan semen, pasir besi/hitam, belerang, kaolin dan bahan galian C seperti pasir, batu, krikil dan trass. Jika saja dikelola dengan baik demi kemakmuran rakyat maka menjadi kayalah seluruh orang Sulawesi.
Maluku – Kepulauan rempah-rempah
Maluku memiliki nama asli “Jazirah al-Mulk” yang artinya kumpulan/semenanjung kerajaan yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Maluku dikenal dengan kawasan Seribu Pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Orang Belanda menyebutnya sebagai ‘the three golden from the east’ (tiga emas dari timur) yakni Ternate, Banda dan Ambon. Sebelum kedatangan Belanda, penulis dan tabib Portugis, Tome Pirez menulis buku ‘Summa Oriental’ yang telah melukiskan tentang Ternate, Ambon dan Banda sebagai ‘the spices island’.
Pada masa lalu wilayah Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai Spice Islands.
Pada 4000 tahun lalu di kerajaan Mesir, Fir’aun dinasti ke-12, Sesoteris III. Lewat data arkeolog mengenai transaksi Mesir dalam mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, gading, dari daratan misterius tempat “Punt” berasal. Meski dukungan arkeologis sangat kurang, negeri “Punt” dapat diidentifikasi setelah Giorgio Buccellati menemukan wadah yang berisi benda seperti cengkih di Efrat tengah. Pada masa 1.700 SM itu, cengkih hanya terdapat di kepulauan Maluku, Indonesia. Pada abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling popular dan mahal di Eropa, melebihi harga emas.
Selain cengkeh, rempah-rempah asal Maluku adalah buah Pala. Buah Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala telah menjadi komoditi perdagangan yang penting pada masa Romawi. Melihat mahalnya harga rempah-rempah waktu itu banyak orang Eropa kemudian mencari Kepulauan rempah-rempah ini. Sesungguhnya yang dicari Christoper Columbus ke arah barat adalah jalan menuju Kepulauan Maluku, ‘The Island of Spices’ (Pulau Rempah-rempah), meskipun pada akhirnya Ia justru menemukan benua baru bernama Amerika. Rempah-rempah adalah salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku.
Kini sebenarnya Maluku bisa kembali berjaya dengan hasil pertaniannya jika terus dikembangkan dengan baik. Maluku bisa kaya raya dengan hasil bumi dan lautnya.
Papua – Pulau surga
Papua adalah pulau terbesar kedua di dunia. Pada sekitar Tahun 200 M , ahli Geography bernama Ptolamy menyebutnya dengan nama LABADIOS. Pada akhir tahun 500 M, pengarang Tiongkok bernama Ghau Yu Kua memberi nama TUNGKI, dan pada akhir tahun 600 M, Kerajaan Sriwijaya menyebut nama Papua dengan menggunakan nama JANGGI. Tidore memberi nama untuk pulau ini dan penduduknya sebagai PAPA-UA yang sudah berubah dalam sebutan menjadi PAPUA. Pada tahun 1545, Inigo Ortiz de Retes memberi nama NUEVA GUINEE dan ada pelaut lain yang memberi nama ISLA DEL ORO yang artinya Pulau Emas. Robin Osborne dalam bukunya, Indonesias Secret War: The Guerilla Struggle in Irian Jaya (1985), menjuluki provinsi paling timur Indonesia ini sebagai surga yang hilang.
Tidak diketahui apakah pada peradaban kuno sebelum masehi di Papua telah terdapat kerajaan. Bisa jadi zaman dahulu telah terdapat peradaban maju di Papua. Pada sebuah konferensi tentang lampu jalan dan lalulintas tahun 1963 di Pretoria (Afrika Selatan), C.S. Downey mengemukakan tentang sebuah pemukiman terisolir di tengah hutan lebat Pegunungan Wilhelmina (Peg. Trikora) di Bagian Barat New Guinea (Papua) yang memiliki sistem penerangan maju. Para pedagang yang dengan susah payah berhasil menembus masuk ke pemukiman ini menceritakan kengeriannya pada cahaya penerangan yang sangat terang benderang dari beberapa bulan yang ada di atas tiang-tiang di sana. Bola-bola lampu tersebut tampak secara aneh bersinar setelah matahari mulai terbenam dan terus menyala sepanjang malam setiap hari. Kita tidak tahu akan kebenaran kisah ini tapi jika benar itu merupakan hal yang luar biasa dan harus terus diselidiki.
Papua telah dikenal akan kekayaan alamnya sejak dulu. Pada abad ke-18 Masehi, para penguasa dari kerajaan Sriwijaya, mengirimkan persembahan kepada kerajaan China. Di dalam persembahan itu terdapat beberapa ekor burung Cendrawasih, yang dipercaya sebagai burung dari taman surga yang merupakan hewan asli dari Papua. Dengan armadanya yang kuat Sriwijaya mengunjungi Maluku dan Papua untuk memperdagangkan rempah – rempah, wangi – wangian, mutiara dan bulu burung Cenderawasih. Pada zaman Kerajaan Majapahit sejumlah daerah di Papua sudah termasuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Pada abad XVI Pantai Utara sampai Barat daerah Kepala Burung sampai Namatota ( Kab.Fak-fak ) disebelah Selatan, serta pulau – pulau disekitarnya menjadi daerah kekuasaan Sultan Tidore.
Tanah Papua sangat kaya. Tembaga dan Emas merupakan sumber daya alam yang sangat berlimpah yang terdapat di Papua. Papua terkenal dengan produksi emasnya yang terbesar di dunia dan berbagai tambang dan kekayaan alam yang begitu berlimpah. Papua juga disebut-sebut sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Papua merupakan surga keanekaragaman hayati yang tersisa di bumi saat ini. Pada tahun 2006 diberitakan suatu tim survei yang terdiri dari penjelajah Amerika, Indonesia dan Australia mengadakan peninjauan di sebagian daerah pegunungan Foja Propinsi Papua Indonesia. Di sana mereka menemukan suatu tempat ajaib yang mereka namakan “dunia yang hilang”,dan “Taman Firdaus di bumi”, dengan menyaksikan puluhan jenis burung, kupu-kupu, katak dan tumbuhan yang belum pernah tercatat dalam sejarah. Jika dikelola dengan baik, orang Papua pun bisa lebih makmur dengan kekayan alam yang melimpah tersebut.
Demikianlah sedikit tulisan mengenai pulau-pulau di Indonesia yang sangat kaya. Dari tulisan tersebut sebenarnya Indonesia sudah dikenal sebagai bumi yang kaya sejak zaman peradaban kuno. Kita tidak tahu peradaban kuno apa yang sebenarnya telah ada di Kepulauan Nusantara ini. Bisa jadi telah ada peradaban kuno dan makmur di Indonesia ini yang tidak tercatat sejarah.
Ilmuwan Brazil Prof. Dr. Aryso Santos, menegaskan teori bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis. Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu.
Oppenheimer dalam buku “Eden in the East: the Drowned Continent of Southeast Asia”, mengajukan bahwa Sundaland (Indonesia) adalah Taman Firdaus (Taman Eden). bahwa Taman Firdaus (Eden) itu bukan di Timur Tengah, tetapi justru di Sundaland. Indonesia memang merupakan lahan yang subur dan indah yang terletak di jalur cincin api (pacific ring of fire), yang ditandai keberadaan lebih dari 500 gunung berapi di Indonesia. Indonesia bisa saja disebut sebagai surga yang dikelilingi cincin api. Tapi terlepas dari benar atau tidaknya kita semua sepakat mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia adalah negeri yang sangat kaya akan hasil bumi, laut maupun budayanya.
Kebudayaan asli Indonesia sudah berumur ribuan tahun sebelum peradaban Mesir maupun Mesopotamia mulai menulis di atas batu. Peradaban bangsa Indonesia mungkin memang tidak dimulai dengan tradisi tulisan, akan tetapi tradisi lisan telah hidup dan mengakar dalam jiwa masyarakat kuno bangsa kita.
Alam Indonesia yang kaya-raya dan dirawat dengan baik oleh nenek moyang kita juga menjadi salah satu faktor yang membuat kepulauan nusantara menjadi sumber perhatian dunia. Indonesia merupakan negara yang terletak di khatulistiwa yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah di samping letaknya yang strategis secara geografis. Sumber daya alam tersebut mulai dari kekayaan laut, hutan, hingga barang tambang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kini mulai banyak ditemukan tambang baru di Indonesia. Orang Indonesia akan terkejut dengan kekayaan alam apa lagi yang akan muncul dari dalam bumi Indonesia ini.

Bumi yang kaya ini jika dikelola dengan baik akan membuat setiap rakyat Indonesia bisa memperoleh kemakmuran yang luar biasa sehingga bisa jadi suatu saat rakyat Indonesia sudah tidak perlu dikenakan pajak seperti saat ini, dan segala fasilitas bisa dinikmati dengan gratis berkat dari kekayaan alam yang melimpah yang dibagi kepada rakyat secara adil. Yang dibutuhkan Indonesia adalah penguasa baik, adil dan pandai yang amat mencintai rakyat dan menolak segala bentuk kebijakan yang menyulitkan masyarakat. Sudah saatnya Indonesia bangkit menuju kejayaannya. Jika hal itu terlaksana Indonesia bisa menjadi negara paling kaya di dunia.

Sumber

Proses Terjadinya Pancasila

Kebanyakan orang tidak mengetahui bagaimana sebenarnya proses terjadinya Pancasila itu. Pancasila sebagai dasar negara tentunya harus dimengerti dan dipahami pula bagaimana proses terciptanya ideologi yang luhur menurut bangsa Indonesia itu. Agar memiliki pengetahuan yamg lengkap tentang proses terjadinya Pancasila, maka secara ilmiah ditinjau dari proses kausalitas. Maka secara kausalitas proses terjadinya Pancasila dapat di badakan menjadi dua yaitu: asala mula yang langsung dan asal mula yang tidak langsung. Adapun pengrtian asal mula tersebut adalah sebagai berikut :

A. Asal Mula yang Langsung
Pengertian asal mula secara ilmiah filsafati dibedakan menjadi empat bagian yaitu: Kausa Materialis, Kausa Formalis, Kausa Efisien, dan Kausa Finalis (Bagus, 1991 : 158). asala mula yang langsung terjadinya Pancasila sebagi dasar filsafat negara yaitu asal mula yang sesudah dan menjelang proklamasi kemerdekaan sejak dirumuskan oleh para pendiri bangsa, sejak sidang BPUPKI pertama, Panitia Sembilan, Sidang BPUPKI kedua, dan siding PPKI dan pemecahannya. Adapun rincian asal mula langsung Pancasila menurut Notonagoro adalah sebagai berikut:
1. Asal mula bahan (Kausa Materialis)
Asal bahan Pancasila adalah bangsa Indonesia itu sendiri karena Pancasila digali dari nilai-nilai, adat-istiadat, kebudayaan, serta nilai-nilai religius yang terdapat dalam kehidupan sehari hari bangsa Indonesia.
2. Asal mula bentuk (Kausa Formalis)
Hal ini dimaksudkan bagaimana asal mula bentuk atau bagaimana bentuk Pancasila itu dirumuskan sebagaimana termuat dalam Pembukaan UUD 1945. Maka asal mula bentuk Pancasila adalah; Soekarno bersama-sam dengan Drs. Moh. Hatta, serta anggota BPUPKI lainya merumuskan dan membahas Pancasila terutama dalam hubungan bentuk, rumusan dan nama Pancasila itu sendiri.
3. Asal mula karya (Kausa Efisien)
Asala mula karya yaitu asal mula yang menjadikan Pancasila dari calon dasar negara menjadi dasar negara yang sah. Adapun asal mula karya adalah PPKI sebagai pembentuk negara dan atas dasar pembentuk negara yang mengesahkan Pancasila menjadi dasar negara yang sah, setelah melakukan pembahasan baik yang dilakuakan oleh BPUPKI atau Panitia Sembilan.
4. Asal mula tujuan (Kausa Finalis)
Pancasila dirumuskan dan dibahas dalam sidang-sidang pendiri negara bertujuan untuk menjadikan Pancasila itu sebagai dasar negara. Oleh karena itu, asal mual tujuan tersebut adalah para anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan termasuk Soekarno dan Hatta yang menentukan tujuan dirumuskannya Pancasila sebelum ditetapkan oleh PPKI sebagi dasar negara yang sah.

B. Asal Mula yang Tidak Langsung
Secara kausalitas, asal mula yang tidak langsung Pancasila adalah asal mula sebelum proklamasi kemerdekaan. Berarti bahwa asal mula nilai-nilai Pancasila yang terdapat dalam adat-istiadat, dalam kebudayaan, serta dalam nialai-nilai agama bangsa Indonesia. Maka asal mula tidak langsung Pancasila bilamana dirinci adalah sebagai berikut:
a. unsur-unsur Pancasila tersebut sebelum secara langsung dirumuskan menjadi dasar filsafat negara. Nilai-nilainya yaitu nilai keuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan telah ada dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia sebelum membentuk negara Indonesia.
b. Nilai-nilai tersebut terkandung dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara, yang berupa nilai-nilai adat istiadat, nilai kebudayaan, serta nilai religius. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dalam memecahkan problema kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.
c. Dengan demikian, dapat disimpulakan bahwa asal mula tidak langsung Pancasila pada hakikatnya bangsa Indonesia sendiri, atau dengan kata lain bangsa Indonesia sebagai “Kausa Materialis” atau sebagai asal mula tidak langsung nilai-nilai Pancasila.

Demikianlah tinjauan Pancasila dari segi kausalitas, sehingga memberikan dasar–dasar ilmiah bahwa Pancasila itu pada hakikatnya adalah sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, yang jauh sebelum bangsa Indonesia membentuk negara, nilai-nilai tersebut telah tercermin dan teramalkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu tinjaun kausalitas tersebut memberikan bukti secara ilmiah bahwa Pancasila merupakan bukan hasil perenungan atau pemikiran sekelompok orang saja, bahkan Pancasila juga bukan merupakan hasil sintesa paham-paham besar dunia, melainkan nilai-nilai Pancasila secara tidak langsung telah terkandung dalam pandangan hidup bangsa Indonesia.

Diakses pada tanggal 29 Desember 2011 pukul 11.24 WIB

Sejarah Lambang Garuda (Versi yang Lain)

Syahdan alfaqir bertemu dengan orang asing saat bertafakur di Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah. Orang asing tersebut mengatakan, “Gharadla…gharadla…gharadla.” Orang asing itu, tampangnya Arab, sambil menunjuk lencana garuda yang tersemat pada krah kiri baju. Seketika alfaqir menjadi sadar, bahwa yang dimaksud orang asing itu adalah lambang burung garuda. Maka, saat itu pikiran alfaqir teleportasi ke memori sejarah bangsa Indonesia.

Terlihat burung rajawali dan burung jatayu. Burung garuda merupakan perpaduan antara rajawali dan jatayu. Memang burung garuda itu fiksi. Burung garuda lebih merupakan harapan buat bangsa Indonesia, agar bangsa ini kembali menjadi bangsa yang hebat. Seperti yang pernah terjadi pada masa-masa pra-sejarah dan sejarah. Era Atlantis dan Era Lemuria. Era Sriwijaya dan Era Majapahit. Era Pajang dan Era Demak.

Garuda ternyata terambil dari bahasa Arab “gharadla”. Artinya, rindu dengan penuh harap. Boleh jadi para pendiri bangsa Indonesia sangat berharap. Lima sila yang tergambar pada perisai yang dikalungkan pada leher burung garuda segera menjadi kenyataan. Sangat berharap menjadi kenyataan sila-sila dalam lima sila tersebut.

Di samping hal itu mengandung pesan. Bangsa Indonesia akan menjadi gagah laksana burung garuda, jikalau benar-benar mengamalkan sila-sila dalam Pancasila. Sebab, bangsa ini akan terlindungi oleh perisai tersebut, yang tidak lain adalah pengamalan nyata dari sila-sila dalam Pancasila.

Tugas kita bersama. Bagaimana Pancasila tetap menjadi nafas kehidupan dan way of life bangsa Indonesia. Jangan malu di setiap kesempatan. Alam bawah sadar kita diingatkan dengan sila demi sila yang terdapat dalam Pancasila.

Yang pasti Pancasila bukan agama. Pancasila bukan untuk disembah. Pancasila tidak membicarakan halal dan haram. Pancasila tidak membahas surga dan neraka. Akan tetapi merupakan hasil ijtihad kaum muslimin mukmin negeri ini, yang menyukuri sebab telah dianugerahiNYA negeri seperti Indonesia yang kaya raya.

Itulah sebabnya, sesaat menjelang Bung Karno berpidato di depan BPUPKI tanggal 18 Agustus 1945. Dia bertanya kepada orang cerdas yang memiliki susastra tinggi, Prof.Dr.Mr.Muhammad Yamin, kiranya apa yang cocok dengan gagasan-gagasan yang hendak disampaikan itu. Dengan cepat Pak Yamin mengatakan, “Pancasila.”

Boleh Indonesia menjadi modern. Silahkan mau reformasi demi memenuhi hajat hidup orang banyak. Tapi, jangan lupakan garis dasar perjuangan. Sebab, melupakan garis dasar perjuangan menjadikan perjuangan kehilangan arah. Kehilangan kendali. Seperti yang terjadi sekarang ini. Mereka yang seharusnya berkompetensi mengurusi negara. Moralnya tidak bagus. Bekerja tidak becus. Bicaranya nggedebrus.

Apa jadinya jika aparat dan penguasanya tamak. Bumi kita tidak akan sanggup menampung satu orang yang tamak. Bisa dibayangkan jika perilaku tamak dilakukan secara berjamaah. Indonesia pasti hancur. Mengapa hal itu dapat terjadi? Karena mereka yang memegang amanat penderitaan rakyat sudah berperilaku tamak. Kalau disebut tamak berjamaah pasti ada “imam”-nya. Pertanyaannya lalu siapa, imam perilaku tamak di Indonesia?

Legeslatif, eksekutif, dan yudikatif harus menjadi contoh di dalam berperilaku pancasilais. Tugas mereka memberikan keteladanan dan pelayanan kepada masyarakat. Jika hal itu tidak dilakukan maka mereka telah mendhalimi masyarakat.

Simbol perisai yang berada pada leher burung garuda. Memberikan isyarat bahwa bangsa Indonesia akan terbebas dari bahaya apa pun ideologinya. Jikalau segenap masyarakat bangsa Indonesia mengamalkan Pancasila.

Bagaimana supaya Pancasila dapat membumi di bumi pertiwi? Sudah saatnya lembaga tinggi dan tertinggi negara membuka kran penafsiran Pancasila milik rakyat. Mengapa rakyat tidak simpatik dengan Pancasila? Karena Pancasila ditafsirkan tunggal oleh rezim orde baru. Kenyataannya, orde baru gagal dalam kebijakan ekonomi. Sehingga muncul anggapan ideologi Pancasila juga gagal menjadi ideologi negara.

Sehingga akhir-akhir ini banyak orang dengan kesombongannya, seraya memaksa ide-idenya guna mengganti Pancasila dengan ide kelompok mereka. Yang menurut mereka lebih baik dan lebih jitu dalam menyelesaikan krisis kebangsaan. Benarkah demikian? Itu belum teruji buat bangsa Indonesia. Sangat berbeda dengan Pancasila. Ia sudah teruji berkali-kali di dalam memperkokoh dan mempererat kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan negeri ini. Yang notabene adalah plural lagi majemuk di setiap aspek kehidupannya.

Apabila dicermati dari nama Indonesia. Ini pun berasal dari rangkai bahasa Arab “in-dzu-nisia”. Artinya, jika memiliki (sifat) lupa. Maksudnya, apabila segenap bangsa Indonesia ini memiliki sifat lupa diri. Pasti dia hancur. Sebab, orang yang lupa diri merupakan bukti bahwa dia lupa dengan Tuhan YME.

Tepatlah usulan Bung Hatta kepada Bung Karno, agar “Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa” ditempatkan pada sila yang pertama. Dengan penuh harap (gharadla) sila ke-2 sampai ke-5 benar-benar menjadi kenyataan.

Adalah kenyataan sekarang ini. Kehidupan bangsa Indonesia bergeser tidak lagi “Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa”. Tetapi, menjadi “Keuangan yang mahakuasa”. Apa yang terjadi? Muncul generasi tamak di mana-mana. Bumi pertiwi dipenuhi oleh manusia-manusia tamak. Sehingga tidak dapat diharapkan (gharadla) sila ke-2 sampai sila ke-5 dapat membumi.

Belum terlambat. Sekarang saat yang tepat mendidik dan menempa diri menjadi seorang islamis-pancasilais. Sebagai wujud syukur kepada-NYA menjadi orang Indonesia.

Jadi, nasionalisme kita semata karena bentuk syukur kita kepada-NYA, yang telah menakdirkan menjadi orang Indonesia, utamanya menjadi mukmin muslim.

Oleh: Omda Luthfi Muhammad.

 

Sumber: http://yasirmaster.blogspot.com/2011/12/gharadla-sejarah-lambang-garuda.html
Diakses pada tanggal 23 Desember 2011 pukul 13.58 WIB

Tahukah Anda! Indonesia Dijajah Selama 3.5 Abad Karena Sebuah Buku

Tahukah Anda bahwa karena sebuah bukulah maka bangsa Belanda bisa sampai di Nusantara dan melakukan penjajahan atas bumi yang kaya raya ini selama berabad-abad? Buku tersebut berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien , yang ditulis Jan Huygen van Linshoten di tahun 1595. Inilah kisahnya:
Jauh sebelum Eropa terbuka matanya mencari dunia baru, warga pribumi Nusantara hidup dalam kedamaian. Situasi ini berubah drastis saat orang-orang Eropa mulai berdatangan dengan dalih berdagang, namun membawa pasukan tempur lengkap dengan senjatanya. Hal yang ironis, tokoh yang menggerakkan roda sejarah dunia masuk ke dalam kubangan darah adalah dua orang Paus yang berbeda. Pertama, Paus Urbanus II, yang mengobarkan perang salib untuk merebut Yerusalem dalam Konsili Clermont tahun 1096. Dan yang kedua, Paus Alexander VI.

Perang Salib tanpa disadari telah membuka mata orang Eropa tentang peradaban yang jauh lebih unggul ketimbang mereka. Eropa mengalami pencerahan akibat bersinggungan dengan orang-orang Islam dalam Perang Salib ini. Merupakan fakta jika jauh sebelum Eropa berani melayari samudera, bangsa Arab telah dikenal dunia sebagai bangsa pedagang pemberani yang terbiasa melayari samudera luas hingga ke Nusantara. Bahkan kapur barus yang merupakan salah satu zat utama dalam ritual pembalseman para Fir’aun di Mesir pada abad sebelum Masehi, didatangkan dari satu kampung kecil bernama Barus yang berada di pesisir barat Sumatera tengah.

Dari pertemuan peradaban inilah bangsa Eropa mengetahui jika ada satu wilayah di selatan bola dunia yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya, yang tidak terdapat di belahan dunia manapun. Negeri itu penuh dengan karet, lada, dan rempah-rempah lainnya, selain itu Eropa juga mencium adanya emas dan batu permata yang tersimpan di perutnya. Tanah tersebut iklimnya sangat bersahabat, dan alamnya sangat indah. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Nusantara. Mendengar semua kekayaan ini Eropa sangat bernafsu untuk mencari semua hal yang selama ini belum pernah didapatkannya.

Paus Alexander VI pada tahun 1494 memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas. Dengan adanya perjanjian ini, Paus Alexander dengan seenaknya membelah dunia di luar daratan Eropa menjadi dua kapling untuk dianeksasi. Garis demarkasi dalam perjanjian Tordesilas itu mengikuti lingkaran garis lintang dari Tanjung Pulau Verde, melampaui kedua kutub bumi. Ini memberikan Dunia Baru—kini disebut Benua Amerika—kepada Spanyol. Afrika serta India diserahkan kepada Portugis. Paus menggeser garis demarkasinya ke arah timur sejauh 1.170 kilometer dari Tanjung Pulau Verde. Brazil pun jatuh ke tangan Portugis. Jalur perampokan bangsa Eropa ke arah timur jauh menuju kepulauan Nusantara pun terbagi dua. Spanyol berlayar ke Barat dan Portugis ke Timur, keduanya akhirnya bertemu di Maluku, di Laut Banda.
Sebelumnya, jika dua kekuatan yang tengah berlomba memperbanyak harta rampokan berjumpa tepat di satu titik maka mereka akan berkelahi, namun saat bertemu di Maluku, Portugis dan Sanyol mencoba untuk menahan diri. Pada 5 September 1494, Spanyol dan Portugal membuat perjanjian Saragossa yang menetapkan garis anti-meridian atau garis sambungan pada setengah lingkaran yang melanjutkan garis 1.170 kilometer dari Tanjung Verde. Garis itu berada di timur dari kepulauan Maluku, di sekitar Guam.
Sejak itulah, Portugis dan Spanyol berhasil membawa banyak rempah-rempah dari pelayarannya. Seluruh Eropa mendengar hal tersebut dan mulai berlomba-lomba untuk juga mengirimkan armadanya ke wilayah yang baru di selatan. Ketika Eropa mengirim ekspedisi laut untuk menemukan dunia baru, pengertian antara perdagangan, peperangan, dan penyebaran agama Kristen nyaris tidak ada bedanya. Misi imperialisme Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”: Gold, Glory, dan Gospel. Seluruh penguasa, raja-raja, para pedagang, yang ada di Eropa membahas tentang negeri selatan yang sangat kaya raya ini. Mereka berlomba-lomba mencapai Nusantara dari berbagai jalur. Sayang, saat itu belum ada sebuah peta perjalanan laut yang secara utuh dan detil memuat jalur perjalanan dari Eropa ke wilayah tersebut yang disebut Eropa sebagai Hindia Timur. Peta bangsa-bangsa Eropa baru mencapai daratan India, sedangkan daerah di sebelah timurnya masih gelap.

Dibandingkan Spanyol, Portugis lebih unggul dalam banyak hal. Pelaut-pelaut Portugis yang merupakan tokoh-tokoh pelarian Templar (dan mendirikan Knight of Christ), dengan ketat berupaya merahasiakan peta-peta terbaru mereka yang berisi jalur-jalur laut menuju Asia Tenggara. Peta-peta tersebut saat itu merupakan benda yang paling diburu oleh banyak raja dan saudagar Eropa. Namun ibarat pepatah, “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, maka demikian pula dengan peta rahasia yang dipegang pelaut-pelaut Portugis. Sejumlah orang Belanda yang telah bekerja lama pada pelaut-pelaut Portugis mengetahui hal ini. Salah satu dari mereka bernama Jan Huygen van Linschoten. Pada tahun 1595 dia menerbitkan buku berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis, yang memuat berbagai peta dan deksripsi amat rinci mengenai jalur pelayaran yang dilakukan Portugis ke Hindia Timur, lengkap dengan segala permasalahannya.

Buku itu laku keras di Eropa, namun tentu saja hal ini tidak disukai Portugis. Bangsa ini menyimpan dendam pada orang-orang Belanda. Berkat van Linschoten inilah, Belanda akhirnya mengetahui banyak persoalan yang dihadapi Portugis di wilayah baru tersebut dan juga rahasia-rahasia kapal serta jalur pelayarannya. Para pengusaha dan penguasa Belanda membangun dan menyempurnakan armada kapal-kapal lautnya dengan segera, agar mereka juga bisa menjarah dunia selatan yang kaya raya, dan tidak kalah dengan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya.

Pada tahun 1595 Belanda mengirim satu ekspedisi pertama menuju Nusantara yang disebutnya Hindia Timur. Ekspedisi ini terdiri dari empat buah kapal dengan 249 awak dipimpin Cornelis de Houtman, seorang Belanda yang telah lama bekerja pada Portugis di Lisbon. Lebih kurang satu tahun kemudian, Juni 1596, de Houtman mendarat di pelabuhan Banten yang merupakan pelabuhan utama perdagangan lada di Jawa, lalu menyusur pantai utaranya, singgah di Sedayu, Madura, dan lainnya. Kepemimpinan de Houtman sangat buruk. Dia berlaku sombong dan besikap semaunya pada orang-orang pribumi dan juga terhadap sesama pedagang Eropa. Sejumlah konflik menyebabkan dia harus kehilangan satu perahu dan banyak awaknya, sehingga ketika mendarat di Belanda pada tahun 1597, dia hanya menyisakan tiga kapal dan 89 awak. Walau demikian, tiga kapal tersebut penuh berisi rempah-rempah dan benda berharga lainnya.

Orang-orang Belanda berpikiran, jika seorang de Houtman yang tidak cakap memimpin saja bisa mendapat sebanyak itu, apalagi jika dipimpin oleh orang dan armada yang jauh lebih unggul. Kedatangan kembali tim de Houtman menimbulkan semangat yang menyala-nyala di banyak pedagang Belanda untuk mengikut jejaknya. Jejak Houtman diikuti oleh puluhan bahkan ratusan saudagar Belanda yang mengirimkan armada mereka ke Hindia Timur. Dalam tempo beberapa tahun saja, Belanda telah menjajah Hindia Timur dan hal itu berlangsung lama hingga baru merdeka pada tahun 1945.

Download Buku Ini

 

Sumber: http://ihsanhasan.wordpress.com/2010/03/05/tahukah-anda-indonesia-di-jajah-selama-3-5-abad-karena-sebuah-buku/
Diakses pada tanggal 22 Desember 2011 pukul 19.23 WIB

Paradigma Ilmu Menurut Thomas Samuel Kuhn

A. Pendahuluan

Pada zaman Yunani kuno priode filsafat ilmu dengan filsafat sukar dipisahkan. Pembuktian empirik kurang mendapat perhatian dan metode ilmiah tampaknya belum berkembang. Sedikit demi sedikit, dengan makin berkembangnya penalaran dan metode ilmiah, dengan makin kuatnya dan makin dihargainya pembuktian empirik, dan seiring dengan itu, makin meluasnya penggunaan instrumen penelitian, satu persatu cabang-cabang ilmu mulai melepaskan diri dari filsafat.

Definisi ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut, sedangkan sewaktu posisi ilmu lebih bebas dan lebih mandiri, definisi ilmu umumnya didasarkan pada apa yang dikerjakan oleh ilmu itu dengan melihat metode yang digunakannya. Berkembanglah ilmu-ilmu alamiah (natural sciences) dan ilmu-ilmu social (social science). Astronomi, anggota ilmu-illmu alamiah, merupakan salah satu ilmu yang pertama-tama melepaskan diri dari filsafat, sedangkan psikologi, anggota ilmu-ilmu sosial, termasuk yang terakhir melepaskan diri dari filsafat [1]

Masalah ilmu pengetahuan mungkin menjadi masalah terpenting bagi kehidupan manusia. Hal ini menjadi ciri manusia karena manusia senantiasa bereksistensi, tidak hanya berada seperti batu atau rumput yang berada di tengah lapangan, tetapi mengada [2]

Oleh karena itu, manusia berbudaya, mengembangkan ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk kehidupan pribadi dan lingkungannya yang telah mereka antisipasikan.

Menurut Kuhn, ilmu dapat berkembang maju dalam pengertian tertentu, jika ia tidak dapat mencapai kesempurnaan absolud dalam konotasi dapat dirumuskan dengan definisi teori. Oleh karena itu ia memandang bahwa ilmu itu berkembang secara open-endend atau sifatnya selalu terbuka untuk direduksi dan dikembangkan.
Tidak dapat juga dipungkiri ilmu yang terspesialisasi itu semakin menambah sekat-sekat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain, sehingga muncul arogansi ilmu yang satu terhadap ilmu lain. Tugas filsafat diantaranya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagai kepentingan. [3]

Bagaimanapun penilaian orang, Kuhn telah berjasa besar, terutama dalam mendobrak citra filsafat ilmu sebagai logika ilmu, dan mengangkat citra bahwa ilmu adalah suatu kenyataan yang punya kebenaran seakan-akan obyektif. Di samping itu teori yang dibangun Kuhn mempunyai implikasi yang sangat luas dalam bidang-bidang keilmuan yang beraneka ragam. Selama lebih dari dua dekade, gagasan Kuhn tentang paradigma menjadi bahan diskusi, sejumlah kajian kritis baik yang mendukung maupun yang menentang berkembang dalam berbagai disiplin ilmu masing-masing. Paradigma sebagai kosa kata menjadi wacana tersendiri baik pada level teori maupun praksis.

Berdasarkan uraian di atas penulis memcoba untuk membahas tentang biografi Thomas S. Khun, bagaimana pengertian paradigma, paradigma ilmu pengetahuan menurut Kuhn, pandangan Kuhn tentang perkembangan Ilmu (open ended) dan Ilmu normal.

B. PARADIGMA KUHN

1. Biografi singkat Thomas S. Kuhn

Thomas Samuel Kuhn lahir di Colorado Spring tahun 1902 dalam keluarga religius dan intelektualis, ayahnya pendeta sekaligus profesor yang kemudian menjadi rector di Perguruan Tinggi kecil. Tahun 1924 mendapat gelar Sarjana Muda pada Universitas Amherst dan menyiapkan disertasi di London School of Economics. Parsons mengajar di Heidelberg dan Harvard tahun 1927.

Tahun 1937 Thomas S. Kuhn menerbitkan The Structure of social Action dan menjadi Kajur Sosiologi Harvard tahun 1944 serta tahun 1946 mendirikan Departemen Hubungan Sosial. Dengan diterbitkannya The Social System tahun1951

Thomas S. Kuhn menjadi tokoh dominan sosiologi Amerika. Tahun  1960-an Thomas S. Kuhn mendapat serangan kaum sayap kiri radikal karena dianggap terlalu konservatif dan teorinya sulit dipahami. Thomas S. Kuhn meninggal tahun 1979, tapi teorinya kembali dominan tahun 1980-an.

2. Pengertian paradigma

Istilah paradigma pada awalnya berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan terutama yang kaitannya dengan filsafat ilmu pengetahuan. Tokoh yang mengembangkan istilah tersebut dalam dunia ilmu pengetahuan adalah Thomas S. Kuhn dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution (1970:49). Inti sari pengertian paradigm adalah suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsi-asumsi teoritis yang umum (merupakan suatu sumber nilai) sehingga merupakan suatu sumber hukum-hukum, metode serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, cirri serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.

Munculnya sebuah buku “Structure of Scientific Revolutions” pada tahun 1962, yang dikreasi oleh seorang yang dilahirkan di Cincinnati, Ohaio. Dia adalah Thomas Kuhn. Pada tahun 1922 Kuhn belajar fisika di Havard University, kemudian melanjutkan studinya di pascasarjana, dan memutuskan pindah ke bidang sejarah ilmu. “Structure of Scientific Revolutions”, banyak mengubah persepsi orang terhadap apa yang dinamakan ilmu. Jika sebagian orang mengatakan bahwa pergerakan ilmu itu bersifat linier-akumulatif, maka tidak demikian halnya dalam penglihatan Kuhn.

Menurut Kuhn ilmu bergerak melalui tahapan-tahapan yang berpuncak pada kondisi normal dan kemudian “membusuk” karena telah digantikan oleh ilmu atau paradigma baru. Demikian selanjutnya Paradigma baru mengancam paradigm lama yang sebelumnya juga menjadi paradigm baru.

Inggris: Paradigma. Dari bahasa Yunani para deigma, dari pada (di samping, disebelah) dan dekynai (memperlihatkan : yang berarti : model, contoh, arketipe, ideal[4]

Beberapa pengertian paradigma :

  1. Cara memandang sesuatu
  2. Dalam ilmu pengetahuan : model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomena yang dipandang, dijelaskan
  3. Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset [5]

Paradigma merupakan konstruk berpikir yang mampu menjadi wacana      untuk temuan ilmiah : yang dalam konseptualisasi Kuhn : menjadi wacana untuk temuan ilmiah baru [6]

Jadi dapat disimpulkan bahwa paradigma dapat kita gunakan di dalam ilmu sebagai model, contoh, pola yang dapat dijadikan dasar untuk menyeleksi berbagai problem-problem serta pola-pola untuk mencari dan menemukan problem-problem yang ada di dalam ilmu pengetahuan untuk memecahkan problem-problem riset. Jadi secara singkat pengertian paradigma adalah keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena). Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus di pelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus di ikuti dalam menginterprestasikan jawaban yang diperoleh.

3.  Paradigma Ilmu Pengetahuan Menurut Thomas S. Kuhn

Thomas Samuel Kuhn mula-mula meniti karirnya sebagai ahli fisika, tetapi kemudian mendalami sejarah ilmu. Lewat tulisannya, The Structure of Scientific Revolutions (1962), ia menjadi seorang penganjur yang gigih yang berusaha meyakinkan bahwa titik pangkal segala penyelidikan adalah berguru pada sejarah ilmu. Sebagai penulis sejarah dan sosiolog ilmu kuhn mendekati ilmu secara eksternal. Kuhn dengan mendasarkan pada sejarah ilmu, justru berpendapat bahwa terjadinya perubahan-perubahan yang berarti tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah (falsifikasi) suatu teori atau

system, melainkan berlangsung melalui revolusi-revolusi ilmiah. Dengan kata lain, Kuhn berdiri dalam posisi melawan keyakinan yang mengatakan bahwa kemajuan ilmu berlangsung secara kumulatif. Ia mengambil posisi alternatif bahwa kemajuan ilmiah pertama-pertama bersifat revolusioner. Secara sederhana yang dimaksud dengan revolusi ilmiah oleh Kuhn adalah segala perkembangan nonkumulatif di mana paradigm yang terlebih dahulu ada (lama) dig anti dengan tak terdamaikan lagi, keseluruhan ataupun sebagian dengan yang baru.

Gagasannya yang sangat radikal dan progresif tersebut kiranya berasal dari

pengalaman ilmiah yang pernah dihadapinya sendiri. Pada tahun 1947 Kuhn diminta untuk mengajar mekanika klasik abad ke 17, maka kemudian ia membaca mekanika Aristotelian yang melatar belakangi perkembangan mekanika Galilei dan Newton. Dia sangat heran dan sering tidak percaya bahwa mekanika Aristotelian inilah yang mendasari lahirnya mekanika Galilei dan Newton yang sangat termasyhur abad ke 17, Karena ia melihat betapa mekanika Aristoteles itu mengandung begitu banyak kesalahan-kesalahan. Pengalaman inilah yang menjadi cikal bakal yang memunculkan gagasannya mengenai revolusi ilmiah. Revalusi ilmiah di mengerti oleh Kuhn sebagai episode-episode perkembangan nonkumulatif dimana paradigma yang lama digantikan seluruhnya atau sebagian oleh paradigma baru yang tidak dapat didamaikan dengan paradigma sebelumnya.[7]

Jadi dapat disimpulkan dengan penggunaan istilah paradigma itu, Kuhn hendak menunjuk pada sejumlah contoh praktek ilmiah aktual yang diterima atau diakui dalam lingkungan komunitas ilmiah, menyajikan model-model yang berdasarkannya lahir tradisi penelitian ilmiah yang terpadu (koheren). Contoh praktek ilmiah itu mencakup dalil,  teori, penerapan dan instrumentasi. Dengan demikian, para ilmuan yang penelitiannya didasarkan pada paradigma yang sama, pada dasarnya terikat pada aturan dan standar yang sama dalam mengemban ilmunya. Keterikatan pada aturan dan standar ini adalah prasyarat bagi adanya ilmu normal. Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa paradigma itu adalah cara pandang atau kerangka berpikir yang berdasarkan fakta atau gejala diinterpretasi dan dipahami.

Paradigma menetapkan kriteria untuk memilih masalah yang dapat diasumsikan mempunyai solusi. Hanya masalah yang memenuhi kriteria yang diderivasi dari paradigma saja yang dapat disebut masalah ilmiah, yang layak digarap oleh ilmuan. Dengan demikian, maka paradigma menjadi sumber keterpaduan bagi tradisi penelitian yang normal. Aturan penelitian diderivasi dari paradigma. Namun, menurut Kuhn, tanpa adanya aturan ini, paradigma saja sudah cukup untuk membimbing penelitian. Jadi, ilmu normal sebenarnya tidak terlalu memerlukan aturan atau metode yang standar (yang disepakati oleh komunitas ilmiah). Tanpa aturan dan metode yang baku, ilmu normal dapat berjalan. Ini berarti bahwa tiap ilmuan dapat menciptakan aturan dan metode penelitian dan pengkajian sendiri sesuai dengan keperluan, sepanjang aturan dan metode ini diderivasi dari paradigma yang berlaku. Tetapi, jika paradigmanya belum mapan, maka perangkat aturan akan diperlukan atau menjadi penting.[8]

Ilmu yang sudah mapan dianggap oleh Kuhn dikuasai oleh paradigma tunggal. Paradigma ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science), dimana ilmuan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigma secara rinci dan mendalam. Dalam tahap ini seorang ilmuan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing aktifitas ilmiah lainnya.

Tetapi suatu  ketika dapat terjadi, dalam menjalankan risetnya itu, sang ilmuan menjumpai berbagai fenomena yang tidak bisa diterangkan dengan teorinya. Pada saat inilah terjadi suatu anomali, yang apabila makin menumpuk kuantitas maupun kualitasnyaakan menimbulkan krisis. Dalam situasi krisis ini, paradigma yang ada diperiksa dan dipertanyakan, ini menyebabkan keadaan ilmiah yang keluar dari ilmu normal. Krisis menjadi situasi yang bisa menyebabkan revolusi ilmiah. Pada masa krisis ini ada kegelisahan mendalam yang dihadapi komunitas ilmiah.

Dalam upaya mengatasi krisis itu, sang ilmuan bisa kembali pada cara-cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu, atau dapat juga mengembangkan suatu paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Terobosan yang terakhir, yaitu proses peralihan  komunitas ilmiah dari paradigma lama ke paradigma baru, itulah yang disebut sebagai revolusi ilmiah. Dikatakan oleh Kuhn bahwa peralihan tadi tidak semata-mata karena alasan logis rasional, melainkan mirip dengan proses pertobatan dalam agama. Jadi perkembangan berlangsung lewat sebuah lompatan-lompatan yang radikal dan revolusioner.

Perubahan sebuah teori bukan hanya sekedar peningkatan dari teori yang lama, tetapi sudah menyentuh pada perubahan struktural. Jadi tidak ada lagi tampak sebuah inti yang terlindung dari sebuah teori ketika dikalahkan oleh sebuah teori tandingan. Demikianlah teori gravitasi Newton secara structural hancur ketika diserang oleh relativitas Einstein, sama halnya dengan kejatuhan geosentris Ptolemeus dari heliosentris Kopernikus. Sehingga teori yang dikalahkan tinggal sebagai pengetahuan sejarah.[9]

4. Pandangan Kuhn tentang perkembangan ilmu (open ended)

Kuhn melihat adanya kesalahan-kesalahan fondamental tentang image atau konsep ilmu yang telah dielaborasi oleh kaum filsafat ortodoks, sebuah konsep ilmu yang dengan membabi-buta mempertahankan dogma-dogma yang diwarisi dari Empirisme dan Rasionalisme klasik.  Dalam teori Kuhn, faktor Sosiologis Historis serta Phsikologis mendapat perhatian dan ikut berperan. Kuhn berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah. Dengan demikian diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu dan aktifitas ilmiah sesungguhnya,  yang dalam perkembangan ilmu tersebut adalah secara revolusioner bukan secara kumulatif sebagaimana anggapan kaum rasonalis dan empiris klasik.

Kuhn memberikan image atau konsep sains alternatif dalam outline yang ia gambarkan dalam bebeapa stage, yaitu :

Skema progress sains menurut Khun adalah sebagai berikut :

Pra paradigma – Pra Science – Paradigma Normal Science – Anomali – Krisis Revolusi – Paradigma Baru – Ekstra Ordinary Science- Revolusi.

a. Tahap Pra paradigma & Pra Science.

Pada stage ini aktivitas-aktivitas ilmiah pada stage ini dilakukan secara terpisah dan tidak terorganisir sebab tidak ada persetujuan tentang subjeck matter, problem-problem dan prosedur di antara para ilmuwan yang bersaing, karena tidak adanya suatu pandangan tersendiri yang diterima oleh semua ilmuan tentang suatu teori (fenomena). Dari sejumlah aliran yang bersaing, kebanyakan mereka mendukung satu atau lain varian dalam teori tertentu dan di samping itu ada kombinasi dan modifikasi lain yang masing-masing aliran mendukung teorinya sendiri-sendiri. Sehingga sejumlah teori boleh dikatakan ada sebanyak jumlah pelaksanaannya di lapangan dan setiap ahli teori itu merasa wajib memulai dengan yang baru dan membenarkan pendekatannya sendiri. Hal semacam ini berlangsung selama kurun waktu tertentu samapai suatu paradigma tunggal diterima oleh semua aliran yang dianut ilmuan tersebut dan ketika paradigma tunggal diterima, maka jalan menuju normal science mulai ditemukan.

Dengan kemampuan paradigma dalam membanding penyelidikan, menentukan teknik memecahkan masalah, dan prosedur-prosedur riset, maka ia dapat mengatasi ketergantungan observasi pada teori.

b. Tahap Paradigma Normal Science

Pada tahap ini, tidak terdapat sengketa pendapat mengenai hal-hal fundamental di antara para ilmuan sehingga paradigma tunggal diterima oleh semuanya. Paradigma tunggal yang telah diterima tersebut dilindungi dari kritik dan falsifikasi sehingga ia tahan dari berbagai kritik dan falsifikasi. Hal ini menjadi ciri yang membedakan antara normal science dan pra science.

Paradigma yang membimbing eksperimen atau riset ilmiah tersebut didalamnya tercakup :

1. Komponen tipikal yang secara eksplisit akan mengemukakan hukum-hukum dan asumsi-asumsi teoritis. Contoh, hukum “gerak” Newton membentuk sebagian paradigma Newtonian. Dan hukum “persamaan”      Maxwell merupakan sebagian paradigma yang telah membentuk teori elektromagnetik klasik.

2. Cara yang baku dalam penggunaan hukum-hukum fundamental untuk berba gai tipe situasi.

3. Instrumentasi dan teknik-tekniknya yang diperlukan untuk membuat agar hukum-hukum paradigma itu dapat bertahan dalam dunia nyata dan di dalam paradigma itu sendiri.

4. Prinsip metafisis yang sangat umum yang membimbing pekerjaan di dalam suatu paradigma.

5.  Keterangan metodologis yang sangat umum yang memberikan cara pemecahan teka-teki science.

Normal science melibatkan usaha terperinci dan terorganisasi untuk menjabarkan paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangannya dengan alam (fenomena) dengan memecahkan teka-teki science, baik teka-teki teoritis maupun teka-teki eksperimental. Teka-teki teoritis meliputi perencanaan dan mengembangkan asumsi yang sesuai untuk penterapan statu hukum. Teka-teki eksperimental meliputi perbaikan keakuratan observasi dan pengembangan teknik eksperimen sehingga mampu menghasilkan pengukuran yang dapat dipercaya.
Dalam tahap normal science ini terdapat tiga fokus bagi penelitian sain faktual, yaitu :

1. Menentukan fakta yang penting.

2. Menyesuaikan fakta dengan teori. Upaya menyesuaikan fakta dengan teori ini lebih nyata ketergantungannya pada paradigma. Eksistensi paradigma itu menetapkan dan menyusun masalah-masalah yang harus dipecahkan; ( seringkali paradigma itu secara implisit terlibat langsung di dalam desain peralatan yang mampu memecahkan masalah tersebut ).

3. Mengartikulasikan teori paradigma dengan memecahkan beberapa ambiguitasnya yang masih tersisa dan memungkinkan pemecahan masalah yang sebelumnya hanya menarik perhatian saja.

Jika ilmuan gagal memecahkan teka-teki science tersebut maka kegagalan tersebut merupakan kegagalan ilmu itu sendiri bukan kegagalan paradigma. Teka-teki harus ditandai oleh kepastian akan adanya pemecahannya dari paradigma. Teka-teki yang tidak terpecahkan dipandang sebagai kelainan (anomali) bukan sebagai falsifikasi suatu paradigma.

Dalam pemecahan teka-teki dan masalah science normal, jika dijumpai problem, kelainan, kegagalan (anomali) yang tidak mendasar, maka keadaan ini tidak akan mendatangkan krisis. Sebaliknya jika sejumlah anomali atau fenomena-fenomena yang tidak dapat dijawab oleh paradigma muncul secara terus menerus dan secara mendasar menyerang paradigma, maka ini akan mendatangkan suatu krisis.

c. Krisis Revolusi

Sasaran normal science adalah memecahkan teka-teki science dan bukan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang konseptual, yang diikuti dengan munculnya teori-teori baru. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya akan muncul gejala-gejala baru yang belum terjawab oleh teori yang ada. Apabila hal-hal baru yang terungkap tersebut tidak dapat diterangkan oleh paradigma dan anomali antara teori dan fakta menimbulkan problem yang gawat, serta anomali-anomali tersebut secara fundamental menyerang paradigma maka dalam keadaan demikian, kepercayaan terhadap paradigma mulai goyah yang kemudian terjadilah keadaan krisis yang berujung pada perubahan paradigma (revolusi).

Anomali dipandang dapat menggoyahkan paradigma jika :

1.  Menyerang hal-hal yang paling fundamental dari suatu paradigma dan secara gigih menentang usaha para ilmuan normal science untuk mengabaikannya.

2. Mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan beberapa kebutuhan masyarakat yang mendesak.

Setiap krisis selalu diawali dengan pengkaburan terhadap paradigma yang ada serta pengenduran kaidah-kaidah riset yang normal, sebagai akibatnya paradigma baru (paradigma rival) muncul, setidak-tidaknya sebagai embrio. Krisis dapat diasumsikan sebagai pra kondisi yang diperlukan dan penting bagi munculnya teori-teori baru. Pada tahap ini diantara para ilmuan normal science terjadi sengketa filosofis dan metafisis. Walaupun kemungkinan mereka kehilangan kepercayaan dan kemudian mempertimbangkan beberapa alternatif, mereka tidak meninggalkan paradigma yang telah membawa mereka kedalam krisis begitu saja sampai diterimanya suatu paradigma baru yang berbeda dari paradigma semula..

Persaingan antara paradigma yang telah dianut dan paradigma rival yang muncul, menandai adanya kegawatan suatu krisis. Paradigma-paradigma yang bersaing akan memandang berbagai macam pertanyaan sebagai hal yang sah dan penuh arti dilihat dari masing-masing paradigma. Pertanyaan-pertanyaan mengenai beratnya phlogiston adalah penting bagi para ahli teori phlogiston, tetapi hampa bagi Lavoisier. Soal “aksi” pada suatu jarak yang tidak dapat diterangkan itu, diterima oleh kaum Newton, tetapi ditolak oleh kaum Cartesian sebagai hal yang metafisis bahkan gaib.

Setiap paradigma yang bersaing akan memandang dunia ini terbuat dari berbagai macam hal yang berlainan dan masing-masing paradigma tersebut akan melibatkan standar yang berlainan dan bertentangan dalam memandang dunia. Paradigma Aristotelian melihat alam semesta ini terbagi menjadi dua dunia dunia yang berlainan, dunia super-lunar (yang abadi dan tidak berubah-ubah) dan dunia sub-lunar (yang bisa musnah dan berubah-ubah). Paradigma yang muncul berikutnya melihat alam semesta terbuat dari bahan-bahan material yang sama.

Oleh karena itu, dalam diskusi dan adu argumen antara pendukung paradigmayang bersaing tersebut adalah untuk mencoba meyakinkan dan bukan memaksakan paradigma. Sebab tidak ada argumen logis yang murni yang dapat mendemontrasikan superioritas satu paradigma atas lainnya, yang karenanya dapat memaksa seorang ilmuan yang rasional untuk melakukan perpindahan paradigma.

Peristiwa perubahan kesetiaan para ilmuan ondividual dari satu paradigma ke paradigma lain disamakan oleh Kuhn dengan “Gestalt Switch” (perpindahan secara keseluruhan atau tidak sama sekali). Juga disamakan dengan “religious conversion” (pertukaran agama) Tidak adanya alasan logis yang memaksa seorang ilmuan yang melepaskan paradigmanya dan mengambil yang menjadi rivalnya karena berkenaan dengan adanya kenyataan bahwa :

1) Berbagai macam faktor terlibat dalam keputusan seorang ilmuan mengenai   faedah suatu    teori ilmiah

2) Penyusun paradigma-paradigma yang bersaing menganut berbagai perangkat standar, prinsip Keputusan seorang ilmuan individual akan tergantung pada prioritas yang ia berikan.

Oleh karena itu, para pendukung paradigma tidak akan saling menerima premis lawannya dan karenanya masing-masing tidak perlu dipaksa oleh argumen rivalnya. Menurut Kuhn, faktor-faktor yang benar-benar terbukti efektif yang menyebabkan para ilmuan mengubah paradigma adalah masalah yang harus diungkap oleh penyelidikan psikologi dan sosiologi.   Karena hal itulah Kuhn dianggap sebagai seorang Relativis. Proses peralihan komunitas ilmiah dari paradigma lama ke paradigma baru yang berlawanan inilah yang dimaksud oleh Kuhn sebagai revolusi science. Oleh karena itu, menurut Kuhn, perkembangan ilmu itu tidak secara komulatif dan evolusioner tetapi, secara revolusioner, yakni membuang paradigma lama dan mengambil paradigma baru yang berlawanan dan bertentangan.

Melalui revolusi science inilah menurut Kuhn perkembangan ilmu akan terjadi. Dengan paradigma baru para pengikutnya mulai melihat subjek maler dari sudut pandang yang baru dan berbeda dengan yang semula, dan teknik metodologinya lebih unggul dibanding paradigma klasik dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

Apabila para pendukung paradigma klasik tetap keras kepala terhadap paradigma yang dianutnya dengan berusaha melakukan upaya pemecahan-pemecahan science normal berdasarkan paradigmanya walaupun berhasil mengatasi permasalahan itu revolusi besar dan kemajuan science tidak terjadi.

Jadi dapat saya simpulkan bahwa, tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan (anomali), sebagai konsekwensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi tersebut.

5. Ilmu Normal

Kuhn membedakan adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science). Pada periode pra-paradigmatik, pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Namun perlahan-lahan, salah satu sistem teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum, dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sains normal (normal science)

Yang dimaksud Kuhn “ilmu normal” adalah kegiatan penelitian yang secara teguh berdasarkan satu atau lebih pencapaian ilmiah (scientific achievements) dimasa lalu, yakni pencapaian-pencapaian yang komunitas atau masyarakat ilmiah bidang tertentu pada suatu masa dinyatakan sebagai pemberi

landasan untuk praktek selanjutnya. Kuhn mengatakan bahwa ilmu normal memiliki dua cirri esensial :

  1. Pencapaian ilmiah itu cukup baru sehingga mampu menarik para pemraktek ilmu dari berbagai cara lain dalam menjalankan kegiatan ilmiah; maksudnya dihadapkan pada berbagai alternatif cara menjalankan kegiatan ilmiah, sebagian besar pemraktek ilmu cenderung memilih untuk mengacu pada pencapaian itu dalam menjalankan kegiatan ilmiah mereka.
  2. Pencapaian itu cukup terbuka sehingga masih terdapat berbagai masalah yang memerlukan penyelesaian oleh pemraktek ilmu dengan mengacu pada pencapaian-pencapaian itu.

Ilmu normal bekerja berdasarkan paradigm yang dianut atau yang      berlaku. Karena itu pada dasarnya penelitian normal tidak dimaksudkan untuk pembaharuan besar, melainkan hanya untuk mengartikulasi paradigm itu. Kegiatan ilmiah ilmu normal hanya bertujuan untuk menambah lingkup dan presisi pada bidang-bidang yang terhadapnya pradigma dapat diaplikasikan. Jadi ilmu normal adalah sejenis kegiatan ilmiah yang sangat restriktif. Keuntungannya adalah bahwa kegiatan ilmiah yang demikian itu dapat sangat mendalam dan cermat.

Dalam kerangka ilmu normal, para ilmuan biasanya bekerja dalam kerangka seperangkat aturan yang sudah dirumuskan secara jelas berdasarkan paradigma dalam bidang tertentu, sehingga pada dasarnya solusinya sudah dapat diantipasi terlebih dahulu. Karena itu kegiatan ilmiah dalam kerangka ilmu normal adalah seperti kegiatan “puzzle solving”. Implikasinya adalah bahwa kegagalan menghasilkan suatu solusi terhadap masalah tertentu lebih mencerminkan tingkat kemampuan ilmuan ketimbang sifat dari masalah yang bersangkutan atau metode yang digunakan.

Walaupun ilmu normal itu adalah kegiatan kumulatif (menambah pengetahuan) dalam bidang yang batas-batasnya ditentukan oleh paradigm tertentu, namun dalam perjalanan kegiatannya dapat menimbulkan hasil yang tidak diharapkan. Maksudnya, dalam kegiatan ilmiah itu dapat timbul penyimpangan, yang oleh Khun disebut anomali. Terbawa oleh sifatnya sendiri, yakni oleh batas-batas yang ditetapkan oleh paradigma, ilmu normal akan mendorong para ilmuan pemrakteknya menyadari adanya anomali, yakni hal baru atau pertanyaan yang tidak tercover atau terliputi oleh kerangka paradigma yang bersangkutan, yang tidak terantisipasi berdasarkan paradigma yang menjadi acuan kegiatan ilmiah. Adanya anomaly merupakan persyarat bagi penemuan baru, yang akhirnya dapat mengakibatkan perubahan paradigm. [10]

Jadi dapat saya simpulkan bahwa adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science). Pada periode pra-paradigmatik pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Dengan terbentuknya paradigm itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sains normal (normal science).

C. KESIMPULAN

Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa paradigma berasal Dari bahasa Yunani para deigma, dari para (di samping, di sebelah) dan dekynai (memperlihatkan: yang berarti: model, contoh, arketipe, ideal). Paradigma merupakan elemen primer dalam progress sains. Seorang ilmuan selalu bekerja dengan paradigma tertentu, dan teori-teori ilmiah dibangun berdasarkan paradigma dasar. Melalui sebuah paradigma seorang ilmuan dapat memecahkan kesulitan-kesulitan yang lahir dalam kerangka ilmunya, sampai muncul begitu banyak anomali yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kerangka ilmunya sehingga menuntut adanya revolusi paradigmatik terhadap ilmu tersebut.

Menurut Khun, ilmu dapat berkembang secara open-ended ( sifatnya selalu terbuka untuk direduksi dan dikembangkan). Kuhn berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah dengan demikian diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu dan aktifitas ilmiah sesungguhnya. Menurut Kuhn ilmu harus berkembang secara revolusioner bukan secara kumulatif sebagaimana anggapan kaum rasonalis dan empiris klasik sehingga dalam teori Kuhn, faktor sosiologis historis serta psikologis ikut berperan.

Paradigma membantu seseorang dalam merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.

Secara singkat pradigma dapat diartikan sebagai ” keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena)

Khun membedakan adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science). Pada periode pra-paradigmatik, pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran pikiran yang saling  bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Namun perlahan-lahan, salah satu sistem teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum, dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk. Dengan terbentuknya paradigm itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sain normal (normal science)

Paradigma Khun telah memberikan kontribusi dalam dinamika ilmu pengetahuan dan peradapan manusia serta mampu mendobrak citra pencapaian ilmu pengetahuan yang absolt dan tidak terikat ruang dan waktu.

Skema progress sains menurut Khun adalah sebagai berikut :

Pra Pradigma – Pra Science – Paradigma Normal Science – Anomaly – Krisis Revolusi – Paradigm Baru – Ekstra Ordinary Science – Revolusi.

DAFTAR PUSTAKA

[1]Conny Semiawan dkk, Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman (Cet. I; Bandung: Mizan, 2005), h. 107

[2]Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Filsafat (Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007), h. 79

[3]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 3

[4]Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002), h. 779

[5]Ibid

[6]Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu Edisi II (Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001), h. 177

[7]Greg Soetomo, Sains Dan Problem Ketuhanan (Cet. VI; Yogyakarta: Kanisius, 1995), h. 21

[8]B. Arif Sidharta,…Op. Cit., h.  94-95

[9]Greg Soetomo,….Op. Cit., h. 22-23

[10]B Arif Sidharta, Apakah Filsafat Dan Filsafat Ilmu Itu (Cet. I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008), h. 93

______________________________________________________________

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002

Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004

Muhajir, Noeng. Filsafat Ilmu Edisi II. Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001

Semiawan, Conny. Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman. Cet. I; Bandung: Mizan, 2005

Sidharta, B Arif. Apakah Filsafat Dan Filsafat Ilmu Itu. Cet. I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008

Soetomo, Greg. Sains Dan Problem Ketuhanan. Cet. VI; Yogyakarta: Kanisius, 1995

Wiramihardja, Sutardjo A. Pengantar Filsafat. Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007

 

Sumber: http://merymaswarita.wordpress.com/2009/10/15/paradigma-khun/

Diakses pada tanggal 15 Desember 2011 pukul 20.22 WIB