Putri Rambut Putih dan Langkusa

Pada masa kekuasaan Susuhunan Palembang, di Kabupaten Ogan Komering Ilir, yaitu di Perigi, Kayuagung, hiduplah seorang putri cantik. Rambutnya panjang, hitam terurai. Ia mempunyai kesaktian yang terdapat pada air ludahnya. Apabila seseorang diludahinya, maka rambut kepala orang itu menjadi putih. Karena kesaktiannya itulah ia memiliki julukan Putri Rambut Putih.
Alkisah pada masa itu, banyak bujang dan orang terkemuka mencoba melamar putri cantik itu. Akan tetapi, semua lamaran mereka tidak pernah diterima, bahkan kepala orang yang melamar sering diludahinya. Rambut orang-orang yang diludahi itu menjadi putih. Pernah suatu kali, ada pula pemuda dan saudagar yang mempunyai kemampuan bela diri mencoba melamarnya. Namun kenekatan orang-orang itu akhirnya menuai akibat yang sama, rambut mereka menjadi putih karena diludahi Putri Rambut Putih. Sejak itulah tidak ada lagi yang berani melamar sang putri yang memang berparas cantik itu.
Selain Sang Putri memiliki kesaktian pada air ludahnya serta kemampuannya dalam beladiri, ia pun memiliki seorang kakak yang cukup sakti. Kakaknya itu bernama Langkusa. Sedangkan kedua orang tua mereka sudah lama meninggal.
Kecantikan serta kesaktian Putri Rambut Putih akhirnya sampai juga ke telingan Susuhunan Palembang. Ia berniat untuk melamar putri itu. Kemudian ia pun mengutus beberapa anak buahnya untuk melamar sang putri. Tentu saja para utusan yang dikirim tidaklah sembarangan. Mereka adalah para prajurit yang memiliki kemampuan beladiri yang lumayan untuk menjaga sesuatu hal yang tidak diinginkan.
“Hululbalang, tolong kau pimpin beberapa prajurit yang memiliki kempuan lebih. Bawa juga bendera kebesaran. Gunakan kapal kita yang paling bagus.” titah Susuhunan kepada seorang hulubalang.
“Baik paduka, titah paduka hamba junjung tinggi.” Hulubalang itu pun memberi hormat kemudian undur diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Setelah segalanya siap, beberapa utusan itu pun kemudian berangkat ke Kayuagung untuk menyampaiakn maksud paduka Susuhunan. Kapal yang membawa rombongan Susuhunan menuju ke hulu menelusuri Sungai Musi, terus berbelok menelusuri Sungai Komering. Tidak sulit bagi mereka untuk mencari rumah Sang Putri yang memang sudah terkenal itu. Seorang utusan Susuhunan pun kemudian menghadap Putri Rambut Putih.
“Hamba diutus Paduka Susuhunan untuk menyampaikan maksud Paduka, yaitu melamar Tuan Putri.” demikian ucap sang utusan setelah berbasa-basi alakadarnya.
“Aku sudah mengetahui maksud Susuhunan Palembang. Tapi aku minta maaf, aku tidak bisa menerimanya.” demikian ucap Sang Putri dengan nada congkak. Utusan itu agak tersentak mendengarnya. Bukan masalah penolakannya yang membuat ia terkejut, tetapi sikap dan nada bicara putri itu yang terdengar sangat tidak sopan. Bahkan kemudian, tanpa diduga, putri itu meludahinya hingga rambut ustusan itu berubah menjadi putih.
Dengan tanpa permisi lagi dan perasaan marah yang dipendam, hulubalang dan rombongannya kembali ke Palembang. Setelah merapatkan kapalnya, mereka langsung menuju istana Susuhunan dengan wajah merah padam.
Melihat wajah para utusannya yang membara seperti memendam kemarahan, Susuhunan sudah dapat menangkap maksudnya. Namun ia ingin mendengarkan langsung apa yang akan dilaporkan mereka.
“Inilah hasil yang hamba terima, Paduka. Putri itu ternyata memang sangat angkuh dan sombong. Kepala hamba pun diludahinya hingga rambut hamba menjadi putih.” ucap utusan itu dengan nada kesal.
“Kurang ajar! Itu sama halnya dengan meludahi kepalaku sendiri!” Susuhunan demikian geram. Ia tampak sangat murka. Kemudian Susuhunan pun memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menyelidiki kekuatan Putri Rambut Putih. Susuhunan bermaksud menculik putri itu untuk dibawa ke Palembang.
Esoknya, beberapa telik sandi pun berangkat untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam selama beberapa hari. Kapan waktu putri mandi di sungai, ke mana saja ia pergi, atau kegiatan lainnya Putri Rambut Putih diselidiki para utusan itu. Sampai kemudian diketahui juga bahwa putri yang sombong itu mempunyai seorang kakak lelaki yang sangat sakti bernama Langkusa. Bahkan, perihal ilmu kanuragannya, Langkusa memiliki kemampuan luar biasa.
Para telik sandi itu kemudian pulang dan menceritakan hasil penyelidikan mereka. Susuhunan sempat terkejut ketika mendengar kesaktian kakak Putri Rambut Putih. Itu artinya akan ada halangan lain yang tidak ringan untuk dihadapi. Namun niat Susuhunan untuk menculik sang putri sudah bulat. Tetapi ia memang harus menyusun strategi lain untuk melumpuhkan Langkusa terlebih dahulu bila tidak mau diajak berdamai secara baik-baik. Bila perlu, Susuhunan harus membunuh Langkusa.
Sampai kemudian diketahui juga bahwa di dalam hutan di pinggir Desa Perigi, hidup seekor banteng yang ganas. Di dalam telinga banteng itu terdapat sarang lebah penyengat. Penciuman banteng itu sangat tajam, terutama terhadap bau tubuh manusia. Apabila banteng itu mencium bau manusia, ia menjadi marah lalu mencari dan membunuh manusia itu. Kemudian diketahui juga bahwa di Desa Perigi ada juga sumur yang sangat dalam dan lebar. Sumur ini pun akan dijadikan siasat alternatif Sang Susuhunan apabila beberapa rencana lain tidak berhasil.
Setelah menemukan dan mematangkan beberapa rencana, berangkatlah Susuhunan dan para hulubalangnya ke Desa Perigi. Kebetulan pada waktu itu Langkusa tidak berada di rumah. Dia sedang bertapa di Ujung Tulung. Langkusa pun tampaknya tidak bisa tinggal diam. Ia mempunyai firasat buruk setelah peristiwa penolakan adiknya terhadap Susuhunan Palembang. Maka untuk memperdalam ilmunya ia pun kembali bertapa beberapa hari. Namun pertapaannya ini pun sudah diketahui oleh anak buah Susuhunan yang memang selalu memata-matai Putri Rambut Putih dan kakanya itu.
Sampai akhirnya, Susuhunan menyuruh seseorang untuk menjemput Langkusa agar mau menghadapnya di tempat persinggahan di Perigi. Utusan itu pun segera menuju pertapaan Langkusa. Setelah bertemu Langkusa utusan Susuhunan menceritakan maksud kedatangannya.
“Mohon maaf kalau kedatangan saya mengganggu Tuan Langkusa. Paduka Susuhunan Palembang menitah saya untuk menjemput Tuan agar datang ke Perigi.” ucap utusan itu penuh hormat. Ia berjaga-jaga kalau-kalau Languksa yang sedang bertapa itu menjadi gusar.
“Ada perlu apa Susuhunan memanggilku?” tanya Langkusa tenang. Ia menduga-duga, pasti ada hal yang kurang baik yang bakal dihadapinya. Sebenarnya, mata batinnya sudah menangkap siasat-siasat apa yang akan dilakukan Susuhunan di Perigi nanti.
“Jelasnya saya tidak tahu, Tuan. Susuhunanlah yang akan menyampaikannya langsung.”
“Baik, kalau begitu silakan Tuan pulang duluan, saya segera menyusul.”
Setelah utusan itu hilang dari pandangannya, Langkusa pun mengakhiri pertapaannya dan langsung menemui Susuhunan di Perigi. Susuhunan Palembang itu terkejut karena terkabar bahwa Langkusa sudah menuju persinggahannya. Padahal utusannya sendiri belum datang. Ia kini semakin yakin akan kesaktian Langkusa itu.
“Hamba mohon maaf bila terlambat menghadap Paduka. Gerangan apakah sehingga Paduka memanggil hamba?” kata Langkusa setelah menghadap.
“Hai Langkusa, sebagai tanda baktimu pada Susuhunan Palembang, aku minta tolong padamu, guna keamanan di dusun ini, coba kamu tangkap banteng liar di dalam hutan di tepi dusun!” ujar Susuhunan penuh wibawa meskipun di dalam hatinya ada perasaan was-was. Dalam hatinya ia berharap agar Langkusa dapat celaka setelah bertemu banteng liar itu.
“Baik, paduka. Titah Paduka hamba junjung tinggi.” jawab Langkusa mantap. “Hamba segera berangkat.”
“Silakan! Hati-hati!”
Langkusa pun segera undur diri setelah menunduk memberi hormat. Susuhunan dan segenap anak buahnya harap-harap cemas. Langkusa pun segera berangkat menuju hutan mencari banteng itu. Rupanya, banteng itu pun telah waspada, ia lebih dahulu mencium bau manusia yang datang. Banteng liar terus terus mengendus menyongsong Langkusa yang datang. Dengan kepalanya yang menunduk memamerkan tanduknya yang runcing, banteng itu langsung menyerbu Langkusa. Mata banteng itu seperti menyala, merah membara. Semak belukar yang dilaluinya langsung tersibak. Hentakkan kakinya gemuruh seakan-akan bumi akan terbelah. Langkusa siap menghadapi serangan banteng jantan ganas yang tubuhnya sangat kekar dan besar itu. Begitu kepala banteng menyodok tubuh Langkusa, tanpa ampun lagi Langkusa pun menyongsongnya dengan pukulan tenaga dalamnya. Kepala banteng pun pecah. Binatang yang dikenal sangat ganas itu langsung tergolek tak bernafas. Dengan segala kemampuannya, tubuh banteng itu dipanggulnya, dibawa ke dusun untuk diserahkan kepada Susuhunan sebagai tanda bukti keberhasilannya.
Rupanya Susuhunan pun sudah mengetahui bahwa Langkusa berhasil. Perasaan cemas mulai melanda pikirannya. Namun ia sudah menyiapkan siasat lain. Di dasar sumur yang dalam dan lebar yang ada di dusun itu telah diisi dengan tombak-tombak beracun yang tertancap kuat dengan mata tombak menghadap ke atas. Sehingga apabila ada seseorang yang terjun ke dalam sumur itu pastilah akan disongsong oleh beberapa mata tombak itu.
“Terima kasih Langkusa, engkau benar-benar seorang pemuda yang sakti dan baik budi. Aku sangat kagum padamu. Namun aku minta tolong sekali lagi, cincinku terjatuh ke dalam sumur sewaktu aku mencoba melihat ke kedalaman sumur itu.”
Beberapa pengawal pun disuruh Susuhunan menunjukkan sumur yang dimaksud. Langkusa tetap tenang. Ia pun mencoba melihat dengan mata batinnya tentang segala sesuatu yang ada di dalam sumur itu. Susuhunan dan rombongannya mengiringi langkah Langkusa menuju sumur.
Setelah sampai di bibir sumur, Langkusa melompat terjun, bersalto ke dalam sumur. Semua orang yang menyaksikan terhenyak melihat cara Langkusa melompat. Begitu tubuh kakak Putri Rambut Putih itu masuk ke dalam sumur, air pun menyembur ke atas diiringi bunyi berdentum Semua tombak dalam sumur itu patah begitu tersentuh tubuh Langkusa. Secepat kilat Langkusa pun naik kembali dengan sebuah cincin di tangannya. Semua orang kembali terhenyak, termasuk Susuhunan.
“Inikah cincin yang Paduka maksudkan itu?” kata Langkusa sambil menyerahkan cincin temuannya kepada Susuhunan.
“Luar biasa kau, Langkusa. Sebagai Susuhunan Palembang, aku sangat bangga padamu!”
Tidak lama setelah menerima cincin, Susuhunan dan rombongannya pulang ke Palembang sambil membawa berbagai kecamuk dalam batin mereka. Kini jelas, Langkusa dan adiknya tidak dapat diremehkan begitu saja.
Setibanya kembali di Palembang, Susuhunan mengadakan pertemuan khusus. Semua hulubalang dipanggil. Susuhunan akan kembali mengatur rencana untuk menculik Putri Rambut Putih.
“Siapa di antara kamu yang sanggup menangkap Putri Rambut Putih?” tanya Susuhunan kepada semua orang yang hadir di balai pertemuan. Semua hulubalang dan yang lainnya tidak menjawab. Mereka hanya saling lirik dan saling pandang. Mereka sudah yakin bahwa kemampuan mereka jauh di bawah Langkusa maupun Putri Rambut Putih.
Karena tidak ada yang sanggup menjalankan perintah tersebut maka semua hulubalang dan anak buahnya diperintahkan membuat sungai dari Teleko sampai Tanjung Agung. Sungai ini sebagai jalur alternatif dalam usaha penculikan nanti.
Berhari-hari sungai pun dibuat. Tentu saja Susuhunan tidak mengabarkan maskud sebenarnya tujuan membuat sungai tersebut. Setelah selesai sungai itu dibuat, Susuhunan berserta hulubalangnya menyusuri sungai itu dengan kapal. Sesampainya di Tanjung Agung, Susuhunan dan rombongannya diam-diam naik ke darat lalu berjalan kaki ke arah Perigi yang jaraknya sekitar dua kilometer.
Pada saat itu, Langkusa sedang asyik mandi di sungai. Sementara itu, Putri Rambut Putih pun sedang asyik membuat periuk dari tanah liat di kolong rumah panggungnya. Tampaknya ia cukup terampil membuat periuk itu. Gerakan tangannya cukup lembut namun lincah. Rambutnya yang panjang terurai kini telah disanggulnya dan disemat dengan menggunakan sebatang tangubai. Dengan begitu ia merasa lebih bebas bergerak.
Sementara itu di semak belukar, Susuhunan dan beberapa hulubalangnya mengendap-endap hati-hati menuju rumah Putri Rambut Putih. Beberapa hulubalang yang memiliki ilmu kanuragan tinggi akhirnya melompat bersamaan dan berhasil menyekap Sang Putri. Putri Rambut Putih berusaha melawan sambil meronta-ronta. Namun totokan seorang hulubalang berhasil membuatnya pingsan. Sang Putri pun kemudian dibawa lari menuju kapal.
Namun ternyata, usaha penculikan itu diketahui beberapa orang warga kampung yang tidak sengaja melihat kejadian itu. Seorang di antaranya kemudian melaporkan kejadian itu kepada Langkusa yang tengah asyik mandi di sungai. Akan tetapi Langkusa tidak menanggapinya. Kemudian orang kedua melapor kembali kepada Langkusa, tetapi karena dia sedang begitu asyiknya berkecipak di sungai, dia tetap tidak memberi tanggapan.
Beberapa saat kemudian, saat Langkusa selesai mandi, barulah dia bertanya dan menanggapinya dengan serius.
“ Dibawa ke mana adikku?” tanya Langkusa sambil mengelapi tubuhnya dengan telapak tangan.
“Adikmu sudah dibawa Susuhunan ke kapalnya,” jawab orang itu.
Secepat kilat Langkusa pun berlari menyusul ke Tanjung Agung, tempat kapal
Susuhunan berlabuh. Sesampainya di sana, ternyata adiknya telah dibawa ke dalam kapal.
Melihat Langkusa sudah bertolak pinggang di pinggir sungai, Susuhunan beserta balatentaranya pun langsung siap siaga.
“Paduka, tolong imbangi kapal ini, aku akan melompat.” kata Langkusa lantang. Ia tak perlu lagi menjelaskan maksud kedatangannya.
“Lompatlah!” jawab Suhunan dengan nada menantang. “Kapal ini besar, tidak mungkin tenggelam hanya oleh berat tubuhmu!” Ia memberi kode kepada balatentaranya untuk berjaga-jaga.
Langkusa pun melompat ke kapal bagaikan kilat. Begitu kakinya menginjak bibir kapal, kapal itu pun miring sehingga orang-orang yang sudah berjaga-jaga menjadi oleng, termasuk Susuhunan. Dengan sigap pula Langkusa menyambar adiknya. Sambil memanggul adiknya, dia melompat kembali ke darat. Ketika melompat itulah, tangubai adiknya jatuh ke sungai. Kini tempat tangubai (tusuk konde) itu jatuh dikenal dengan nama Lubuk Tangubai.
Setelah itu, Langkusa kembali ke dusunnya dengan membopong adiknya, sedangkan Suhunan dan rombongannya pulang kembali ke Palembang dengan penuh kekecewaan.
Sampai di Palembang, emosi Suhunan meledak. Ia pun megeluarkan kutuknya/bersumpah dihadapan para pengikutnya. Konon, sumpahnya itu sampai sekarang diyakini masih berlaku.
“Mulai saat ini, keturunanku tidak akan selamat apabila mengawini orang dari Dusun Kayuagung!” teriak sang Susuhunan geram.
Putri Rambut Putih sendiri kemudian hidup tentram bersama kakaknya. Namun, akibat sifat Putri Rambut Putih yang sombong dan congkak serta orang-orang tidak berani lagi untuk mencoba melamarnya, konon, sampai tua dan akhirnya mati pun ia tetap tidak pernah menikah.

Tambahan:

Saat ini, nama “Langkusa” diabadikan sebagai nama lorong di Perigi, Kayuagung. Nama Perigi berarti sumur, diyakini oleh warga bahwa Perigi adalah tempat pertama kali moyang Kayuagung tinggal, dimana sumur merupakan simbol pemenuhan terhadap kebutuhan air dalam kehidupan. (Abu Syauqi Tamim)

Catatan:
Cerita ini termasuk dongeng yang dipercaya oleh masyarakat Kayuagung. Hikmah yang dapat dipetik yaitu kita tidak boleh sombong meskipun kita memiliki ilmu yang tinggi.

  1. Diramu dari berbagai sumber, baik penuturan lisan maupun tertulis.
  2. Dalam versi lain diceritakan hewan hutan liar itu adalah kerbau, bukan banteng.
  3. Tangubai/tongabai : tusuk konde.
  4. Telik sandi : mata-mata.
  5. Susuhunan/Suhunan: penguasa daerah/wilayah semacam sultan/kesultanan.
  6. Lubuk Tangubai: Lubuk Tongabai.

 

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: