Peredaran! Tasawuf

Sekarang ini banyak lembaga yang menjajakan paket-paket kajian ini itu yang seolah untuk memberikan bimbingan keislaman namun sebenarnya belum tentu merujuk kepada Islam yang benar.

Gatra edisi 31 Januari 1998 menurunkan laporan khusus sekitar kecenderungan bertasawuf di beberapa kalangan di antaranya sebagian pejabat atau ibu-ibu pejabat. Juga komentar-komentar mengenai tasawuf dari beberapa tokoh, serta adanya lembaga-lembaga yang menjajakan kajian tasawuf.

Dalam hal kajian Islam, sejak 1985-an banyak lontaran yang bernada mengkritik Islam terutama syari’ahnya atau hukum Islam dan fiqhnya. Kritik-kritik itu sambil memojokkan syari’ah atupun fiqh atau juga para ahli fiqh dengan cap-cap “miring” misalnya Syari’ah minded, fiqh sentris, tekstual tidak kontekstual, bahkan ada yang melontarkan cap skripturalis dipinjam dari istilah dari agama tertentu.

Sikap menyindir-nyindir syari’ah dan fiqh serta ahlinya itu sudah dikenal sejak dulu, paling tidak, Imam Ghozali dari kalangan sufi menyebut ulama fiqh sebagai ulama dunia. Di kalangan kaum kebatinan ataupun kejawen pun Mangkunegoro IV yang mengaku dirinya meninggalkan sholat (dalam salah satu puisinya) itu berani mengkritik para ahli syari’ah demi membela kebatinannya.

Belakangan orang-orang yang miring-miring ke sekuler, Mu’tazilah, Syi’ah dan semacamnya ramai-ramai pula mengkritik syari’ah dan fiqh serta ahlinya dengan cap-cap “miring” tersebut. Bahkan ada yang berani menghujat hadits shohih meniru-niru orientalis atau anak buah orientalis seperti Abu Rayah di Mesir dan sebagainya.

Sebagai bukti, ada orang dari Bandung (Jalaluddin Rakhmat) yang berani mengkritik hadits shahih riwayat Imam Muslim (Antum a’lamu bi umuuri dunyaakum– kalian lebih tahu dengan perkara-perkara dunia kalian) dengan argumen-argumen tidak ilmiah menurut ilmu Hadits, namun justru kini sebagai pelaku utama menjajakan paket tasawuf, suatu kajian yang justru membahas sesuatu yang tanpa landasan jelas.

Padahal tasawuf itu bukan hanya belum tentu berlandaskan Hadits shahih, namun justru mengandung unsur-unsur”dari ajaran luar Islam. Demikian pula Prof Dr Harun Nasution yang cenderung menolak Hadits Ahad (periwayatnya tiap jenjang tidak banyak orang) walaupun shahih untuk jadi landasan aqidah (misalnya rukun iman), namun sebaliknya ia khabarnya malah berguru tentang tasawuf.”Ini”salah
satu bentuk kerancuan berfikir yang nyata, Hadits shahih ditolak namun tasawuf yang tak jelas landasannya itu ditekuni.

Siapapun yang mengetahui apa itu tasawuf — bagi yang obyektif– tentu akan mengakui bahwa tasawuf itu ada unsur dari luar Islam dan ada unsur dari Islam. Maka siapapun yang mengetahui masalah itu dan masih bersikap obyektif akan
mengatakan: “Islam itu sudah sempurna, maka tidak butuh kepada tasawuf yang mengandung unsur-unsur ajaran dari luar Islam itu.”

Kalau memang seorang dari Bandung yang tadinya menghujat-hujat Hadits shahih itu hujatannya dimaksudkan untuk memurnikan Islam, maka seharusnya dia justru sama sekali tidak mengadakan pengakjian tasawuf dalam arti menyebarkan tasawuf di Jakarta atau di manapun. Karena, dengan menyebarkan tasawuf kepada orang-orang ataupun ibu-ibu pejabat yang sangat awam agama itu bukannya mengembalikan Islam kepada yang benar namun mencampuradukkan hal-
hal dari luar ajaran Islam kepada Islam.

Sungguh ironis tindakan orang semacam ini. Masyarakat yang awam agama tentu akan terseret, apalagi penyebar itu seorang ahli komunikasi, maka apa yang disampaikan walau sebenarnya adalah limbah namun”bisa dianggap sebagai emas.

Dengan kenyataan itu, umat Islam hendaknya hati-hati dan waspada. Kalau ada orang atau lembaga mengadakan kajian-kajian Islam, hendaknya dilihat, benarkah kajiannya itu berlandaskan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits-hadits yang shahih. Kalau tidak, maka lebih baik ditinggalkan, dan lebih afdhol mencari kajian yang berlandaskan Al-Quran dan Hadits shohih.

Kasus itu sungguh ironis, menghujat Hadits shahih tetapi kemudian menjajakan paket kajian tasawuf yang tasawuf itu sendiri akar katanya saja tidak diketemukan secara pasti dalam Islam. Apalagi ajaran dan prakteknya banyak yang menyimpang dari Islam.

Sumber: Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf Belitan Iblis.

2 Tanggapan

  1. Bukankah ajaran Tasawuf datangnya dari Baginda Nabi Muhammad SAW.???
    Jika Tidak…
    Lalu bagaimana saudara memahami pilar Agama Islam yang di ajarkan oleh Nabi; yakni Iman, Islam & Ihsan????
    Lebih jelasnya mungkin saudara bisa mengkajinya dengan jelas apa itu Iman?, apa itu Islam? & apa itu Ihsan?
    Islam Kita bisa dikatakan sampurna, apabila ketiga pilar agama ini benar-benar kita amalkan dengan baik.

    Tawaran pemahaman mendasar tentang ketiga pilar di atas:
    1. Iman; ilmu ‘aqidah atau ilmu tauhid
    2. Islam; Ilmu Syari’at atau ilmu fiqh
    3. Ihsan; Ilmu Akhlaq atau ilmu Tasawuf

    Semuga bermanfa’at…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: