Rela Menyerahkan Nyawa Demi Ummatnya

“Ya Allah. Sesungguhnya saya telah memberikan semuanya kepada fakir miskin warga Madinah secara cuma-cuma, dan memperhitungkan harganya”.

Kecintaan kepada Al-Qur’an dan pola yang diikutinya dalam beribadah, baginya bukan hanya sekedar bangun untuk mengerjakan shalat di waktu malam dan shaum di waktu siang hari saja, tetapi kemurahan juga yang sangat berlimpah dan pemberian yang tidak terbatas kepada orang-orang yang miskin. Kasih sayangnya kepada mereka tak terbatas, bagaikan lautan yang tak bertepi.

Ruh hamba Allah ini, kian kemilau, disebabkan kemampuannya untuk hidup bersahaja, dan tidak terpengaruh oleh kemewahan dunia. Dan, hal ini benar-benar diterapkan dalam kehidupannya. Kekayaan yang dimiliki yang jumlahnya tak terhingga itu, dihamburkannya dengan kanan dan kirinya, hingga tak lagi bersisa.

Sysurabil bin Muslim berkisah: “Utsman menyediakan makanan bagi kaum muslimin seperti makanan raja-raja. Padahal, ia sendiri hanya makan dengan minyak zaitun dan cuka”, ujarnya. Demikian pula, Abdullah bin Syaddat, mengisahkan: “Saya lihat Utsman berkhutbah hari Jum’at dengan memakain pakaian yang harganya empat atau lima dirham saja. Padahal, ia adalah seorang Amirul Mukminin”, ucapnya.

Demikianlah, perangai seorang hamba Allah, yang berserah diri kepada Allah. Nafsu makannya ditekan dengan jalan puasa, dihinakannya kemegahan jahiliyah dalam jiwanya, dan dicukupkannya hanya dengan kemuliaan Islam, hingga dirinya pun menjadi mulia.

Pada suatu hari, ia marah terhadap pelayannya, ditariknya telinga pelayan itu sampai kesakitan. Ketika marahnya reda, ia menjadi gelisah karena perbuatannya itu. Sampai mengganggu tidurnya. Lalu, dipanggilnya pelayan itu, dan disuruhnya melakukan qishas terhadap dirinya dengan cara menarik telinganya. Tetapi, pelayan itu berpaling, dan tidak bersedia melakukannya. Utsman dengan gigih memaksanya. Kemudian, pelayan itu, akhirnya mau menarik telinga Utsman. “Keraskanlah tarikannya, hai Gulam?”, perintah Utsman. “Karena, qishas di dunia ini lebih ringan, dibandingkan qishas di akhirat nanti”, tambahnya.

Demikian, keadaan hamba Allah yang dirinya tak terpisahkan dari Khaliq-nya. Kita temui ia pada peristiwa ini, dan sebagaimana kita jumpai dalam peristiwa lainnya. Sekarang marilah masuk ke dalam masjid Madinah untuk menemui seorang laki-laki mulia dan berwibawa. Anehnya, ia tidur di atas batu kerikil di lantai masjid, sementara jubahnya dijadikan bantal. Tatkala ia terbangun dari tidurnya, terlihat bekas-bekas kerikil itu dipinggangnya…

Siapakah laki-laki itu?

Ternyata ia adalah seorang hamba ahli ibadah, dan zuhud yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah Azza Wa Jalla. Dia tiada lain adalah Utsman bin Affan, seorang milyarder, yang kaya raya, dengan harta tak terhingga, baik sebelulm maupun sesudah masuk ke dalam Islam. Peristiwa ini mengingatkan kita kepada Abdullah bin Umar mengenai dirinya (Utsman), yakni perkataan yang diucapkannya setelah membaca surah Az-Zumar. “Apakah kalian yang lebih beruntung hai orang-orang musyrik? Ataukah orang yang beribadah di tengan malam dengan sujud dan berdiri, disebabkan karena takutnya kepada (siksa) akhirat, dan harapannya akan rahmat Rabbnya..”

Kata Abdullah bin Umar, yang dimaksudkan dengan ayat ini, tak lain, adalah Utsman bin Affan.
Kisah kasih sayangnya Utsman, sangatlah menakjubkan. Merasuk pada seluruh relung kehidupannya. Dan, sama sekali tak dapat dipungkiri lagi, sejak dari perbuatan yang kecil dan biasa, sampai tindaknnya yang penting. Kasih sayangnya benar-benar telah menjadi motivasi utama yang melatarbelakangi segala tindak dan perbuatannya.

Di tengah malam, Utsman yang telah menjadi Khalifah, tidak tega membangunkan pelayannya, agar menyediakan air wudhu. Padahal, waktu itu usianya sudah sangat lanjut, dan badannya sudah mulai udzur.

Utsman menolak berlindung kepada orang lain dalam menghindarkan diri dari tebasan pedang para pembunuhnya. Ia tidak mau kebebasannya harus ditebus dengan cucuran darah dari tubuh seorang muslim yang tiada bersalah. Tatkala Zaib bin Tsabit masuk untuk mendapatkannya, dilihatnya kaum pemberontak telah berhimpun sesamanya dan sudah mengepung rumahnya. Maka, Tsabit berkata kepada Utsman, “Wahai Amirul Mukminin, mereka (orang-orang Anshar) sedang menunggu di depan pintu. Jika Khalifah menghendakinya, kami bersedia menjadi Anshar (pembela) untuk kedua kalinya”, ucap Tsabit. Tetapi, Khalifah Utsman menjawab, “Kalau untuk berperang, saya tidak setuju”, jawabnya.

Kepada para sahabatnya yang sedang berkumpul di sekeliling rumahnya dalam rangka menghadapi kaum pemberontak, diserukannya, “Sesungguhnya orang yang teramat saya perlukan diantara tuan-tuan sekarang ini adalah orang yang dapat menahan tangan dan senjatanya”, seru Utsman. Tatkala Abu Hurairah menghunus pedang dengan semangat dan amarah yang menyala-nyala, dipanggilnya ia, lalu berkata: “Apakah engkau hendak membunuah semua umat? Padahal, saya berada di tengah-tengah mereka..? Demi Allah. Seandainya engkau membunuh salah seorang diantara mereka, berarti engkau membunuh seluruh umat..!”, seru Utsman.

Tatkala dilihatnya serombongan pemuda Islam yang dipimpin oleh Hasan, Husein, Ibnu Umar, Ibnu Zubeir telah menggantikan pada sahabat tadi, dan mereka telah menghunus pedang pula, maka hatinya pun amat sedih dan pilu. Dipanggilnya mereka, kemudian Utsman berkata: “Atas nama Allah. Saya minta dan saya mohon kepada kamu sekalian agar tak ada darah tertumpah karena saya”, ucapnya.

Utsman rela menyerahkan nyawanya. Ia lebih suka mati dengan kesetiaannya terhadap kasih sayang. Daripada hidup dengan kehilangan kedudukan sebagai pelopor dari orang yang budiman yang penuh dengan kasih sayang. Sahabat Ali bin Abi Thalib, menyatakan: “Orang yang paling memperhatikan ikatan silaturrahmi di antara kita adalah Utsman”, ucapnya.

Begitu indahnya kehidupan yang dicontohkan oleh sahabat Utsman bin Affan, yang menjadi contoh bagi kehidupan kaum mukminin, yang ingin meniti di jalan Rabb-nya. Wallahu’alam. (mashadi@eramuslim.com).

Sumber

 

Iklan

Amirul Mukminin Itu Tidur di Masjid

Panglima perang yang memimpin penyerangan ke Persia, Utbah bin Ghazwan, menerima surat perintah Amirul Mukminin, Khilafah Umar bin Khatthab, meminta agar mengirim sepuluh orang prajurit utama dari pasukannya yang telah berjasa dalam perang. Perintah itupun segera dilaksanakan oleh Utbah. Beliau mengirim sepuluh orang prajuritnya yang terbaik kepada Amirul Mukminin di Madinah, termasuk Ahnaf bin Qais. Berangkatlah mereka ke Madinah menemui Amirul Mukminin Umar ibn Khatthab.

Ketika mereka tiba di Madinah langsung disambut oleh Amirul Mukminin dan dipersilahkan duduk di majelisnya. Amirul Mukminin Umar Ibn Khatthab menanyakannya dan kebutuhan rakyat semuanya. Mereka berkata : “Tentang kebutuhan rakyat secara umum Amirul Mukminin lebih tahu, karena Amirul Mukminin adalah pemimpinnya. Maka kami hanya berbicara atas nama pribadi kami sendiri”, ucap diantara prajurit yang hadir di majelis itu.

Saat itu, Ahnaf bin Qais mendapatkan kesempatan terakhir berbicara, karena ia terhitung yang paling muda, diantara para prajurit yang ada. Kemudian, Qais berkata : “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya tentara kaum muslimin yang dikirim ke Mesir, mereka tinggal di daerah yang subur menghijau dan tempat yagn mewah peninggalan Fir’aun”, ucap Ahnaf.

“Sedangkan pasukan yang dikirim ke negeri Syam, mereka tinggal di tempat yang nyaman, banyak buah-buahan dan taman-taman layaknya istana. Sedangkan pasukan yang dikirim ke Persia, mereka tinggal di sekitar sungai yang melimpah air tawarnya, juga taman-taman buah-buah peninggalan para kaisar”, ujar Ahnaf.

Namun kami dikirim ke Bashrah, kami tinggal di tempat yang kering dan tandus, tidak subur tanahnya dan tidak pula menumbuhkan buah-buahan. Salah satu tepinya laut yang asin, tepi yang satunya hanyalah hamparan yang tandus. Maka perhatikanlah kesusahan mereka wahai Amirul Mukminin. Perbaikilah kehidupan mereka, perintahkan gubernur Anda di Bashrah untuk membuat aliran sungai agar memiliki air tawar yang dapat menghidupi ternak dan pepohonan. Perhatikanlah mereka dan keluarganya, ringankanlah penderitaan mereka, karena mereka menjadikan hal itu sebagai sarana untuk berjihad fi sabilillah”, tambah Ahnaf.

Umar merasa sangat takjub mendengar uraian Ahnaf, kemudian bertanya kepada utusan yang lain. “Mengapa kalian tidak melakukan seperti yang dia lakukan”, tanya Umar. “Sungguh dia (Ahnaf) adalah seorang pemimpin”, ujar seorang diantara prajurit itu.
Kemudian Umar mempersiapkan perbekalan mereka dan menyiapkan perbekalan untuk Ahnaf. Namun, Ahnaf berkata: “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, tiadalah kami jauh-jauh menemui Anda dan memukul perut onta selama berhari-hari demi mendapatkan perbekalan. Saya tidak memiliki keperluan selain keperluan kaumku seperti yang telah saya katakan kepada Anda. Jika Anda mengabulkannya, itu sudah cukup bagi Anda”, tegas Ahnaf. Rasa takjub Umar semakin bertambah, lalu Umar berkata: “Pemuda ini adalah pemimpin penduduk Bashrah”, tegas Umar.

Usai mejalis itu dan para utusan meninggalkannya, dan pergi ke tempat menginap yang sudah disediakannya. Umar melayangkan pandangannya ke barang-barang mereka. Dari salah satu bungkusan tersembul sepotong pakaian. Umar menyentuhnya sambil bertanya : “Miliki siapa ini?”.

Ahnaf menjawab : “Milik saya Amirul Mukminin”, jawabnya. Kemudian Umar bertanya: “Berapa harganya baju ini tatkala kamu membelinya?”. Ahnaf berkata : “Delapan dirham”, sahutnya. Ahnaf tidak pernah berbohong, kecuali kali ini, yang sesungguhnya baju itu dia beli dengan harga 12 dirham.

Umar menatapnya dengan penuh kasih sayang. Dengan halus dia berkata: “Saya rasa untukmu cukup satu potong saja, kelebihan harta yang kau miliki hendaknya kamu pakai untuk membantu muslim lainnya”. Selanjutnya, Umar berkata kepada para prajurit pilihan itu, yang hendak kembali ke Bashrah: “Ambillah bagi kalian yang diperlukan dan gunakan kelebihan harta kalian pada tempatnya, agar ringan beban kalian dan banyak mendapatkan pahala”, Ahnaf tertunduk malu mendengarkan nasihat Amirul Mukminin itu.

Perjumpaan Ahnaf dengan Umar berlangsung satu tahun. Umar merasa bahwa Ahnaf adalah kader yang memiliki kepribadian yang mulia setelah mengujinya. Kemudian Amirul Mukminin mengutus Ahnaf untuk memimpin pasukan ke Persia. Umar berpesan kepada panglimanya, Abu Musa al-Asy’ari : “Untuk selanjutnya ikutkanlah Ahnaf sebagai pendamping, ajak dia bermusyawarah dalam segala urusan dan perhatikanlah usulannya”, ujar Umar.

Ahnaf memang masih sangat belia. Tetapi, Ahnaf salah seorang tokoh dari Bani Tamim yang sangat dimuliakan kaumnya. Kaum Bani Tamim sangat berjasa dalam menaklukkan musuh, dan mempunyai prestasi yang cemerlang dalam berbagai peperangan. Termasuk dalam peperangan besar menaklukan kota Tustur dan menawan pemimpin mereka, yaitu Hurmuzan.

Humurzan adalah pemimpin Persia paling berani dan kuat, serta keras. Hurmuzan juga ahli dalam strategi perang, dan berkali–kali menghkhianati kaum muslimin.

Tatkala dalam posisi terdesak di salah satu bentengnya yang kokoh di Tustur, dia masih bisa bersikap sombong. “Aku punya seratus batang panah. Dan demi Allah, kalian tidak mampu menangkapku sebelum habis panah-panah ini”, ujarnya. Kemudian pasukan Islam bertanya kepadanya: “Apa yang engkau kehendaki?”. “Aku mau diadili di bawah hukum Umar bin Khatthab. Hanya dia yang boleh menghukumku”, ucap Hurmuzan. Pasukan Islam itu menjawab: “Baiklah. Kami setuju”. Lalu, Humurzan meletakkan panahnya ke tanah, sebagai tanda menyerah.

Pasukan Islam yang dipimpin panglima Anas bin Malik dan Ahnaf itu, membawa Humurzan ke Madinah, dan menghadap Amirul Mukminin. Setibanya di pinggiran kota Madinah, mereka menyuruh Humurzan menggunakan pakaian kebesarannya, yang terbuat dari sutera mahal bertabur emas permata dan berlian. Di kepalanya bersemanyam mahkota yang penuh dengan intan berlian yang sangat mahal.

Humurzan langsung dibawa ke rumah Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, tetapi beliau tidak ada di rumah. Seseorang berkata, beliau pergi ke masjid. Rombongan itu pergi ke masjid, namun tak terlihat ada di dalam masjid. Saat rombongan mondar-mandir mencari Amirul Mukminin, salah seorang penduduk berkata: “Anda mencari Amirul Mukminin?” “Benar, di mana Amirul Mukminin?”, ujarnya mereka. Lalu, seorang anak diantara penduduk itu, menyahut: “Beliau tertidur di samping kanan masjid dengan berbantalkan surbannya”.

Rombongan itu mendapatkan Amirul Mukminin sedang lelap di samping masjid. Tanpa mendapatkan penjagaan. Memang Umar sangat terkenal kezuhudan dan kesederhanaannya. Tetapi, sesungguhnya lelaki yang zuhud dan sederhana ini telah menaklukan Romawi dan raja-raja lain, dan tidur tanpa bantal dan tanpa pengawal.

Kemudian, Humurzan melihat isyarat dari ‘Ahnaf, dan bertanya : “Siapakah orang yang tidur itu?”, tanya Hurmuzan. “Dia Amirul Mukminin Umar bin Khatthab”, jawab Mughirah. Betapa terkejutnya Humurzan, lalu dia berkata: “Umar? Lalu, dimana pengawalnya atau penjaganya?”, tambah Hurmuzan. “Beliau tidak memiliki pengawal”, tambah Mughirah. “Kalau begitu, pasti dia nabi”, tambah Hurmuzan. “Tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallam”, tegas Mughirah.

Saat Umar terbangun, dan melihat Hurmuzan, beliau berkata: “Aku tak sudi berbicara dengannya sebelum kalian melepas pakaian kemegahan dan kesombongan itu”, tegas Umar. Mereka melucuti kemewahan pakaian Hurmuzan, kemudian memberikan gamis untuk menutup auratnya. Sesudah itu Umar menjumpainya, dan berkata : “Bagaimana akibat pengkhianatan dan inkar janjimu itu?”

Dengan menunduk lesu, serta penuh dengan kehinaan ia berkata: “Wahai Umar, pada masa jahiliyah, ketika antara kalian dengan kami tidak ada Rabb, kami selalu menang atas kalian. Tapi begitu kalian memeluk Islam, Allah menyertai kalian, sehingga kami kalah. Kalian menang atas kami memang, karena hal itu, tetapi juga karena kalian bersatu, sedangkan kami bercerai berai”, ungkap Hurmuzan.

Penguasa yang sudah kalah dan menyerah itu, merasakan kasih dalam Islam, dan akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadah, dan masuk Islam. Inilah kebesaran Islam, yang telah diteladai para pemimpinnya, dan menjalankan Islam dengan sungguhnya. Tidak sedikitpun mereka berkhianat terhadap Islam, sampai akhirnya musuhpun memeluk Islam, karena merasa mendapatkan kemuliaan dalam Islam. Wallahu’alam.

 

Sumber

Surat Hasan al-Basri kepada Umar bin Abdul Aziz

Hasan Al-Basri rohimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz rohimahullah, dan dalam suratnya Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur Itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya. Menyesali kejahatan Itu membuat pelakunya meninggalkannya.

Apa yang telah hilang – kendati sangat banyak-tidak bisa dibandingkan dengan apa yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang mulia. Bersabar terhadap kelelahan sebentar yang menghasilkan istirahat lama itu lebih baik, daripada penyegeraann istirahat sebentar yang menghasilkan kelelahan abadi.

Waspadalah terhadap dunia yang menipu, berikhianat, dan memperdaya. ia berhias dengan tipuannya, berdandan dengan muslihatnya, membunuh manusia dengan mimpi-mimpinya, dan membuat ridu para pelamarnya, hingga Ia menjadi seperti pengantin yang menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat kepadanva.

Semua hati rindu kepadanva. dan semua jiwanva tertarik kepadanya. Ia menjadi pembunuh bagi semua suami- suaminya. Tragisnya orang yang masih hidup tidak mau belajar dari orang yang telah meninggal dunia, generasi terakhir tidak mengambil pelajaran dari generasi pertama, orang bijak tidak mendapatkan manfaat dari banyaknya pengalaman, dan orang yang kenal Allah dan beriman kepada-Nya tidak ingat ketika la diberi penjelasan tentang dunia.

Akibatnya, hati manusia mencintai dunia dan jiwa mereka kikir dengannya. Ini semua tidak lain bentuk kerinduan kita kepada dunia, karena barangsiapa merindukan sesuatu, Ia tidak memikirkan yang lain. Ia mati ketika memburunya atau berhasil mendapatkannya. Kedua orang tersebut adalah perindu dan pemburu dunia.

Perindu dunia telah sukses mendapatkan dunia dan tertipu dengannya. Dengan
dunia, Ia lupa akan prinsip dan hari akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia. Hatinya dibuat larut oleh dunia, hingga kakinya tergelincir di dalamnya, dan kematian datang kepadanya dengan sangat cepat daripada sebelumnya. Ketika itu, penyesalanya pun menggelembung, kesedihannya membesar, terkumpul padanya sakaratul maut dan rasa sakitnya dengan sedih kehilangan dunia.

Sedang orang kedua meninggal sebelum berhasil memenuhi kebutuhannya. Ia pergi dari dunia dalam keadaan terpukul hatinya, tidak mendapatkan apa yang dicarinya dan jiwanya tidak bisa istirahat, dari kelelahan. Ia keluar dari dunia tanpa bekal dan tiba tanpa membawa oleh-oleh. Oleh karena itu, waspadalah secara penuh terhadap dunia, karena dunia itu tak ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun racunnya mematikan.

Berpalinglah dari apa saja di dunia ini yang menarik hatimu, kanena jarang sekali sesuatu yang ada di dunia ini yang menemanimu. Buanglah seluruh ambisi kepada dunia dari dalam hatimu, karena engkau mengetahui dunia itu menyakitkan dan engkau yakin akan berpisah dengannya. Oleh karena itu, waspadalah wahai Amirul Mukminin. Karena sesungguhnya pemilik dunia, setiap kali ia senang kepadanya maka itu berubah menjadi kebencian.

Orang yang gembira di dunia ialah orang yang tertipu, orang yang bermanfaat di dalamnya kelak menjadi orang yang merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan bercampur dengan cobaan, dan keabadian di dalamnya berubah menjadi fana. Kebahagiaan di dalamnya bercampur dengan kesedihan, dan akhir kehidupan di dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu, lihatlah dunia seperti penglihatan orang zuhud yang hendak meninggalkannya, dan jangan melihat dunia seperti penglihatan perindu yang jatuh cinta.

Ketahuilah, bahwa dunia itu menghilangkan tamu yang telah menetap, dan menyakitkan orang tertipu yang merasa aman. Apa yang telah berlalu dari dunia tidak akan kembali lagi, dan apa yang akan datang tidak bisa diketahui, apa lagi ditunggu.!

Waspadalah terhadap dunia, karena mimpi-mimpinya dusta belaka, khayalan- khayalannya batil kehidupannya melelahkan, dan kejernihannya adalah keruh. Engkau terancam mendapatkan dua hal di dunia ini; nikmat yang akansirna, dan cobaan yang akan datang, atau musibah yang menyakitkan, dan kematian yang memutus
segala-galanya.

Sungguh, dunia itu melelahkan seseorang, jika ia mau berpikir. Ia berada dalam
nikmat yang membahayakan, takut terhadap musibah-musibah yang ada di dalamnya, dan meyakini kematian. Seandainya Allah Yang Maha pencipta tidak menyampaikan berita tentang dunia, dan tidak memberi perumpamaan tentang dunia, dan tidak memerintahkan manusia bersikap zuhud di dalamnya, pasti dunia membangunkan orang yang tidur, dan mengingatkan orang yang lupa diri!

Bagaimana tidak, padahal telah datang pelarang dari Allah Azza wa Jalla dan banyak sekali penasihat di dalamnya? Dunia di sisi Allah Azza wa Jalla tidak ada bobot dan nilainya. Berat dunia di sisi Allah Ta’ ala tidak seberat satu kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di antara gugusan bintang yang ada. Allah tidak menciptakan makhluk yang Lebih Dia benci dari pada dunia –seperti di sampaikan kepadaku- dan Dia tidak melihat kepada-nya sejak Dia menciptaknnya karena benci kepadanya.

Sungguh dunia dengan kunci-kuncinya dan semua simpanannya yang nilainya di sisi Allah Lebih ringan dari sayap lalat , pernah diperlihatkan kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun beliau menolak menerimanya, karena beliau telah mengetahui bahwa jlka Allah membenci sesuatu, beliau harus membencinya. Jika Allah mengkerdilkan sesuatu, beliau harus mengkerdilkannya. Dan jika Allah merendahkan sesuatu, beliau harus merendahkannya.

Jika beliau menerima dunia tersebut, maka bukti kecintaan beliau kepada dunia tersebut ialah penerimaan beliau terhadap tawaran dalam bentuk dunia tersebut. Namun beliau menolak mencintai sesuatu yang dibenci Allah, dan mengangkat apa yang direndahkan Pemiliknya.

Jika Allah Ta’ala tidak menunjukkan tentang rendahnya nilai dunia kepada beliau, namun Dia memandang rendah dunia tersebut dengan menjadikan kebaikannya sebagai pahala bagi orang-orang yang taat, dan menjadikan hukuman dunia sebagai siksa bagi orang-orang yang bermaksiat. Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat dari dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman maksiat daripadanya.

Di antara hal menunjukkan kepada dunia tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah Ta’ala menjauhkan dunia dari orang- orang yang shalih dengan suka rela dan membentangkannya kepada musuh-musuh-Nya dengan tujuan menipunya.

Orang yang tertipu dengan dunia dan tergoda dengannya menyangka bahwa ia dimuliakan Allah Ta’ala dengan dunia tersebut. Ia lupa terhadap apa yang diperbuat Allah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam.

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mengikatkan batu diperutnya karena sakinglaparnya.

Adapun Nabi Musa ‘Alaihis Salam, beliau tidak meminta sesuatu kepada Allah Ta‘ala pada saat ia berteduh di bawah pohon, selain makanan yang bisa beliau makan untuk menghilangkan kelaparannya.

Sungguh banyak sekali riwayat-riwayat dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam, bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau , Hai Musa, jika engkau melihat kemiskinan datang kepadamu, katakan, ‘Selamat datang simbol orang-orang shalih.’ Jika engkau melihat kekayaan datang kepadamu, katakan, ‘ini adalah dosa yang hukumannya dipercepat.’

Jika engkau mau, aku ketengahkan Nabi Isa ‘alaihis salam kepada baginda, karena ia amat menakjubkan. Ia berkata, “Lauk-ku adalah lapar, Syi’arku ialah takut, Pakaianku ialah wol., Hewan kendaraanku ialah kedua kakiku. Lampuku di malam hari ialah bulan. Bahan bakarku di musim dingin ialah matahari. Buah -buahanku dan penghidupanku ialah apa yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas dan hewan ternak. Aku tidur dalam keadaan tidak memiliki apa-apa dan tidak ada seorang pun yang lebih kaya dariku”.

Jika engkau mau, aku ketengahkan contoh keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud Alaihimas Salam, karena ia tidak kalah menakjubkan. Ia makan roti dan gandum, memberi roti coklat kepada keluarganya, dan tepung putih kepada rakyatnya.

Jika malam telah tiba, ia memakai baju dari tenunan kasar, dari tangannya ke lehernya Ia semalaman menangis hingga pagi hari. Ia makan makanan yang kasar, dan mengenakan pakaian kasar. Kendati Itu semua, mereka membenci apa saja yang dibenci Allah Ta’ala, memandang kecil apa yang dipandang kecil oleh Allah Ta’ala, dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang Allah bersikap zuhud di dalamnya.

Kemudian orang-orang shalih meniti jalan mereka, menapaktilasi jalan mereka, mengharuskan dirinya berlelah- lelah, dan memahami lbrah, serta merenung diri.

Mereka bersabar di dunia yang singkat ini dari kenikmatan yang menipu yang berakhir kepada kemusnahan. Mereka melihat kepada akhir dunia, dan tidak melihat kepada permulaannya. Mereka melihat kepada hasil akhir dunia yang pahit, dan tdak melihat rasa manis yang hanya terasa pada awal-awalnya saja.

Mereka mengharuskan dirinya bersabar dan menempatkan diri mereka seperti mayit-mayit yang tidak boleh kenyang di dunia, kecuali pada saat yang dibutuhkan. Mereka makan sebatas untuk menguatkan jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri mereka seperti bangkai yang telah membusuk, hingga membuat siapa saja yang melewatinya, pasti Ia menutup hidungnya. Mereka tidak meraih dunia hingga sampai tahap merugikannya, dan tidak sampai kenyang yang berbau busuk.

Dunia dijauhkan dari mereka. Itulah kedudukan dunia dalam jiwa mereka. Mereka merasa heran terhadap orang yang memakan dunia hingga kekenyangan, dan bersenang-senang dengannya hingga rakus. Mereka berkata, Tidakkah kalian lihat bahwa mereka tidak takut makan? Tidakkah mereka mendapatkan bau busuknya?

Saudaraku, demi Allah sesungguhnya bau dunia sekarang atau esok itu lebih busuk daripada bangkai. Hanya saja manusia meminta sabar dengan segera. Akibatnya, mereka tidak bisa mencium bau busuk. Mereka tidak bisa mencium bau bau yang ada di kulit yang membusuk yang mengganggu para pejalan kaki, dan orang-orang yang duduk di dekatnya.

Cukuplah dunia bagi orang yang berakal, bahwa barangsiapa meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang banyak, Ia sangat berkeinginan seandainya dulu ia menjadi orang miskin di dunia, atau orang mulia, atau orang buangan, atau orang selamat. Ia lebih senang seandainya di dunia dulu ia menjadi orang yang menderita, atau rakyat biasa.

Jika engkau meninggalkan dunia ini, pasti engkau lebih senang seandainya engkau di dunia ini menjadi orang yang paling rendah kedudukannya, dan orang yang paling miskin. Bukankah ini cukup dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat hina bagi orang yang memikirkannya?

Demi Allah, jika seseorang mengharapkan sesuatu dari dunia ini melainkan ia mendapati dunia tersebut berada di sampingnya tanpa ia kejar dan merasakan kelelahan. Namun jika Ia telah mendapatkan sesuatu dari dunia tensebut, ia mempunyai hak-hak Allah di dalamnya, dan ia akan ditanya tentang dunia tersebut, serta ia akan dihisab karenanya Jika demikian permasalahannya, maka seyogyanya orang berakal itu tidak mengambil sesuatu dari dunia, kecuali sebesar porsi makanannya dan kebutuhannya, karena khawatir akan ditanya tentang dunia tersebut, dan takut akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya.

Sesungguhnya dunia itu jika engkau memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari: hari kemarin yang tidak bisa engkau harapkan lagi, hari yang engkau berada didalamnya yang harus engkau manfaatkan sebaik mungkin, dan hari esok yang engkau tidak tahu apakah engkau berada di hari tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu siapa tahu engkau meninggal dunia esok pagi.

Adapun kemarin, ia ibarat orang bijak yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia ibarat teman yang akan mengucapkan selamat berpisah. Namun, kendati kemarin telah membuatmu sakit, engkau telah menggenggam hikmah. Jika engkau telah menyia-nyiakannya, engkau mendapatkan ganti. Tadinya kemarin tersebut tidak ada pada dirimu, namun sekarang ia cepat pergi darimu.

Adapun esok hari, engkau masih mempunyai secercah harapan. Oleh karena itu, berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba. Engkau jangan memasukkan kesedihan esok dan esok lusa ke dalam hari ini, karena hal tersebut hanya akan menambah kesedihanmu dan kelelahanmu, serta engkau kumpulkan pada hari ini sesuatu yang menyempurnakan hari-harimu. Itu hal yang mustahil, karena kesibukan Itu sangat padat, kesedihan Itu semakin bertambah, kelelahan itu semakin besar, dan seseorang membuang amal dengan impian kosong.

Seandainya harapan esok pagi keluar dari hatimu, engkau telah berbuat dengan
baik pada hari ini, dan telah mengurangi kesedihanmu pada hari ini. Namun harapanmu terhadap esok pagi itu membuatmu bersikap tidak serius,dan membuatmu menjadi orang yang banyak menuntut.

Jika engkau ingin kata-kata singkat, aku pasti mendiskripsikan untukmu tentang dunia di antara dua jam; satu jam yang telah berlalu, satu jam yang akan datang, dan satu jam yang engkau sedang berada dl dalamnya.

Adapun satu jam yang telah berlalu dan telah lewat. maka engkau tidak mendapatkan kelezatan di istirahat keduanya dan merasakan sakit terhadap musibah keduanya. Sesungguhnya dunia ialah saat yang engkau sedang berada di dalamnya. Satu jam tersebut menipumu dari surga dan menggiringmu ke neraka.

Adapun hari ini -jika engkau memikirkannya- adalah ibarat tamu yang singgah kepadamu dan akan pergi darimu. Jika engkau menjamu dan melayaninya dengan baik, Ia menjadi saksi bagimu, memujimu, dan membenarkanmu di dalamnya. Jika engkau menjamunya dengan buruk, Ia berputar di kedua matamu.

Kedua hari tersebut adalah ibarat dua saudara. Salah seorang daripadanya bertamu kepadamu, kemudian engkau bersikap buruk terhadapnya, dan tidak menjamunya dengan baik. Sesudah orang tersebut pergi darimu, datanglah orang satunya, kemudian berkata kepadamu, Aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku.

Jika engkau berbuat baik kepadaku, perbuatan baikmu ini akan menghapus perbuatan burukmu kepada suadaraku sebelum ini dan memaafkan apa yang telah engkau perbuat terhadapnya. Hati-hatilah engkau, jika aku berkunjung kepadamu dan aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah beruntung mendapatkan pengganti jika engkau mau berfikir.Periksalah apa yang telah engkau sia-siakan!.

Jika engkau menyamakan orang kedua seperti orang pertama, maka alangkah pantasnya engkau binasa karena kesaksian dua orang tersebut terhadap dirimu!.

Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada nilainya. Seandainya semua dunia dikumpulkan, maka dunia tidak lebih dari satu hari dalam umur seseorang.

Jangan sekali-kali mayat di kuburan itu lebih bisa menghargai sesuatu yang ada
di tanganmu daripada engkau sendiri. padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi Allah. jika dikatakan kepada mayat di kuburan. ‘Inilah dunia itu dan awal hingga akhir. Engkau memberikannya kepada anak-anakmu kemudian mereka bersenang-senang dengannya sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai mereka ataukah lebih mencintai hari di mana engkau dibiarkan beramal untuk dirimu? Pasti ia memilih pilihan kedua..

Bahkan, seandainya ia disuruh memilih satu jam dengan waktu berjam-jam milik orang lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih memilih waktu satu jam tersebut untuk dirinya.

Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih antara satu kata yang mendapatkan pahala dengan hal-hal lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai satu kata tersebut.

Periksalah dirimu hari ini! Lihatlah waktu! Agungkanlah kata! Hati-hatilah terhadap kerugian ketika Hari Kiamat telah tiba! Semoga Allah menjadikan nasihat ini bermanfaat bagiku dan bagimu. Semoga Allah memberi kita hasil yang baik.

Diolah dari: Buku Wasiat –wasiat Ulama terdahulu , Oleh Syaikh Salim l’ed Al-Hilali hafidzahullah, Penerbit: Dar Ibnu Jauzi. Cet. 2 1112 H/1991 M.

 

Sumber

Kehati-hatian Umar bin Abdul Aziz

Hari itu cuaca teramat panas, matahari memancar terik sejak pagi, anak Khalifah Umar bin Abdul Azis yang paling bungsu sehabis bermain sejak pagi berasa sangat lapar lalu meminta makanan daripada ibunya. Tetapi ketika itu isteri Khalifa, Fatimah belum memasak sesuatu apapun.

“Pergilah berjumpa dengan ayahmu di baitulmal, mungkin dia dapat memberikan kamu sesuatu yang dapat dimakan,” kata Fatimah.

Anak itupun berlari lari riang dan lucu mencari ayahnya. Ketika itu ia melihat ayahnya Khalifah Umar bin Abdul Azis masih bersama beberapa orang pegawainya untuk menimbang sejumlah buah apel untuk dibagikan kepada mereka yang layak menerimanya.

Tiba tiba masuk seorang buah hati Khalifah yang kecil itu menuju tumpukan buah apel, lalu mengambil sebuah apel dari tumpukkan dan lalu hendak memakannya. Khalifah Umar bin Abdul Azis melihat anak kesayangannya mengambil dan khalifah segera merebut paksa buah apel itu dari mulut anaknya hingga buah hatinya menangis lalu berlari pulang ke rumahnya.

“Wahai Amirul Mukminin, anakmu itu sedang lapar, toh kita masih mempunyai stok banyak buah apel untuk diberikan kepada orang banyak, sekiranya hilang satu buah, tentu tidaklah menjadi kerugian,” kata Sahal, adik Khalifah Umar bin Abdul Azis yang turut berada dan menyaksikan kejadian tersebut.

Sahal,  tidak sampai hati melihat keponakannya yang sedang lapar itu menangis ketika sebuah apel yang hendak dimasukkan kedalam mulut yang direbut oleh ayahnya.

Khalifah Umar Abdul Azis hanya berdiam diri mendengar kata kata adiknya ini. Hatinya sendiri ketika itu sedang gelisah. Dia terpaksa memilih antara keridhaan Allah dengan keinginan anak kesayangannya. Dia memilih mengutamakan keridhaan Allah.

Selesai kerjanya di baitulmal, Khalifah Umar pulang segera ke rumah. Ditemui anak bungsunya yang sedang lucu lucunya, dan dia memeluk dan mencium buah hatinya, tapi dia mencium harumnya buah apel pada mulut si bungsu anaknya, Khalifah Umar segera memanggil Isterinya , Fatimah.

“Wahai Fatimah, darimana kamu dapatkan buah apel untuk anak kita?” Tanya Khalifah Umar bin Abdul Azis.

“Anak itu sedang kelaparan tadi siang , dan ia ingin sekali memakan buah apel, lalu akhirnya saya belikan sebuah di pasar, apel itulah yang dimakannya untuk menahan rasa laparnya.” Jawab Fatimah.

Dengan wajah lapang dan sambil menangis Khalifah Umar bin Abdul Azis pun bercerita kejadian tadi siang terkait dengan anak bungsunya dan ia berkata,”Wahai isteriku Fatimah, ketika saya merebut buah apel itu dari mulut anak kita, sungguh, saya merasakan seperti merengut jantung saya sendiri. Tetapi apa daya karena saya sangat takut akan api neraka yang akan membakar anak kita, jadinya saya rebut buah apel itu dari mulutnya.

Begitulah seorang hamba Allah, seorang Khalifah , mu’min ,muttaqin, yang mencontohkan kehati hatiannya , yang mengharapkan seluruh keluarga bahkan rakyatnya untuk mencapai surga Allah, beliau sangat khawatir barang barang haram memasuki aliran darah di keluarganya.

Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan pemimpin dan pejabat Negara ini…bagaimana dengan keturunan mereka? Apakah menikmati hasil atau harta harta Negara atau fasilitas Negara yang di atur atur…Ya Allah lindungi kami dan keluarga kami, para pemimpin kami , para ustadz kami, dan seluruh kaum muslim agar kami dan mereka memperhatikan apa apa rezeki yang dinikmatinya.

Sumber

 

Putri Rambut Putih dan Langkusa

Pada masa kekuasaan Susuhunan Palembang, di Kabupaten Ogan Komering Ilir, yaitu di Perigi, Kayuagung, hiduplah seorang putri cantik. Rambutnya panjang, hitam terurai. Ia mempunyai kesaktian yang terdapat pada air ludahnya. Apabila seseorang diludahinya, maka rambut kepala orang itu menjadi putih. Karena kesaktiannya itulah ia memiliki julukan Putri Rambut Putih.
Alkisah pada masa itu, banyak bujang dan orang terkemuka mencoba melamar putri cantik itu. Akan tetapi, semua lamaran mereka tidak pernah diterima, bahkan kepala orang yang melamar sering diludahinya. Rambut orang-orang yang diludahi itu menjadi putih. Pernah suatu kali, ada pula pemuda dan saudagar yang mempunyai kemampuan bela diri mencoba melamarnya. Namun kenekatan orang-orang itu akhirnya menuai akibat yang sama, rambut mereka menjadi putih karena diludahi Putri Rambut Putih. Sejak itulah tidak ada lagi yang berani melamar sang putri yang memang berparas cantik itu.
Selain Sang Putri memiliki kesaktian pada air ludahnya serta kemampuannya dalam beladiri, ia pun memiliki seorang kakak yang cukup sakti. Kakaknya itu bernama Langkusa. Sedangkan kedua orang tua mereka sudah lama meninggal.
Kecantikan serta kesaktian Putri Rambut Putih akhirnya sampai juga ke telingan Susuhunan Palembang. Ia berniat untuk melamar putri itu. Kemudian ia pun mengutus beberapa anak buahnya untuk melamar sang putri. Tentu saja para utusan yang dikirim tidaklah sembarangan. Mereka adalah para prajurit yang memiliki kemampuan beladiri yang lumayan untuk menjaga sesuatu hal yang tidak diinginkan.
“Hululbalang, tolong kau pimpin beberapa prajurit yang memiliki kempuan lebih. Bawa juga bendera kebesaran. Gunakan kapal kita yang paling bagus.” titah Susuhunan kepada seorang hulubalang.
“Baik paduka, titah paduka hamba junjung tinggi.” Hulubalang itu pun memberi hormat kemudian undur diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Setelah segalanya siap, beberapa utusan itu pun kemudian berangkat ke Kayuagung untuk menyampaiakn maksud paduka Susuhunan. Kapal yang membawa rombongan Susuhunan menuju ke hulu menelusuri Sungai Musi, terus berbelok menelusuri Sungai Komering. Tidak sulit bagi mereka untuk mencari rumah Sang Putri yang memang sudah terkenal itu. Seorang utusan Susuhunan pun kemudian menghadap Putri Rambut Putih.
“Hamba diutus Paduka Susuhunan untuk menyampaikan maksud Paduka, yaitu melamar Tuan Putri.” demikian ucap sang utusan setelah berbasa-basi alakadarnya.
“Aku sudah mengetahui maksud Susuhunan Palembang. Tapi aku minta maaf, aku tidak bisa menerimanya.” demikian ucap Sang Putri dengan nada congkak. Utusan itu agak tersentak mendengarnya. Bukan masalah penolakannya yang membuat ia terkejut, tetapi sikap dan nada bicara putri itu yang terdengar sangat tidak sopan. Bahkan kemudian, tanpa diduga, putri itu meludahinya hingga rambut ustusan itu berubah menjadi putih.
Dengan tanpa permisi lagi dan perasaan marah yang dipendam, hulubalang dan rombongannya kembali ke Palembang. Setelah merapatkan kapalnya, mereka langsung menuju istana Susuhunan dengan wajah merah padam.
Melihat wajah para utusannya yang membara seperti memendam kemarahan, Susuhunan sudah dapat menangkap maksudnya. Namun ia ingin mendengarkan langsung apa yang akan dilaporkan mereka.
“Inilah hasil yang hamba terima, Paduka. Putri itu ternyata memang sangat angkuh dan sombong. Kepala hamba pun diludahinya hingga rambut hamba menjadi putih.” ucap utusan itu dengan nada kesal.
“Kurang ajar! Itu sama halnya dengan meludahi kepalaku sendiri!” Susuhunan demikian geram. Ia tampak sangat murka. Kemudian Susuhunan pun memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menyelidiki kekuatan Putri Rambut Putih. Susuhunan bermaksud menculik putri itu untuk dibawa ke Palembang.
Esoknya, beberapa telik sandi pun berangkat untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam selama beberapa hari. Kapan waktu putri mandi di sungai, ke mana saja ia pergi, atau kegiatan lainnya Putri Rambut Putih diselidiki para utusan itu. Sampai kemudian diketahui juga bahwa putri yang sombong itu mempunyai seorang kakak lelaki yang sangat sakti bernama Langkusa. Bahkan, perihal ilmu kanuragannya, Langkusa memiliki kemampuan luar biasa.
Para telik sandi itu kemudian pulang dan menceritakan hasil penyelidikan mereka. Susuhunan sempat terkejut ketika mendengar kesaktian kakak Putri Rambut Putih. Itu artinya akan ada halangan lain yang tidak ringan untuk dihadapi. Namun niat Susuhunan untuk menculik sang putri sudah bulat. Tetapi ia memang harus menyusun strategi lain untuk melumpuhkan Langkusa terlebih dahulu bila tidak mau diajak berdamai secara baik-baik. Bila perlu, Susuhunan harus membunuh Langkusa.
Sampai kemudian diketahui juga bahwa di dalam hutan di pinggir Desa Perigi, hidup seekor banteng yang ganas. Di dalam telinga banteng itu terdapat sarang lebah penyengat. Penciuman banteng itu sangat tajam, terutama terhadap bau tubuh manusia. Apabila banteng itu mencium bau manusia, ia menjadi marah lalu mencari dan membunuh manusia itu. Kemudian diketahui juga bahwa di Desa Perigi ada juga sumur yang sangat dalam dan lebar. Sumur ini pun akan dijadikan siasat alternatif Sang Susuhunan apabila beberapa rencana lain tidak berhasil.
Setelah menemukan dan mematangkan beberapa rencana, berangkatlah Susuhunan dan para hulubalangnya ke Desa Perigi. Kebetulan pada waktu itu Langkusa tidak berada di rumah. Dia sedang bertapa di Ujung Tulung. Langkusa pun tampaknya tidak bisa tinggal diam. Ia mempunyai firasat buruk setelah peristiwa penolakan adiknya terhadap Susuhunan Palembang. Maka untuk memperdalam ilmunya ia pun kembali bertapa beberapa hari. Namun pertapaannya ini pun sudah diketahui oleh anak buah Susuhunan yang memang selalu memata-matai Putri Rambut Putih dan kakanya itu.
Sampai akhirnya, Susuhunan menyuruh seseorang untuk menjemput Langkusa agar mau menghadapnya di tempat persinggahan di Perigi. Utusan itu pun segera menuju pertapaan Langkusa. Setelah bertemu Langkusa utusan Susuhunan menceritakan maksud kedatangannya.
“Mohon maaf kalau kedatangan saya mengganggu Tuan Langkusa. Paduka Susuhunan Palembang menitah saya untuk menjemput Tuan agar datang ke Perigi.” ucap utusan itu penuh hormat. Ia berjaga-jaga kalau-kalau Languksa yang sedang bertapa itu menjadi gusar.
“Ada perlu apa Susuhunan memanggilku?” tanya Langkusa tenang. Ia menduga-duga, pasti ada hal yang kurang baik yang bakal dihadapinya. Sebenarnya, mata batinnya sudah menangkap siasat-siasat apa yang akan dilakukan Susuhunan di Perigi nanti.
“Jelasnya saya tidak tahu, Tuan. Susuhunanlah yang akan menyampaikannya langsung.”
“Baik, kalau begitu silakan Tuan pulang duluan, saya segera menyusul.”
Setelah utusan itu hilang dari pandangannya, Langkusa pun mengakhiri pertapaannya dan langsung menemui Susuhunan di Perigi. Susuhunan Palembang itu terkejut karena terkabar bahwa Langkusa sudah menuju persinggahannya. Padahal utusannya sendiri belum datang. Ia kini semakin yakin akan kesaktian Langkusa itu.
“Hamba mohon maaf bila terlambat menghadap Paduka. Gerangan apakah sehingga Paduka memanggil hamba?” kata Langkusa setelah menghadap.
“Hai Langkusa, sebagai tanda baktimu pada Susuhunan Palembang, aku minta tolong padamu, guna keamanan di dusun ini, coba kamu tangkap banteng liar di dalam hutan di tepi dusun!” ujar Susuhunan penuh wibawa meskipun di dalam hatinya ada perasaan was-was. Dalam hatinya ia berharap agar Langkusa dapat celaka setelah bertemu banteng liar itu.
“Baik, paduka. Titah Paduka hamba junjung tinggi.” jawab Langkusa mantap. “Hamba segera berangkat.”
“Silakan! Hati-hati!”
Langkusa pun segera undur diri setelah menunduk memberi hormat. Susuhunan dan segenap anak buahnya harap-harap cemas. Langkusa pun segera berangkat menuju hutan mencari banteng itu. Rupanya, banteng itu pun telah waspada, ia lebih dahulu mencium bau manusia yang datang. Banteng liar terus terus mengendus menyongsong Langkusa yang datang. Dengan kepalanya yang menunduk memamerkan tanduknya yang runcing, banteng itu langsung menyerbu Langkusa. Mata banteng itu seperti menyala, merah membara. Semak belukar yang dilaluinya langsung tersibak. Hentakkan kakinya gemuruh seakan-akan bumi akan terbelah. Langkusa siap menghadapi serangan banteng jantan ganas yang tubuhnya sangat kekar dan besar itu. Begitu kepala banteng menyodok tubuh Langkusa, tanpa ampun lagi Langkusa pun menyongsongnya dengan pukulan tenaga dalamnya. Kepala banteng pun pecah. Binatang yang dikenal sangat ganas itu langsung tergolek tak bernafas. Dengan segala kemampuannya, tubuh banteng itu dipanggulnya, dibawa ke dusun untuk diserahkan kepada Susuhunan sebagai tanda bukti keberhasilannya.
Rupanya Susuhunan pun sudah mengetahui bahwa Langkusa berhasil. Perasaan cemas mulai melanda pikirannya. Namun ia sudah menyiapkan siasat lain. Di dasar sumur yang dalam dan lebar yang ada di dusun itu telah diisi dengan tombak-tombak beracun yang tertancap kuat dengan mata tombak menghadap ke atas. Sehingga apabila ada seseorang yang terjun ke dalam sumur itu pastilah akan disongsong oleh beberapa mata tombak itu.
“Terima kasih Langkusa, engkau benar-benar seorang pemuda yang sakti dan baik budi. Aku sangat kagum padamu. Namun aku minta tolong sekali lagi, cincinku terjatuh ke dalam sumur sewaktu aku mencoba melihat ke kedalaman sumur itu.”
Beberapa pengawal pun disuruh Susuhunan menunjukkan sumur yang dimaksud. Langkusa tetap tenang. Ia pun mencoba melihat dengan mata batinnya tentang segala sesuatu yang ada di dalam sumur itu. Susuhunan dan rombongannya mengiringi langkah Langkusa menuju sumur.
Setelah sampai di bibir sumur, Langkusa melompat terjun, bersalto ke dalam sumur. Semua orang yang menyaksikan terhenyak melihat cara Langkusa melompat. Begitu tubuh kakak Putri Rambut Putih itu masuk ke dalam sumur, air pun menyembur ke atas diiringi bunyi berdentum Semua tombak dalam sumur itu patah begitu tersentuh tubuh Langkusa. Secepat kilat Langkusa pun naik kembali dengan sebuah cincin di tangannya. Semua orang kembali terhenyak, termasuk Susuhunan.
“Inikah cincin yang Paduka maksudkan itu?” kata Langkusa sambil menyerahkan cincin temuannya kepada Susuhunan.
“Luar biasa kau, Langkusa. Sebagai Susuhunan Palembang, aku sangat bangga padamu!”
Tidak lama setelah menerima cincin, Susuhunan dan rombongannya pulang ke Palembang sambil membawa berbagai kecamuk dalam batin mereka. Kini jelas, Langkusa dan adiknya tidak dapat diremehkan begitu saja.
Setibanya kembali di Palembang, Susuhunan mengadakan pertemuan khusus. Semua hulubalang dipanggil. Susuhunan akan kembali mengatur rencana untuk menculik Putri Rambut Putih.
“Siapa di antara kamu yang sanggup menangkap Putri Rambut Putih?” tanya Susuhunan kepada semua orang yang hadir di balai pertemuan. Semua hulubalang dan yang lainnya tidak menjawab. Mereka hanya saling lirik dan saling pandang. Mereka sudah yakin bahwa kemampuan mereka jauh di bawah Langkusa maupun Putri Rambut Putih.
Karena tidak ada yang sanggup menjalankan perintah tersebut maka semua hulubalang dan anak buahnya diperintahkan membuat sungai dari Teleko sampai Tanjung Agung. Sungai ini sebagai jalur alternatif dalam usaha penculikan nanti.
Berhari-hari sungai pun dibuat. Tentu saja Susuhunan tidak mengabarkan maskud sebenarnya tujuan membuat sungai tersebut. Setelah selesai sungai itu dibuat, Susuhunan berserta hulubalangnya menyusuri sungai itu dengan kapal. Sesampainya di Tanjung Agung, Susuhunan dan rombongannya diam-diam naik ke darat lalu berjalan kaki ke arah Perigi yang jaraknya sekitar dua kilometer.
Pada saat itu, Langkusa sedang asyik mandi di sungai. Sementara itu, Putri Rambut Putih pun sedang asyik membuat periuk dari tanah liat di kolong rumah panggungnya. Tampaknya ia cukup terampil membuat periuk itu. Gerakan tangannya cukup lembut namun lincah. Rambutnya yang panjang terurai kini telah disanggulnya dan disemat dengan menggunakan sebatang tangubai. Dengan begitu ia merasa lebih bebas bergerak.
Sementara itu di semak belukar, Susuhunan dan beberapa hulubalangnya mengendap-endap hati-hati menuju rumah Putri Rambut Putih. Beberapa hulubalang yang memiliki ilmu kanuragan tinggi akhirnya melompat bersamaan dan berhasil menyekap Sang Putri. Putri Rambut Putih berusaha melawan sambil meronta-ronta. Namun totokan seorang hulubalang berhasil membuatnya pingsan. Sang Putri pun kemudian dibawa lari menuju kapal.
Namun ternyata, usaha penculikan itu diketahui beberapa orang warga kampung yang tidak sengaja melihat kejadian itu. Seorang di antaranya kemudian melaporkan kejadian itu kepada Langkusa yang tengah asyik mandi di sungai. Akan tetapi Langkusa tidak menanggapinya. Kemudian orang kedua melapor kembali kepada Langkusa, tetapi karena dia sedang begitu asyiknya berkecipak di sungai, dia tetap tidak memberi tanggapan.
Beberapa saat kemudian, saat Langkusa selesai mandi, barulah dia bertanya dan menanggapinya dengan serius.
“ Dibawa ke mana adikku?” tanya Langkusa sambil mengelapi tubuhnya dengan telapak tangan.
“Adikmu sudah dibawa Susuhunan ke kapalnya,” jawab orang itu.
Secepat kilat Langkusa pun berlari menyusul ke Tanjung Agung, tempat kapal
Susuhunan berlabuh. Sesampainya di sana, ternyata adiknya telah dibawa ke dalam kapal.
Melihat Langkusa sudah bertolak pinggang di pinggir sungai, Susuhunan beserta balatentaranya pun langsung siap siaga.
“Paduka, tolong imbangi kapal ini, aku akan melompat.” kata Langkusa lantang. Ia tak perlu lagi menjelaskan maksud kedatangannya.
“Lompatlah!” jawab Suhunan dengan nada menantang. “Kapal ini besar, tidak mungkin tenggelam hanya oleh berat tubuhmu!” Ia memberi kode kepada balatentaranya untuk berjaga-jaga.
Langkusa pun melompat ke kapal bagaikan kilat. Begitu kakinya menginjak bibir kapal, kapal itu pun miring sehingga orang-orang yang sudah berjaga-jaga menjadi oleng, termasuk Susuhunan. Dengan sigap pula Langkusa menyambar adiknya. Sambil memanggul adiknya, dia melompat kembali ke darat. Ketika melompat itulah, tangubai adiknya jatuh ke sungai. Kini tempat tangubai (tusuk konde) itu jatuh dikenal dengan nama Lubuk Tangubai.
Setelah itu, Langkusa kembali ke dusunnya dengan membopong adiknya, sedangkan Suhunan dan rombongannya pulang kembali ke Palembang dengan penuh kekecewaan.
Sampai di Palembang, emosi Suhunan meledak. Ia pun megeluarkan kutuknya/bersumpah dihadapan para pengikutnya. Konon, sumpahnya itu sampai sekarang diyakini masih berlaku.
“Mulai saat ini, keturunanku tidak akan selamat apabila mengawini orang dari Dusun Kayuagung!” teriak sang Susuhunan geram.
Putri Rambut Putih sendiri kemudian hidup tentram bersama kakaknya. Namun, akibat sifat Putri Rambut Putih yang sombong dan congkak serta orang-orang tidak berani lagi untuk mencoba melamarnya, konon, sampai tua dan akhirnya mati pun ia tetap tidak pernah menikah.

Tambahan:

Saat ini, nama “Langkusa” diabadikan sebagai nama lorong di Perigi, Kayuagung. Nama Perigi berarti sumur, diyakini oleh warga bahwa Perigi adalah tempat pertama kali moyang Kayuagung tinggal, dimana sumur merupakan simbol pemenuhan terhadap kebutuhan air dalam kehidupan. (Abu Syauqi Tamim)

Catatan:
Cerita ini termasuk dongeng yang dipercaya oleh masyarakat Kayuagung. Hikmah yang dapat dipetik yaitu kita tidak boleh sombong meskipun kita memiliki ilmu yang tinggi.

  1. Diramu dari berbagai sumber, baik penuturan lisan maupun tertulis.
  2. Dalam versi lain diceritakan hewan hutan liar itu adalah kerbau, bukan banteng.
  3. Tangubai/tongabai : tusuk konde.
  4. Telik sandi : mata-mata.
  5. Susuhunan/Suhunan: penguasa daerah/wilayah semacam sultan/kesultanan.
  6. Lubuk Tangubai: Lubuk Tongabai.

 

Sumber

John Locke

Filosof pertama yang menghimpun secara terpadu gagasan dasar konstitusi demokratis adalah orang Inggris: John Locke. Pikiran-pikirannya memancarkan pengaruh kuat kepada para dedengkot pendiri Republik Amerika Serikat. Bukan itu saja, pengaruhnya juga kuat merasuk ke dalam kalbu gerakan pembaharu Perancis.

Locke dilahirkan tahun 1632 di Wrington, Inggris. Dia memperoleh pendidikan di Universitas Oxford, peroleh gelar sarjana muda tahun 1656 dan gelar sarjana penuh tahun 1658. Selaku remaja dia tertarik sangat pada ilmu pengetahuan dan di umur tiga puluh enam tahun dia terpilih jadi anggota “Royal Society.” Dia menjadi sahabat kental ahli kimia terkenal Robert Boyle dan kemudian hampir sepanjang hidupnya jadi teman dekat Isaac Newton. Kepada bidang kedokteran pun dia tertarik dan meraih gelar sarjana muda di bidang itu meskipun cuma sekali-sekali saja berpraktek.

Titik balik dalam kehidupan Locke adalah perkenalannya dengan Pangeran Shaftesbury. Dia jadi sekretarisnya dan menjadi dokter keluarga. Shaftesbury seorang jurubicara penting bagi pikiran liberal sehingga walau sebentar pernah dia dipenjara oleh Raja Charles II akibat kegiatan politiknya. Tahun 1682 Shaftesbury lari ke Negeri Belanda dan mati disana tahun berikutnya. Locke, berkat hubungannya yang begitu akrab dengan mendiang, senantiasa diawasi dan dibayang-bayangi, karena itu memaksanya juga lari ke Negeri Belanda tahun 1683. Dia menetap di negeri itu sampai pengganti Raja Charles, Raja James II digulingkan oleh sebuah revolusi yang berhasil. Locke pulang ke kampungnya tahun 1689 dan seterusnya menetap di Inggris. Tak pernah sekali pun kawin, dan mati di tahun 1704.

Buku pertama yang membikin Locke masyhur adalah An Essay Concerning Human Understanding (Esai tentang saling pengertian manusia), terbit tahun 1690. Di situ dipersoalkan asal-usul, hakikat, dan keterbatasan pengetahuan manusia. Ide-ide Locke pada gilirannya mempengaruhi filosof-filosof seperti Pendeta George Berkeley, David Hume dan Immanuel Kant. Kendati esai itu hasil karya Locke yang paling orisinal dan merupakan salah satu dari filosofi klasik yang masyhur, pengaruhnya tidaklah sebesar tulisan-tulisan ihwal masalah politiknya.

Dalam buku A Letter Concerning Toleration (Masalah yang berkaitan dengan toleransi) yang terbit tahun 1689, Locke menekankan bahwa negara jangan ikut campur terlampau banyak dalam hal kebebasan menjalankan ibadah menurut kepercayaan agama masing-masing. Locke bukanlah orang Inggris pertama yang mengusulkan adanya toleransi agama dari semua sekte Protestan. Tetapi argumennya yang kuat yang dilontarkannya, yang berpihak kepada perlunya ada toleransi merupakan faktor dukungan penduduk terhadap sikap pandangannya. Lebih dari itu, Locke mengembangkan prinsip toleransinya kepada golongan non-Kristen: “… baik penganut kepercayaan primitif, atau Islam maupun Yahudi tidak boleh dikurangi hak-hak sipilnya dalam negara semata-mata atas pertimbangan agama.” Tetapi, Locke percaya bahwa toleransi ini tidak berlaku bagi golongan Katolik karena Locke yakin mereka tergantung pada bantuan kekuatan luar, dan juga tak ada toleransi bagi kaum atheis. Dengan ukuran jaman kini dia boleh dibilang teramat berlapang dada, tetapi beralasan memandangnya dari hubungan dengan ide-ide pada jamannya. Fakta mencatat, alasan-alasan yang dikemukakannya demi terciptanya toleransi agama lebih meyakinkan pembacanya dari pengecualianpengecualian yang dibuatnya. Kini, berkat adanya tulisan-tulisan Locke, toleransi agama sudah meluas bahkan pada golongan-golongan yang tadinya dikucilkan.

Arti penting Locke lainnya adalah bukunya Two Treatises of Government (Dua persepakatan dengan pemerintah) terbit tahun 1689 yang isinya merupakan penyuguhan ide dasar yang menekankan arti penting konstitusi demokrasi liberal. Buku itu berpengaruh terhadap pikiran politik seluruh dunia yang berbahasa Inggris. Locke yakin seyakin-yakinnya bahwa tiap manusia memiliki hak alamiah, dan ini bukan sekedar menyangkut hal hidup, tetapi juga kebebasan pribadi dan hak atas pemilikan sesuatu. Tugas utama pemerintah adalah melindungi penduduk dan hak milik warga negara. Pandangan ini acap kali disebut “teori jaga malam oleh pemerintah.”

Menolak anggapan hak suci raja, Locke menekankan bahwa pemerintah baru dapat menjalankan kekuasaannya atas persetujuan yang diperintah. “Kemerdekaan pribadi dalam masyarakat berada di bawah kekuasaan legislatif yang disepakati dalam suatu negara.” Dengan tegas Locke menekankan sesuatu yang disebutnya “kontrak sosial.” Pikiran ini sebagian berasal dari tulisan-tulisan filosof Inggris terdahulu, Thomas Hobbes (1588-1679). Tetapi, jika Hobbes menggunakan “kontrak sosial” ini untuk memperkokoh absolutisme, Locke melihat “kontrak sosial” itu dapat diganti:

” … bilamana legislator mencoba merampas dan menghancurkan hak milik penduduk, atau menguranginya dan mengarah kepada perbudakan di bawah kekuasaan, mereka berada dalam keadaan perang dengan penduduk, dan karenanya penduduk terbebas dari kesalahan apabila membangkang dan biarlah mereka berlindung pada naungan Tuhan yang memang menyediakan penjagaan buat semua manusia dari kekerasan dan kemajuan.”

Juga, masih menjadi kekuatan rakyat untuk menjungkirkan dan mengganti badan perwakilannya begitu melihat wakil-wakil mereka berbuat bertentangan dengan kepercayaaii yang diletakkan di pundak mereka “sikap gigih Locke mempertahankan hak melakukan revolusi amat kuatnya mempengaruhi Thomas Jefferson dan kaum revolusioner Amerika lainnya.

Locke berpegang teguh pada perlu adanya pemisahan kekuasaan. Dia menganggap kekuasaan legislatif harus lebih unggul ketimbang eksekutif dan kekuasaan yudikatif yang dianggapnya merupakan cabang dari eksekutif. Selaku orang yang percaya terhadap keunggulan kekuasaan legislatif. Locke hampir senantiasa menentang hak pengadilan yang memutuskan bahwa tindakan legislatif itu tidak konstitusional.

Meski Locke bersiteguh atas prinsip kekuasaan mayoritas, tetapi dijelaskannya bahwa suatu pemerintahan tidaklah memiliki kekuasaan tanpa batas. Mayoritas harus tidak merusak hakikat hak-hak manusia. Suatu pemerintahan hanya dapat dibenarkan merampas hak milik atas perkenan yang diperintah. (Di Amerika, gagasan ini dinyatakan dalam slogan, “Tidak ada pajak tanpa adanya perwakilan.”)

Jelas sekali, pandangan-pandangan Locke menggambarkan gagasan pihak penggerak revolusi Amerika seabad sebelum kejadian itu berlangsung. Pengaruhnya atas Thomas Jefferson amatlah mengesankan. Pikiran Locke merasuk ke benua Eropa, khususnya Perancis, merupakan fakta tak langsung yang mendorong revolusi Perancis dan Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia. Meskipun tokoh-tokoh seperti Voltaire dan Thomas Jefferson lebih terkenal daripada Locke, tulisan-tulisannya mendahului mereka dan punya pengaruh kuat terhadap mereka. Karena itu layaklah apabila kedudukan Locke pun disebut lebih dahulu dalam daftar urutan buku ini.

Sumber: Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah.

Adam Smith

Tokoh terkemuka di bidang teori pembangunan ekonomi, Adam Smith, lahir di kota Kirkcaldy, Skotlandia, tahun 1723. Waktu remaja dia belajar di Universitas Oxford, dan dari tahun 1751 sampai 1764 dia menjadi mahaguru di Universitas Glasgow. Selama di situlah dia menerbitkan buku pertamanya, Theory of Moral Sentiments, yang mengangkat dirinya ke tengah-tengah masyarakat intelektual. Tetapi, puncak kemasyhurannya terutama terletak pada buku karya besarnya An Inquiry Into the Nature and Causes of The Wealth of Nations, yang terbit tahun 1776. Buku ini segera sukses dan merebut pasar, dan sisa hidup Smith menikmati kemasyhuran dan penghargaan berkat karya itu. Dia mati juga di Kirkcaldy tahun 1790. Tak seorang anak pun dia punya, lagi pula tak pernah kawin.

Adam Smith bukanlah orang pertama yang mengabdikan diri pada teori ekonomi, dan banyak gagasan-gagasannya yang terkenal bukanlah asli keluar dari kepalanya. Tetapi, dialah orang pertama yang mempersembahkan teori ekonomi yang sistematik dan mudah dicerna yang cukup tepat sebagai dasar bertolak buat kemajuan bidang itu di masa depan. Atas dasar alasan itu, layaklah dianggap bahwa The Wealth of Nations merupakan pangkal tolak dari penelitian modern politik ekonomi.

Salah satu hasil besar yang disuguhkan buku ini adalah karena ia meluruskan dan menghalau pelbagai anggapan yang jadi anutan orang sebelumnya. Smith adu pendapat dan menentang teori lama ekonomi perdagangan yang menekankan arti penting perlunya negara punya persediaan batangan emas dalam jumlah besar. Begitu pula, bukunya menolak pandangan para physiokrat yang mengatakan bahwa tanah merupakan sumber utama dari nilai. Sebaliknya Smith menekankan arti pokok yang paling penting adalah tenaga kerja. Smith dengan gigih menekankan bahwa peningkatan produksi dapat dicapai lewat pembagian kerja dan dia menyerang habis semua peraturan pemerintah yang usang dan campur tangannya berikut hambatan-hambatan yang menghalangi perkembangan dan perluasan industri.

Ide sentral The Wealth of Nations adalah pasar bebas yang bergerak menurut mekanisme pasar yang dianggapnya secara otomatis bisa memprodusir macam dan jumlah barang yang paling disenangi dan diperlukan masyarakat konsumen. Misalnya, persediaan barang yang justru disenangi merosot, dengan sendirinya harga akan naik dan kenaikan harga ini akan mendatangkan untung banyak bagi siapa saja yang memproduksinya. Karena untung banyak, pabrik-pabrik lain tergerak untuk memproduksi juga. Akibat dari kenaikan produksi tidak bisa tidak akan menyingkirkan keadaan kekurangan barang. Lagi pula, kenaikan suplai dalam kaitan dengan kompetisi antar pelbagai perusahaan akan cenderung menurunkan harga komoditi pada tingkat harga yang “normal,” misalnya ongkos produksinya. Tak ada pihak mana pun yang membantu melenyapkan kelangkaan, tetapi kelangkaan itu akan teratasi dengan sendirinya. “Tiap orang,” kata Smith “cenderung mencari keuntungan untuk dirinya, tetapi dia “dituntun oleh tangan gaib untuk mencapai tujuan akhir yang bukan menjadi bagian keinginannya. Dengan jalan mengejar kepentingan dirinya sendiri dia sering memajukan masyarakat lebih efektif dibanding bilamana dia betulbetul bermaksud memajukannya” (The Wealth of Nations, Bab IV, pasal II).

“Tangan gaib” ini tak dapat melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya jika ada gangguan terhadap persaingan bebas. Smith karena itu percaya kepada sistem perdagangan bebas dan menentang keras harga tinggi. Pada dasarnya dia menentang keras hampir semua ikut campurnya pemerintah di bidang bisnis dan pasar bebas. Campur tangan ini, kata Smith, hampir senantiasa akan mengakibatkan kemerosotan efisiensi ekonomi dan ujungujungnya akan menaikkan harga. (Smith tidaklah menciptakan semboyan “laissez faire,” tetapi dia lebih dari siapa pun juga menyebarkan konsep itu).

Beberapa orang peroleh kesan bahwa Adam Smith tak lain dari seorang yang cuma “menari menurut bunyi gendang” demi kepentingan ekonomi. Pendapat ini tidaklah benar. Dia berulang kali dan dengan kata-kata keras, mengecam habis praktek-praktek monopoli ekonomi dan menginginkan penghapusannya. Dan Smith bukannya orang naive dalam hubungan ekonomi praktek. Ini bisa dibaca dari pengamatannya yang khas dalam buku The Wealth of Nations: “Orang dalam dunia dagang barang yang sama jarang bisa ketemu bersama, tetapi pembicaraan akan berakhir pada pembentukan komplotan yang bertentangan dengan rakyat, atau dalam bentuk lain menaikkan harga.”

Begitu sempurnanya Adam Smith mengorganisir dan mengedepankan sistem pemikiran ekonominya, sehingga hanya dalam jangka waktu beberapa puluh tahun saja mazhab-mazhab ekonomi sebelumnya tersisihkan. Nyatanya, semua pokok-pokok pikiran mereka yang bagus telah digabungkan dengan sistem Smith, sementara Smith dengan sistematis mengungkapkan kekurangan-kekurangan mereka yang ada. Pengganti Smith termasuk ekonom-ekonom kenamaan seperti Thomas Malthus dan David Ricardo, mengembangkan dan menyempurnakan sistemnya (tanpa mengubah garis-garis pokoknya) menjadi struktur yang kini digolongkan kedalam kategori ekonomi klasik. Sampai pada suatu tingkat penting tertentu, bahkan teori ekonomi Karl Marx (meski bukan teori politiknya) dapat dianggap sebagai kelanjutan dari teori ekonomi klasik.

Dalam buku The Wealth of Nations, Smith sebagian menggunakan pandangan-pandangan Malthus tentang kelebihan penduduk. Tetapi, jika Ricardo dan Karl Marx keduanya bersikeras bahwa tekanan penduduk akan mencegah upah naik melampaui batas keperluan (apa yang disebut “hukum baja upah”), Smith menegaskan bahwa kondisi kenaikan produksi upah dapat dinaikkan. Amatlah jelas, kejadian-kejadian -membuktikan bahwa Smith benar dalam segi ini, sedangkan Ricardo dan Marx meleset.

Tak ada sangkut-pautnya dengan ketetapan pandangan Smith atau pengaruhnya terhadap para teoritikus ekonomi yang datang belakangan, yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap perundang-undangan serta politik yang diambil pemerintah. The Wealth of Nations ditulis dengan keulungan yang tinggi serta kejernihan pandangan yang tak bertolok banding dan terbaca amat luas. Argumen Smith menghadapi campur tangan pemerintah dalam bidang bisnis dan dunia perdagangan dan demi rendahnya harga serta perekonomian bebas, telah mempengaruhi secara pasti terhadap garis kebijaksanaan pemerintah di seseluruh abad ke-19. Sesungguhnya, pengaruhnya dalam hal itu masih tetap terasa hingga sekarang.

Sejak teori ekonomi berkembang pesat sesudah masa Smith, dan beberapa gagasannya tergeser oleh pendapat-pendapat lain, sangatlah mudah mengecilkan makna penting Adam Smith. Mesti begitu, fakta menunjukkan, dialah pemula dan pendiri tokoh ekonomi sebagai suatu studi yang sistematis,dan dia sesungguhnya tokoh terkemuka dalam sejarah pemikiran manusia.

Sumber: Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah.